Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14—Ilmu Kesehatan
“Tunggu, sekarang berapa usiamu?” tanya Yuofan dengan raut wajah terkejutnya.
Di xinyuan menaruh tangannya di dagu, berusaha mengingat usia pastinya. “Sekiitat 50.455 tahun.” ucapnya membuat Yuofan semakin terkejut dibuatnya.
Namun, Di xinyuan tidak bisa melanjutkan ceritanya karena mereka telah sampai di gua tempat Yuofan tinggal. Kera itu lalu meraih tubuh Yuofan dan menurunkannya di mulut gua dengan perlahan.
“Ah, terimakasih banyak yuan.” ucap Yuofan yang tersadar bahwa mereka telah sampai.
Kera itu tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi serta taringnya. “Jangan sungkan! Jika tuan muda memerlukan sesuatu, tempat tinggal ku tak jauh dari sini, tepatnya di pohon besar disana.” ucapnya seraya menunjuk kearah sebuah pohon yang lebih tinggi diantara yang lain. Tetapi bagi Yuofan, tempat itu sangatlah jauh.
“Dekat matamu!” batin Yuofan.
Ia pun melambaikan tangannya saat Di xinyuan berangsur pergi dari sana. Setelahnya ia langsung menatap kearah Wuxu meminga penjelasannya terkait pernyataannya sebelumnya.
“Entahlah,” jawab Wuxu dengan tenang seraya melayang di depan Yuofan, “aku hanya merasa akrab dengan cerita ini. Tetapi mungkin dewa itu sudah setengah musnah, karena kera itu sendiri mengatakan bahwa ingatannya tentang dewa itu sudah sangat samar.”
Yuofan mendengarkan dengan seksama, kemudian Wuxu melanjutkan, “Jika seorang dewa benar-benar musnah, ingatan orang-orang terdekat tentangnya juga akan memudar. Semakin ingatan itu hilang, semakin pudar pula wujud dewa tersebut.”
Ucapan itu membuat Yuofan merenung lebih dalam. Ia menatap Wuxu sejenak sebelum bertanya, “Lalu, jika masih ada seseorang yang mengingatnya, apakah mungkin dewa itu masih ada, meski hanya sedikit?”
Wuxu menatap Yuofan dengan pandangan sulit diartikan. “Ya…” jawabnya seraya menundukkan kepala menatap tubuhnya yang tersisa jiwa. “Jika memungkinkan, mereka bisa bereinkarnasi atau mencari tubuh yang cocok sebagai wadah sementara.”
Yuofan terdiam, lalu menatap Wuxu.
Hening sesaat, hingga akhirnya Wuxu tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Yuofan kesal karena hari ini Wuxu sudah terlalu banyak tertawa, dan tawa itu seolah mengejeknya.
“Aku hanya bercanda!” ujarnya seraya memegangi perutnya.
“Dewa tentu bisa bereinkarnasi, mereka juga terkadang sudah memilki inang pilihannya sendiri. Berbeda dengan iblis, mencari inang yang cocok itu sangatlah sulit, apalagi harus tahan energi jahat mereka. Bisa-bisa mereka meledak, dan bum! Darah berhamburan—” Yuofan melemparkan Wuxu keluar dari guanya.
Ia lalu berjalan dengan kesal mendekati ibunya yang tengah tertidur pulas. Ia segera memeriksa keadaan ibunya yang masih normal, pandangannya pun jatuh pada perut ibunya yang semakin membesar. Rasa khawatir memenuhi isi hatinya, hari dimana ibunya akan melahirkan sudah semakin dekat, sedangkan disisi lain ia masih bingung untuk membantu persalinannya. Karena ia tidak bisa membawa ibunya ke desa untuk meminta pertolongan, itu sama saja dengan bunuh diri.
Warga desa memang tidak mengenalinya, karena penampilannya jauh berbeda dari sebelumnya. Wajahnya hancur dan tubuhnya di penuhi luka, berbeda jauh dari yang diketahui warga desa sebelumnya. Tetapi ini akan berbeda jika ibunya yang pergi ke desa, sebab ibunya memiliki wajah yang sama, postur tubuh sama, dan hanya berbeda di akal.
Yuofan menghela nafasnya pelan kemudian menyenderkan tubuhnya pada dinding gua. Tatapannya pun teralihkan ketika Wuxu kembali datang kearah nya dengan wajah kesal, membuatnya terkekeh karena gumpalan hitam itu terlihat sangat menggemaskan.
“Apa-apaan kau ini?!” teriak Wuxu merasa dirinya ditertawakan.
“Tidak,” balas Yuofan seraya menggelengkan kepalanya. “Apa kau bisa mengajariku ilmu kesehatan?” lanjutnya yang langsung dipahami oleh Wuxu saat ia melihat keadaan ibu bocah itu.
