NovelToon NovelToon
Vengeance Of A Killer.

Vengeance Of A Killer.

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI UNTUK MEMBALAS

Di tengah hutan belantara yang gelap, langkah kaki mereka terhenti, napas Diana terengah-engah karena berlari tanpa henti, bercampur dengan isak tangis yang tertahan, Ellyza sahabatnya, kini menjadi tumbal dari kejahatan Master Brian, dan kenyataan pahit itu menghantamnya dengan kejam. Lucas memeluk Diana erat, mencoba memberikan kekuatan di tengah badai emosi yang melanda gadis itu.

"Aku tidak percaya Ellyza..." Diana berbisik, suaranya serak dan pecah, "Dia tidak pantas mendapatkan ini, Lucas. Dia tidak bersalah." Tubuhnya bergetar hebat di pelukan Lucas, seakan seluruh dunianya runtuh seketika.

Lucas tahu rasa sakit Diana tidak terlukiskan, ia sendiri merasakan kemarahan yang membara di dadanya karena melihat sahabatnya sendiri menjadi korban, dan tekadnya untuk menghentikan Master Brian semakin kuat. "Aku tahu, Diana," kata Lucas pelan, mengusap lembut rambut Diana, "Kita akan membalaskan dendam Ellyza dan semua orang yang menjadi korban Master Brian."

Tatapan Diana yang penuh kesedihan kini berubah menjadi kemarahan yang membara, matanya yang indah berkilat tajam di kegelapan hutan. "Kita akan menghentikannya, Lucas. Aku bersumpah, aku akan membuat Master Brian membayar setiap tetes darah Ellyza."

Lucas mengangguk, melihat tekad yang terpancar dari mata Diana, ia tahu gadis itu tidak akan gentar, bahkan setelah kehilangan yang begitu besar. "Aku percaya padamu," jawabnya, "Tapi kita harus cerdik. Master Brian kini lebih kuat dari sebelumnya."

Mereka berdua bersembunyi di balik semak-semak, suara Raven yang berteriak marah masih terdengar samar di kejauhan, Lucas tahu mereka harus bergerak lebih jauh, menemukan tempat yang benar-benar aman sebelum merencanakan langkah selanjutnya.

"Lucas, aku minta maaf," Diana tiba-tiba berkata, menyandarkan kepalanya di bahu Lucas, "Aku hampir membuat kita celaka karena emosiku."

Lucas menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu meminta maaf, Diana. Kita semua punya batas. Justru itu yang membuatmu kuat, karena kau peduli pada orang-orang di sekitarmu."

Di dalam hatinya, Lucas merasakan dorongan yang kuat, ia tidak hanya ingin membalaskan dendam akademi dan Master Loe, tetapi juga melindungi Diana. Diana adalah satu-satunya orang yang tersisa dari masa lalunya yang bahagia, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi.

"Kita harus lebih kuat, Diana," Lucas melanjutkan, "Tidak hanya dengan elemen kita, tetapi juga dengan pikiran kita. Master Brian ingin kita dikuasai emosi."

Diana mengangkat kepalanya, menatap Lucas dengan mata berkaca-kaca, "Aku akan berusaha, Lucas. Demi Ellyza."

Mereka berdua mulai bergerak lagi, lebih hati-hati, lebih waspada, menyelinap di antara pepohonan rimbun yang menelan mereka dalam kegelapan. Lucas memimpin jalan, inderanya menajam, mendeteksi setiap suara dan gerakan di sekitar mereka.

Malam itu terasa panjang, setiap bayangan seakan menyembunyikan ancaman, tetapi kehadiran Lucas di sisinya memberikan sedikit ketenangan bagi Diana. Ia tahu ia tidak sendirian, dan itu adalah hal terpenting.

Setelah berjalan cukup lama, Lucas menemukan sebuah ceruk kecil di bawah tebing, cukup tersembunyi untuk mereka beristirahat sejenak. "Kita bisa bersembunyi di sini sampai pagi," bisik Lucas, "Kita butuh istirahat."

