kotaro hanyalah salah satu sekrup kecil yang melengkapi sejarah perjalanan perang saudara di Jepang pada akhir masa pemerintahan keshogunan Ashikaga. lelaki ini hanya ingin menorehkan namanya dalam sejarah sebagai salah satu pelengkap drama kehidupan para satria dimasa yang carut marut akibat pertikaian antar tuan tanah dalam meraih hegemoni kekuasaan di kancah perpolitikan yang berlumur darah rakyat tak berdosa.
isi novel ini hanya persepsi pribadi penulis, meskipun tetap berdasarkan pada paparan sejarah yang telah baku dan diakui secara internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kartono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 - IKLIM YANG MEMANAS
hari ini, tanggal 1 bulan Fumizuki era Genki ke 1 (1570)
Sang Amaterasu tetap mempertontonkan keperkasaannya ditengah-tengah huru-hara yang melanda seantero negeri. jaman Sengoku Jidai mengakhiri hegemoni keshogunan Ashikaga dan melambungkan nama Oda Nobunaga sebagai orang terkuat dari Owari.
Bangsawan itu membentuk persekutuan tiga serangkai (triumvirate) bersama Kinoshita Hudeyoshi dari Nakamura dan Tokugawa Ieyasu dari Mikawa. pengaruh ketiga bangsawan ini menjadi momok bagi fraksi bangsawan yang mendukung rezim Muromachi (Ashikaga) yang saat ini dipimpin oleh Ashikaga Yoshiaki.
Shogun yang bintangnya telah meredup itu menghasut para bangsawan untuk membentuk koalisi tandingan bersama golongan agamawan yang berdiam digunung Hiei dan gunung Ishi. kerja sama politik rejim Muromachi dengan sekte Tendai di Hiei dan sekte Hongan di Ishi melahirkan perjanjian pakta pertahanan bersama untuk membendung pengaruh fraksi Tenka Fubu yang mulai mendapat pamor di istana kekaisaran.
Fraksi Tenka Fubu, dengan Oda Nobunaga dipusatnya, ia memerintah di kota Gifu. adapun Hideyoshi meluaskan pengaruhnya ke wilayah-wilayah barat terutama dengan keluarga Mori, sedangkan Tokugawa meluaskan pengaruhnya ke wilayah-wilayah timur melalui Mikawa.
...***...
Uesugi Kenshin memandang hamparan pemukiman dari balkon menara utama kastil Tochio. sebagai penganut ajaran buddha sekte So-to, juga sebagai alumni siswa biara Risen, Sang Naga dari Echigo itu mengenakan pakaian pabbajja (pravrajya) berwarna biru nila, lengkap dengan mantel dan tasbih yang menyilang di tubuhnya.
lambang keluarga Uesugi tercetak pada mantel tersebut. ia mengenakan topi panjang dan sesekali bangsawan tersebut mengipasi wajahnya yang berkeringat dengan kipas dari daun Hauchiwa. Uesugi Kenshin saat ini menjabat Kanto Kanrei (pejabat yang ditugaskan mengurusi rakyat diwilayah kanto ) atas perpanjangan kaisar sejak jaman Go-Nara hingga Ogimachi Tenno.
dari pintu besar muncul seorang yang tak lain adalah Kato Danjo. pria ini mengenakan montsuki biru yang dipadu dengan rompi dan hakama berwarna hitam pekat. sebilah wakizashi yang tersarung terselip dibalik sabuknya.
Uesugi Kenshin berbalik melangkah kedalam ruangan utama dipuncak lantai menara kastil. pejabat itu kemudian duduk di kamiza. Danjo kemudian berlutut dan bersimpuh dihadapannya.
"Semoga Yang Mulia panjang usia dan diberkati." sapa Kato Danjo, setelah itu ia menegakkan tubuhnya.
