NovelToon NovelToon
KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Tamat
Popularitas:185k
Nilai: 5
Nama Author: balqis

Kehidupan Abyaksa Pratama dan Anisa fitriani mulanya sangat bahagia. Di mata Anisa, Aby adalah sosok suami dan ayah yang bertanggung jawab dan penyayang. Tidak pernah terbersit sedikitpun di benak Anisa kalau pria pilihan Abahnya itu membawanya pada situasi di mana dia harus memilih antara ego dan kesempatan meraih surga.

Tragedi kebakaran di kantornya yang harus mempertemukan Aby dengan seorang wanita bernama Jelita.

Haruskah ia ikhlas membagi suaminya dengan wanita lain? yuk kita ikuti bareng- bareng ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Sepanjang perjalanan pulang, Anisa hanya terdiam. Berbeda dengan Al yang terlihat riang setelah melepas rindu pada ayahnya.

Anisa memikirkan permintaan Al untuk mereka berkumpul lagi.

Tapi Anisa belum sanggup melihat kebersamaan Aby dan Jelita.

Ustadz Yahya diam-diam mengamati wajah Anisa dari kaca spion.

"Kasihan Anisa. Seandainya dulu dia memilihku, aku tidak akan pernah membuatnya menangis." ucapnya dalam hati.

Malam harinya, Anisa mengikuti kajian rutin dari Abahnya untuk para muridnya.

Kajian yang isinya tentang ikhlas, sangat menarik perhatian Anisa.

"Ikhlas menerima ketentuannya, ikhlas menerima semua yang terjadi walaupun itu di luar kehendak kita. Dengan belajar ikhlas menerima ketentuannya, bersabar dan tawakkal. Insya Allah, drajat kita akan terangkat dunia akhirat."

Anisa termenung. Ia berusaha memikirkan wejangan Abahnya itu.

"Apakah memang aku harus mengikhlaskannya? Melihat kebahagiaan Al bertemu ayahnya, rasanya mengalahkan amarahku pada Mas Aby dan Jelita. yang begitu kuat. Ya.. kebahagiaan Al adalah segalanya." ucap Anisa pada diri sendiri.

Bergegas ia memanggil putranya untuk pulang.

"Ini sudah malam, Nisa. Pulang besok pagi saja.!" sapa Abahnya.

"Ada sesuatu yang harus Nisa kerjakan, Bah..." jawab Anisa memberi alasan.

"Izinkan saya mengantarnya Pak kyai. Ini sudah malam.. " kata ustadz Yahya yang kebetulan ada di sana.

"Terserah Anisa saja, kalau dia mau kau antar, silahkan." ucap orang tua itu bijak.

"Tidak usah ustadz, aku dan Al bisa sendiri pulang kok."

"Al mau di antar pak ustadz saja..!" celetuk Al tiba-tiba.

Semua saling pandang.

"Insya Allah tidak apa-apa.. kalian bertiga. jadi tidak akan timbul fitnah." kata Kyai Romli akhirnya.

Dengan canggung Anisa duduk di boncengan pria yang pernah menjadi masa lalunya.

Di moat lain, Aby duduk dengan khusuk sehabis menunaikan sholat Isya.

"Kenapa tiba-tiba aku teringat Al dan Anisa?"

Aby mengambil kunci mobilnya. Iseng-iseng ia menuju arah rumah yang di tempati Anisa.

Ia tidak berharap banyak bisa bertemu anak istrinya, ia hanya ingin memastikan mereka baik-baik saja.

"Terlihat sepi.. Mungkin mereka belum pulang dari tempat Abah." gumam Aby kecewa.

Baru saja ia selesai bicara begitu. Dari ujung jalan muncul motor yang sedang melaju dengan kecepatan sedang. Mulanya Aby tidak perduli, tapi setelah dekat dan tau siapa yang menaiki motor itu, wajahnya terlihat kecewa.

Ia melihat Al duduk di depan, sedangkan Anisa duduk manis di belakang ustadz itu.

"Terima kasih ustadz, sudah mengantar kami. Ayo Nak Salim dulu!"

 Yahya berbasa basi sebentar dengan Al.

Lalu iya menghadap Anisa.

