NovelToon NovelToon
CINTA YANG SALAH

CINTA YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Konflik etika / Selingkuh / Cinta Terlarang / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Taurus girls

cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Niya menahan napas saat membaca pesan dari Riski. Sedikit terkejut saat mendengar suara pintu utama terbuka. Niya buru buru menghapus semua pesannya dengan Riski tanpa membalasnya. Niya segera berjalan menuju pintu depan. Terkejut saat melihat suaminya sudah pulang.

"Mas, kok...sudah pulang? Tumben?"

Niya pikir tadi Arfi atau Zona yang pulang dari sekolah makanya dia terburu buru mengecek. Niya akan sangat merasa kasihan jika sampai kedua anaknya pulang berjalan kaki. Karena jarak dari sekolah lumayan bikin capek untuk ukuran anak seumuran mereka.

Niya menatap mas Riyan yang membawa kardus ditangannya. "Mas Riyan kau membawa apa?"

Riyan mendesah berat. Memberikan kardus berisi barang barangnya pada Niya.

"Aku haus. buatkan aku susu jahe hangat," bukannya menjawab pertanyaan istrinya. Riyan malah memberikan perintah. Riyan tidak ingin menerima pertanyaan otaknya sedang penat pusing dengan kejadian yang baru saja dihadapi.

Niya masih marah tapi tidak mau menolak perintah suami yang sudah jadi kewajibannya untuk melayani suami.

"Iya. Aku buatkan, tunggu sebentar..."

Niya membawa kardus itu sambil pergi kedapur untuk merebus air. Niya meletakan kardus diatas meja makan lalu menyalakan kompor. Suara desis kompor terdengar, sama bisingnya dengan pikirannya.

"Tumben mas Riyan pulang jam segini. Biasanya lembur sampai malam. Kardus itu... kenapa dia bawa kardus?" tatap mata Niya tertuju pada kardus yang tadi dia taruh dimeja.

"Barang kantor?" bingungnya.

Niya mengggeleng tak tahu. dia mulai meracik susu jahe hangat sesuai permintaan. Aroma jahe yang pedas menguar, sedikit menenangkan. Setelah selesai dibuat Niya membawanya pada suami.

"Nih, Mas. Susunya." Niya menyodorkan cangkir itu ke meja.

Riyan duduk disofa, membuka dua kancing kemeja paling atas. Wajahnya kusut. Dia meneguk susu jahenya sekali, lalu menaruh cangkir itu kasar sampai sedikit tumpah.

"Pak Ramli mecat aku, Niya," suara Riyan berat, serak. "Aku tidak tahu salahku apa."

Dunia Niya serasa berhenti berputar. "Pecat?"

"Mas... kok bisa, kenapa?" suara Niya nyaris berbisik. Pikirannya langsung lari ke Arfi dan Zona. Uang sekolah, uang jajan, kebutuhan bulan depan. Bahkan saat ini Niya sudah sama sekali tidak memiliki uang sepeserpun.

Riyan mengusap wajahnya kasar. "Jangan tanya kenapa. Aku sudah pusing. Intinya mulai besok aku dirumah."

Riyan menatap Niya tajam. "Dan aku tidak mau denger ada yang nanya-nanya macem-macem. Ngerti?"

Niya menggigit bibir. Amarahnya tadi mendadak hilang, digantikan rasa takut yang menusuk. Dia mengangguk pelan.

"Tapi Mas, aku sudah tidak punya uang, kalau anak an--"

"Berisik! Bisa diam tidak?!"

"I-iya, Mas."

Hening. Hanya ada suara detak jam dinding dan napas Riyan yang memburu.

Lalu, dari dalam saku kemejanya, terdengar suara getar ponsel milik Riyan.

Riyan langsung mengambil ponselnya. Dia melihat nomor tak dikenal menelponnya. Niya ingin merebut ponsel itu dari suaminya tapi Riyan buru buru menjauhkannya seolah takut Niya mendengar atau melihat siapa yang menelponnya.

"Jangan sentuh!" bentak Riyan tiba-tiba.

Niya tersentak mundur, jantungnya berdebar kencang. Siapa yang menelponnya? Niya ingin tahu, tapi mas Riyan malah membentaknya. Apa itu Luna?

Dari luar, terdengar suara pintu dibuka. Langkah kaki kecil berlari.

"Bundaaa...! Aku pulaaang!" Itu suara Arfi.

Niya dan Riyan saling pandang. Ketegangan diantara mereka setebal dinding. Niya harus cepat-cepat pasang muka biasa, sebelum anaknya melihat ada yang tidak beres.

"Bundaaa...! Aku pulaaang!" Suara Arfi terdengar lagi suara yang ceria itu seperti pisau yang menyayat ketegangan di ruangan ini.

Niya langsung mengubah raut wajahnya. Senyum di paksa muncul, meski hatinya remuk. "Iya, Sayang. Bunda di sini."

Arfi masuk sambil menyeret tas ranselnya yang kebesaran. Pipinya merah karena kepanasan.

