Tentang perselingkuhan Hamish dan Thania. Paman dan keponakan. Hamish pria yang kesepian di hubungan rumah tangganya, hadirnya Thania dihidupnya mengubah segalanya lebih berwarna. Dan sejak kejadian mendesak di bawah hujan Hamish dan Thania mulai menjalin cinta terlarang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Karena Nathan meminta Thania untuk menemaninya membeli camilan, jadi ia menuruti apa permintaan laki-laki itu. Setelah mengantre beberapa saat, akhirnya Nathan dan Thania tiba di baris depan konter snack.
"Menurut mu popcorn rasa apa yang enak?" Tanya lelaki itu, sedikit membungkukkan badan agar suaranya terdengar lebih jelas ditengah keramaian.
Thania mengerutkan dahinya, memperhatikan lamat-lamat papan menu yang terpajang dibelakang kasir. "Popcorn karamel sepertinya enak." Ucapnya, lalu menoleh sebentar ke arah Nathan sambil tersenyum kecil.
Nathan mengangguk pelan. "Bagaimana dengan minuman? Ada pilihan teh, soda,dan kopi." Tanyanya lagi.
Thania berpikir sejenak. "Kita beli soda saja. Semua orang menyukainya." Katanya ringan.
Nathan mengangguk lagi, "Baiklah, kalau begitu akan aku pesan."
"Selamat sore silahkan pesan. Mau pesan apa?" Seorang petugas kasir menyapa dengan senyuman ramah.
"Enam cup besar popcorn Karamel, dan enam soda." Ucap Nathan.
Petugas kasir mengetik pesanan mereka, "Baik, totalnya tiga ratus lima puluh ribu. Pembayaran nya pakai tunai atau debit?"
"Debit." Jawab Nathan sambil mengeluarkan kartu dari dompetnya.
Thania yang sejak tadi berdiri disebelahnya langsung menoleh, wajahnya sedikit canggung. "Jadi aku harus membayar berapa, Nath?"
Nathan tersenyum lembut, seraya menggesekkan kartunya pada mesin transaksi. "Tidak perlu. Aku saja yang bayar."
Thania tampak ragu, "Kau yakin? Itu bukan jumlah yang sedikit, Nath."
"Tentu saja. Karena aku senang bisa mentraktir teman-temanku." Ucap Nathan sambil menyelesaikan transaksinya dengan menerima bill pembayaran dari petugas kasir.
Thania terdiam sejenak, kemudian tersenyum hangat. "Kalau begitu, terimakasih ya. Maaf kalau merepotkan mu."
Nathan menggeleng, "Tidak sama sekali, Thania. Justru aku sangat senang bisa mentraktir teman-temanku."
...🍒🍒🍒...
Setelah selesai bertransaksi tiket film, Bams menyeringai. Di kedua tangan lelaki itu sudah terdapat 6 tiket, namun terdapat dua tiket film dengan judul yang berbeda.
"Tiket film romantis ini untuk Nathan dan Thania. Yang horor biar kita berempat." Ucap Bams sesuai rencana dipikirannya. Lelaki itu memberikan tiket film horor pada Andrew.
Andrew menaikan kedua alisnya, "Dan bagaimana mengatakan alasannya pada mereka nanti?" Tanya nya cemas.
"Akan aku katakan tiket film horornya tinggal empat. Aku hanya ingin memberi Nathan kesempatan untuk berdua dengan Thania." Seru Bams dengan yakin.
Seketika Andrew tersenyum licik, lalu memukul santai lengan Bams sebagai spontan ia mendukung rencana temannya itu. "Kau ini Bams, tapi aku menyukai rencanamu."
Kedua lelaki itu berjalan ketitik kumpul mereka semula, dimana Fiska dan Anna sudah kembali dari toilet. Kedua gadis itu tampak baru saja tiba dari arah yang berlawanan.