"Nis, saya memang tidak berhak ikut campur urusan pribadimu, tapi asal kau tau, kapan pun kalian membutuhkan bantuanku, aku selalu siap." kata Yahya tulus.

'Terimakasih, sekali lagi ustadz, kebaikanmu tidak akan aku lupakan." jawab Anisa tersenyum.

Aby yang memperhatikannya menjadi panas dingin.

"Tidak usah memanggilku ustadz, Yahya saja, lebih akrab di telinga." canda pria itu lagi.

Anisa berusaha tersenyum.

Aby tidak mau membiarkan keadaan itu berlarut. Ia sengaja turun dari mobil dan memanggil Al.

Anisa dan ustadz Yahya tercengang dan salah tingkah oleh Kehadiran Aby di tempat itu.

"Assalamualaikum pak Aby.." sapa pria itu sopan.

"Waalaikum salam.. Bagaimanapun keadaanya, saya berterimakasih karna kau sudah mengantar mereka." ucap Aby terbata.

Keadaan itu benar-benar membuat mereka bertiga menjadi canggung.

Setelah Ustadz Yahya mohon diri. Tinggal Aby dan Anisa yang berdiri mematung.

Al sudah asik sendiri di teras rumahnya.

"Maaf.. Aku sudah datang di jam segini." kata Aby menatap wajah sendu istrinya.

"Kenapa kau harus minta maaf? Kau pasti datang untuk melihat Al, bukan? Dia putramu, Mas. Aku tidak berhak melarang mu bertemu putramu sendiri."

"Kau benar, aku ingin bertemu putraku, tapi aku juga ingin bertemu istriku. Apakah aku tidak boleh lagi melihat dan merindukannya?"

Anisa terdiam.

"Apakah aku sudah tidak punya hak untuk itu, Nis?"

"Aku sadar, semua yang kau lakukan bukanlah sebuah dosa? Aku juga tau kalau seorang pria di bolehkan beristri lebih dari satu.

Sebagai muslimah yang baik aku berusaha memahami itu, tapi siapa lah aku yang harus rela berbagi suami dengan wanita lain sekalipun alasannya sangatlah mulya.

Tapi aku janji akan berusaha mengerti keadaan ini. Tapi tidak sekarang, Mas. Aku belum sanggup." ucap Anisa sambil berurai air mata. Aby sangat terharu. Ia maju perlahan dan memberanikan diri mengusap air mata yang membasahi pipi putih Anisa.

Tak di sangka, Anisa menahan tangan Aby untuk tetap disana.

Ia menangis tersedu. Antara benci dan rindu yang begitu menyiksa batinnya membuatnya menumpahkan semuanya.

Aby meraih tubuh Anisa dalam pelukannya. Ia membiarkan Anisa menangis di dadanya.

Al datang dan bertanya dengan heran.

"Kenapa Bunda menangis?"

Hal itu membuat Aby dan Anisa mengurai rangkulan mereka.

"Tidak apa-apa, mata bunda kemasukan debu sedikit, dan Ayah tiupin."

"Malam kok ada debu?" tukas Al lagi memuat Aby kebingungan mencari alasan lain.

Anisa membuka pintu rumahnya.

"Maaf, Mas Aby, aku memang sedang berusaha mengerti dan menerima semua yang terjadi. Tapi aku belum bisa serumah." tutur Anisa.

"Tidak apa-apa, kau mau membuka hati saja Mas sudah sangat bersyukur. Mas akan pulang ke kantor."

Jawab Aby.

"Kantor?" ulang Anisa dengan heran

"Iya. Mas, numpang tidur di kantor selama ini."

Anisa terhenyak. Bayangannya kalau Aby bahagia dengan istri barunya selama ini ternyata salah.

"Mas sudah berjanji pada diri sendiri, sebelum mendapat restu darimu, tidak akan tinggal serumah dengan Jelita."

Anisa masih terdiam. ia tidak tau harus berkata apa, bahagia kah ia mendengar penuturan Aby?

Sampai Aby menghilang dari pandangannya Anisa masih bingung.

"Kasihan mas Aby, ternyata dia juga menderita dengan keadaan ini. Aku kira dia bahagia dengan wanita itu, tapi...?"