Diana mengangguk, tubuhnya terasa pegal dan lelah, tetapi pikirannya masih berputar pada Ellyza, bayangan sahabatnya yang ceria kini tergantikan oleh rasa hampa yang menusuk. Ia duduk bersandar pada dinding tebing, menatap kosong ke kegelapan di depannya.

Lucas duduk di sampingnya, meraih tangan Diana, dan menggenggamnya erat. "Aku tahu ini berat, Diana," katanya, "Tapi kita harus kuat. Ini baru permulaan."

Motivasi Lucas kini semakin kompleks, ia tidak hanya didorong oleh balas dendam dan keadilan, tetapi juga oleh cinta dan persahabatan, ingin melindungi orang yang ia sayangi dan memastikan tidak ada lagi korban yang berjatuhan di tangan Master Brian.

"Aku takut, Lucas," Diana mengakui, suaranya nyaris tak terdengar, "Master Brian... dia tak terhentikan."

Lucas menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang tak terhentikan, Diana. Kita akan menemukan kelemahannya. Aku berjanji."

Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan pada Diana, janji untuk selalu melindunginya, dan kini janji itu terasa lebih nyata, lebih berat, dan lebih penting dari sebelumnya.

Di dalam hati Lucas, ia menyusun rencana, ia harus mencari tahu lebih banyak tentang kekuatan baru Master Brian, Petir Gelap, dan menemukan cara untuk menghadapinya. Ia tidak bisa hanya mengandalkan elemen airnya saja.

"Kita akan melatih diri kita, Diana," kata Lucas, menatap gadis itu dengan serius, "Kita akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Cukup kuat untuk mengalahkan Master Brian."

Diana menatap Lucas, melihat ketegasan di mata pemuda itu, dan sedikit harapan mulai menyala di dalam dirinya. "Baiklah, Lucas," jawabnya, "Aku siap melakukan apa saja."

Fajar mulai menyingsing, mewarnai langit timur dengan gradasi warna jingga dan ungu, mengusir kegelapan malam, tetapi di dalam hati Diana, kegelapan masih bercokol, menunggu untuk diusir oleh harapan dan tekad yang baru. Lucas tahu perjalanan mereka masih panjang, tetapi ia tidak akan menyerah, tidak akan pernah.

"Aku punya ide," Lucas tiba-tiba berkata, memecah keheningan pagi, matanya menatap tajam ke arah Diana. "Ada satu tempat yang mungkin bisa membantu kita, tempat kita bisa menemukan teknik baru yang lebih kuat."

Diana menatap Lucas penuh harap. "Di mana?" tanyanya, suaranya dipenuhi rasa ingin tahu dan sedikit kecemasan. "Apakah itu tempat yang aman?"

"Akademi Bayangan Utara," jawab Lucas, suaranya rendah, tetapi penuh keyakinan. "Di sana, di antara reruntuhan, mungkin masih ada catatan-catatan kuno atau area latihan rahasia yang tidak terjangkau Master Brian."

Wajah Diana menunjukkan keterkejutan, bercampur dengan sedikit kesedihan. "Akademi kita?" bisiknya. "Tapi... bukankah semuanya sudah hancur? Apa yang bisa kita temukan di sana?"

"Master Loe selalu bilang, pengetahuan adalah senjata terkuat," Lucas menjelaskan, "Ada banyak hal yang tersembunyi di akademi yang mungkin belum sempat kita pelajari sepenuhnya. Kita butuh keunggulan, dan mungkin itu ada di sana."

Meskipun berat untuk kembali ke tempat kenangan pahit itu, Diana tahu Lucas benar. Mereka membutuhkan setiap keuntungan yang bisa mereka dapatkan, dan jika itu berarti menghadapi masa lalu, ia akan melakukannya. "Baiklah," kata Diana, mengangguk mantap, "Mari kita kembali ke rumah."

Perjalanan menuju Akademi Bayangan Utara terasa jauh dan penuh bahaya. Mereka harus melewati berbagai wilayah yang mungkin sudah berada di bawah kendali Master Brian atau para pengikutnya. Lucas menggunakan setiap kemampuan penyamaran airnya, menjaga Diana tetap aman dari pandangan musuh.