Andrew menghampiri mereka lebih dulu. "Fiska, Anna, kalian masuklah duluan bersama ku ke studio empat. Bams sedang menunggu Nathan dan Thania membeli camilan." Ujar Andrew.
Fiska berdecak malas. Sebenarnya ia sudah menyadari saat Thania tidak ikut ke toilet; ternyata Nathan adalah alasannya. "Kenapa tidak masuk bersama-sama saja?" Tanyanya curiga, Fiska merasakan hal yang janggal dari sikap Andrew; ekspresi aneh laki-laki itu tampak menyembunyikan sesuatu.
Sontak saja Andrew menggeleng dan menyilangkan kedua tangannya sebagai isyarat penolakan. "Sebaiknya jangan. Karena nanti kehadiran kita yang ramai akan menggangu penonton lain saat filmnya terputar." Jelasnya sangat yakin.
Anna mengangguk setuju. "Baiklah, Andrew. Ayok kita masuk. Sepertinya ruangannya sudah dibuka." Seketika ia meraih tangan Fiska, dan mengajaknya masuk kedalam studio yang hanya berjarak 10 meter dari tempat mereka berdiri. Anna tidak mau membiarkan Fiska terus berdebat dengan seribu pertanyaan nya.
Andrew merobek satu tiket film horor yang ada ditangannya dan memberikan nya pada Bams. "Tiketmu, Bams."
Bams menerimanya, "Baiklah, nanti aku akan segera menyusul." Lelaki itu tetap berdiri ditempatnya sementara Andrew langsung mengikuti para gadis yang sedang menunggu antrian masuk studio.
Tak lama sejak ia berdiri ditempatnya sambil bersandar pada dinding bioskop, Bams melihat kehadiran Nathan dan Thania yang berjalan kearahnya dengan tangan yang sibuk membawa camilan. Bams langsung menghampiri mereka dan membantu membawakan minuman ditangan Thania.
"Kemana yang lain? Kenapa kau sendiri?" Tanya Thania penasaran.
"Semuanya sudah masuk kedalam." Jawab Bams.
"Kau sudah menunggu lama, Bams?" Tanya Nathan.
"Tidak juga—" Bams memotong bicaranya; lalu ia merogoh tiket dari saku celananya dan seketika wajah lelaki itu berubah tampak merasa bersalah.
"—Maaf, saat aku membeli tiket horornya ternyata kursi yang kosong tinggal empat. Aku dan andrew terlanjur membelinya dan kalian kebagian tiket film lain yang memiliki jadwal jam yang sama." Ucapnya dengan alasan yang pandai. Ia memperlihatkan tiketnya pada Nathan dan Thania.
Nathan menaikan sebelah alisnya penuh keheranan. "Film lain?"
Thania meraih tiket dari tangan Bams. "Rahasia Cinta? Ini film romantis." Gumam nya sedikit terkejut.
Bams menaikan kedua bahunya. "Tidak apa kan? Dari pada kalian aku belikan tiket horor yang sama tapi harus menunggu 2 jam lagi untuk jam tayang selanjutnya." Laki-laki itu mengedipkan sebelah matanya pada Nathan seperti sebuah kode isyarat.
Nathan menghela napas panjang lalu menatap Bams dengan senyuman yang tertahan; jadi ini rencana besarnya. "Kau tidak apa-apa menonton film itu bersamaku, Thania." Ucap Nathan dengan lembut.
Thania rasa ia tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk dan tersenyum tipis pada Nathan. "Baiklah, tidak apa-apa."
...🍒🍒🍒...
Bams benar-benar merencanakan hal yang gila. Bagaimana mungkin lelaki itu bisa menempatkan Nathan berada di situasi yang cukup membuat kesalahpahaman di antara dirinya dengan Thania.
Tiket yang diberikan Bams menunjukan lokasi tempat duduk yang hampir berada di ujung barisan belakang hanya berjarak satu baris dari barisan paling belakang.
Namun untungnya posisi duduk nya masih ditengah. Jika Bams menempatkan di baris pojok, Nathan bersumpah ia akan langsung memukul Bams bahkan sebelum filmnya selesai.