"Ayaaah..!" Arfi langsung menghambur ke arah ayahnya, tapi langkahnya terhenti saat melihat wajah ayah yang gelap seperti mendung. Senyum Arfi luntur.

Riyan hanya melirik sekilas, lalu berdiri dengan kasar. Kursi sofa berdecit. "Aku ke kamar. Jangan berisik."

Dia melangkah cepat, membawa ponsel yang masih dia genggam erat, meninggalkan cangkir susu jahe yang baru seteguk dia minum.

"Bunda, itu Ayah kenapa? Kok Ayah Kayak marah?"

Niya berjongkok, merapikan rambut Arfi yang lepek. "Nggak marah, Sayang. Ayah cuma mau istirahat di rumah dulu." Bohong. Tapi bohong macam apa lagi yang bisa dia katakan pada anak umur 9 tahun?

"Asiiik! Berarti Ayah bisa temenin Arfi main ke mall?" Mata Arfi berbinar.

Pertanyaan polos itu menghantam Niya telak. Dia menelan ludah yang rasanya seperti pecahan kaca. "Kita... kita lihat besok ya, Nak. Sekarang kau ganti baju, cuci tangan, kaki. Bunda siapin makan."

Setelah anaknya berlari ke kamar, Niya menghela napas panjang. Dia buru buru siapkan makan buat Arfi karena waktunya hampir jemput Zona.

Malamnya, setelah Arfi dan Zona tertidur, Niya memberanikan diri mengetuk pintu kamar.

"Mas... kita ngobrol bisa?" suaranya pelan.

Tidak ada jawaban. Niya membuka pintu perlahan. Kamar gelap. Hanya ada cahaya dari layar ponsel Riyan yang menyorot wajahnya. Dia sedang mengetik sesuatu, cepat, dahinya berkerut.

Begitu sadar Niya masuk, Riyan langsung mematikan layar Ponsel dan melemparnya ke bawah bantal. "Mau apa? Kan udah aku bilang aku capek!"

"Mas, aku cuma mau tanya. Kita mau makan apa besok? Uang... uang di dompet ku udah habis," Niya meremas ujung dasternya. Harga dirinya jatuh, tapi perut anak-anaknya lebih penting.

"Kemana uang yang selama ini aku kasih?"

"Mas, aku udah berkali kali bilang. uang yang kau kasih ke aku masih kurang. gimana aku masih punya simpan---"

"Udahlah!" Riyan memotong.

"Besok aku ke rumah Pak Ramli. Minta penjelasan. Atau minta pesangon. Pokoknya diem. Jangan ikut campur!"

Niya membeku. Tapi sebelum Niya kembali bicara ponsel Riyan di bawah bantal kembali bergetar. Kali ini lebih lama.

Riyan bangkit, mengambil jaket. "Aku keluar sebentar. Ada urusan."

"Jam segini, Mas? Mau ke mana? Katanya capek?" Niya menahan lengan Riyan.

"LEPAS!" Riyan menghempaskan tangan Niya kasar sampai Niya terhuyung ke pintu lemari. "Udah di bilang jangan ikut campur! Tuli kau?"

Pintu kamar di banting. Tak lama, suara motor Riyan menderu meninggalkan rumah.

Niya merosot ke lantai, air matanya tumpah.

Di kamar sebelah, Arfi menggeliat. "Bunda...?"

Niya buru-buru menghapus air matanya. Dia melangkah ke kamar anak-anak, memeluk Arfi dan Zona yang tidur berdampingan.

Di tengah gelap, Ponsel Niya yang dia taruh di saku daster bergetar sekali. Niya mengambilnya. Pesan baru.

Dari Riski.

[Kak lagi apa?]

Niya menatap layar itu.

Tangannya terangkat, ingin membalas. Ingin tumpah semua keluh kesah. Tapi...Niya menghapus pesan dari Riski.

1
Apple
kaget
Apple
mood riyan gmpg goyah btuh tgurN krs
Apple
krj aja niya biar bs pny uang sendiri
Apple
eits riski minta pap wahwah
Apple
kok luna bisa sama nino?
Apple
cari solusi dong jgn asal mnyimpulkn
Apple
sbr niya kamu kuat dan hebT smngat y
Apple
sbr niya kamu kuat dan hebT smngat y
Apple
kasihan Niya. itu riyan knp lgsg pcy aja sama luna
Apple
nah pasti bakal ada ribut ribut nih.
Apple
surat apaan sih
Apple
ngapain malu Riyan jangan tinggi ego dan gengsi
Apple
kalo cemburu tinggal ngomong nggak usah pake acara ngambek ngambekan wkwkwk
Apple
cemburu bilang bos/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Apple
pesan apaan?
pesan dari siapa?
Apple
bagus
Apple
siapa yang ngikutin Deni.
Apple
kaget soalnya lagi ngeliatin kamu Niya
Apple
hahaha zona lucu dan bikin gemes
Apple
keluarga yang bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!