Ada rasa bersalah di hati Anisa saat mengetahui kalau selama ini Aby tidur di kantor.

Bayangan wajah Aby yang berseri saat mendengar perubahan sikapnya terus terbayang di benak Anisa.

"Apakah aku terlalu kejam pada suami ku sendiri? Makan dan tidurnya pasti tidak terurus." bisik Anisa lagi.

Pukul sebelas tepat, Anisa di kejutkan oleh suara ponselnya.

Dengan malas ia meraih benda itu.

"Mas Aby ngapain nelpon malam-malam begini?" gumamnya seraya mengangkat panggilan itu.

"Assalamualaikum.. Ada apa Mas?" sapa Anisa.

Namun seketika tangannya bergetar dan ponselnya hampir saja terjatuh.

Yang menelponnya bukan lah SBY, melainkan polisi yang mengabarkan bahwa Aby kecelakaan dan saat ini sedang koma di rumah sakit.

Dengan panik Anisa memanggil seorang tetangganya untuk menemani Al. Ia langsung bergegas kerumah sakit tempat Aby di rawat.

Sampai disana ia langsung berlari ke ruang ICU. Terlihat Aby terbaring diam dengan kepala yang di perban.

Anisa tak bisa menahan air matanya lagi.

Ia menangis sendirian.

Polisi datang memberikan beberapa barang milik Aby.

Sebuah tangan menjamah pundaknya.

"Yang kuat ya, Nisa.." Lisa dan Imran sudah berada disana pula.

Anisa merasa heran kenapa sampai sekarang Jelita belum juga menjenguk Aby.

"Mas Imran, kau tau alamat Jelita?"

Imran dan Lisa tercengang heran.

Imran mengangguk.

"Jangan bilang kau mau menemuinya.."

"Kalau menuruti ego, aku memilih untuk merawat dan memiliki Mas Aby sendirian, tapi kenyataannya Jelita juga istrinya. Dia berhak tau dengan bapa yang menimpa Mas Aby."

"CK ck ck... Hatimu terbuat dari apa, Nis? kalau aku tidak sanggup menjadi dirimu." ujar Lisa kagum.

Setelah mendapat alamat lengkap dari Imran, ia langsung menuju tempat Jelita.

Favorit dong... Like juga, jangan jadi pembaca misterius yang tidak meninggalkan jejak🤣🤣

"

1
Farisfauzi' Moms
👍
Nur Karyani
Luar biasa
Aira Azzahra Humaira
kok jadi males bacanya
Aira Azzahra Humaira
ah nisa baik banget km sih istri tua banyak kelebihan nya
Aira Azzahra Humaira
udah bikin cerai aja biar tau rasa si abi jodohin ama ustadz yahya si nisa
Aira Azzahra Humaira
istri tua emang tiada tandingannya dah apa gak malu tuh si linta darat
Aira Azzahra Humaira
udah talak aja si jelita nya km udah cukup bertanggung jawab abi klu emang km gak rakus sih klu rakus ya pengen punya bini dua
Aira Azzahra Humaira
instingnya istri gak pernah salah
Aira Azzahra Humaira
emang bego ya si abi mau maunya di porotin cepetan katauan atuh Thor kacian si nisa nya biar mampusss tuh abi
Aira Azzahra Humaira
dasar abi oneng mau aja di bikin ribet
Santiani
kanapa si Aby mau aja/Sob/
Santiani
langsung baca bab 87 kok tamat nya gantung ya , cerita nya belum tuntas
Nur Hayati
Luar biasa
Aira Azzahra Humaira
tuh kan mulai bejat tuh ibunya si lita dasar gak ada ahklak
Aira Azzahra Humaira
bener kata Imran ngapain nolongin orang klu keluarga nya sendiri harus tersakiti
Aira Azzahra Humaira
dasarnya abi aja yg rakus perceraian emang di benci dalam agama tapi nyakitin istri mu bego
Yus Nita
lama x ganjaran buat si Risma, yg gak ada nyadar nu
Yus Nita
buat ulah
Yus Nita
emang lah si Risma, ntah kapan insyaf ny
Yus Nita
si Risma tuh aja yg do penjara ksn.
karena dia yg ngotot mau mengambil
Khalisa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!