Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Xavier masih berdiri mematung di tengah studio, menatap Aeryn dengan tatapan yang sanggup menguliti keberanian siapa pun. "Kau sengaja? Kau membiarkan aset Arkananta jatuh ke tangan musuh demi sebuah drama pribadi?"
Aeryn membalikkan badannya, menatap Xavier tanpa ada setetes pun ketakutan yang tersisa. "Ini bukan drama, Xavier. Ini adalah pembedahan. Untuk mengeluarkan tumor, kau harus membiarkannya tumbuh sampai cukup besar untuk dipotong."
Xavier melangkah maju, tangannya mencengkeram pinggiran meja kerja Aeryn. "Kaelan baru saja mendaftarkan hak cipta atas desain itu. Secara hukum, kita sudah kalah sebelum bertanding. Kau tahu apa artinya ini bagi saham Valerine’s Secret pagi ini? Merah, Aeryn. Semuanya memerah karena berita pencurian ide ini."
"Saham hanyalah angka yang berfluktuasi karena persepsi orang bodoh," sahut Aeryn dingin. Ia berjalan menuju brankas kecil di sudut ruangan, membukanya, dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang sampulnya polos. "Kau pikir aku cukup ceroboh untuk membiarkan desain The Eternal Heart yang asli ada di laptop tanpa enkripsi ganda?"
Aeryn melemparkan buku catatan itu ke atas meja. Xavier membukanya dan menemukan sketsa manual yang jauh lebih rumit, jauh lebih hidup daripada apa yang dilihatnya di monitor semalam.
"Lalu apa yang dicuri Maya?" tanya Xavier, suaranya merendah.
"Sebuah tiruan yang sempurna," jawab Aeryn dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku sudah curiga sejak tiga hari lalu. Maya tiba-tiba sering bertanya soal jadwal enkripsi server. Lalu aku melihat bekas sidik jari di sudut layar laptopku—dia cukup ceroboh saat mencoba mengintip folderku ketika aku sedang di kamar mandi. Bukannya memecatnya, aku justru memberinya panggung."
Flashback On
Dua hari sebelumnya, suasana di studio terasa sangat berbeda. Aeryn memanggil Maya ke ruangannya. Gadis itu tampak pucat, tangannya gemetar saat membawakan kopi untuk Aeryn.
"Maya, kau terlihat sangat lelah," ucap Aeryn dengan nada yang sangat lembut, bahkan terdengar penuh kasih sayang.
"S-saya baik-baik saja, Nyonya. Hanya kurang tidur," jawab Maya, matanya tak berani menatap Aeryn.
Aeryn bangkit dari kursinya, mendekati Maya, dan mengusap bahu gadis itu. "Aku tahu tentang ibumu. Operasi itu mahal, bukan? Jangan terlalu memaksakan diri di sini. Aku sudah mengatur agar kau mendapatkan bonus tambahan dan cuti lima hari mulai besok. Pergilah, temani ibumu."
Maya tersentak. Air mata mulai menggenang di matanya. "Nyonya... Anda sangat baik. Saya... saya tidak tahu harus berkata apa."
"Kau sudah menjadi asisten yang setia, Maya. Kau pantas mendapatkannya," bisik Aeryn, memberikan senyum yang paling tulus yang bisa ia buat. "Malam ini, aku akan meninggalkan laptopku menyala karena aku sedang merender file utama The Eternal Heart. Tolong pastikan tidak ada yang masuk ke studio ini sampai aku kembali besok pagi, ya?"
Aeryn bisa merasakan tubuh Maya menegang di bawah tangannya. Itu adalah umpan terakhir. Sebuah pintu yang terbuka lebar bagi seseorang yang sedang terdesak oleh kebutuhan.
Flashback Off
Kembali ke masa kini, Xavier menatap Aeryn dengan tatapan yang baru. "Kau memberinya umpan berupa desain cacat?"
"Lebih dari sekadar cacat, Xavier. Aku merancang desain itu dengan kalkulasi kegagalan struktur yang presisi," Aeryn menjelaskan sambil menunjuk sketsa di meja. "Visualnya memukau, tapi pengaturan dudukan batu utamanya menggunakan metode tension setting yang tidak stabil untuk ukuran rubi sebesar itu. Di bawah paparan panas lampu panggung pameran yang intens, logamnya akan memuai dan tekanannya akan menghancurkan batu itu dari dalam."
Xavier menyandarkan punggungnya ke dinding, melipat tangan di dada. "Dan soal hak cipta?"
"Itu bagian terbaiknya," Aeryn mengambil buku harian Maryam yang tersembunyi. "Dalam skema desain yang dicuri Maya, aku memasukkan elemen jalinan emas 'Lili Kalimantan'—sebuah teknik unik yang diciptakan ibuku dan sudah dipatenkan secara diam-diam oleh firma hukum keluarga Arkananta atas nama Maryam dua puluh tahun yang lalu. Ayahku mungkin lupa, tapi catatan hukum tidak pernah tidur."