Mereka bergerak di malam hari, menyelinap dari satu bayangan ke bayangan lain, menghindari jalan utama yang ramai, dan memilih jalur hutan yang lebih terpencil. Setiap langkah adalah pertaruhan, setiap suara adalah potensi ancaman, tetapi tekad mereka untuk menemukan kekuatan baru semakin membara.

Beberapa hari kemudian, saat matahari terbit, siluet Akademi Bayangan Utara terlihat di kejauhan. Namun, bukan lagi bangunan megah yang mereka kenal, melainkan reruntuhan yang sunyi, puing-puing batu yang berserakan, dan tanda-tanda kehancuran yang menyakitkan hati.

"Ini... ini lebih buruk dari yang aku bayangkan," Diana berbisik, matanya berkaca-kaca melihat pemandangan menyedihkan itu. Bangunan-bangunan yang dulunya penuh kehidupan kini hanya tinggal kenangan.

Lucas merasakan dadanya sesak, ia melihat sisa-sisa bangunan tempat ia berlatih, tempat ia menghabiskan masa kecilnya, dan tempat ia kehilangan Master Loe dan Niama. Kemarahan lamanya kembali bangkit, bercampur dengan kesedihan yang mendalam.

"Kita tidak punya waktu untuk berlarut dalam kesedihan," Lucas berkata tegas, meskipun suaranya sendiri bergetar, "Kita harus fokus pada misi kita. Master Loe pasti ingin kita terus maju."

Mereka berdua melangkah hati-hati memasuki kompleks akademi yang hancur. Debu dan abu masih menyelimuti tanah, dan angin yang berembus pelan membawa bisikan-bisikan masa lalu yang menyakitkan.

Lucas memimpin Diana ke arah perpustakaan, tempat Master Loe sering menghabiskan waktu, berharap menemukan gulungan atau buku-buku yang selamat dari kehancuran. "Perpustakaan adalah tempat terbaik untuk memulai," katanya.

Ketika mereka sampai di sana, sebagian besar bangunan sudah runtuh, rak-rak buku berserakan, dan gulungan-gulungan perkamen hancur terbakar. Namun, Lucas melihat ada bagian dinding yang masih berdiri kokoh, mungkin ada ruang rahasia di baliknya.

"Dulu, Master Loe sering berbicara tentang ruang tersembunyi di bawah perpustakaan," Lucas menjelaskan, "Tempat itu hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki pemahaman mendalam tentang elemen."

Mereka berdua mulai mencari, membersihkan puing-puing, dan Lucas mencoba merasakan energi elemen di sekitar mereka, mencari jejak pintu atau mekanisme tersembunyi yang mungkin masih berfungsi. Diana membantunya dengan elemen esnya, membersihkan puing-puing yang menghalangi.

"Kita harus cepat, Lucas," Diana mengingatkan, "Master Brian mungkin saja sudah mengantisipasi kita kembali ke sini."

Lucas mengangguk, ia tahu risiko itu, tetapi ia yakin ini adalah satu-satunya jalan. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh energinya, dan membiarkan elemen airnya menyebar ke seluruh reruntuhan, mencari celah yang tersembunyi.

Tiba-tiba, ia merasakan tarikan samar dari bawah tanah. Ada sesuatu yang merespons elemennya. "Aku merasakannya!" seru Lucas, membuka matanya, dan menunjuk ke arah salah satu bagian dinding yang tertutup reruntuhan.

Dengan bantuan Diana, mereka berhasil membersihkan puing-puing itu, dan di baliknya, sebuah simbol air kuno muncul di dinding, memancarkan cahaya biru redup. Lucas menyentuh simbol itu, dan dinding itu perlahan bergeser, memperlihatkan sebuah lorong gelap di bawah tanah.

"Ini dia," Lucas berbisik, merasa lega, "Jalan menuju pengetahuan yang bisa mengubah segalanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!