Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Penyesalan Terlambat
Nyonya tua Wang terkejut mendapatkan laporan kalau Lu Yansheng mengambil uang dengan jumlah yang cukup banyak dari perbendaharaan kediaman yang di simpan oleh kepala pelayan Tang.
"Kenapa kamu berikan? dia mengambil 500 keping perak? itu banyak sekali!"
"Maaf nyonya tua! tapi penginapan yang ada di dekat kediaman Jenderal semuanya menolak menyewakan kamar. Hanya tuan Hao saja, pemilik penginapan yang jauh di pinggiran kota, mereka tidak mau kurang dari 500 keping perak!"
Nyonya tua Wang memegang keningnya. Semua harta benda di gudang sudah di ambil setengahnya untuk pesta. Sekarang masih harus menjamu belasan orang dari kerajaan Yuzhuan itu. Dimana mereka juga cuma datang dengan beberapa kain sutra dan giok yang tidak begitu berharga.
"Kenapa jadi seperti ini! sekarang bagaimana kita membiayai kehidupan di kediaman jenderal ke depannya. Gaji jenderal bahkan sudah diminta dimuka"
Wanita tua itu mulai gelisah. Di kehidupan tuanya, tadinya dia mau tenang, hidup nyaman, makan enak, dan pikiran yang damai. Siapa sangka malang jadi seperti ini. Kesalahannya adalah, menilai kalau Mei Huarin tidak berani membantah suaminya. Nyatanya, bahkan Mei Huarin sudah pergi.
"Nyonya tua, jangan terlalu di pikirkan. Jangan sampai merusak kesehatan!" pelayan setia nyonya tua Wang mencoba menghibur wanita tua yang kepalanya sudah mau pecah itu.
"Bagaimana aku tidak pusing. Sebentar lagi juga tahun baru, biasanya aku membagikan kain dan makanan di kuil. Bagaimana kita akan melakukan itu? nama baikku? bagaimana aku bisa tenang?"
"Nyonya, kalau masalah berderma. Saya yakin Nyonya tidak akan kehilangan nama baik itu. Setiap tahunnya, kediaman Jinxi selalu menyumbang atas nama Nyonya di kuil. Tahun ini, pasti juga sama! kalau perlu, saya yang akan menemui nona muda pertama untuk mengingatkannya!"
Nyonya tua Wang mengangguk setuju. Apa yang dikatakan pelayannya benar. Biasanya memang begitu. Mei Huarin saja patuh padanya kalau masalah menyumbang itu. Apalagi hanya Lu Yanzhi.
Dan keributan lain juga terjadi di kamar jenderal.
Shen Meiren tampak sangat tidak puas dengan pesta yang diadakan di kediaman jenderal.
"Apa semua orang tidak lagi menghormatimu? meski jenderal sudah diturunkan pangkat menjadi jenderal tingkat dua. Tapi bukankah kamu juga berkontribusi besar untuk kerajaan. Bahkan tidak ada hadiah dari istana. Dan orang-orang yang datang itu, mana ada satu pun pejabat? kenapa bisa begini? tak ada hadiah sama sekali!"
Lu Yansheng sejak tadi hanya diam sambil memegang kepalanya yang pusing. Dia baru saja menghabiskan dana rumah tangga yang cukup banyak untuk mengatur penginapan orang-orang dari kerajaan Yuzhuan. Baru sampai di rumah, Shen Meiren terus mengomel karena memang tidak ada hadiah sama sekali.
"Jangan mengomel terus. Kerajaan sudah mengijinkan menikah, itu sudah bagus!"
"Sudah bagus bagaimana? aku kan memang sudah mengandung anak jenderal. Sudah sepantasnya memang jenderal menikahi ku, seperti janji jenderal! pria itu yang di pegang janjinya. Harga dirimu tergantung pada janji yang kamu ucapkan! menyebalkan!"
Jenderal terdiam. Mendengar semua ucapan Shen Meiren, Lu Yansheng sungguh membeku di tempatnya. Ucapan Shen Meiren yang mengatakan kalau pria yang menjadi harga dirinya adalah apa yang dia janjikan. Kata-kata itu sungguh menghujamm begitu dalam di relung hatinya.
Pikirannya flashback ke masa lampau. Dimana dia mengatakan janji itu pada Mei Huarin. Tidak akan ada wanita lain di hatinya. Namun dia telah mengkhianati Mei Huarin.
"Aku akan keluar, melihat apa semua prajurit sudah pulang atau belum?"