"Bagaimana perkembangan dari kubu Tenka Fubu yang dipimpin Kazusanosuke?" tanya Uesugi Kenshin menyebut nama resmi Oda Nobunaga.
"Saya membawa berita baik untuk anda. " jawab Kato Danjo.
wajah Uesugi Kenshin langsung berbinar, menampakkan minat yang tinggi, "Katakan..." desak penguasa Kastil Kasugayama tersebut.
"Oda Nobunaga sementara mengerahkan pasukan ke Kii dengan gelaran 40 laksa personil bersenjata lengkap." jawab Kato Danjo.
Uesugi Kenshin mengurut dagunya dan mengerutkan keningnya. ia berpikir keras berupaya memahami strategi yang dijalankan oleh Oda Nobunaga. sejurus kemudian Sang Bishamonten kembali menatapi Kato Danjo.
"Berarti jumlah itu sama dengan gelaran pasukan kekaisaran." gumamnya sambil memejamkan mata.
Kato Danjo tidak bereaksi apapun. Uesugi Kenshin membuka matanya. telunjuknya mengetuk-ngetuk sandaran tangan disisi kanannya. pejabat itu menganalisa keterangan yang disampaikan orang sewaannya. pasti ada hal-hal yang begitu mendesak sehingga Oda Nobunaga buru-buru menyerang propinsi Kii.
wilayah Kii berada dibawah tanggung jawab Tokugawa Ieyasu, sahabat persekutuannya sendiri. mungkin Nobunaga sengaja memperlihatkan keseriusan gagasannya kepada Ieyasu agar kroninya tahu dan memahami apapun yanh diimpikan si bangsawan sinting dari Owari, bukan sekedar wacana belaka.
"Tidak denganku..." gumam pemguada berpakaian pendeta tersebut.
sebagaimana Takeda Shingen yang menentang keras kepimpinan Nobunaga. Sang Naga dari Echigo itu juga merupakan oposisi fanatik rezim Muromachi.
"Nobunaga boleh saja mempertontonkan kesombongannya dan Yang Dipertuan Agung Yoshiaki sama sekali tak berharga dihadapannya." gumam Uesugi Kenshin. "Sebagai pengikutnya, aku takkan mengakuinya jika Nobunaga berada dalam birokrasi keshogunan. memang dia menganggap rejim Muromachi hanyalah alat yang bisa digertak untuk tutup mulut.....namun....tidak denganku!" tandas Uesugi Kenshin dengan geram.
Kanto Kanrei itu menatapi lagj Kato Danjo. "Bagaimana reaksi bangsawan lainnya?"
"Maksud tuanku?" kata Kato Danjo kurang paham.
"Apakah para bangsawan ada yang mendukung gagasan Tenka Fubu yang digagas oleh Oda Nobunaga." tanya Uesugi Kenshin.
"Tidak secara tulus, " jawab Kato danjo, "Yang paling keras menentang adalah Takeda Shingen. bahkan beliau sudah menggalang kekuatan militer dan mempengaruhi para bangsawan yang se-visi dengannya. "
"Nobunaga, orang sinting yang mengandalkan kemampuan 2 orang kroninya. " ujar Uesugi Kenshin sambil terkekeh. "Aku yakin, tak lama lagi ia pasti akan melakukan sesuatu yang lebih gila lagi."
"Apa yang mulia, Kanto Kanrei , akan bergabung dengan dalam partai tandingan yang digagas Takeda Shingen?" pancing Danjo dengan tatapan menyelidik. Uesugi Kenshin tertawa mendengar pertanyaan tersebut.
"Lucu sekali pertanyaan tadi Danjo." ujar bangsawan tersebut, "Tapi jangan salah menafsirkan. aku memang mengakui tindakannya ketika menentang Nobunaga. namun, aku takkan berbaris didepan sebagai pengikutnya.
"Bukankah keluarga Oda masih memiliki kekerabatan dengan keluarga leluhur anda?" pancing Kato Danjo.
