Dijodohkan dengan seorang laki laki dari usia bayi tanpa diketahui, yang ternyata laki laki itu adalah musuh bebuyutannya di sekolah. Namun perjodohan sudah tidak bisa lagi untuk dihindari.
Bagaimana kisah kehidupan Arin dan Rafa selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Karena di ajak meeting oleh Papanya, Rafa mencoba mengirim pesan pada Arin agar tak menunggunya pulang dan cepat tidur. Tak lupa cowok yang sudah mulai bertanggung jawab penuh sebagai kepala rumah tangga itu mengingatkan agar istrinya memesan makanan saja dari luar, serta mewanti wanti agar tak membiarkan perutnya kosong lagi.
Rafa memang sudah ikut bekerja, namun tak se asal dulu. Karena kini Ia menyadari jika harus memberikan nafkah pada istrinya. Lagipula Rafa juga sudah meminta Papa mertuanya untuk tak lagi memberikan uang bulanan pada Arin, karena ingin bertanggung jawab sepenuhnya.
Walau usianya masih terbilang kecil danmenyandang status pelajar, tapi pikirannya sudah mulai berkembang dewasa setelah dirinya menikah. Ia terus berusaha menjadi seorang suami yang bertanggung jawab dalam segala hal.
Setelah menikah, Papanya juga sudah mulai memberikan tanggung jawab proyek pada Rafa, demi mendukung usaha juga niat putranya menjadi seorang suami seutuhnya. Keluarga Rafa mendukung penuh apapun keputsan anak pertamanya itu, karena yakin jika apapun yang sudah diputuskan Rafa adalah suatu hal yang menurutnya baik dan sanggup dijalani.
***
Pukul 20.00 Rafa sudah kembali dari kantor, dengan pakaian kerja meninggalkan semua tampang cupu dan kembali seperti biasa yang tampan dan mempesona.
Dilihatnya Arin tidur meringkuk di atas sofa panjang, dan perlahan Ia meletakkan tas juga membuka dasinya. Dibukanya dua kancing kemeja hitam yang masih melekat dan berjongkok tepat di hadapan istrinya.
Tangannya lembut membelai wajah cantik nan mulus istrinya, diiringi tatapan kekaguman. Baru kali ini Dia benar benar bisa melihat dengan seksama dan teliti wajah cantik Arin. Karena selama menikah, Rafa tak pernah benar benar berani menatap wajah istrinya.
Bibir lembut Ia daratkan pada kening Arin, dan seketika membangunkan tidur istrinya yang belum terlelap. Memang baru beberapa menit Arin memejamkan mata sebelum Rafa tiba. Mata mereka saling beradu ketika Rafa telah melepaskan bibir dari kening istrinya.
"Lo udah makan?" tanya Rafa memecahkan keheningan di antara mereka dan di jawab gelengan kepala oleh Arin yang sudah beranjak duduk.
"Kenapa? kan Gue udah suruh Lo pesen makan di luar" seru Rafa masih berjongkok di hadapan istrinya yang melipat kedua kaki di atas sofa.
"Gue engga punya uang Fa, Papa udah engga kasih Gue uang dan ATM juga udah Lo suruh balikin ke Papa" jelas Arin memeleas, seketika mengejutkan Rafa.
"Kan Gue udah bilang kalau di laci TV ada uang, itu emang buat kebutuhan Lo kok" seru Rafa sudah menyediakan uang untuk istrinya sebagai uang saku juga kebutuhan pribadi lainnya, karena untuk keperluan rumah Rafa selalu berbelanja untuk stok bulanan.
"Gue engga berani ambil, itu duit Lo" lirih Arin langsung dibalas napas panjang suaminya.
Tangan Arin yang menyatu di depan perut langsung diraih Rafa dan di genggamnya.
"Rin, Lo istri Gue jadi semua milik Gue itu milik Lo. Lo tanggung jawab Gue Rin" tulus Rafa menggenggam tangan istrinya dengan mata menatap dalam ke arah gadis cantik tersebut.
"Gue cinta sama Lo Rin" tulus kembali Rafa masih dan posisi yang sama.
Sebuah kecupan lembut diberikan Rafa di atas bibir merah alami istrinya, mata Arin mulai terpejam merasakan sebuah ketulusan melalui kelembutan itu. Hatinya kembali bergemuruh, dan merasa seperti ada sebuah sengatan listrik dalam tubuhnya. tak pernah Arin merasakan hal seperti ini walaupun sudah berpacaran dengan Niko.
"Kita pesan makan ya" lirih Rafa membuka aplikasi pada ponselnya dan memesan beberapa menu makanan, karena terlalu lelah jika harus keluar rumah.
Soal’y wktu bru rilis saya ikutin smpe selesai
Eh pas pngen baca lgi ko di potong gini cerita’y
Jdi aneh deh
nganter ditimpuk ma rafa hahah