Suasana di dalam studio itu cukup sepi, bahkan tidak ada orang yang duduk di barisan Nathan dan Thania berada; mereka benar-benar menjadi penonton yang duduk paling belakang. Itu semakin memacu pemikiran orang lain yang pasti akan beranggapan bahwa mereka adalah pasangan kekasih.
Lampu studio mulai padam; pertanda cinema utamanya akan terputar. Ini menjadi momen hening diantara Nathan dan Thania. Sesekali Nathan mencuri pandang pada Thania yang fokus menonton sambil memakan popcorn di sepanjang film, sesaat sekilas garis senyum selalu muncul begitu saja dibibir lelaki itu. Wajah tenang gadis itu selalu berhasil membuat perasaannya senang.
Tiba disaat plot twist puncak keromantisan film itu berlayar. Suara musik lembut mengalun begitu manis. Di film, dua karakter utama berdiri di bawah hujan deras, saling menatap lama. Dialog mereka terputus oleh diam yang lebih dalam dari kata. Lalu—bibir mereka bertemu dalam ciuman yang perlahan, lembut, penuh rasa.
Adegan romantis itu membuat jantung Nathan terasa berdegup kencang. Membuat iris mata hitamnya teralih pada Thania.
Cahaya dari layar menari di wajah gadis itu. Tapi tidak ada binar malu, tidak ada senyum tipis, tidak ada reaksi apapun seperti yang sering ia lihat di film ketika gadis jatuh cinta. Thania tetap terlihat tenang, seperti sedang menonton berita umum perkiraan cuaca di televisi.
Nathan menelan ludah, berusaha menenangkan dirinya. Tapi saat ia melihat lembutnya cahaya menyentuh ujung pipi Thania, dan rambut panjangnya yang tergerai diam, ia sadar—ia sedang duduk terlalu dekat dengan harapan yang terlalu jauh.
Nathan berpikir keras. Ia ingin berkata sesuatu, tapi suara dalam hatinya memeluk diam.
Namun akhirnya, pelan-pelan ia bersuara, nyaris seperti bisikan.
"Menurutmu... ciuman itu terasa seperti apa?"
Thania mengerjap, lalu menoleh padanya.
"Entahlah. Mungkin... seperti rasa hangat saat kau tahu kau dicintai." Lalu gadis itu kembali menghadap layar, seolah pertanyaan itu hanya angin lewat.
Nathan tersenyum kecil. Senyum yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang mencintai tanpa tahu harus berharap sampai kapan.
Setelah beberapa detik, ia kembali berbisik.
"Aku belum pernah merasakannya. Tapi... aku rasa, aku ingin tahu... saat waktunya tepat."
Thania hanya mengangguk pelan. "Mungkin nanti kau akan tahu, setelah memiliki kekasih."
"Kalau suatu hari ada yang menyatakan suka padamu. Apa yang akan kau lakukan?"
Thania menoleh singkat. "Bergantung siapa orang itu." Lalu ia tersenyum samar, degan ekspresi yang terkesan datar seperti tidak ingin memperpanjang jawabannya.
Nathan menyandarkan kepalanya pada kursi, memejamkan matanya sesaat. Ia tahu Thania belum menaruh hati dan menyadari perasaannya. Tapi selama pintu itu belum tertutup, ia akan terus berdiri di ambangnya. Menunggu. Bukan memaksa, hanya berharap—diam-diam.
Karena meski ia tahu hatinya bisa patah, ia tetap ingin mengenal gadis itu. Lebih jauh. Lebih dalam. Walau Thania hanya melihatnya sebagai teman... untuk saat ini.
"Aku ingin dekat dan memahami bagaimana meluluhkan perasaanmu.... tetapi sikapmu seakan memberikan batas jarak yang sangat jelas diantara kita, Thania."
.
.
.
.
.
.
To be continue.....
Like gaes😊