Kisah seorang wanita bernama Yura Ardiana, seorang gadis sederhana, polos, cantik dan selalu ceria,
Setelah dewasa sifatnya berubah kini menjadi lebih pendiam tidak ada lagi yang bisa membuatnya kembali ceria.
Satu penderitaan menimpa pada akhirnya harus menikah diatas kertas karena satu syarat dalam perjanjian.
"Hanya satu syarat menikahlah denganku."
Apa ini awal dari sekenarionya?
Seakan membalikan telapak tangan dalam sekejab mampu merubah segalanya.
Ini Karya Pertama ku Kakak-Kakak, Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan.
Dan mohon dukungannya yah🌺
Penasaran dengan kisah Yura?😉
Happy Reading🌺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Ungkapan 2
Saat tiba diatas langkah kaki Yura terhenti penglihatan nya mengedar kesekililingnya sungguh indah apa yang diciptakan-NYA.
Maka Nikmat Mana Lagi Yang Kau Dustakan...
Yura berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya sungguh sangat indah. Doni pun menghampiri Yura.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Doni yang mengedarkan pandangannya.
Yura menoleh dan mendengak menatap wajah Doni yang tengah menikmati pemandangan, "Iya aku menyukainya... Terimakasih telah membawa ku kemari." Senyum tipis terukir dari bibirnya.
"Kau... Aku sudah bilang jangan pernah mengucapkan kata 'Terimakasih' itu, Kau selalu mengulanginya lagi." Jawab Doni tanpa memandang Yura. Memang sedikit kesal karena Doni memang tidak suka atau tidak ingin mendengar kata 'Terimakasih' yang keluar dari mulut Yura.
Yura hanya tersenyum tanpa menjawab apapun karena urusan nya akan panjang, Yura pun mengajak Doni untuk di bangku yang di bawah pohon vinus.
Cahaya matahari sore yang menerobos di sela sela pohon vinus yang tinggi tinggu. Mereka merasakan angin dingin yang sejuk disana.
Doni menghadapkan posisi tubuhnya ke Yura dan dia memegang kedua tangan Yura yang menuntun untuk mereka saling berhadapan.
Kini mata mereka bertemu, Doni menghembuskan nafas panjang dan mulai berbicara.
"Yura Ardiana.... Aku mau bicara sesuatu."
Yura dengan wajah heran yang menatap mata Doni penuh dengan tanya, Yura tidak menjawab dia hanya diam meminta penjelasan apa maksud dari ini.
Doni yang melihat wajah Yura seperti itu pun mengerti bahwa Yura menanyakan maksud artinya.
"Yura Ardiana... Aku menyukaimu Ra... Aku menyayangimu." Tutur kata Doni dengan perlahan.
Yura terbelalak membulatkan matanya, dia tidak menyangka pria yang ada dihadapannya mengucapkan kata seperti ini.
"Don apa kamu sedang bercanda dengan ku? Kalo iya itu tidak lucu." Jawab Yura berusaha tenang dan memalingkan wajahnya kearah lain.
"Aku tidak pernah bercanda tentang hati." Jawab Doni tegas.
"Apa kamu yakin dengan ucapanmu?" Kini Yura memandang mata pria itu.
"Aku yakin Ra." Seru Doni.
"Sebelumnya aku minta maaf." Ucap Yura menghela nafas panjang.
Kini Yura menggenggam erat tangan Doni menatap lekat pada pria itu mencoba untuk tenang meski jantung nya berdegup kencang dan tergores sedikit luka di hati dia mengutarakannya.
"Kau tau? Aku lebih menghargaimu sebagai sahabatku yang selalu berada disisiku dan kau tau aku merasa terlindungi saat kau bersamaku, kau seperti seorang kaka bagiku dan kau tau kan aku tidak punya seorang kaka atau adik." Ucap Yura dengan berusaha tenang. "Aku menyayangimu sebagai kakaku dan sahabatku, aku tidak ingin menyakiti hatimu karena kau tau aku tidak menginginkan itu dan aku tidak ingin kehilanganmu sebagai kekasih." Lanjut Yura yang kini mulai berkaca kaca dimatanya.
"Aku hanya ingin kau selalu bersamaku sebagai sahabtku sekaligus kakaku, aku ingin kau selalu menjagaku seperti ini, aku tidak ingin melukai hatimu." Ucap Yura lirih yang kini meneteskan airmatanya yang tak dapat terbendung." Kau tau! ini sangat menyakitkan juga untukku memilih keputusan seperti ini, tapi aku tak ingin kau meninggalkan ku sebagai kekasih yang bisa saja sewaktu waktu saat kita memiliki hubungan tengah bertengkar hebat dan kau pergi dariku... Maafkan aku Doni sungguh maafkan aku." Tutur kata Yura dengan arimata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Doni terdiam sungguh hatinya sakit akan penolakan yang Yura berikan dengan cepat, tapi dia sungguh tersentuh dengan tutur kata yang di utarakan olehnya.
Doni mencerna semua perkataan Yura memang benar jika kita menjalin hubungan kekasih dan sewaktu waktu pasti akan ada pertengkaran hebat dan mungkin akan menimbulkan kebencian di antara mereka dan meninggalkan satu sama lain.
Doni menarik lengan Yura di dekapnya tubuh Yura mendekap sangat erat membiarkannya menangis dalam dekapannya.
Doni menghela nafas dan membuang egonya dia membuka dekapan itu mendekakan wajah Yura dan mata itu saling bertemu kembali.
Tangan Doni mengusap air mata yang mengalir dipipi Yura, dia menyunggihkan senyuman kecil untuk Yura.
"Maaf kan aku Ra... aku telah lancang mengucapkan seperti itu... aku minta maaf." Ucap Doni dengan memandang wajah Yura yang di genggam oleh kedua tangan nya.
"Aku seharusnya tau dan berpikir yang sama denganmu, aku mohon maafkan aku... tolong jangan membenciku dan kita bisa bersama sebagai sahabat bahkan adik kaka sekalipun."Lanjut Doni.
Yura menggelengkan kepalanya bibir nya bergetar dan mata itu kembali mengeluarkan cairan bening lagi.
"Berhentilah menangis... Aku minta maaf padamu aku tidak ingin melihatmu menangis.... aku mohon maafkan aku." Ucap Doni lalu mendekap tubuh Yura lagi.
.
.
.
*****
Bersambung.
#Hallo kak bantu like sama votenya ya🤗🤗
dan aku tunggu saran dari kaka tulis di komentar ya sarannya🤗🤗🤗💕🌺
Happy Reading💕
cerita mu cuman jln d tempat aja thor nggk ada tujuan yg jelas,,,
ana dan Aldo..
jangan lupa mampir Thor😊
salam hangat dari
🍂seperti musim gugur 🍂
jangan lupa mampir kak salam hangat dari
🍂seperti musim gugur🍂