Uesugi Kenshin menggeleng. "Dilihat dari garis silsilah, keluarga Nagao merupakan cabang keturunan Heike, sama dengan keluarga Oda, meskipun berasal dari cabang yang berbeda."
pejabat itu menatapi Kato Danjo, "Tahukah kamu, mengapa Oda Nobunaga tidak mengakui rejim Muromachi? atau yang jelasnya....mengapa Oda Nobunaga membenci keshogunan?" pancingnya membuat Kato Danjo digelayuti rasa penasaran yang besar.
merasa lelah mencari jawabannya, Kato Danjo bersujud. "Ajari hamba yang bodoh ini, tuanku."
"Karena rejim keshogunan didirikan oleh lawan politik keluarga Heike." jawab pejabat itu dengan senyum puas.
...***...
pernyataan Uesugi Kenshin merujuk kepada keluarga Genji, lebih dikenal dengan nama keluarga Minamoto. keluarga ini menjadi seteru politik keluarga Heike pada jaman Heian. pada masa itu keluarga Heike memihak Kaisar Shirakawa, sedangkan keluarga Genji memihak keluarga Fujiwara.
ketika pemberontakan terjadi, keluarga Heike yang dipimpin Taira Kiyomori berhasil mengalahkan keluarga Genji dan Kaisar Jepang memberikan jabatan Kempaku (Perdana Menteri) kepada Taira Kiyomori.
keluarga Genji menjadi buronan negara. sebagian anggota keluarga ini diasingkan ke Kamakura. keluarga Genji kemudian membentuk kerjasama rahasia dengan keluarga Hojo untuk menundukkan kekuasaan keluarga Heike-Kammu.
puncak dari perseteruan ini meletuslah perang Ichi no Tani dan perang Dan no Ura yang menjadi latar belakang berdirinya keshogunan untuk yang pertama kalinya.
...***...
Danjo menyimak dengan baik setiap keterangan yang keluar dari mulut majikannya. Uesugi Kenshin sendiri memukul-mukul sandaran lengan dengan lemah disertai helaan dan hembusan napas yang berat.
"Setahuku, tuanku mengikuti apa yang diinginkan Oda Nobunaga. bukankah tuanku tidak menentang ketika Oda Nobunaga memaksa beliau yang kita junjung bersama itu menaati 5 Pasal Peraturan Kediaman Keshogunan?" kata Danjo dengan tampang bodoh.
"Sebagai pengikut setia dari Beliau yang kita junjung bersama, aku diwajibkan taat. namun, secara nuraniyah aku tetap ridak sepakat dengan apapun yang dilakukan Oda Nobunaga." tandas Uesugi Kenshin.
"Jika tuanku berkenan, pertimbangkan saran hamba ini." kata Kato Danjo sambil bersimpuh.
"Katakan pendapatmu." pinta Uesugi Kenshin.
"Bagaimana jika tuanku menjalin persekutuan dengan keluarga Hojo?" ujar Kato Danjo memberikan sarannya. kening Uesugi Kenshin terlihat bertaut.
"Katakan alasanmu memberikan saran tersebut. " pinta Uesugi Kenshin
Kato Danjo tersenyum, "Saat ini, halangan terbesar kita untuk menganeksasi wilayah Kanto adalah Takeda Shingen. satu-satunya peluang pihak kita untuk membendung serangan dari Takeda Shingen adalah persekutuan dengan keluarga Hojo."
Uesugi Kenshin mengamati air muka Kato Danjo, mencari kebenaran kata-kata dari bawahannya. Kato Danjo menambahkan lagi, "Saya pikir, tuanku mampu menarik dukungan keluarga Hojo ke pihak anda. hanya ini peluang karena Takeda Shingen benar-benar menjadi sandungan anda yang besar."
"Kato...kau tidak sedang mempermainkan strategi, bukan?" selidik Sang Bishamonten dengan tatapan menyelidik.