Xavier menatap Aeryn, dan untuk pertama kalinya, ia memberikan tawa kecil yang terdengar tulus namun mengerikan. "Kau benar-benar licik, Aeryn. Kau membiarkan mereka mencuri sesuatu yang akan menjebloskan mereka ke penjara karena pelanggaran hak cipta internasional dan penipuan publik."
"Kaelan ingin menjadi bintang? Aku akan memberinya panggung yang paling terang sebelum aku mematikan seluruh lampunya," ucap Aeryn.
"Tapi bagaimana dengan Maya?" Xavier bertanya, matanya menyipit. "Kau membiarkannya pergi begitu saja dengan uang dari Kaelan?"
Aeryn berjalan menuju jendela, menatap matahari yang mulai meninggi. "Aku tahu Maya ditekan. Kaelan bukan orang yang main-main soal ancaman. Tapi pengkhianatan tetaplah pengkhianatan. Uang dari Kaelan cukup untuk operasi ibunya, tapi karirnya di industri ini sudah berakhir. Namanya sudah masuk dalam daftar hitam perbankan dan tenaga kerja Arkananta yang akan diaktifkan tepat saat Kaelan hancur."
Aeryn terdiam sejenak. Ada rasa perih yang sempat melintas di hatinya. Maya adalah satu-satunya orang di kantor ini yang sering ia ajak bicara soal hal-hal kecil di luar pekerjaan. Namun di dunia yang dikelilingi serigala, kebaikan adalah kemewahan yang tidak bisa ia miliki secara cuma-cuma.
"Kau tidak merasa kasihan padanya?" tanya Xavier, kini ia sudah berdiri di belakang Aeryn.
"Kasihan adalah racun bagi orang-orang seperti kita, Xavier. Bukankah itu yang kau ajarkan padaku?" Aeryn berbalik, menatap langsung ke mata suaminya. "Kau bilang perisai tidak boleh retak. Aku hanya memastikan perisaiku terbuat dari baja yang paling keras."
Xavier mengulurkan tangan, menyisir rambut Aeryn yang sedikit berantakan dengan jarinya. Sentuhannya dingin, namun ada arus listrik yang aneh yang mengalir di antara mereka. "Kau belajar dengan sangat cepat, Ratu Kecil."
"Aku punya guru yang sangat kejam," sahut Aeryn, tidak melepaskan tatapannya.
"Sekarang, apa rencana selanjutnya?"
Aeryn mengambil tablet dari meja, menunjukkan jadwal peluncuran Dirgantara Group. "Tiga hari lagi, Kaelan akan mengadakan pesta peluncuran paling megah di Jakarta. Dia menyebutnya koleksi 'Immortal Love'. Dia akan mengundang seluruh media internasional untuk menunjukkan kemenangannya atas kita."
"Lalu kita akan menontonnya?"
"Tentu saja," Aeryn tersenyum, senyuman yang cantik namun dipenuhi racun. "Kita akan hadir di sana sebagai pasangan yang kalah. Kita akan membiarkannya menikmati puncaknya. Karena semakin tinggi dia terbang, semakin keras suaranya saat dia menghantam tanah."
****
Di sebuah hotel mewah, Kaelan Dirgantara sedang bersulang dengan segelas wiski mahal. Di depannya, monitor menampilkan file desain yang ia yakini sebagai jantung dari Valerine’s Secret.
"Aeryn, Aeryn... kau terlalu naif," gumam Kaelan dengan nada puas. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan modal Xavier? Sekarang, desain ini adalah milikku. Dunia akan melihat siapa pewaris asli Valerine yang sesungguhnya."
Ia tidak menyadari bahwa di dalam file tersebut, tersimpan kode-kode visual yang akan menjadi bukti kehancurannya. Ia juga tidak menyadari bahwa Maya, di sudut sebuah rumah sakit, sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk tas berisi uang yang terasa seperti bara api.
****
Malam sebelum pameran, Aeryn berdiri di studio yang kini kosong dari kehadiran Maya. Ia memandangi kursi asistennya yang rapi. Ia mengambil ponselnya, melihat pesan pengunduran diri Maya yang penuh dengan kata-kata maaf yang tersirat.
Aeryn menghapus pesan itu tanpa membalasnya. Ia meletakkan ponselnya di meja, lalu berbisik pelan ke arah ruangan yang sunyi, suaranya hampir tidak lebih dari embusan angin.
"Semoga uang itu cukup untuk ibumu, Maya, karena ini adalah terakhir kalinya kau bisa bekerja di industri ini. Dan ini adalah terakhir kalinya pula aku membiarkan seseorang masuk ke dalam lingkaranku hanya untuk menusukku dari belakang."
Aeryn mematikan lampu studio, meninggalkan ruangan itu dalam kegelapan yang sama pekatnya dengan rencana yang telah ia susun dengan rapi untuk menghancurkan musuh-musuhnya esok hari.