Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: GARIS PERTAHANAN TERAKHIR
Fajar di pesisir utara Tangerang tampak merah menyala, seolah memantulkan ketegangan yang mendidih di Laut Natuna. Di dalam pusat komando Prawira Fortress, udara terasa berat oleh aroma kopi yang sudah basi dan dengung konstan dari ratusan unit pemroses data.
Nata berdiri di depan layar peta maritim global. Titik-titik biru—armada tanker minyak Pangeran Khalid—terlihat bergerak perlahan menuju wilayah perairan Indonesia. Namun, di sekitar mereka, titik-titik merah milik perusahaan keamanan swasta yang disewa oleh The Council mulai membentuk formasi blokade.
"Mereka menyebutnya 'Latihan Keamanan Bersama', tapi kita semua tahu itu adalah jeratan leher," ucap Nata, suaranya serak namun tetap tegas. "Jika kapal-kapal itu tidak sampai di Jakarta dalam tiga hari, cadangan energi untuk industri strategis kita akan kritis."
Elena, yang duduk di sampingnya, tidak lagi terlihat seperti asisten yang rapi. Rambutnya diikat asal, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Namun, jemarinya masih bergerak dengan presisi yang menakutkan.
"Bos, mereka menggunakan taktik Grey Zone," lapor Elena. "Mereka tidak menembak, tapi mereka memotong jalur, melakukan jamming komunikasi, dan mengklaim ada kebocoran minyak fiktif untuk melegalkan pencegatan. Icarus-1 terus berusaha menembus gangguan mereka, tapi tekanan frekuensi dari kapal perusak mereka sangat kuat."
Nata menghela napas, matanya tertuju pada koordinat kapal tanker utama, The Sultan’s Legacy. Ia tahu, di balik layar ini, ribuan nyawa bergantung pada keberhasilannya.
Di tengah ketegangan itu, Elena mendadak berhenti mengetik. Ia menoleh ke arah Nata, tatapannya melembut sejenak. "Nata... kamu belum tidur selama empat puluh jam. Kamu bukan mesin. Jika kamu tumbang, seluruh sistem ini akan kehilangan otaknya."
Nata menoleh, sedikit terkejut dengan penggunaan namanya tanpa sebutan 'Bos'. Ia melihat kepedulian yang tulus di mata Elena—sesuatu yang jarang ia temukan di dunia yang penuh dengan angka dan pengkhianatan ini.
"Aku akan tidur setelah kapal-kapal itu bersandar, Elena," jawab Nata lembut.
Elena berdiri, melangkah mendekat dan meletakkan tangannya di atas bahu Nata. "Kamu selalu bilang ingin membangun dunia yang aman untuk adik-adikmu. Tapi dunia itu tidak akan ada artinya bagi mereka jika kamu tidak ada di dalamnya. Kirana tadi bertanya padaku, apakah kakaknya masih ingat cara tersenyum."
Sentuhan itu terasa hangat, kontras dengan dinginnya dinding bunker. Untuk sesaat, Nata merasakan dorongan untuk melepaskan beban di bahunya. Namun, ia segera kembali sadar. "Terima kasih, Elena. Tapi Vivienne tidak akan memberi kita waktu untuk sekadar tersenyum."
"Aktifkan 'Operasi Bayang-Bayang'," perintah Nata kembali ke mode profesional. "Kita tidak akan melawan mereka dengan kekuatan militer. Kita akan menggunakan teknologi stealth digital yang kita kembangkan di Singapura."
"Maksudmu, membuat tanker-tanker itu 'hilang' dari radar mereka?" tanya Yuda yang baru masuk ke ruangan.
"Bukan hilang, Yuda. Kita akan membuat radar mereka melihat seratus kapal di posisi yang berbeda," Nata tersenyum sinis. "Kita akan melakukan spoofing massal melalui satelit Icarus. Biarkan mereka mengejar hantu di tengah laut, sementara tanker asli mematikan transponder dan masuk melalui jalur tikus di sela-sela kepulauan Riau."
Elena segera menjalankan perintah tersebut. Di layar monitor, terlihat bagaimana sistem radar The Council mulai kacau. Puluhan sinyal palsu muncul secara acak, memecah konsentrasi armada blokade mereka.
