Xaviena Avanzi seorang petarung bebas di Mexico tidak pernah tau siapa orang tua kandungnya.
Hidup seorang diri membuat Xaviena hanya peduli dengan dirinya saja. Tidak pernah berusaha mengetahui dunia luar, dan hanya fokus pada pekerjaannya sebagai petarung. Xaviena tertidur panjang karena diracuni oleh seorang pria yang tidak terima dikalahkan oleh gadis itu.
Saat membuka mata, dia terkejut karna terbangun di tubuh seorang wanita asal Spanyol yang sudah menikah. Bukan pernikahan yang bahagia tapi pernikahan yang hanya membawa kesakitan dan penolakan untuk sang wanita. Xaviera bertekat untuk membalas semua kesakitan dan perbuatan suaminya.
Bagaimana jika jiwa Xaviena, si petarung bebas yang bodoh amat, masuk ke dalam tubuh Xaviera, si istri yang sangat mencintai suaminya?
Dan apa yang terjadi pada tubuh Xaviena? ikuti kisah mereka.
Ayo mampir, dijamin ga bikin bosen!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter fifteen
Xaviero telah dipindahkan ke ruang rawat inap karena kondisinya yang sudah mulai membaik. Kulitnya yang melepuh sudah agak kering dan mengelupas. Begitu juga dengan luka tembaknya.
Xaviera selalu ada disisi suaminya. Menyediakan apapun kebutuhan lelaki itu dan tidak membiarkan siapapun menyentuh Xaviero.
Sudah pasti Xaviero tersenyum senang mengetahui hal itu. Dia bahkan tersenyum jahat sambil menaik-turunkan alisnya saat mata biru lautnya menatap kedua ipar dan tangan kanannya. Tapi saat Xaviera menatapnya, Xaviero langsung mengubah raut wajahnya dengan cepat. Membuat mimik yang sangat menyedihkan.
"Kurang ajar ipar begitu. Xera sepertinya sudah kena jampi-jampi sampai kebodohan Xaviero tidak dia sadari" ucap Xander. Dia, Dominic dan Riccardo duduk di sofa bagian sudut ruangan itu. Sedangkan Clara dan Xaviena ada di dekat Xaviera.
Jovanovic sedang keluar bersama kedua orangtuanya karena ada kepentingan mendadak tadi.
"Siapapun tau muka jeleknya itu hanya untuk menarik simpati" tambah Xander lagi.
"Diamlah. Nanti juga kamu merasakan itu" Riccardo mencoba membela Tuannya.
"Eleh, kamu takut kan karna Clara juga yang mau membatalkan pertunangan kalian? Cih budak cinta gila" balas Xander.
"Bukan begitu, kau belum merasakan jadi tidak tau" Riccardo tidak mau kalah.
"Tidak peduli. Nanti apa yang akan kau lakukan kalau Clara tidak bicara padamu lagi? Mencium pantat sapi?" Xander tersenyum mengejek. Kakak pertama Xaviera itu merasa apa yang di lakukan mereka sangat berlebihan. (Tunggu waktumu sodara)
"Sudahlah Xander. Tunggu nanti waktumu tiba. Aku orang pertama yang menangis kencang melihat penderitaanmu" Dominic menengahi konflik antara dua lelaki itu
"Dengarlah suara cempreng yang membuat telingaku sakit milik tunanga- ups, emangnya jadi ya tunangannya?" Dominic angkat tangan menyerah melihat Xander yang tidak berhenti.
Xander dan Jovanovic memang tidak pernah dekat dengan perempuan manapun kecuali keluarga inti mereka. Mereka lebih senang mengumpulkan uang, uang dan uang. Tidak ada yang lebih penting dari pada uang menurut mereka.
Sementara itu disisi lain Clara dan Xaviena sedang menggosip tentang Xaviero. Padahal jarak mereka sangat dekat. Bahkan suara mereka terdengar jelas oleh lelaki yang sedang disuapi apel oleh Xaviera.
Clara menceritakan kondisi Xaviero yang seperti orang gila sewaktu Xaviera pergi dari rumah. Mereka tertawa dengan keras sampai membuat ketiga lelaki di diseberang penasaran tapi malas mendekat.
"Serius, Bell. Waktu itu Kak Vier benar-benar nggak normal," kata Clara sambil menahan tawa.
Xaviera melirik suaminya.
Sedangkan Xaviero langsung pura-pura fokus pada apel yang sedang disuapkan padanya.
