NovelToon NovelToon
Sistem Analisis Nilai : Bangkitnya Sang Penguasa Bisnis

Sistem Analisis Nilai : Bangkitnya Sang Penguasa Bisnis

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:85.3k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"

Bagi Pembaca baru jangan khawatir tetap masih bisa dibaca karena ada pengenalan konflik dan karakter, jadi gass aja baca.

***

Setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .

Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.

Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.

Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.

Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan

sekadar keberuntungan jatuh dari langit. Ada sejarah gelap dan penagihan dari sang pencipta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13—Rumah Baru Dan Apakah Ini Akhir Dari Kebohongan

Pagi itu, suasana kota terasa lebih sejuk dari biasanya. Sebuah mobil mclaren mewah berwarna hitam membelah jalanan aspal—yang dia bilang dipinjamkan oleh manajer hotel untuk membawa pulang 

Mobil itu menuju ke arah utara, menjauhi hiruk-pikuk pusat kota dan keramaian hotel bintang lima tempat mereka menginap sebelumnya.

Di dalam mobil, Dewi terus meremas jemarinya. Matanya menatap keluar jendela, memerhatikan deretan pepohonan hijau yang mulai menggantikan gedung-gedung beton.

"Rahmat, kita benar-benar tidak akan kembali ke rumah lama?" tanya Dewi pelan, suaranya masih menyimpan ganjalan.

Rahmat yang sedang fokus menyetir—dengan kemampuan mengemudi yang ia pelajari secara instan melalui sistem—hanya tersenyum tipis. "Rumah itu sudah terlalu banyak kenangan pahit, Bu, tentang kemiskinan, tentang ayah juga ..."

Ayah. Ucapan itu jarang dia keluarkan, itu seperti nada dingin dan penuh kesedihan, seolah tidak mau mengakui orang tersebut.

Dewi terlihat menangkap nada emosi itu, menundukkan kepala. Dia juga merasa sedih.

"Tolong jangan terlalu keras terhadap ayahmu itu, dia—"

"Dia kenapa? Setelah meninggalkan kita dengan hutang sebegitu banyak, dan bahkan menelantarkan ibu di rumah sakit. Dia brengsek, ibu!"

Suasana langsung hening. Bahkan dewi jarang melihat anaknya marah begitu.

"Tapi biarkan saja. Sekarang waktunya kita membuat kenangan baru. Ibu lihat saja dulu rumahnya, kalau Ibu tidak suka, kita cari yang lain." Ucap Rahmat mengalihkan pembicaraan.

Mobil itu akhirnya melambat dan berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa berwarna hitam dengan aksen emas yang menjulang tinggi. Di balik gerbang itu, tampak sebuah bangunan megah bergaya klasik modern dengan pilar-pilar putih yang kokoh. Halamannya sangat luas, dipenuhi dengan rumput hijau yang tertata rapi dan beberapa pohon kamboja fosil yang artistik.

"Ini... ini rumah baru kita? Rumah temanmu yang lagi butuh uang banyak itu?" suara Dewi hampir hilang.

Rahmat kemarin sempat berbohong bahwa dia membeli rumah dengan harga murah dari temannya.

Rahmat menekan tombol di ponselnya, dan gerbang itu terbuka secara otomatis dengan suara mesin yang sangat halus.

"Iya, Bu. Dia harus segera berangkat ke luar negeri semalam, jadi dia menitipkan rumah ini pada Rahmat dengan harga... sangat miring. Anggap saja ini investasi," 

bohong Rahmat sambil memarkir mobil di carport yang bisa menampung lima mobil sekaligus.

Saat mereka turun, aroma tanah basah dan wangi bunga melati langsung menyambut indra penciuman Dewi. Wanita itu terpaku menatap teras rumah yang luas.

"Lihat itu, Bu," Rahmat menunjuk ke sisi kiri rumah. "Ada lahan kosong yang cukup luas. Ibu bisa menanam sayuran, cabai, atau bunga apa saja yang Ibu mau. Sistem pengairannya sudah otomatis. Ibu suka berkebun kan."

Dewi berjalan perlahan menuju lahan tersebut. Dia berjongkok, menyentuh tanahnya yang gembur dengan telapak tangannya. Matanya berkaca-kaca. Inilah yang dia rindukan. Bukan marmer dingin atau pelayan yang membungkuk kaku, tapi koneksi dengan alam yang membuatnya merasa "hidup".

"Rahmat... ini terlalu bagus untuk kita," bisik Dewi.

"Tidak ada yang terlalu bagus untuk Ibu," jawab Rahmat tegas. Dia berdiri di belakang ibunya, namun matanya tidak melihat ke arah taman. Pandangannya menyapu sekeliling tembok tinggi yang memutari mansion itu

.

> [Sistem Analisis Nilai Aktif]

> Keamanan Lingkungan: 98% (Privasi Maksimal).

> Fitur Tambahan: Detektor Gerak & CCTV Terintegrasi Ponsel Aktif.

> Status: Aman 

Rahmat menarik napas lega. .

"Ayo masuk, Bu. Rahmat sudah siapkan kamar paling nyaman untuk Ibu di lantai bawah, supaya Ibu tidak perlu naik tangga," ajak Rahmat sambil merangkul pundak ibunya yang masih tampak bingung namun mulai tersenyum.

Sambil melangkah masuk ke dalam mansion, Rahmat diam-diam mengecek pesan masuk di ponselnya. Sebuah koordinat baru muncul dari informannya.