Kato Danjo menggeleng, "Hamba serius tuanku. keuntungan kita adalah, saat ini hubungan antara kedua belah pihak saat ini sangat renggang akibat insiden bukit Satta. kita bisa memecah belah perjanjian Kososun fan menarik simpati keluarga Hojo kepada kita."
Uesugi Kenshin mulai tersenyum, "Teruskan..."
"Kekerabatan dijaman dulu antara galur Heike dapat kita ungkit. mendiang Ise Moritoki masih merupakan cicit dari Hojo Tokimasa, begitu pula dengan leluhur keluarga Nagao. percayalah tuanku. dengan ini, gerakan pihak Takeda akan benar-benar terbatas."
Keluarga Nagao dan keluarga Hojo memang berasal dari galur Heike cabang Bando, bersama-sama keluarga Miura, keluarga Chiba, keluarga Chichibu, keluarga Daijo dan keluarga Nakamura.
"Kupikir ada motif yang lebih masuk akal daripada pertalian darah keturunan ini, bukan?" pancing Uesugi Kenshin.
"Tuanku, Hojo Ujiyasu memerlukan sekutu untuk mempertahankan propinsi Musashi dan sebisa mungkin mengancam keluarga Takeda untuk tidak menyerang wilayah Odawara. untuk sementara, kita bisa mempersiapkan diri sementara keluarga Hojo dan keluarga Takeda saling bertikai." papar Kato Danjo. "Ketika kedua keluarga tersebut tidak lagi menjadi kekuatan politik yang mengancam kita, kita bisa membatalkan perjanjian secara sepihak dan langsung menganeksasi propinsi Musashi secepatnya dalam kekuasaan kita."
"Bagaimana dengan hubungan politik mereka dengan fraksi Tenka Fubu?" pancing Uesugi Kenshin.
"Selama ini, saya belum pernah mendengar keluarga Hojo mengakui persekutuan anti-Nobunaga, meskipun mereka tidak berpihak kepada Oda Nobunaga." jawab Kato Danjo.
Uesugi Kenshin tersenyum, "Kau cerdik, tak percuma aku mempekerjakanmu." puji Sang Bishamonten.
"Terima kasih atas penerimaan paduka terhadap hamba. " kata Kato Danjo seraya menempelkan dahinya pada lantai istana.
"Kirimkan pesan kepada keluarga Hojo." seru Uesugi Kenshin, "Katakan kepada mereka, Kanto Kanrei hendak bertemu.:
Kato Danjo kembali membungkuk takzim.
"Daulat tuanku, akan segera dilaksanakan." sambutnya
...***...
seorang kurir keluarga Uesugi memacu kuda menyusuri jalanan utama Odawara. ia menghentikan laju kendaraan ketika tiba didepan gerbang kastil Odawara. dengan langkah memburu, kurir tersebut melangkah menuju penjaga gerbang.
"Sampaikan! pesan keluarga Uesugi kepada keluarga Hojo!" seru kurir mengangkat surat. bersampul memperlihatkan benda itu sebagai bukti kedatangannya.
salah satu penjaga gerbang berlari masuk kedalam kastil. tak berapa lama, Takanosu bersama Shin Yoshida muncul menyambut. "Ada apa?"
"Pesan dari Paduka Danjo Shohitsu (Uesugi Kenshin) kepada Paduka Sakyo Taishi (Hojo Ujiyasu). mohon disampaikan segera." kata kurir itu menyerahkan surat bersampul kepada Takanosu.
dengan takzim samurai Nekomata itu menerima surat tersebut dan segera berlari kedalam kastil. ia menuju balairung utama. disana terlihat Hojo Ujoyasu duduk dikamiza menyandarkan lengan kanannya pada penyangga lengan. dilantai bagian bawah, duduk Hojo Ujimasa, sang wali. ketika melihat Takanosu yang muncul dan membungkuk, Hojo Ujimasa menyuruhnya masuk.