Sementara itu, di lantai bawah bunker, Kirana duduk di ruang tamu yang nyaman namun tanpa jendela. Ia melihat Arya yang sibuk bermain dengan robot kecil pemberian Nata.
"Kak Kirana, kenapa Kak Nata lama sekali tidak turun?" tanya Arya polos.
Kirana mengusap kepala adiknya. "Kak Nata sedang bertarung dengan monster, Arya. Monster yang tidak terlihat, tapi sangat jahat."
"Apa Kak Nata akan menang?"
"Dia harus menang," bisik Kirana pada dirinya sendiri. "Karena jika tidak, kita tidak akan pernah melihat matahari lagi."
Kembali ke ruang komando, suasana memuncak saat salah satu kapal blokade menyadari adanya tipu muslihat Nata. Mereka melepaskan tembakan peringatan ke arah salah satu kapal tanker yang ternyata merupakan umpan tak berawak.
"Mereka mulai agresif, Bos!" teriak Elena. "Mereka mengirimkan helikopter untuk melakukan inspeksi fisik!"
"Yuda, aktifkan tim pencegat kita di Natuna," perintah Nata. "Bukan untuk berperang, tapi untuk melakukan pengawalan udara. Gunakan drone tempur otonom yang kita rahasia-kan selama ini. Jangan menembak kecuali mereka menembak lebih dulu. Pastikan dunia melihat bahwa kitalah yang sedang membela hak perdagangan bebas."
Nata sedang melakukan langkah berisiko tinggi. Ia menggunakan rekaman langsung dari satelit Icarus untuk menyiarkan upaya blokade tersebut ke seluruh dunia melalui platform media sosial yang tidak bisa diblokir oleh The Council.
Berita tentang "Pembajakan Minyak Rakyat" oleh perusahaan multinasional mulai meledak di internet. Opini publik global mulai berbalik menentang Madame Vivienne. Di London dan Paris, orang-orang mulai turun ke jalan memprotes kenaikan harga energi yang disebabkan oleh blokade tersebut.
Menjelang tengah malam, sebuah pesan masuk ke monitor utama.
[Konfirmasi: The Sultan’s Legacy telah memasuki perairan teritorial Indonesia dengan selamat. Pengawalan TNI AL telah mengambil alih.]
Sorak sorai pecah di dalam bunker. Yuda berteriak kegirangan, sementara tim IT saling berpelukan. Namun, Nata hanya terduduk lemas di kursinya, memejamkan mata sejenak. Kemenangan ini terasa sangat mahal.
Elena mendekat lagi, kali ini ia membawa segelas air putih dan sebuah selimut tipis. Ia tidak bicara, hanya menyampirkan selimut itu ke bahu Nata.
Nata menatap Elena, lalu meraih tangannya sejenak. "Terima kasih, Elena. Untuk semuanya."
Elena tersenyum, kali ini ada rona tipis di pipinya yang kelelahan. "Tidurlah, Nata. Besok, Madame Vivienne akan bangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Biarkan aku dan Yuda yang berjaga untuk beberapa jam."
Nata akhirnya menyerah pada rasa lelahnya. Ia tertidur di kursi komando itu, di bawah perlindungan benteng yang ia bangun sendiri. Di dalam mimpinya, ia tidak lagi melihat grafik saham atau radar perang; ia melihat dirinya, Kirana, Arya, dan Elena berjalan di sebuah pantai yang tenang—sebuah masa depan yang sedang ia perjuangkan dengan setiap tetes keringat dan baris kode yang ia tulis.
Namun, di belahan dunia lain, Madame Vivienne sedang menatap layar yang gelap. Kegagalannya kali ini telah membuatnya kehilangan posisi di The Council.
"Prawira..." Vivienne mendesis. "Kamu pikir kamu sudah menang? Kamu baru saja memaksa kami untuk menggunakan kartu terakhir kami. 'Protokol Blackout'."
Garis takdir baru saja bergeser kembali. Tantangan berikutnya bukan lagi soal blokade atau sanksi, melainkan upaya pemadaman total terhadap seluruh infrastruktur digital dunia demi melenyapkan eksistensi Nata Prawira.
Bersambung.....