"Pergilah! aku juga sangat lelah!" sahut Shen Meiren yang bahkan sudah berbaring di tempat tidur.
Lu Yansheng membuka pintu kamar utama di kediaman jenderal itu. Dari sana, terlihat halaman utama yang sangat berantakan. Beberapa pelayan membersihkan tempat itu, menyusun kursi dan meja. Dan juga merapikan makanan yang berserakan di atas meja.
Lalu pandangannya menoleh, ke kediaman yang berdiri megah tepat di samping kediaman jenderal. Itu adalah kediaman Jinxi. Kediaman yang memang sangat tinggi, megah dan selalu di penuhi cahaya di malam hari.
Lu Yansheng meraih sebotol arak yang dibawa pelayan.
"Tuan..."
Lu Yansheng tidak bicara, dia mengibaskan tangannya. Sebagai isyarat agar pelayan itu pergi.
Lu Yansheng duduk di bangku taman yang terbuat dari batu. Batu meja kecil di atasnya ada motif bunga Krisan. Bunga kesukaan Mei Huarin. Dulu, dia yang melukisnya dengan pedang. Karena Mei Huarin sangat suka bunga Krisan.
Lu Yansheng kembali mengingat masa-masa dimana dia benar-benar dibuat jatuh hati pada wanita yang sangat berbeda itu.
Kehidupannya benar-benar mudah, dia seperti tidak pernah menghadapi masalah apapun ketika dia menikah dengan Mei Huarin. Bantuan dari kerajaan, ide-ide cemerlang Mei Huarin. Dan senyum yang selalu tampak ketiak dia kembali dari pengadilan.
Pangkatnya naik dengan cepat, semua orang berkata karena dia adalah adik ipar angkat Kaisar. Tapi Mei Huarin selalu mengatakan padanya, semua itu karena kemampuannya sendiri.
Perlahan air mata Lu Yansheng menetes. Dia menenggak setengah dari isi botol arak itu sekali tegukan.
"Kamu benar Huarin, aku yang telah mengingkari janjiku!" gumamnya.
Mungkin setelah semua kesulitan yang dia hadapi. Penyesalan itu mulai datang perlahan. Apalagi setelah dia melihat bagaimana Shen Meiren tidak perduli padanya karena tidak ada pejabat yang datang membawa hadiah. Berbeda sekali dengan perayaan ulang tahun Mei Huarin. Dia gudang di kediaman Jinxi bahkan tidak muat untuk menampungnya.
Pria itu akhirnya menyadari satu hal. Dan itu karena ucapan Shen Meiren. Dia seperti tertampar kenyataan yang dia pilih sendiri.
"Huarin..."
Brukkk
Lu Yansheng mabukk berat dan kepalanya jatuh cukup keras di atas meja. Sepertinya dia sudah mulai menyesal. Tapi sayangnya penyesalan itu sudah sangat terlambat.
Sementara itu di jaman modern. Mei Huarin sedang mengobrol dengan ibunya. Sebenarnya dia sudah tidak sabar ingin kembali ke rumah. Tapi ibunya selalu mengatakan kalau dia harus menunggu dokter yang menyuruhnya pulang.
"Kamu harus menurut. Hasil pemeriksaannya juga akan keluar sore ini. Ibu tidak mau kalau kamu pulang tapi hasil pemeriksaannya..."
Mei Huarin menyentuh punggung tangan ibunya.
"Ibu, aku sudah sangat baik! aku harus kembali ke perusahaan!"
Ceklek
Pintu kamar rawat itu terbuka. Mei Zhenhao masuk ke dalam dengan wajah cerah.
"Huarin, kakak bawa teman kakak. Kamu bisa ceritakan semuanya yang terjadi malam itu!"
Seorang pria masuk mengikuti Mei Zhenhao. Pria dengan setelan jas yang sangat rapi dan terlihat mahal.
"Selamat malam..."
"Xu Fenqing" ucap Mei Huarin yang mengenali pria yang datang bersama dengan kakaknya itu.
Pria itu tersenyum pada Mei Huarin.
"Iya, aku Fenqing. Apa kabar Huarin?"
***
Bersambung...
Lalat² seperti Perdana Menteri Xie emang harus di bersihkan dari istana..
Dan Lu Yansheng.. Jadi mantan perwira, itulah yg pantas untuk mu.. 😏
ttp semangat kak,,,💪
aku kira cerita ibu nya yanzi... tapi gak PP bagus ko ini.. asalkan tegas aja si lu yanzi nya kak😍😍😍😍