"Kurir dari Echigo, tuan Uesugi Kenshin..." kata Takanosu bersimpuh dihadapan Hojo Ujiyasu dan mengulurkan kedua tangannya yang menggenggam surat bersampul.
Hojo Ujiyasu menyuruh Hojo Ujimasa mengambil surat dari Takanosu dan disuruh pula membacanya. lelaki itu membuka surat dan membaca isi surat tersebut. sedangkan Takanosu tetap dalam sikapnya yang takzim.
"Apa isinya?" tanya Hojo Ujiyasu.
"Paduka Danjo Shohitsu (Uesugi Kenshin) meminta perundingan." jawab Hojo Ujimasa menatapi ayahnya.
Hojo Ujiyasu menopang dagunya. apa yang akan dirundingkan? lama penguasa itu menebak-nebak. namun akhirnya ia menyerah. ditatapinya Hojo Ujimasa.
"Buat surat balasan. " pinta Hojo Ujiyasu, "Katakan kita menyambut baik itikad dari Paduka Danjo Shohitsu. katakan pada beliau bahwa pertemuan akan diselenggarakan di pavilyun Kiruza di Kozuke."
Hojo Ujimasa mengangguk lalu memerintahkan juru tulis untuk membahasakan titah Paduka Sakyo Taishi kepada Paduka Danjo Shohitsu. setelah itu surat itu dilipat dan dimasukkan kembali kedalam sampul. Takanosu kembali diperintahkan untuk menyampaikan surat tersebut kepada kurir yang menunggu sejak lama dipintu gerbang.
sepeninggal Takanosu, lelaki sepuh yang memegang kepemimpinan di Odawara-han, menatapi Hojo Ujimasa. "Kau yang mewakiliku dalam perundingan tersebut. "
"Sesuai perintah tuanku." sambut Hojo Ujimasa seraya membungkuk takzim.
...***...
senja menjelang ketika Hojo Ujimasa berdiri memandangi hamparan pemukiman dan seluruh wilayah Odawara yang membentang. tanpa disadari oleh wali negeri itu, sosok bayangan melompat dari arah luar dan mendarat dengan lembut dilantai balkon kastil itu.
"Paduka..." sahut sosok itu dalam posisi berlutut.
"Fuma Dewa no Kami... aku punya tugas untukmu." kata Hojo Ujimasa.
Kotaro tetap dalam diamnya, menanti tugas yang akan diembankan. Hojo Ujimasa masih betah memandangi dataran Odawara yang mulai menggelap karena Sang Amaterasu telah menghilang perlahan dari peebukitan ditapal batas Sagami dan Suruga. tanpa menoleh, Hojo Ujimasa memberikan titahnya.
"Kau akan mengawalku secara pribadi dalam pertemuan di Pavilyun Kizura, Kastil Hida di Kozuke." kata Ujimasa, "Selain itu, pantau segala pergerakan pihak Uesugi."
"Sesuai perintah anda, Paduka." sambut Kotaro kemudian ia bangkit dan kembali melompati balkon kastil lalu menghilang entah kemana.
...***...
Mitsumasa dan Hayashi, dua anggota Fuma-Itto berhasil mendapat kepercayaan Hojo Gen'an yang mengasuh Hojo Saburo. dengan penampilan mereka sebagai biksu berseragam hitam-hitam dan putih, mereka tinggal di kuil sambil mengawasi kegiatan dari putra bungsu Hojo Ujiyasu tersebut.
saat itu kuil Soun kedatangan Hojo Ujihide dari Kanbara yang merupakan sepupu dekat Hojo Saburo. kedua sepupu itu saat ini sedang bersantai ditaman kuil sambil memainkan Tio-kie, menguji kecakapan strategi perang melalui permainan catur itu.
disela-sela upaya meletakkan batu-batu pada celah kosong dipapan catur itu, Hojo Saburo sering beradu argumen dengan Hojo Ujihide perihal perundingan antara keluarga Uesugi dengan keluarga Hojo yang sementara berlangsung di pavilyun kastil Hira milik keluarga Yamanouchi di Kozuke.
