Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Dewangga berdiri di depan jendela kamar vilanya.
Matanya sibuk menelusuri setiap sudut desa. Pemandangan yang masih asri penduduk berlalu-lalang sambil membawa bakul, entah berisi apa. Beberapa anak kecil berlari di belakang, mengejar orang tua mereka, sesekali ditegur agar berjalan pelan. Suara langkah kaki bercampur dengan percakapan ringan, samar-samar masuk menembus kaca jendela.
Dewangga terus mengamati aktivitas warga di sana. Sesekali, senyum tipis muncul di wajahnya saat melihat seorang anak kecil dikejar ayahnya dengan sebatang bambu kecil. Tubuh bocah itu masih basah, kemungkinan baru saja berenang di kali. Tawa kecil yang pecah di kejauhan terdengar ringan, kontras dengan diam yang mengendap di dalam dirinya.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Dewangga berbalik, setelah tak lagi melihat siapa pun yang melintas di luar. Pandangannya kosong sejenak, seolah kehilangan sesuatu yang bahkan tak bisa ia jelaskan.
Ia duduk di sofa dalam kamar, tubuhnya jatuh pelan, lalu menghela napas kasar. Udara terasa berat, seakan ikut menekan dadanya dari dalam.
Dewangga mengeluarkan rokok dari saku celananya. Dengan gerakan lambat, ia menyalakannya. Bara kecil di ujung rokok menyala redup sebelum ia menghisapnya dalam-dalam, lalu memijat pelipisnya yang semakin terasa berat. Asap tipis mulai memenuhi ruang di sekitarnya, menggantung tanpa arah.
Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ruangan itu sunyi, hampa, seperti hatinya yang kosong. Bukan sekadar diam, tapi seperti ada sesuatu yang hilang dan tak tergantikan.
Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin. Cahaya siang masuk, memantul di lantai dan dinding kamar, tapi tetap terasa dingin. Terlalu dingin untuk menghangatkan apa pun di dalam dirinya.
...****************...
Di tangannya terdapat dua lembar foto yang ia ambil dari meja sampingnya.
Tangannya menggenggam erat kedua foto itu.
Di matanya tersirat perasaan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Rindu.
Rindu pada seseorang yang telah lama pergi… meninggalkan dirinya, membawa separuh hidupnya.
Satu foto memperlihatkan seorang wanita muda dengan rambut panjang terurai, berwarna hitam gelap.
Matanya memancarkan keceriaan. Senyum lebarnya menghadap ke arah kamera, dengan pose dua jari yang terlihat begitu hidup.
Zeya.
Wajah yang tidak pernah benar-benar pergi dari kepalanya.
Senyum yang dulu ia miliki… tapi ia hancurkan sendiri.
Satu foto lainnya
foto yang baru ia dapatkan semalam.
Seorang anak kecil perempuan.
Anaknya.
Napas Dewangga tertahan.
Detik itu juga.
Tangannya sedikit bergetar.
Perlahan.
Hatinya terasa kacau saat menatap foto itu.
Seperti sesuatu yang selama ini ia tekan dalam-dalam… akhirnya naik ke permukaan tanpa bisa ia kendalikan.
Ia mengangkat kedua foto itu.
Sejajar.
Menatapnya.
Dalam.
Lebih dalam dari sebelumnya.
"Zeya…"
Suaranya keluar pelan.
Berat.
Seolah setiap katanya harus dipaksa keluar dari tenggorokannya yang terasa kering.
Matanya berpindah.
Ke foto anak kecil itu.
Tatapannya berubah.
Lebih tajam.
Namun di balik itu, ada cairan bening yang tertahan di kedua kelopak matanya.
"Ini anak kita…"
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan saat itu juga
pertahanannya runtuh.
Air mata yang sejak tadi ia tahan… akhirnya jatuh.
Rahangnya mengeras.
Napasnya mulai tidak teratur.
"Tiga tahun…"
Ia tertawa kecil.
Pendek.
Pahit.
Banyak penyesalan yang terselip dalam satu kalimat itu.
"Tiga tahun… dan aku bahkan nggak ada di sana."
Suaranya menurun.
Lebih dalam.
Lebih berat.
Tatapannya perlahan terangkat.
Ke arah luar jendela.
Ke desa yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Dan kamu…"
Gumamnya lirih.
Hampir tak terdengar.
"Bisa hidup, membesarkan anak kita sejauh ini… tanpa aku."
Tangannya kembali mengeras.
Tanpa sadar, foto itu sedikit terlipat di genggamannya.
Namun ia tidak memperbaikinya.
Atau… mungkin tidak peduli.
"Zeya…"
Suaranya naik sedikit, dengan tatapan penuh tekad.