Senyum Rahmat mendingin. Di "Istana" baru ini, dia bukan lagi Rahmat yang miskin dan diremehkan. Dia adalah pemain catur yang baru saja memindahkan pionnya ke posisi yang tak terduga.

Di ruang tamu Barulah Dewi mulai bertanya-tanya hal aneh. Lingkungan dan rumah ini jelas bukan di harga miring.

"Rahmat jelaskan pada ibu, ini semua tidak masuk akal!"

Rahmat terdiam.

"Mulai dari pembayaran rumah sakit, hotel, dan sekarang rumah mewah ini?! Kamu sebenarnya dapat uang darimana!?"

Suasana di dalam ruang tamu yang luas itu mendadak mendingin. Suara Dewi yang biasanya lembut kini bergetar penuh penekanan, menggema di antara pilar-pilar tinggi dan lantai granit yang masih mengkilap.

Rahmat tertegun. Dia tahu momen ini akan datang, tapi dia tidak menyangka Ibunya akan meledak secepat ini, tepat di tengah kemewahan yang baru saja ia suguhkan.

Rahmat menarik napas panjang, otaknya berputar cepat. Sistem Analisis Nilai di kepalanya memberikan notifikasi kecil: [Deteksi Tingkat Stres Target: Tinggi. Disarankan: Alibi logis dengan bukti visual.]

"Bu, duduk dulu. Rahmat tidak mau Ibu jatuh sakit lagi karena terlalu banyak pikiran," Rahmat menuntun Ibunya ke sofa kulit yang empuk.

Dewi menepis pelan tangan Rahmat, matanya berkaca-kaca. "Ibu tidak bisa duduk tenang kalau Ibu merasa anak satu-satunya terjerumus ke jalan yang salah. Rumah ini, mobil mclaren itu... ini bukan uang sejuta dua juta, Rahmat! Orang kerja puluhan tahun pun belum tentu bisa beli gerbangnya saja!"

Rahmat berlutut di depan Ibunya, menatap mata Dewi dengan tatapan paling jujur yang bisa ia buat.

Oke, mungkin cukup sampai disini. Berbohong dan terus berbohong akan membuat dia capek juga.

"Ibu sebenarnya—"

Brak

Pintu terbuka di rumah itu. Seorang pria berusia lima puluhan datang kesana, seseorang yang dia kenal.

Pria bermasker Dengan topi fedora dan jaket mantel ala - ala orang eropa lama.

Armand datang. Sesuai yang Rahmat minta.

Bala bantuan telah datang.

"Halo, permisi sepertinya kamu dalam kesulitan anak muda."

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
wkwkwk Bella mode merajuk 🤔🤣🤣🤣
Manusia Biasa: lucunya anak author ini😍
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Professor Stain terlalu percaya diri justru kau itu sedang dikerjai bukan Rahmat namanya kalo tak memberi kejutan di setiap tindakannya 🤭
Manusia Biasa: wkwwk masih banyak kejutan nanti

🤭
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
kena mental beneran nih Deni Mulyono salah sendiri mau main kotor sadar cepat Den luu bukan kelasnya Rahmat lagi jauhhh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
good job suka banget dengan cara Rahmat 🤭😍gw suka gaya loooo Mat👏🏻👏🏻👍🏻
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Bella terasa memabukkan bagi Rahmat eaaaa🤭😛🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
Manusia Biasa: wkwkw🤭🤭
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
pembukaan yang berubah jadi lelang lukisan dengan sukses sold out oleh kurator langit Arsenio👏🏻👏🏻👏🏻
Manusia Biasa: niat cuma grand opening malah tonjo🤣
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
gak bisa bayangin itu 💸💸💸 10M kek bijimana😛🤣🤣🤣
Manusia Biasa: sebenarnya 10m di genre urvan sistem mah cepe😄🤭
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
makin kesini makin kocak aja baca komen juga lucu 😛🤣🤣🤣🤣
Manusia Biasa: wkwkw🤣
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
asemmmm ada ada aja namanya Aura Senggol bacok 😭🤣🤣🤣🤣baca sambil senyum sendiri 👍🏻
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ: gpp kak Thor jadinya kan lucu reader juga senang ketawa sendiri 👍🏻😍
total 2 replies
the misterius author 🐐
beh 10 m berapa banyak thor 🤣
the misterius author 🐐: bagus thor
total 2 replies
3RSEL
ok👍
3RSEL
ayo kita pulang ke ketiak papa anak manja😁😁😁
Manusia Biasa: wkwk anak manja
total 1 replies
3RSEL
ter.....ter.....termul.......😁
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Galeri Rahmat kek tempat hareem kalo sudah kumpul semua itu ciwi ciwi🤭🤣🤣🤣
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
wuihhhh gift dari sistem gak kaleng kaleng 😭🤣🤣🤣🥳🥳
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
mampusss luuu Siska ternyata luu yang main ninu ninu sama pria paruh baya di hotel ck ck ck 😏
Manusia Biasa: wkwkw gak tahu malu emang🤣
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Siska kau nanti jangan menangis saat perbuatan kotormu terkuak memanipulasi foto Maya dan Rahmat sedemikian rupa siap siap kena pasal luuuu
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
gw suka pidato Aksa seperti menelanjangi beberapa oknum yang memang adalah iya korupsi kecil kecilan kek gitu biar pada nyaho 🤭🤣🤣
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
aaaaa kenapa ada inisial G ini 😭😭wah Author ngajak gelutttt nih🤭🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Aksa yang sabar iya itu coklat memang buat Maya dari Bella tapi Rahmat yang bawa kesana kemari 😭🤣🤣🤭
Manusia Biasa: cemburu dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!