Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Kaisar Jinhuan
Jenderal Lu sudah kehabisan kesabaran, bahkan Mei Huarin sama sekali tidak bisa di nasehati. Pikirnya begitu.
Mungkin Mei Huarin benar, Jenderal Lu Yansheng sudah pikun juga seperti ibunya. Karena orang yang seharusnya di beri nasehat itu adalah orang yang salah. Sedangkan Mei Huarin, sebenarnya apa kesalahan yang dia telah perbuat sampai dia harus di nasehati?
"Panggil para tetua keluarga Lu! Mei Huarin sudah keterlaluan!" kata Nyonya tua Wang yang berbaring di tempat tidur setelah diperiksa oleh tabib.
Shen Meiren tentu saja tidak mau melewatkan kesempatan membuat Mei Huarin berlutut di depan para tetua. Setahunya, seorang menantu itu kan memang harusnya berlutut di depan para tetua. Dia sudah tidak sabar, untuk menyaksikan ketika Mei Huarin dihukum oleh para tetua nanti. Hukuman keluarga itu, paling ringan di pukul rotan bukan? dia sungguh tidak sabar menyaksikannya.
"Jenderal, nyonya tua benar! pergilah ke rumah para tetua. Nyonya ini kata-katanya sudah menyakiti hati nyonya tua!" katanya menghasut jenderal Lu.
Lu Yansheng mendengus pelan.
"Baiklah, kamu jaga ibu. Aku akan pergi ke rumah tetua keluarga Lu!"
"Baik jenderal!" kata Shen Meiren tersenyum penuh kemenangan.
'Mei Huarin, sebentar lagi kamu bahkan akan berlutut di depan ku!' batinnya senang.
**
Sore menjelang, seorang urusan dari istana datang menjemput Mei Huarin.
Mei Huarin bersama dengan dayang istana kekaisaran itu masuk ke sebuah ruangan pribadi kaisar. Ruangan yang penuh dengan buku, senjata, dan berbagai harta Karun kuno dan harta karun modern. Ya, harta karun modern. Dari jam mekanik mini, bahkan parfum yang benar-benar belum pernah ada di jaman ini.
"Salam yang mulia..."
"Chenping, kenapa begitu formal!"
Kaisar Jinhuan bahkan mendekati Mei Huarin dan langsung menuntun supaya Mei Huarin tidak memberi hormat padanya dengan formal, dengan membungkukkan badannya.
"Aku sudah dengar semua yang terjadi di kediaman Jinxi. Berita menyebar seperti angin, jenderal Lu itu sungguh bodoh. Dia bahkan mengatakan akan menggunakan prestasi militernya untuk menikahi wanita bermarga Shen itu!"
"Yang mulai setuju?" tanya Mei Huarin.
"Chenping! aku mana berani ambil keputusan tanpa bertanya padamu. Bisa-bisa kamu lemparkan semua bubuk mesiu itu dengan alat pelontar buatkan mu itu dan meledakkan seluruh istana! habislah aku!" kata Kaisar yang sebenarnya usianya hanya beda 3 tahun dari Mei Huarin.
"Kalau begitu setujui saja!"
Mata Kaisar sedikit terbuka.
"Kamu yakin? kamu akan dimadu? bukankah dulu kamu paling benci pengkhianatan?" tanya Kaisar.
Mei Huarin tersenyum menyeringai. Dan Kaisar Jinhuan yang melihat itu menelan salivanya dengan susah payah. Karena dia sudah kenal wanita yang sudah benar-benar di anggap adik kandungnya itu selama 18 tahun. Kalau Mei Huarin sudah tersenyum aneh dan mengerikan seperti itu, pasti akan ada hal tidak baik bagi orang yang dia tidak senangi terjadi.
"Chenping, jangan tersenyum seperti itu. Kamu membuatku merinding!"
"Kaisar, aku akan katakan sesuatu. Satu bulan lagi, tujuh bintang akan sejajar..."
"Hei, rumah tanggamu sedang guncang. Kenapa masih memikirkan tentang bintang yang sejajar?" sela Kaisar Jinhuan yang memang belum paham maksud Mei Huarin.
"Bisa diam dulu tidak?"
Kaisar Jinhuan segera menutup rapat mulutnya. Bahkan telapak tangannya pun dia letakkan di depan mulutnya.
Lirikan tajam Mei Huarin padanya, benar-benar seperti menusuk jantung Kaisar. Pria nomor satu di kerajaan Jinhuan itu bahkan langsung patuh, tidak bicara bahkan tidak bergerak sama sekali.