"Clara." Panggil Xaviero
"Apa?" Clara menatap Xaviero kesal.
"Diam." Xaviena terkikik.
"Tidak mau." Clara menjulurkan lidahnya kearah Xaviero. Clara malah makin semangat.
"Awalnya sih masih sok kuat. Hari pertama Belle pergi, dia masih masuk kantor."
"Clara." Xaviero menajamkan matanya.
"Tapi pulangnya langsung masuk kamar Belle."Xaviero memejamkan mata. Xaviena langsung tertawa.
"Nah ini aku saksi. Coba tanya asisten Riccardo. Kak Vier masuk, duduk, melamun, minum-minum lagi. Tiap hari"
"Terus?" tanya Xaviera tanpa sadar.Mata Xaviero langsung terbuka.Sedangkan Clara tersenyum lebar.
"Oh, Belle penasaran." Xaviero menahan senyumnya.
"Aku tidak penasaran."
"Kak Bell penasaran."
"Aku tidak."
"Penasaran."Xaviera mendelik.
Clara langsung melanjutkan."Pokoknya waktu itu serem."
"Waktu aku datang ke mansion Costa, Kak Vier lagi duduk di lantai. Kepalanya nyandar di tempat tidur di kamar kamu Bell. Dia nggak bergerak sama sekali."Senyum di wajah Xaviera perlahan menghilang.
"Seharian?"tanyanya pelan.
"Berbulan-bulan bahkan. Sampai tengah malam" jawab Clara.
Riccardo yang mendengar itu ikut menimpali."Saya pernah masuk membawa makanan. Tuan tidak menyentuhnya. Beberapa kali diinfus karna kekurangan cairan. Hanya Clara yang selalu memaksa tuan untuk makan" Xaviera membeku.
Sedangkan Xander langsung menunjuk Xaviero."Nah."
"Memalukan." Dominic tertawa kecil.
"Itu belum seberapa." Semua orang menoleh.Dominic menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Waktu di Peru, awal kalian datang" Xaviero langsung menutup wajahnya dengan tangan. Xaviena langsung tertawa keras.
Xaviera mulai curiga."Apa?" Xaviena menatap saudarinya.
"Kau ingat balkon kamarmu?"Xaviera mengangguk. "Nah."
"Hampir setiap sore. Orang itu duduk disana. Memanjat dari pohon besar itu." Xaviera langsung menoleh ke arah suaminya.
Sedangkan Xaviero terlihat ingin menghilang."Berjam-jam." tambah Dominic.
"Kau terlihat gila dude. Aku sampai heran" Xaviena sampai memegangi perutnya karena tertawa mendengar ucapan Dominic.
Clara mengangguk. "Kak Vier seperti robot yang melakukan kegiatan itu terus-menerus."Semua tertawa. ecuali satu orang.
Xaviera. Tatapannya perlahan berpindah ke wajah suaminya.
Xaviero sedang menunduk.Tidak ada senyum jahil. Wajah lelaki itu yang terlihat sedikit malu.
Xander mendengus."Kau bahkan tidak masuk kantor hampir dua minggu pertama kali datang ke Peru."
"Itu karena—"
"dan tidak makan. Saya sampai harus mencari Nona Clara tiap waktu makan tiba"potong Riccardo. Xaviero langsung menatap tangan kanannya itu.Riccardo mengangkat kedua tangannya.
"Bilang saja kau memang ingin bertemu Clara. Semua pun tau" Tambah Xander.
"Kau minum?" Suara Xaviera terdengar sangat pelan.
Xaviero tahu. Ia lebih takut pada suara pelan Xaviera daripada bentakan siapa pun.
"Hanya sedikit."
"Sedikit?"
Xander tertawa sinis. "Kalau Riccardo tidak menyembunyikan botolnya mungkin sekarang dia jadi pabrik alkohol berjalan."
"Xander."
"Itu faktanya,Costa"
Xaviera menatap suaminya lama.
"Kau bodoh"gumamnya.
Xaviero tersenyum kecil."Iya."
"Kau menyiksa dirimu sendiri untuk apa?" Pertanyaan itu membuat ruangan hening.
Xaviero menatap mata istrinya. "Penyesalan. Dan aku tidak tahu harus melakukan apa saat kamu tidak ada."
"Saat kamu pergi, aku merasa tidak berguna. Ego ku masih sangat tinggi waktu itu. Dan itu yang membuatku sangat menyesal"Ia tersenyum kecil. Senyum yang justru terlihat menyedihkan.
