Aku menjalani kehidupan yang baru setelah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku.
Beruntung ada seseorang yang menolongku dan memberikan kehidupan dengan identitas yang baru.
Akankah kehidupan ku kali ini akan lebih baik?
🌸🌸🌸🌸
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leticia Arawinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam ini ku pikir Rafael akan pulang menghampiriku tapi nyatanya dia tak kunjung terlihat hingga tengah malam.
"Apa ini? kenapa sekarang aku rasanya merindukan dia, tolong jangan goyah"
Aku saat ini sepertinya sudah mulai memikirkan dirinya disaat dia tidak ada di sampingku.
Kurasa sekarang aku tahu bagaimana perasaan Alexa disaat Rafael tidak ada di rumah.
Jika terus seperti ini bisa-bisa aku benar-benar menjadi Alexa.
Tok.. Tok..
"Nyonya, apa nyonya sudah tidur" ucap salah satu pelayan
"Ada apa?
"Itu, Nyonya! sekarang Tuan di kamar sebelah dan terluka"
"Hah, Apa?"
Mendengar dia terluka membuatku langsung berlari untuk mengetahui bagaimana kondisinya.
"Rafael!"
"Hosh.. hosh..huff.."
"Nyonya!" ucap Max yang sedang memegang lengan Rafael yang terluka dan menahan darah yang keluar dengan kain
"Kenapa? kenapa nggak di bawa ke rumah sakit, kenapa kamu membawa orang yang terluka ke rumah?" ucapku yang tak sadar marah kepada Max dan meneteskan air mata
"Hiks.. hiks.."
"Tenang Alexa, ini bukan luka yang parah kok" ucapnya sambil tersenyum kecil kepadaku dan menahan sakit
"Max, cepat panggil dokter kesini!
"Nggak perlu Alexa " ucapnya dengan lirih
Aku tidak mengerti kenapa bisa Rafael setenang itu dengan luka yang dia alami.
"Baiklah, Max cepat ambil obat, perban pokoknya semua yang bisa di gunakan untuk luka, cepat!
"Baik Nyonya"
Aku menggantikan Max menahan lukanya agar darahnya bisa berhenti dan dia berlari mencari apa yang ku minta sebelumnya.
"Hiks.. Rafael kenapa bisa kamu terluka seperti ini?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Rafael terdiam dengan mengerutkan keningnya menahan sakit.
Aku sangat takut terjadi sesuatu dengannya, bagaimana bisa dia yang kutemui sebelumnya baik-baik saja sekarang terluka seperti ini.
"Nyonya ini" ucap Max sambil memberikanku kotak obat dan perban
"Rafael, tahan ya ini akan terasa perih" sambil membersihkan luka di lengan Rafael
"Akh.."
Aku mengoleskan obat dan menutup lukanya dengan perban. Untungnya luka yang di alami Rafael tidak dalam.
Baru kali ini aku melihat Rafael terbaring dan terluka seperti ini dan dia menganggap luka ini bukan masalah baginya.
"Alexa, jangan pergi! tolong tetap disini" ucap Rafael sambil menyentuh wajahku dengan tangan kirinya
"Iya, aku nggak pergi, jangan banyak bergerak nanti lukanya berdarah lagi"
Aku meminta Max dan yang lainnya pergi meninggalkan kami berdua di kamar itu.
"Rafael, kenapa bisa kamu terluka" ucapku sambil mengusap wajahnya dan menyingkap rambut yang menutupi matanya
"Eum.."
Rafael tidak menjawab ku dan tertidur, dia terlihat sangat kelelahan dan akhirnya aku menemani di sampingnya.
Aku takut dia akan demam nantinya.
Rasanya aku sangat ingin memeluknya dan mencium keningnya tapi aku sadar aku bukan Alexa.
Aku mencoba menahan diriku agar tidak mencintainya.
Keesokan harinya badanku terasa berat dan ternyata Rafael memelukku dengan erat.
"Rafael?"
"Kenapa kamu memelukku? kamu terluka jangan macam-macam"
"Ssstt" sambil menyentuh bibirku dengan jarinya
"Kenapa kamu memarahi orang yang sakit?" ucapnya dengan santai dan tersenyum tipis menatapku
Tatapan matanya yang tajam itu seolah menggodaku untuk mendekatinya.
"Hah? jangan menatapku seperti itu!"
"Alexa, sakit"
"Ah! coba sini ku lihat lukanya" sambil memeriksa luka Rafael
"Eum.. peluk aku Alexa" sambil merentangkan tangan kirinya dan memintaku memeluknya
Akhirnya aku memeluknya dari samping karena aku takut jika terkena lukanya.
Aku menyenderkan kepalaku di atas dada Rafael yang tidak mengenakan pakaian.
"Cup"
Rafael mencium keningku dan menyentuh kepalaku dengan lembut.
"Hiks.. Hiks.."
"Alexa, kenapa kamu menangis?" ucap Rafael yang terkejut
"Rafael jangan terluka lagi! bagaimana bisa kamu mendapatkan luka seperti ini? hiks.."