“Aku tak bisa mengajarimu, karena aku sendiri tak bisa,” ujarnya seraya tertawa garing. “Tapi kau bisa mempelajarinya sendiri, karena aku memiliki banyak buku seperti itu. Jika kau memiliki lebih banyak waktu, habiskan saja seluruh perpustakaan itu, banyak teknik yang berguna untuk mu, tapi tidak untuk ku.” lanjutnya dengan tenang.
Yuofan tersenyum lebar, dengan cepat ia keluar dari gua sambil membawa Istana Kesunyian yang ia simpan di dalam Ruang Hampa. Begitu berada di dalam istana, ia langsung bergerak mencari buku-buku yang dibutuhkannya.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan apa yang dicari. Ia berhasil mengambil lima buku yang berkaitan dengan ilmu kesehatan, khususnya yang membahas tentang janin dan proses kelahiran. Setelah memastikan semua buku yang ia perlukan ada di tangannya, Yuofan keluar dari Istana Kesunyian. Dengan hati-hati, ia mengembalikan istana itu ke bentuk awalnya dan menyimpannya kembali di dalam Ruang Hampa, memastikan semuanya tetap tersembunyi dan aman.
Ia membaca dengan tenang di bawah pohon, sedangkan Wuxu tertidur pulas diatas kepala Yuofan dengan menyelimuti dirinya menggunakan rambut bocah itu. Hingga tak terasa matahari mulai menghilang dan digantikan oleh bulan, Yuofan pun mengambil bahan makanan yang ia simpan dalam ruang hampa. Disana terdapat daging yang sudah ia panggang sebelumnya, serta mengambil beberapa buah-buahan. Ia menyajikan dalam sebuah piring kecil dan kembali berjalan mendekati ibunya yang kini sudah terbangun.
Ia menyuapi ibunya dengan perlahan, memastikan setiap suapan dikunyah dengan baik sebelum menaruh suapan berikutnya. Kali ini, ibunya lebih tenang dan penurut, berbeda dari sebelumnya ketika ia harus memaksa dengan cara kasar agar makanan masuk. Yuofan sedikit memahami alasannya, apalagi setelah ia membaca buku terkait kehamilan, perilaku itu mungkin dipengaruhi hormon kehamilan yang sedang aktif bekerja dalam tubuh ibunya, hal yang wajar terjadi pada seorang ibu hamil tua.
Setelah selesai makan, Yuofan segera melepas ikatan pada lengan ibunya. Ia mengambil air untuk memandikan sang ibu, karena ketenangan ibunya itu membuatnya lebih mudah membasuh permukaan kulit ibunya tanpa perlawanan. Sambil memandikan, ia tak melewatkan kesempatan untuk mengajak ibunya berbincang. Ia menceritakan keseharian yang baru saja ia lalui, termasuk pertemuannya dengan seekor kera besar yang memiliki sifat unik dan lucu.
“Dia sangat aneh, padahal ketika aku pertamakali melihatnya, aku mengira kera itu sangatlah pemarah. Tapi ternyata dia lebih unik dari yang aku pikirkan.” ujarnya di akhirat tawa kecil.
Yuofan memang kerap melakukan hal ini, terutama ketika ibunya tak bisa tertidur. Ia akan menemani dengan sabar, berbicara dengan lembut dan tegas, meski tidak selalu mendapatkan balasan dari ibunya. Bagi Yuofan, sekadar menjaga ibunya tetap tenang dan memberinya rasa aman sudah cukup, dan ia melakukannya dengan konsisten setiap hari.
Setelah dirasa cukup, ia pun segera mengambil pakaian ganti ibunya yang ia simpan didalam sebuah anyaman bambu. Dia dengan telaten merapihkan baju ibunya, memastikan semuanya terpakai dengan nyaman. Tak selesai sampai disana, ia mengambil sebuah sisir kayu dan mulai menyisir rambut ibunya perlahan.
“Dari cerita kera itu, aku jadi tahu bahwa hutan ini sangatlah besar! Bahkan mungkin lebih besar dari kekaisaran terdekat.” ucap Yuofan yang melihat bahwa rambut ibunya berangsur membaik, tidak rontok seperti sebelumnya.
Setelah semuanya selesai ia duduk disamping ibunya yang hanya menatap kosong ke sembarang arah. Tetapi Yuofan tak memikirkan nya, ia terus bercerita walau dirinya bahkan belum membersihkan diri sendiri.
Wajah kecil itu terlihat tenang, hangat, dan nyaman ketika berbicara disamping ibunya. Walaupun ibunya tidak merespon sedikitpun ucapannya, tetapi senyuman terus mengembang dari sudut bibirnya.