"Aku sudah sampai."
Kalimat itu menggantung di udara.
Berat.
Seolah membawa semua yang selama ini ia pendam sendirian.
Dan untuk pertama kalinya…
setelah tiga tahun
jarak itu terasa begitu dekat…
namun juga menyesakkan.
"Kamu nggak bisa sembunyi lagi…"
Bisiknya pelan.
Namun penuh tekanan.
“Aku sudah terlalu jauh datang ke sini…”
Napasnya terdengar jelas sekarang.
"Dan kali ini…"
Ia menjeda ucapannya.
Matanya menyipit.
"Aku nggak akan kehilangan kamu dan anak kita lagi."
Jemarinya menyentuh foto itu dengan kasar.
Tapi ada sesuatu yang lain di sana.
Sesuatu yang… hampir rapuh dan tekad yang semakin membara.
"Entah kamu mau atau nggak…"
Suaranya merendah.
Hampir seperti ancaman.
"Aku akan tetap datang menjemput kalian"
Dewangga terdiam.
Masih dengan posisi duduknya yang tidak berubah sedikitpun.
Matanya masih menatap keluar pada jendela besar itu.
desa itu tetap berjalan seperti biasa, suasana yang sudah berganti menjadi sore hari.
Desanya begitu tenang.
Semakin tenang dengan suasana sore yang terasa alami, dan menyejukkan
...----------------...
Dewangga merogoh ponselnya dari saku celananya, ibu jarinya mengulir cepat deretan nama dalam kontak.
Begitu menemukan nama itu, ia langsung menekan tombol panggilan.
Tak butuh waktu lama, sambungan tersambung.
"Riko, apa yang sedang kau lakukan sekarang?" tanya Dewangga to the point begitu panggilan terangkat. Nada suaranya datar.
"Sedang makan di bawah, pak," jawab Riko dari seberang, terdengar santai.
"Saya butuh bantuanmu. Cari tahu di mana Zeya dan anak saya biasa bermain."
Setelah mengatakan itu, Dewangga langsung mematikan panggilan tanpa menunggu respon Riko. Rahangnya mengeras, dan tangannya masih menggenggam ponsel sedikit lebih kuat dari biasanya, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Di sisi lain, Riko yang sedang menyendok makanannya mendadak berhenti saat suara sambungan terputus begitu saja.
Ia menatap layar ponselnya, yang kini hanya menampilkan panggilan yang sudah berakhir. Alisnya terangkat, wajahnya penuh tanda tanya.
Riko menggeleng pelan, bingung dengan sikap bosnya.
"Kumat nih orang," gumamnya pelan.
Sendok yang masih berisi makanan ia turunkan kembali ke piring, nafsu makannya sedikit hilang. Ia meraih ponselnya lagi, lalu menekan nomor Dewangga kembali, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme tak sabar sampai panggilan tersambung.
"Halo, bos," ucap Riko cepat begitu sambungan terhubung, nada suaranya berubah lebih hati-hati.
"Ada apa lagi?" balas Dewangga singkat. Nada ketusnya kini lebih jelas, seperti seseorang yang sedang tidak ingin diganggu, tapi tetap memaksakan diri untuk mendengar.
Riko mengernyit, jelas tidak mengerti perubahan sikap itu. Beberapa saat lalu masih terdengar biasa saja, sekarang justru terasa seperti sedang menahan emosi.
"Anu, bos... itu..." ucap Riko, suaranya sedikit tertahan.
"Anu apa?" potong Dewangga, kali ini lebih tajam. Nada suaranya naik sedikit, cukup untuk membuat Riko refleks menegakkan punggungnya.
"Nona Zeya sering bermain di sekitar taman dekat sini, pak," jawab Riko cepat, berusaha tidak membuat kesalahan lagi.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Maaf, pak, tapi"
"Tidak ada tapi-tapi. Besok antar saya ke tempatnya."
Belum sempat Riko menyelesaikan kalimatnya, Dewangga sudah lebih dulu memotong. Suaranya tegas, tidak memberi ruang untuk bantahan.
"Baik, pak."
Begitu jawaban itu keluar, panggilan kembali diputus sepihak.
Riko menurunkan ponselnya perlahan, menatap layar itu beberapa detik dengan ekspresi kesal yang tak lagi ia sembunyikan.
"Gila nih orang," keluhnya pelan.
Ia lalu meletakkan ponselnya di samping dengan sedikit kasar. Sendok kembali ia angkat, tapi kali ini gerakannya tidak lagi santai. Ia menyendok makanannya dengan perasaan jengkel, rahangnya ikut mengeras, sementara pikirannya masih dipenuhi sikap aneh bosnya barusan.