Hampir semua anggota keluarga Grizelle dibantai dan seluruh hartanya lenyap tidak tersisa. Hanya tersisa Laquitta Grizelle saja yang kebetulan tidak ada di tempat saat kejadian pembantaian itu.
Namun, kini ia terpaksa tinggal bersama pria yang mengekang, memenjara, dan merampas kebebasannya.
Dia adalah Adyan Abercio, sang mafia yang menganggap sebuah nyawa tidak bernilai. Pria yang dibenci Itta sekaligus pria yang berhasil mencuri seluruh isi hatinya.
Penasaran? Yuk, ikuti kisah mereka sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini_S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRIA ITU
Pandangan Itta masih terlihat tidak jelas, memburam layaknya terdapat efek blur di dalam bola mata. Ia mengerjapkan mata berulangkali, mencoba memfokuskan penglihatan pada sekitarnya.
Tubuhnya masih sakit, bahkan ia dapat merasakan darahnya mengucur.
Perlahan pandangannya mulai berangsur membaik. Ia ingin menggerakkan tangan, namun sulit karena rantai yang mengunci pergerakannya. Begitupula dengan kakinya.
Seorang pria tampan yang memakai kemeja putih dengan tiga kancing teratas yang terbuka, duduk di sofa tunggal dengan tangan yang memegang segelas wine.
Tatapan matanya terus melihat Itta, sedangkan bibirnya tersenyum sangat tipis.
"Halo Nona, kita bertemu lagi," sapa pria itu.
"Siapa kau?" Itta yakin, ini pertama kalinya mereka bertemu.
"Kau tidak mengingatku?" Pria itu berdiri, lalu berjalan mendekat dengan raut kecewa. "Aku sangat sedih karena kamu melupakanku."
"Jangan berpura-pura mengenalku."
"Kejam sekali perkataanmu padahal aku sudah menunggu hari ini tiba."
"Aku tidak peduli."
Sebenarnya Itta penasaran. Ada banyak sekali pertanyaan tak terucap dalam benaknya, namun Itta menahannya.
Berpura-pura tak peduli adalah hal yang cukup baik dalam kondisi seperti ini.
"Laquitta Grizelle, putri sulung dari keluarga Grizelle. Mempunyai seorang adik bernama Iva dan keluarga yang harmonis. Mahasiswi yang usianya dua puluh tahun dari universitas paling terkenal di kalangan atas. Memiliki kecerdasan, kecantikan dan ketenaran yang luar biasa, bahkan sering ditawari menjadi model papan atas. Dijuluki sebagai goddess of beauty. Selalu berhasil menjadi pusat perhatian. Tidak jarang juga banyak laki-laki yang tertarik padamu. Apa ada yang salah dari informasi itu?"
Semuanya benar. Informasi itu tidak ada yang asal.
Sang pria mengetahui identitasnya dan itu menjadi masalah untuk Itta. Itta tidak boleh mengiyakan, namun juga tidak bisa mengelaknya. Maka dari itu, ia memilih jalan tengah.
"Kau yakin informasi itu milikku?" tanya Itta.
"Tentu saja."
"Bagaimana jika informasi itu bukan milikku?"
Pria tampan itu menunjukkan seringainya. Tangannya perlahan menyentuh pipi Itta. "Informasi ini tidak mungkin salah, Itta."
Lalu, dia mendekatkan wajah mereka. Hembusan napas menerpa hangat di pipi Itta, menciptakan sensasi aneh.
Tanpa di duga, bibir merah Itta dikecup singkat olehnya. Sontak mata Itta melebar terkejut.
Ciuman pertamanya telah diambil. Tiba-tiba perasaan benci menghinggapi hati. Seketika mata Itta menatapnya nyalang.
Bibirnya jadi kotor karena ciuman itu. Ingin sekali ia mengusap bibirnya kasar, namun rantai di tangan menghalanginya.
Pria ini tampan, namun bagi Itta menjijikkan.
"Jijik sekali!" ujar Itta marah.
"Oh, ya? Mau dicoba lagi?"
Itta menambah sorot kebenciannya, membuat pria itu terkekeh pelan.
"Ah, tidak perlu memasang wajah mengerikan di paras cantikmu, Nona. Aku hanya bercanda," ucapnya enteng.
Itta memalingkan wajahnya ke samping karena kesal. Sesaat ia melirik pria itu, mengamati penampilan serta wajah asingnya.
Dia bukanlah Eric, tetapi Itta yakin pria ini memiliki otoritas tinggi yang mampu membuat salah satu dari wanita di ruangan 110 berada di tangannya.
Mengingat perkataan Eric yang seolah cukup tertarik pada Itta, rasanya tidak mungkin Eric memberikan Itta pada orang lain. Kecuali orang itu memiliki otoritas lebih tinggi dari Eric.
Maka, dapat Itta simpulkan mengenai identitas pria ini.
"Kau ... Tuan Muda Abercio, bukan?"
