Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Yuda terbangun lebih awal pukul dua dini hari lewat beberapa menit. Afifah masih tertidur dalam dekapannya. Yuda merasa bahagia, teringat peristiwa semalam, saling berbagi kehangatan di malam yang dingin.
Yuda menarik pelan tangannya, setelah mengecup hangat kening Afifah, membetulkan selimut untuk menutupi tubuh Afifah, Yuda beranjak dari tempat tidur.
Saat melewati dapur, Yuda teringat Afifah yang mungkin kedinginan jika mandi dengan air dingin. Segera Yuda mengisi panci dengan air dari kran untuk dimasak.Sementara dirinya tetap menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Keluar dari kamar mandi, Ibu dan Afifah ternyata sudah bangun. Air yang di masak Yuda sudah mendidih. Afifah sudah membuat teh hijau untuk Yuda menggunakan air yang dimasak Yuda, sisanya dimasukan ke dalam termos, agar air panas lebih lama.
Yuda garuk-garuk kepala melihat air yang dia masak untuk Afifah sudah habis tak bersisa, mau mengatakan yang sebenarnya, Yuda malu karena ada ibu.
Yuda berlalu masuk kamar, setelah mengucapkan terima kasih karena telah Afifah buatkan teh hangat. Yuda meletakan gelas berisi teh di meja kecil dekat tempat tidur. Setelah memakai baju koko lama miliknya yang di ambilnya dari lemari, Yuda menggelar sajadah dan segera shalat malam.
Afifah masuk saat Yuda sedang mengaji.
"Mandinya pakai air dingin, dek?"
"Iya, mas."
"Padahal tadi, mas masak air buat mandi adek."
"Mandi pakai air dingin sebelum shubuh lebih sehat untuk tubuh, mas."
"Pinternya istriku.."
Yuda menggoda Afifah dengan mencubit pipi chubby Afifah. Yang dicubit hanya meringis.
¤¤FH¤¤
Setelah shalat dhuha, Yuda dan Afifah pamit pulang ke rumah mamah Ajeng. Yuda pulang lebih awal, karena ingin mengajak Afifah jalan-jalan dulu.
Yuda membawa Afifah ke tempat wisata taman bunga. Dulu awal mereka menikah, Yuda pernah berniat mengajak Afifah ke sana, tapi cuti yang diberikan kantor hanya sebentar, karenanya dulu Yuda langsung memboyong Afifah ke rumah mereka di kota.
Banyak jenis bunga yang ditanam di sana, beruntung saat mereka berkunjung, bunga-bunga sedang bermekaran. Hamparan bunga warna-warni benar-benar memanjakan mata mereka.
Setelah lelah berjalan melihat-lihat aneka bunga, mereka mencari tempat duduk. Ada banyak tempat duduk dengan atap berbentuk jamur yang tersebar di sekitar taman yang bisa diduduki pengunjung.
Yuda bahagia melihat mata istrinya berbinar dengan senyumnya yang tak henti merekah.
"Cantik..." Yuda mengguman pelan.
"Apa, mas?"
"Istri, Mas. Cantik!"
Pipi Afifah langsung bersemu merona.
Yuda merangkul pundak Afifah, dan Afifah menyandarkan kepalanya di bahu Yuda. Mereka sedang menikmati tiap detik yang terus berubah menjadi menit, berganti jam, sebelum esok terpisahkan jarak.
¤¤FH¤¤
"Senang, dek?"
"Senang banget, mas. Terima kasih sudah ngajak adek kemari. Pemandangan di sini indah."
Menutup jalan-jalan mereka, setelah shalat dzuhur di mushola taman, Yuda mengajak Afifah makan siang di restoran yang masih di area taman.
Restorannya berada lebih atas dari tamannya, sehingga dari tempat makan akan tampak hamparan bunga warna-warni.
"Mas, kemarin bu Midah mengirim pesan ke adek." Sambil menunggu pesanan mereka datang Afifah mengawali pembicaraan tentang Nindi.
"Apa isi pesannya?"
"Katanya, Nindi siang kemarin ke rumah."
Lalu Afifah memberikan ponselnya, biar Yuda membaca sendiri, pesan-pesan dari bu Midah.
"Biarin aja lah, dek. Nanti juga dia bosan sendiri, rumah kita kosong,"
"Adek ko kepikiran minta bantuan bu Midah?"
