Binar Amanda, seorang gadis yang secara mendadak memiliki banyak hutang setelah sang ayahnya meninggal dunia. dengan tekad untuk menyelamatkan ayahnya dari api neraka dan menghindari dakwaan sebagai anak durhaka Binar pun bertekad untuk melunasi hutang-hutang milik almarhum ayahnya yang kemudian malah mengantarkannya pada seorang Captain Pilot bernama Angkasa Baskoro. Bisakah Binar melunasi hutang ayahnya?
lalu masa lalu seperti apa yang telah terjadi diantara keduanya yang akhirnya menuntun mereka pada sebuah takdir.
Dapatkan jawabannya di Hutang Cinta Untuk Mr.Pilot.
Mari berteman, ig : Risasaputri790
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Saputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Derap langkah kaki Angkasa terdengar menggema di lorong rumah sakit. Wajahnya mengeras menahan emosi dan rasa khawatir yang saat ini menghinggapinya. Matanya menelusuri setiap ruangan yang dilewati memastikan apakah orang yang dia cari ada di dalamnya.
Sore ini seharusnya Angkasa akan memberikan kejutan pada Binar dengan kedatangannya, karena ada perubahan jadwal secara mendadak membuat Angkasa yang seharusnya datang besok menjadi hari ini. Namun malah Angkasa yang mendapatkan kejuatan dengan kabar kecelakaan yang dialami Hadrian dan Binar sore ini.
Tadi Setelah berhasil landing dengan sempurna, Angkasa langsung menyalakan ponselnya dan menghubungi Binar namun yang mengejutkan bukan suara Binar yang ia dengar akan tetapi malah suara Hadrian lah yang berada di balik telepon. Yang lebih membuat Angkasa marah ketika mendapatkan kabar dari Hadrian bahwa mereka baru saja kecelakaan dan Binar saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Saat itu juga setelah mengetahui di rumah sakit mana Binar berada Angkasa langsung bergegas pergi bahkan masih dengan pakaian seragam pilot di badannya.
Dan disinilah Angkasa berada sekarang, di rumah sakit tempat Binar dirawat. Angkasa melihat seorang laki-laki yang duduk di depan ruang UGD dan nampak kalut dengan tangan yang memegangi kepalanya, bahkan Angkasa dapat melihat bajunya yang dipenuhi bercak darah.
Angkasa mendekat, wajahnya makin mengeras dengan urat-urat yang terlihat di sekitar rahang dan keningnya. Tangannya mengepal keras ketika langkahnya makin mendekati Hadrian, dan ketika tubuh itu telah berada tepat di depannya dengan cepat Angkasa meraih kerah baju Hadrian dan menariknya berdiri lalu mendorongnya mengenai dinding dengan keras. Hadrian yang terkejut dan masih terlalu lemah karena shock dan luka di kepala serta bahu kanannya hanya bisa diam, tidak ada perlawanan.
"Brengsek, kamu apakan dia hahh?!!"
"Angkasa tenanglah dulu, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami berjalan sesuai dengan lajur kami lalu Mobil itu...mobil itu melaju dengan cepat dan..."
"Kau!! Tidak perlu mencari alasan!."
Belum sempat Hadrian menjelaskan, Angkasa terlebih dahulu menginterupsi. Emosi dan amarah memenuhi kepala Angkasa dan Hadrian tau itu. Dan karena itulah Hadrian mencoba untuk tetap tenang serta mencoba tidak ikut tersulut emosi.
"Angkasa tenanglah, dengarkan penjelasanku semua ini juga terlalu mengejutkanku. Jadi ku mohon tenanglah. Paling tidak tunggu hingga dokter yang menanganinya keluar dan kita tau bagaimana keadaanya, setelah itu kamu bisa menghajarku sepuasnya."
Angkasa menurunkan tangannya dari kerah baju Hadrian, Ya ada benarnya juga yang dikatakan Hadrian. Saat ini yang perlu dipikirkan adalah kondisi Binar, masih belum ada yang tau bagaimana keadaannya saat ini. Angkasa lalu duduk di kursi tunggu dan berdoa berharap keadaan Binar baik - baik saja. Hadrian pun mengikuti Angkasa, mereka berdua duduk di kursi tunggu dengan wajah penuh ke khawatiran.