"Aku tidak tahu harus bagaimana."Mata Xaviera langsung memerah.
Sedangkan Xander dan Dominic memilih memalingkan wajah
Mereka sudah melihat sendiri masa-masa itu.Melihat seorang Xaviero yang hancur.
Dan itu bukan pemandangan yang ingin mereka lihat lagi.
Tangan Xaviera perlahan bergerak.Menggenggam tangan suaminya.
Gerakan sederhana.Tapi cukup membuat Xaviero tersentak.
"Jangan lakukan itu lagi."ucap Xaviera pelan.
Xaviero menatap tangan mereka yang saling menggenggam.Kemudian tersenyum. Senyum tulus yang membuat semua orang di ruangan itu langsung merasa geli.
"Cih, aku keluar."Xander berdiri. Jujur saja, dia mulai muak melihat wajah Xaviero. Pria itu bahkan masih tersenyum seperti orang bodoh hanya karena Xaviera menggenggam tangannya. Menjijikkan.
"Kemana?" tanya Dominic.
"Beli kopi."
"Jangan nyasar."
"Diam." Dominic tertawa. Sedangkan Xander langsung keluar dari ruang rawat inap.
Koridor rumah sakit cukup ramai.Beberapa perawat berlalu-lalang membawa berkas. Ada juga keluarga pasien yang sedang duduk menunggu. Xander memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Pikirannya masih dipenuhi ucapan Riccardo tadi. Budak cinta. Menyedihkan.
Mana mungkin dia bisa seperti Xaviero atau Riccardo. Tidak masuk akal.
Belum sempat melangkah jauh. Bruk.
Seseorang menabraknya dari samping. Cukup keras. Xander sampai mundur setengah langkah.Sedangkan orang yang menabraknya hampir jatuh. Refleks.
Xander menangkap lengan orang itu.
"Kau buta?"ucapnya datar.
Perempuan itu langsung mendongak.
Mereka diam beberapa detik. Perempuan dengan rambut hitam panjang diikat asal.
Memakai hoodie hitam besar, celana cargo, dan sepatu boots. Cantik.
Tapi yang paling mencolok adalah ekspresinya. Terlihat sangat galak.
"Harusnya aku yang tanya."
balas perempuan itu. Xander mengangkat sebelah alis.
"Kau yang menabrakku."
"Kau yang jalannya seperti tembok."
"Lalu?"
"Minggir."Xander melirik lengannya yang masih dia pegang. Lalu melepaskannya.
Perempuan itu langsung membetulkan posisi tas selempangnya.Kemudian berjalan. Tapi kemudian dia berbalik
"Eh."Xander menatap datar.
"Apa?"
"Kau keluarga pasien ruang VIP lantai tujuh?" Xander mengernyit.
"Kenapa?"
"Jawab saja."
"Iya."
"Oh."Perempuan itu mengangguk.
"Berarti kau kenal Riccardo."
Xander langsung mendengus. "Sangat kenal."
"Cih." Perempuan itu ikut mendengus.
"Tolong bilang ke manusia menyebalkan itu kalau aku mencarinya."
"Katakan sendiri."
"Kalau aku mau mengatakan sendiri, kenapa aku bertanya padamu?" Xander terdiam.
Perempuan ini aneh dan menyebalkan mirip Clara. Lebih barbar.
"Kau siapa?"tanya Xander akhirnya.
"Axelian" Perempuan itu menjawab santai.
Kemudian menunjuk dirinya sendiri.
"Adik Riccardo."Xander sedikit terkejut.
Axelian adalah seorang model di Peru. Dia datang menjenguk Xaviero dan juga karena Riccardo yang tidak ada kabar.
Melihat ekspresi Xander, Axelian langsung menyipitkan mata. "Apa?"
"Tidak."
"Kau terlihat seperti sedang menghina aku."
"Aku memang sedang menghina." Axelian membeku. Kemudian tertawa tidak percaya.
"Wah."
"Apa?"
"Kau jujur sekali."
"Memangnya harus bohong?"
"Kau menyebalkan ya."
"Begitu juga kau."Mereka saling menatap.
Lalu secara bersamaan memalingkan wajah.
Tidak cocok.Itu kesimpulan pertama mereka. Sangat tidak cocok.
"Tapi serius."Axelian kembali bicara. "Arah ruang VIP dimana?"