"7 bintang sejajar itu, seperti 18 tahun yang lalu ketika aku datang. Aku akan kembali..."
"Chenping!" sela Kaisar.
Mata pria itu berkaca-kaca. Dia tidak bisa menahan dirimu untuk tidak bicara.
"Kamu bilang apa?"
"Aku akan kembali, ke tempat dimana aku berasal!"
Kaisar terdiam, pria itu mematung di tempatnya. Jika saja, dulu Mei Huarin bisa menerima keberadaan haremm, mungkin saat ini yang menjadi permaisuri di kerajaan Jinhuan ini adalah dirinya. Namun Kaisar tahu, Mei Huarin sangat benci di duakan. Dia tidak bisa memaksa Mei Huarin untuk tinggal di istana bersamanya.
Menganggapnya adik, itu sudah cukup menyakitkan bagi kaisar. Sekarang wanita itu bilang dirinya akan pergi. Kaisar Jinhuan sungguh tidak bisa berkata-kata.
"Kaisar, aku sudah ajarkan banyak hal pada Yan'er. Semua toko, semua pasar dagang, semua armada, aku akan serahkan semuanya pada Yan'er..."
Mei Huarin tidak bisa melanjutkan ucapannya, ketika kaisar meraih tangannya.
"Kamu benar-benar akan pergi? kamu... kamu tidak pikirkan Yan'er? tidak pikirkan aku?" tanya Kaisar Jinhuan.
Mei Huarin menarik tangannya dan mendengus kesal.
"Kenapa aku harus memikirkan mu. Di hareem mu, ada lebih dari 3000 wanita yang setiap malam memikirkan mu!"
"Chenping, tidak adakah yang bisa membuatmu tidak pergi?"
"Yang mulia, apa seperti ini sikap seorang pemimpin negara?"
"Ck, kamu memang menyebalkan!" keluh kaisar yang langsung pergi dari ruangan itu.
"Heh, aku belum selesai bicara...!" Mei Huarin mendengus kesal.
Yang ingin dia sampaikan pada kaisar belum selesai. Malah pria itu sudah pergi.
Mei Huarin pun mendekati meja kerja kaisar. Dia meraih secarik kertas dan menggosok tinta. Mei Huarin menuliskan apa saja yang harus Kaisar lakukan ketika dia memberikan ijin atau mengabulkan permintaan jenderal Lu untuk menikahi wanita bermarga Shen itu.
"Sudah beres! sekarang aku harus ke tempat tetua Bei!" gumamnya.
Mei Huarin segera meninggalkan tempat itu. Tak lama, Kaisar Xuan Jinhuan kembali ke ruangan itu. Matanya merah, sembab. Sepertinya dia keluar karena dia menangis. Dah dia tidak mau menangis di depan Mei Huarin.
"Dasar wanita kejam, kurang apa aku? dia mau menikah dengan jenderal, aku relakan. Dia punya anak dengan pria itu, aku relakan. Asal aku masih bisa melihatnya. Sekarang karena pria itu, dia malah mau pergi meninggalkan aku! aku sungguh belum pernah bertemu wanita yang lebih kejam darimu Mei Huarin!" gerutu kaisar Jinhuan.
Sang kaisar berjalan ke arah meja. Secarik kertas di tinggalkan oleh Mei Huarin.
"Dasar jenderal bodohh. Kamu tidak tahu kesialan apa yang akan kamu terima setelah Mei Huarin pergi. Jika bukan karena dia, kamu bukan apa-apa!" kesal kaisar Jinhuan.
***
Bersambung...
nanti aku pula lama naik tensi🤦🏻♀️🤦🏻♀️
kayaknya dia pengen mepet sawah terus🤭
Siapa yang mau di paksa..?
Mei Huarin yg bersujud pada kalian semua..?
Yang benar saja.. 🤭
Meski kalian yg bersujud pada nya, Mei Huarin tak kan luluh dengan air mata buaya.. 😏
Karena Mei Huarin sangat tau, kalian adalah orang² yg bermuka dua..
Jadi, buang jauh² mimpi mu Nyonya Tua.. 😝😏
Apalagi kalian memanjakan nya dgn manja² gak menentu, gak terdidik adab & akhlak nya.. habislah.. 🤣🤣
Karena apa yg kau tanamkan sejak dini, seperti itulah kelak anak² akan mencontoh perilaku orang tua nya..
Dan kau lu Yansheng, ortu mu itu ada kurang²nya kalau kulihat.. Seperti orang gila harta, makanya anak lelaki mu punya prinsip yang sama dengan nyonya tua.. 🤦🏻♀️