Pria itu mengangkat sudut bibirnya sedikit. "Ya, itu aku."
"Di mana teman-temanku?"
"Kau ingin tahu?"
"Katakan saja!"
"Bagaimana jika kuberitahu bahwa mereka semua telah mati?"
Tubuh Itta menegang. Kemarahan semakin nampak di bola mata emeraldnya.
Itta sudah berjanji pada mereka bahwa tidak akan ada yang mati lagi. Kalau hal itu sampai terjadi, Itta tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Kematian keluarganya sudah menjadi mimpi buruk untuknya, ia tidak ingin menambahnya lagi.
"Bajing*n!" maki Itta.
Tawa Adyan menguar keras. Dia menikmati ekspresi menggemaskan Itta. Saat tawanya mereda, barulah Adyan berbicara lagi.
"Aku masih ingin berada di sini, tapi aku punya urusan. Jadi, aku akan pergi sekarang."
Adyan berjalan ke luar pintu. Sebelum benar-benar pergi, Adyan menyempatkan diri menolehkan kepala ke arah Itta.
Salah satu tangannya terangkat ke atas, memperlihatkan kain putih yang melilit telapak tangannya.
"Terima kasih telah mengobati tanganku di malam itu, Nona."
Usai mengatakannya, Adyan pergi meninggalkan Itta yang kini tengah tertegun.
Kain putih itu, Itta tahu pemiliknya. Lebih tepatnya, dia sendirilah pemiliknya. Kain yang dulu pernah dirobek dari gaun tidur favoritnya demi menutupi luka seseorang.
"Kau ... pria itu?"
...—————•••—————...
Itta tidak pernah menyesal telah menolong seseorang. Pun laki-laki berjubah dan bermasker hitam di malam itu.
Namun setelah mengetahui identitas lelaki itu, perasaannya menjadi campur aduk. Pria yang pernah ia bantu ternyata bukan orang baik. Itta terlalu naif.
Seseorang tiba-tiba memasuki ruangan tempat Itta berada. Dia wanita yang cantik dan seksi. Gaun biru langit melekat indah di tubuh idealnya. Tak terlalu terbuka, namun tetap menampilkan kesan seksi.
Wanita itu membawa sekotak obat di tangannya. Senyuman menawan muncul di bibirnya.
"Siapa kau?" tanya Itta.
"Namaku? Sasya. Ngomong-ngomong kau harus segera diobati."
Sasya membuka kotak obat yang dibawanya, mengambil beberapa barang yang diperlukan, lalu bersiap mengobati.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Itta curiga.
"Adyan yang memintaku mengobatimu."
"Adyan?"
"Maksudku Adyan Abercio, Tuan Muda yang kau temui beberapa detik yang lalu."
Menyebut nama pria itu tanpa embel-embel 'Tuan Muda' atau sebagainya, Itta yakin kedudukan wanita ini hampir sama atau bahkan sama tingginya dengan Adyan.
"Setelah mengobatiku, apa kalian akan menyiksaku? Mengobati, lalu menyiksa, dan setelahnya kembali mengobati. Kalian sengaja melakukan hal itu berkali-kali agar aku menderita, kan?"
"Adyan tidak mungkin melakukan itu padamu."
"Kenapa?"
"Menurutmu kenapa?" Sasya membereskan kotak obat setelah menyelesaikan tujuannya. "Bersiaplah sebelum jam 7 malam. Akan ada orang yang datang ke sini membawa gaun dan merias wajahmu. Kau harus terlihat cantik saat makan malam dengan Adyan."
"Makan malam?"
"Ya, Adyan yang menyuruh."
"Bagaimana jika aku tidak mau ikut?"
"Kamu tidak mempunyai hak untuk menolak."
Itta tersenyum sinis. "Kenapa tidak? Apa kalian akan menyiksaku jika aku menolak keinginannya?"
"Tentu saja tidak," ucap Sasya. "Namun, jika kamu bersikeras menolak, mungkin akan ada salah satu dari rekanmu yang kehilangan nyawa. Nyawa mereka tergantung sikapmu padanya."
Perkataan Sasya membuat raut wajah Itta berubah. Dengan cepat Itta menetralkannya, berusaha menutupi keterkejutan.
Ucapan Sasya dan Adyan berbanding terbalik.
Adyan bilang teman-temannya sudah tiada, namun Sasya justru mengancamnya menggunakan teman-teman Itta.
Lalu, siapa di antara mereka yang benar?
...—————•••—————...
Daftar wanita yang berasal dari ruangan 110 :
Laquitta Grizelle / Itta
Isni
Elia (SEKARAT/SEDANG DISIKSA)
Hela
Zora (MATI)
Killa
Lesya (MATI)
Oldia
Riana
Izume (MATI)
Yilse (DIJUAL)
Tasha (DIJUAL)
Shia (DIJUAL)
Devia (DIJUAL)
Avira (DIJUAL)