Xander menunjuk koridor sebelah."Lurus, belok kanan, lalu kiri."
"Kalau tersesat?"
"Itu masalahmu."Axelian mendelik.
"Aku harap kau jomblo seumur hidup."
Xander langsung menoleh.
"Apa?"
"Jomblo seumur hidup." ulang Axelian santai.
"Kau terlalu menyebalkan."
Lalu tanpa menunggu balasan. Perempuan itu pergi begitu saja. Meninggalkan Xander yang berdiri diam. Beberapa detik kemudian. Perempuan itu berbalik lagi.
"Hampir lupa."
"Apa lagi?"
"Terimakasih." Kemudian benar-benar pergi.Xander menatap punggungnya menjauh. Untuk pertama kalinya.
Ada seorang gadis yang berani mengucapkan kata-kata seperti itu langsung di wajahnya tanpa takut sedikit pun kecuali kedua adik tercintanya.
Axelian sempat menoleh ke belakang.
Melihat pria tinggi yang sekarang sudah berjalan menjauh itu.
"Aneh."gumamnya.
"Lelaki paling tidak ramah yang pernah kutemui." Kemudian ia melanjutkan langkahnya mencari Riccardo.
Axelian mengikuti petunjuk yang diberikan Xander tadi. Lurus.Belok kanan. Lalu kiri.
"Cih. Untung benar." gumamnya pelan.
Kalau sampai salah, dia sudah berniat kembali dan memukul pria menyebalkan itu.Tak lama kemudian ia sampai di depan ruang rawat VIP. Pintu sedikit terbuka.
Suara tawa dari dalam terdengar cukup jelas.Axelian mengetuk pintu sekali. Tok.
Lalu langsung masuk tanpa menunggu jawaban."Kak Ricc—"Kalimatnya terputus.
Semua orang menoleh ke arahnya. Ruangan langsung hening beberapa detik.
Axelian ikut berhenti.Matanya menyapu seluruh ruangan.Ada seorang pria berwajah dingin yang sedang berbaring di ranjang.Seorang wanita cantik duduk di sampingnya. Lalu ada dua orang yang belum pernah dia lihat.
"AXEL!"Clara langsung berdiri.
Axelian membulatkan mata.
"Clara?" Clara langsung berlari dan memeluknya.
Baru saat itu Axelian benar-benar memperhatikan wanita yang duduk di samping ranjang. Sangat cantik.
"Kamu cantik banget. Udah punya pacar belum?" Tanya Axelian pada Xaviera.
"Hei dia istriku. Jangan melihatnya begitu" Axelian langsung bersiul menggoda.
"Maafkan aku. Wajah cantiknya membuat aku lupa kalo aku tidak memiliki itu" balas Axelian menunjuk bagian selangkangan Riccardo membuat kakaknya ingin menenggelamkan adiknya di laut dalam.
Tidak lama kemudian pintu kembali terbuka. Xander masuk sambil membawa dua gelas kopi. Awalnya wajahnya datar seperti biasa.
Namun saat melihat seseorang berdiri di dekat Clara.Langkahnya sedikit terhenti.Axelian juga menoleh dan langsung mengenali pria yang menabraknya tadi.
"Oh."gumamnya.
Xander mengangkat sebelah alis."Oh."
balasnya.
Clara menatap mereka bergantian.
"Kalian kenal?"
"Tidak."
jawab mereka bersamaan.Dominic langsung menoleh.Riccardo ikut mengernyit.Sedangkan Xaviena mulai tersenyum curiga.
Xaviero tidak peduli. Yang penting sekarang dia sedang menggenggam tangan istrinya.
duuuh kalo liat cara kerja mafia ,,
ngeri2 sedaaap🤭🤭🤭🤭
ayooooo qta lihaat masa2 Xander bucin ke axel 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
sayang byk2 ,, 🫰🫰🫰🫰🫰
mafia juga manusia kn ,, bisa sakit ,, bisa manja ,, bisa Nangis juga ,, 🤭🤭🤭🤭 ,,
semoga kalian selalu bahagia ,, 😁😁
lanjuuuut kak ,,
udh lama gx up eeh pas up si kk bawa bawaang banyaaak bangeet ,,
ayooo Xavi km harus kuat ,,
jgn pergi tinggalin Xaviera ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak ,,
baguuus 😊😊😊😊
cerita ny baguuus ,,
ide ny brilliant semua👍👍👍👍👍😁😁😁😁😁😁