"Karena adek yakin, Nindi pasti balik lagi ke rumah kita, mas. Adek juga ingin membuktikan sesuatu mengenai Nindi."
"Adek hati-hati ya, jangan sampai terhasut dengan omongan Nindi. Nindi itu sejak dulu pandai me-lobi orang dan pantang menyerah."
"Iya, mas. Adek akan hati-hati."
Makanan yang mereka pesan telah tersaji di atas meja.
"Sekarang kita nikmati dulu makanannya, urusan Nindi biar saja, jangan terlalu dipikirkan. Semoga dia bosan sendiri dan tak mengganggu kita lagi."
¤¤FH¤¤
Di dalam kamar kostnya yang sempit, Nindi sedang berfikir, kira-kira dimana Yuda dan Afifah sekarang tinggal.
Kostan Nindi hanya satu ruangan yang tak terlalu luas, hanya bisa diisi dengan satu tempat tidur ukuran single dan lemari ukuran standar, kamar mandi dan dapur berada di luar yang digunakan beramai-ramai dengan penghuni kostan yang lain.
Untuk tempat tinggal, Nindi memilih tinggal di kostan murah, untuk menghemat pengeluarannya, yang penting dia bisa tidur, untuk makan dia cukup membeli, tak ingin repot-repot memasak.
Ketika pertama kali Nindi mengetahui rumah Yuda, Nindi sudah membayangkan bisa tinggal dirumah Yuda. Meskipun tak sebesar rumah mantan suaminya, tapi rumah Yuda cukup bagus dan nyaman.
Tapi perkataan tetangga Yuda kemarin, yang mengatakan jika rumah itu bukan milik Yuda, cukup mengusik hati Nindi.
Nindi harus kesana, dan memastikan lagi, dia tak boleh langsung percaya pada ibu itu.
Nindi mencoba menghubungi nomor Yuda dan Afifah kembali, namun sayang, mereka masih memblokir nomornya. Menggunakan nomor lainpun percuma, karena pesan yang dia kirim tak pernah dibaca, tak lama nomor baru tersebut langsung di blokir.
Apa mungkin sekarang Yuda kembali ke rumah orang tuanya di kampung. Nindi menyesal, dulu saat masih berpacaran dengan Yuda, Nindi tak pernah mau Yuda ajak ke kampung menemui orang tuanya.
Andai Nindi bersedia ikut, sekarang tentu ia akan mudah mendapatkan hati Yuda kembali dengan mendekati ibunya. Awal perkenalan Nindi dan orang tua Yuda memang kurang baik, sehingga Nindi sering menolak jika Yuda ajak ke rumah orang tuanya.
Nindi dikenalkan Yuda pada orang tuanya, saat mereka sudah sama-sama bekerja, Ibu dan ayahnya Yuda berkunjung ke tempat kost-an nya Yuda. Ibu Yuda yang tak suka melihat cara berpakaian Nindi yang sangat ketat dengan rok di atas lutut, langsung menasehati Nindi tentang cara berpakaian yang benar.
Nindi merasa tersinggung. Dia yang lebih memilih menemui orang tua Yuda, dari pada pergi hang out dengan teman-temannya, malah mendapat sambutan kurang baik dari ibu Yuda. Nindi langsung berfikiran buruk, jika nanti dia dan Yuda menikah, pasti ibunya Yuda akan ikut campur urusan rumah tangganya kelak.
Itu juga yang menjadi salah satu alasan Nindi berpaling dari Yuda. Nindi tak ingin mempunyai mertua seperti ibu Yuda yang akan membatasi kesenangannya.
Lama berfikir dan merenung di dalam kamarnya, Nindi merasa lapar, dilihatnya jam sudah hampir jam sepuluh pagi, pantas dia merasa sangat lapar.
Nindi harus keluar untuk mencari makan. Nindi mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya, tak mungkin dia keluar rumah dengan kondisi belum mandi.
"Sekalian kamar mandinya dibersihkan!"
"Jangan tahunya mengotori tanpa mau membersihkan"
"Kalau mau enak, cari tempat kost yang ada fasilitas pembantunya!"
Saat melintasi ruangan yang dijadikan tempat berkumpul anak-anak kost, Nindi kena sindir penghuni kost yang lain. Nindi memang tak akur dengan penghuni yang lain, hal ini dikarenakan, Nindu tak pernah mau ikut membantu menjaga kebersihan lingkungan sekitar kamarnya.
BERSAMBUNG
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.