Setelah beberapa saat pintu ruang UGD itu pun terbuka, seorang perawat keluar dan memanggil Angkasa dan Hadrian untuk masuk melihat kondisi Binar.
Binar masih belum sadarkan diri dengan perban di kepala dan kaki kirinya. Angkasa dan Hadrian yang melihat kondisi Binar pun menatap dengan tidak tega. Tubuh Binar terlalu kecil untuk ukuran Angkasa dan Hadrian yang memiliki postur tinggi dan tegap dan itu membuat mereka tidak tega melihatnya harus merasakan banyak rasa sakit dari luka yang berada di tubuhnya.
"Pasien saat ini masih belum sadarkan diri karena obat yang disuntikan padanya. Untuk lukanya sendiri, di bagian kepala terdapat luka robek akibat benturan namun kami masih belum mengetahui apakah ada kerusakan di bagian dalam kepala karena kami baru bisa melakukan CT SCAN setelah pasien sadar. Pada bagian kaki, ada tulang yang retak syukurlah tidak sampai patah. Dan luka robek yang cukup dalam dibagian paha atas yang sudah kami jahit. Untuk sementara kondisi pasien cukup stabil kita tinggal menunggu perkembangannya besok stelah pasien sadar dan dilakukan pemeriksaan CT SCAN."
Jelas dokter mengenai keadaan Binar saat ini.
"Apakah besok pagi dia sudah bisa sadarkan diri?" tanya Angkasa pada dokter.
"Melihat dari kondisi pasien, besar kemungkinan bisa sadar besok. Namun kita masih harus mengawasinya terus, untuk menghindari kemungkinan terburuk"
Angkasa mengeryitkan dahinya, "Kumungkinan terburuk?"
"Karena kita masih belum tau apakah benturan itu menyebabkan kerusakan pada bagian vital di dalam kepala yang dapat mempengaruhi kondisi pasien, jadi kita harus terus mengawasinya."
Angkasa mengangguk, dokter dan perawat pun keluar dari ruangan.
Angkasa mendekati bangsal Binar, di tatapnya wajah pucat itu. Tangan Angkasa bergerak mengelus kepala Binar.
"Maafkan aku, jika bukan karena ku yang mengajaknya pulang bersama mungkin kejadian ini tidak akan terjadi."
suara Hadrian menghentikan kegiatan tangan Angkasa. Angkasa berbalik menghadap Hadrian.
"Sudahlah tidak perlu diperpanjang. Pergilah, paling tidak obati luka di kepalamu itu. Cari suster dan mintalah mereka untuk mengobatinya."
Ucap Angkasa lalu berbalik kembali mengambil kursi dan mendudukinya.
"Terima kasih, aku akan meminta mereka mengobatinya."
Angkasa mengangguk tanpa menoleh, "Setelah itu pulang dan istirahatlah."
"Iya, aku permisi" setelah itu Hadrian melangkah keluar dari ruangan meninggalkan Angkasa dan Binar sendiri.
Angkasa masih menatap Binar, Tangannya menggenggap tangan Binar yang terpasang jarum infus.
"Cepatlah sadar, sudah cukup kejutannya" gumamnya lirih.
***
Angkasa merasakan sinar matahari yang mulai mengenai wajahnya. Mencoba mengerjabkan matanya.
"Arghh" erangnya ketika merasakan sakit di lehernya akibat tidur dengan posisi duduk dan kepala di ranjang.
"Good morning" suara serak dan pelan seseorang membuat Angkasa membuka matanya dengan lebar. Dengan cepat dia menegakkan tubuhnya ketika dilihat Binar yang telah sadar dan tersenyum.
"Hi, apa kabar?" pertanyaan keluar dari bibir Binar yang masih pucat.
"Kamu? Sejak kapan?" tanya Angkasa bingung. Dan Binar hanya menjawab dengan senyuman canggung karena takut.
Tbc.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya temen - temen 😊
Sebel deh lihat nya