"Uesugi Kenshin telah mempersiapkan pasukan diperbatasan antara Echigo dan Kozuke jika perundingan tidak menemukan titik temu." pancing Hojo Ujihide seraya meletakkan batu hitam pada celah kosong, mengincar susunan batu putih yang ditempatkan oleh Hojo Saburo.
"Aku yakin, perundingan itu akan berjalan sebagaimana yang diinginkan oleh kedua belah pihak." kata Hojo Saburo yang sibuk menghalangi posisi batu-batu hitam.
"Kau yakin?" pancing Hojo Ujihide.
"Uesugi Kenshin masih harus mengkonsolidasikan pasukannya paska perang Kawanakajima. dia menderita kerugian besar dalam peperangan itu." tukas Hojo Saburo seraya menaruh batu putihnya pada tempat yang kosong. "Aku yakin, gelaran pasukan itu hanya sebagai gertakan saja."
Mitsumasa dan Hayashi hanya saling berpandangan lalu kembali mengawasi keadaan sekitar taman yang banyak ditumbuhi bunga Ume.
"Kau yakin Paduka Danjo Shohitsu hanya menggertak? bisa jadi beliau sekarang sedang memaksa kakek Ujiyasu untuk menuruti keinginannya." kata Hojo Saburo.
"Coba jelaskan..." pancing Hojo Ujihide.
"Kalau beliau berani mengambil resiko menyerang Odawara. pasukannya akan berhadapan dengan pasukan meriam yang dipimpin kakakku, Hojo Ujiteru. saat ini meriam tersebut telah diberangkatkan ke tapal batas dari Hachioji. jika hal itu dipaksakan, maka yang terjadi adalah kemungkinan terburuk yang harus diterima pihak Uesugi."
"Menarik...apa langkah selanjutnya?" tantang Hojo Ujihide.
"Seperti yang kita tahu bersama, keluarga kita memiliki pasukan siluman yang dapat dipastikan akan mampu meluluh-lantakkan pasukan Echigo." kata Hojo Saburo seraya meletakkan batu putih menyilang dari barisan batu hitam.
"Seberapa besar keuntungan yang bisa didapatkan oleh kedua belah pihak dari perundingan ini?" tanya Hojo Ujihide.
"Tergantung..." kata Hojo Saburo.
"Tergantung? bagaimana maksudmu?" desak Hojo Ujihide.
"Masing-masing pihak akan mengkonsolidasi kekuatannya sendiri. mulai menghitung dan menentukan kelebihan dan kelemahan masing-masing pihak." kata Hojo Saburo kembali meletakkan batu putih.
Hojo Ujihide menatapi susunan batu putih milik Hojo Saburo. ia terkejut dan menyadari kedudukannya telah dikalahkan oleh sepupunya.
"Ah, sial.... aku kalah lagi. " gerutu Hojo Ujihide.
Hojo Saburo hanya tertawa melihat sepupunya memaki-maki dirinya sendiri.
...ooOOOoo...
Wuah. Ryo itu mata uang emas, ya? Satu ryo = berapa yen, ya?
Kasabake itu mengincar anak-anak yang baru lahir kah?
Overall, penggambaran suasananya udah lumayan dapet. Akan lebih baik jika penulisannya lebih rapi, seperti penulisan huruf kecil dan huruf besar yang perlu lebih diperhatikan, penulisan kata "di" yang seharusnya dipisah dengan "di" yang digabung.
Oh ya, kalau ada catatan kaki bagus, nih. Biar yang belum familier sama istilah-istilah Jepang tahu maknanya.
sudut luar pandangan mata
Semangat berkarya & saling dukung.. 💪🏻
btw mampir juga di novel ku ya kak