Ardian, seorang pengusaha muda yang tampan dan mapan. Ia memiliki seorang kekasih yang bernama Karina, kisah cinta mereka cukup rumit karena adanya orang ketiga. Belum lagi kehadiran orang ketiga yang memiliki tujuan untuk menghancurkan keluarga Ardian. Semuanya perlahan terungkap saat Vino datang, lelaki yang tak lain adalah kakak dari kekasihnya, Karina. Tidak hanya Ardian, Karina ternyata juga memiliki sebuah rahasia besar tentang keluarganya. Setelah hubungannya mengalami kerenggangan dengan Karina, Ardian pun mencoba memperbaiki hubungan itu. Mampukah Ardian merebut kembali hati Karina yang sudah terlanjur dibuat terluka oleh sikapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rijal Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan Batin
"Padahal aku juga udah ngirim surat lamaran kerja loh ke beberapa tempat, tapi sampai sekarang belum ada info apa-apa."
Karina dan Vino keluar toko sambil bercerita, Ardian sudah berdiri menunggu mereka di depan pintu keluar.
"Sini kamu!" Ardian menarik tangan Karina dan menyuruhnya untuk menjauhi Vino.
"Ih, kamu kenapa sih? Aneh banget deh, datang-datang kok narik tangan orang sembarangan!" Karina berdiri lebih jauh dari Ardian.
"Kamu enggak kenal siapa dia! Jadi jangan deket-deket sama dia!" tegas Ardian.
"Apaan sih? Aneh banget jadi orang." Karina memandang Ardian dari atas sampai bawah dengan ujung matanya, dia jadi bete dibuat cowok itu.
Sedangkan Vino, lelaki itu cuma terpaku diam memperhatikan mereka berdua yang seperti sepasang kekasih sedang bertengkar.
"Yuk, Vin!" Karina menarik tangan Vino agar segera pergi dari hadapan Ardian.
Ardian tidak bisa mencegah, dia menatap Karina yang pergi bersama Vino dengan perasaan tidak tenang.
Berbagai macam dugaan muncul di pikirannya, Ardian tidak percaya kalau Vino adalah lelaki baik. Terlebih setelah tahu kalau Vino punya geng sendiri, dan itu semakin menambah rasa khawatir di hatinya.
"Kamu kenapa ketus gitu sama Ardian?" tanya Vino saat mereka sudah berada di parkiran.
"Tante nyuruh seperti itu, biar dia tahu gimana rasanya dicuekin dan kemudian enggak dianggap sama sekali." Karina mengipas wajahnya yang terasa panas menggunakan tangan kirinya.
Kruk kruk!
Vino menahan tawa mendengar bunyi perut Karina, dan Karina tersenyum malu-malu sambil memegangi perutnya.
"Lapar kan? Pasti belum sarapan, sarapan dulu sana!"
Lagi-lagi Karina cuma tersenyum. "Bentar lagi aja, aku masih harus ke suatu tempat. Mungkin di sana ada lowongan pekerjaan untuk aku," jawabnya beralasan.
Sebenarnya, Karina sudah tidak punya uang sama sekali, dompetnya benar-benar sudah kosong.
Dari rumah pak Seno saja dia cuma jalan kaki sejauh itu, Karina tidak bisa jika hidup bergantung sama orang lain. Jadi, dia akan mencari kerja sampai dapat!
"Aku temenin sarapannya gimana?" tanya Vino.
"Enggak usah, Vin! Udah jam delapan, kamu harus segera ke kantor nanti telat bisa bahaya loh. Aku bisa makan sendiri nanti." Karina mendorong Vino untuk segera masuk dalam mobil, dia juga membukakan pintu untuk cowok itu.
"Ta-tapi, Ka_"
"Udah jangan banyak bicara! Kamu udah telat, sana pergi!"
Karina kembali menutup pintu mobil, ia mundur beberapa langkah, lalu melambaikan tangan ke arah Vino dengan senyumannya yang sudah pasti sangat menawan.
"Hati-hati ya, Vin!" ucap Karina.
"Hati-hati ya sayang!"
Suara dan bayangan seorang perempuan tiba-tiba muncul dalam memorinya, otaknya berputar cepat.
Ingatannya kembali berputar ke masa silam, Vino teringat akan ibunya yang sekarang entah berada di mana.
Senyuman dan kata-kata Karina tadi, itu sama persis seperti kata-kata ibunya saat mengantarkan dirinya pergi jalan-jalan bersama ayahnya.
Lambaian tangan Karina, senyumannya, dan semuanya yang ada di diri Karina, semua itu sama persis seperti ibunya.
"Mama," gumam Vino, ia memalingkan wajahnya dari tatapan Karina. Menaikkan kaca jendela mobil, dan langsung tancap gas tanpa membalas senyuman Karina.
"Kenapa aku baru sadar sekarang, wajah yang tidak pernah aku lupakan sampai sekarang, kini malah muncul di saat melihat gadis itu." Vino menghela napas berat, tidak ada satu pun memori lain tentang ibunya.
Semuanya seakan berhenti di satu titik, Vino juga tidak tahu siapa ayahnya.
Bukannya pergi ke kantor, Vino malah memutar haluan menuju markas tempat dia biasanya kumpul bersama teman-temannya.
****
"Lesu banget tuh muka, lo kenapa lagi, Vin?" tanya Bayu, temannya yang satu panti.
"Nggak tahu, Bay. Gue sendiri juga bingung." Vino melompat ke atas sofa dan kemudian tidur dengan tenang di sana.
"Capek mikirin kerja?" tanya Bayu.