"Sayang, jangan nangis lagi ya, kan suamimu masih hidup" ucapnya sambil tersenyum
Aku mendongak dan menatap wajah Rafael yang tersenyum disaat aku sangat menghawatirkan dirinya tetapi dia justru terlihat biasa saja.
"Rafael, bisa-bisanya kamu bercanda.. hiks.."
"Sayang lihat aku!" sambil mendekatkan wajahku ke depan wajahnya
Rafael mencium ku dengan lembut dan aku pun membalas ciumannya. Dia mencoba menghibur dengan mencium bibirku agar aku berhenti menangis karenanya.
Aku sempat mendengar detak jantungnya yang berdebar kencang saat memelukku.
Aku tidak tahu akan menjadi seperti apa perasaan ku jika terus bersamanya.
Bahkan sekarang aku merasa takut kehilangannya.
"Rafael, apa ada yang kamu butuhkan?"
"Ada"
"Eum.. apa?"
"Kamu.."
"Kenapa bercanda terus sih?" ucapku sambil memasang ekspresi cemberut
"Kapan aku bercanda, memang kamu yang ku butuhkan" jawab Rafael dengan tersenyum
"Sebentar aku panggil Max" sambil beranjak dari tempat tidur
Aku berlari keluar dan meminta Max menjaga Rafael sebentar dan pasti Rafael perlu di bantu Max yang tenaganya lebih kuat daripada diriku.
Sementara itu, aku pergi ke dapur untuk pertama kalinya selama aku tinggal di rumah ini.
"Jangan nyonya, biar kami saja" ucap pelayan yang sedang bertugas
"Sudah kalian nggak perlu khawatir" ucapku sambil mengambil panci
Para pelayan melarang ku berada di dapur karena takut di marahi oleh Rafael tapi aku meminta mereka menyiapkan apa yang ku butuhkan.
Sudah sangat lama aku tidak pernah memasak tapi aku tidak lupa caranya membuat bubur.
"Aku berniat membuat bubur untuk Rafael"
Entah kenapa aku merasa antusias menyiapkan makanan untuk Rafael.
Para pelayan terheran melihat ku memasak di dapur karena pemandangan ini baru mereka lihat untuk pertama kalinya.
"Nyonya, tolong kali ini saya yang bawa saja" ucap Niken yang berlari ke arahku setelah mendengar kabar aku membuat bubur di dapur
"Baiklah"
Aku menemui Rafael kembali dan raut wajah semua pekerja disini tersenyum melihatku.
Krieet..
Setelah pintunya di buka, aku langsung bergegas menghampiri Rafael.
Tapi sepertinya dia sedang membicarakan hal yang penting dengan Max.
Rafael meminta Max untuk diam dan keluar dari kamar.
"Rafael, apa kamu mau makan?"
"Tuan, ini bubur yang di buat sendiri oleh nyonya" ucap Niken sambil meletakkan bubur di meja kecil samping tempat tidur
Ekspresi Rafael terlihat sangat terkejut mendengar perkataan Niken.
Tanpa di minta Niken langsung meninggalkan kamar dan membiarkan kami berdua saja.
"Rafael, makan ya?" sambil membantunya duduk
"Sayang, kamu buat sendiri?"
"Iya, tapi maaf kalau nggak enak, aku sudah lama nggak masak" ucapku yang merasa malu
Rafael langsung meminta ku untuk menyuapinya dan menurutnya bubur buatanku enak.
"Makasih ya sayang, buburnya enak" sambil tersenyum kepadaku
"Eum..Makan lagi ya?" ucapku sambil memberikan beberapa suap
Aku senang jika memang Rafael menyukai bubur yang ku buat setidaknya ada yang bisa kulakukan untuknya meskipun apa yang kulakukan tidak sebanding dengan yang telah dilakukan oleh Rafael.
"Sayang, kenapa kamu sedih?" ucap Rafael sambil menyentuh tanganku
"Rafael, selama ini aku nggak pernah sekalipun berterimakasih atas apa yang telah kamu lakukan untukku justru aku selalu membangkang dan tidak menuruti keinginan mu, maafkan aku"
"Sayang, jangan merasa seperti itu, semua ini justru kesalahanku dan keegoisanku yang membuatmu terpaksa hidup sebagai istriku"
"Hiks.. hiks.."
Aku tidak bisa menahan tangisku mendengar perkataan Rafael yang terdengar seperti yang selama ini ku harapkan darinya.
Aku menangis dalam pelukannya yang terasa hangat.
Apa ini artinya dia sudah menghilangkan bayang-bayang Alexa dariku?
Apa mungkin sekarang dia mencintaiku sebagai Fiona bukan Alexa?
Apakah aku bisa menanyakan hal seperti itu kepadanya?
Apa aku pantas dan punya hak untuk itu?
trus si istri hidup kembali mencoba untuk mencintai suami mafianya ituh.
ada yg tau gak judulnya apa.????
plis penasaran sama endingnya
sgt rapi, ga ada typo