"Bukan." Vino tidur telentang dengan posisi tangan di atas keningnya. "Tadi gue ketemu Karina, tapi tiba-tiba... entah kenapa gue jadi keinget seseorang." Vino menoleh ke arah Bayu yang juga sedang tidur sambil memainkan ponselnya.
"Keinget mantan pacar lo?"
"Gue keinget nyokap gue, Bay."
"Emang lo masih inget wajah nyokap ama bokap lo?" tanya Bayu, dia yang tadinya tiduran sambil bermain game, kini bangun dan duduk tegak karena penasaran dengan cerita Vino.
Cowok itu mulai memfokuskan kedua telinganya untuk mendengar omongan Vino.
"Wajah mereka udah pudar, bahkan samar-samar di ingatan gue. Kalau mama, gue masih sedikit inget. Beda sama papa, gue sedikit pun enggak inget gimana wajah papa."
"Lah, terus kenapa lo bilang kalau Karina mirip sama nyokap lo?"
"Enggak tahu, tiba-tiba aja tadi gue teringat sama mama begitu ngelihat dia berdiri di samping mobil gue sambil melambaikan tangan dan bilang hati-hati ya. Gue inget moment itu, sama banget pas gue terakhir kali ketemu sama orangtua gue, sebelum akhirnya gue ditemukan sama ibu panti." Vino menarik napas panjang.
Frustasi rasanya ketika mencoba mengingat seseorang yang sangat penting di hidupnya, tapi... dia sama sekali tidak punya memori yang melekat di ingatannya.
Bayu juga merasa iba melihat nasib Vino, sahabatnya itu harus hidup sebatang kara karena tidak tahu di mana keberadaan orangtuanya.
"Emang benar ya kalau lo enggak inget satu pun tentang orangtua lo, Vin? Coba deh lo ingat-ingat!" saran Bayu.
Vino memejamkan matanya, suasana hening berlangsung beberapa menit sampai akhirnya_
"Bayu, gue cuma inget kalau saat itu bokap gue bicara dengan seseorang di telpon. Gue enggak tahu siapa, saat itu gue masih asyik melihat orang bermain kembang api di pasar malam. Pas gue balik badan lagi, bokap gue udah enggak ada. Gue nunggu berjam-jam di sana, tapi enggak ada yang datang buat jemput gue." Vino berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam dan kembali bercerita. "Karena takut sendirian, akhirnya gue pergi dari sana. Gue mau pulang, tapi enggak tahu jalan ke rumah gue yang mana. Sampai akhirnya gue ditemukan sama ibu panti, dan di sanalah gue berakhir."
"Hufh!" Bayu menghempaskan napasnya yang terasa sesak, malah dia yang kelihatan sedang memikul beban yang berat.
Setiap kali Vino kesusahan, dia juga pasti akan ikut kesusahan. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, sejak pertama Vino menjadi salah satu penghuni panti Permata Hati.
"Masa sih itu doang yang lo inget," ucap Bayu.
"Gue beneran enggak inget, Bay. Gue juga heran, kenapa bokap sama nyokap gue enggak pernah nyariin gue ya? Kenapa mereka seakan enggak pengen ketemu gue lagi," lirih Vino.
"Sabar, Vino. Gue yakin mereka pasti selalu nyariin lo, dan lo juga harus yakin kalau sebentar lagi kalian pasti akan bertemu," ucap Bayu berusaha menghibur.
"Argh" erang Vino, "gara-gara masalah ini, gue jadi enggak masuk kantor kan."
Vino melirik jam di pergelangan tangannya, sudah jam sepuluh lewat. Hari ini dia tidak punya semangat untuk kerja, rasanya lebih baik tidur di rumah.
"Lo udah makan? Gue masih punya nasi tuh!" Bayu menunjuk dengan lirikan matanya, ia melirik ke atas meja yang berada tepat di samping jendela. "Masih ada satu bungkus lagi," lanjutnya.
"Gue udah makan di rumah," jawab Vino. Cowok itu kembali merebahkan tubuhnya ke atas sofa.
"Gawat!" ucap Vino, dengan reflek dia kembali duduk tegak.
"Apanya yang gawat?" tanya Bayu jadi panik.
"Apa Karina udah makan ya?" Vino teringat Karina, raut wajahnya tampak sangat khawatir.
"Kalian baru beberapa kali bertemu, belum kenal lama, dan juga tidak terlalu akrab. Aneh kalau gue lihat lo terlalu peduli sama cewek itu, jangan bilang kalau lo naksir tuh cewek," tebak Bayu.
"Enak aja kalau ngomong! Gue peduli sama dia bukan karena suka, tapi ya karena hati gue yang menginginkannya. Gue enggak tahu, kenapa gue ngerasa dekat sama Karina, kayak ada sesuatu yang membuat kami terikat gitu."
Bayu mendengar dengan seksama, dia lalu mengambil kesimpulannya.
"Apa mungkin Karina itu nyokap lo?" gurau Bayu.
"Sembarangan! Nyokap gue mana mungkin semuda itu!"
"Ya, siapa tahu di kehidupan sebelumnya dia pernah jadi nyokap lo," kata Bayu yang membuat Vino semakin bad mood.
"Ngaco lo! Gue mau nyari Karina dulu." Vino berdiri dan langsung menyambar kunci mobilnya yang tadi diletakkan di atas meja.
"Mau ke mana? Gue ikut dong!"
"Enggak usah! Mending lo balik ke kafe deh, daripada di sini enggak ada kerjaan," ucap Vino saat hendak keluar.
*****
karina jadi bego gara" cinta
emilia jadi stress gara" cinta
ibu nya emil gangguan jiwa gara"?? sama aja kan, Cewek emang ya /Facepalm/