Aisyah, seorang gadis yang memilih berhijrah dan menutup wajah nya dengan selembar kain (cadar) semenjak SMA. Gadis yang membuat banyak laki-laki ingin menikahi nya, namun lagi-lagi ditolak oleh nya.
Kemudian, hatinya terperangkap oleh seorang pemuda bernama Fatih, yang ternyata adalah dosen baru di Kampusnya. Meneguk manisnya rumah tangga, hingga akhirnya harus berpisah dengan Fatih suaminya dengan cara yang sangat menyakitkan.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di novel "MADU" ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Besok aku harus kembali ke Solo. Sudah 2 hari aku di Jakarta. Besok aku akan kembali menyusuri jalanan Jakarta-Solo.
Aku harus tidur lebih awal. Agar nanti setelah shalat subuh, aku tidak mengantuk ketika menyetir mobil. Aku memutuskan untuk kembali ke Solo setelah shalat subuh. Agar ketika sampai di Solo, aku bisa istirahat sehari penuh, barulah nanti kembali ke aktifitas mengajar dikampus. Lagi pula, jika pagi-pagi buta, jalanan ibu kota tidak terlalu ramai, sangat berbeda denga jam-jam produktif. Aku tidak ingin terjebak macet yang sangat panjang. Itu sangat memakan waktu dan pastinya sangat melelahkan sekali.
"Bun, Fatih pamit tidur yah,". Ucapku pada Bunda yang masih asyik melihat acara sinetron di TV.
"Tumben, baru jam 8 malam sudah mau tidur. Ga makan dulu?,". Tanya Bunda sambil melirik ke arah jam dinding.
"Ngga usah Bun, makannya besok pagi saja. Sekalian sarapan dengan Ayah, lagi pula Fatih besok harus mengemudi jarak jauh lagi,".
"Yasudah, tidur lah. Biar besok fit,". Ucap Bunda kepadaku sambil tersenyum.
"Fatih tinggal dulu ya Bun,". Aku berlalu meninggalkan Bunda. Biasanya jika Ayah bisa pulang lebih cepat, Bunda akan menunggu sampai Ayah datang. Barulah setelah itu Bunda akan tidur.
Jam 2 malam, aku terbangun dari tidur. Kemudian menuju ke kamar mandi. Kulihat ada tas kerja Ayah. Ayah sudah pulang, ucapku lirih. Aku mengambil air wudhu dan menunaikan shalat tahajjud.
Setelah selesai shalat tahajjud, aku kembali berusaha untuk memejamkan mataku. Tapi gagal. Entahlah, tiba-tiba aku sangat rindu dengan dik Aisyah. Ingin rasanya cepat-cepat menghalalkannya. Astaghfirullah, istighfar Fatih. Jangan sampai tipu daya syaitan merusakmu sebelum akad. Aku mengusap wajahku, dan berbaring kearah kanan seraya berdoa. Alhamdulillah akhirnya aku bisa kembali terlelap.
Alarm dari jam wekerku berbunyi beberapa kali. Kudengar sayup-sayup suara Adzan. Aku mengucek kedua mataku. Sudah adzan subuh?, aku membuka selimut dan bergegas untuk mandi dan mengambil air wudhu. Orang rumah belum ada yang bangun. Ayah bahkan sering tidak shalat subuh. Jangan
kan shalat subuh, shalat wajib yang lain pun, entah dia kerjakan atau tidak. Ya Allah..., berikan hidayah-Mu untuk kedua orang tuaku.
Aku kemudian membuka pintu samping dan pergi menuju masjid yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan milik Ayahku.
"Assalamualaikum nak Fatih,". Tiba-tiba ada bapak-bapak yang menyapaku.
"Oh pak Andre. Waallaikumussalam pak. Lama tidak bertemu ya pak,". Ucapku sambil tersenyum dan mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan.
"Iya ini, sekarang sudah jadi orang Solo ya ?. Sejak kapan dirumah?,". Pak Andre menjabat tanganku dan juga bertanya padaku.
"Sudah dari dua hari yang lalu pak, ini selesai shalat subuh juga, saya kembali lagi ke Solo. Maklum pak, hanya di kasih jatah libur 4 hari saja dari tempat saya mengajar,". Jelasku.
"Loh, sudah mau balik saja ke Solo. Betah disana ya?. Hehe... atau sudah punya tambatan hati?,". Gurau pak Andre kepadaku.
"Ya betah ngga betah pak. Alhamdulillah. saya lebih nyaman diSolo pak. Ah bapak bisa saja,". Jawabku sambil terkekeh.
Pak Andre adalah salah satu tetangga di komplek perumahan milik Ayah dan Bunda. Dia orang nya sangat baik, ramah dan juga termasuk taat dalam beragama. Dulu dia sering sekali sharing berbagai hal kepadaku saat aku SMA.
Aku dan pak Andre memasuki halaman masjid dan kemudian menuju tempat wudhu. Setelah selesai wudhu kemudian aku shalat sunnah dua rakaat, dan di lanjut shalat subuh berjamaah.
Seusai shalat, aku menyapa beberapa tetangga dan sedikit ngobrol-ngobrol. Pikirku sekalian pamit mau balik keSolo lagi. Ketika keluar dari masjid, aku bertemu dengan Aminah, gadis cantik yang dulu pernah mengisi hatiku saat SMA dulu. Walaupun sampai detik ini, Aminah tidak pernah tahu perasaan yang pernah ada untuk dia. Aku lantas tersenyum dan menundukkan pandanganku. Aku tersenyum hanya untuk menyapa saja. Tidak lebih.
Bahkan aku sendiri tidak tahu, apa dia membalas senyumanku atau tidak. Karena memang aku langsung menunduk dan berjalan menuju kerumah. Astaghfirullah, godaan ketika akan menikah emang sangat banyak. Begitulah cara syaitan mengganggu hamba Allah yang ingin beribadah.
Aku jadi ingat tentang iblis yang memberikan mahkota apabila mampu memisahkan suami dan istrinya, maksudku bercerai.
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813),".
Aku bergidik, ya Allah lindungi keluargaku dan Aisyah kelak dari godaan syaitan yang terkutuk. Doaku lirih. Aku berjalan dengan sedikit lebih cepat kerumah. Agar tidak terlalu kesiangan berangkat ke Solonya.
Aku mengucapkan salam dan membuka pintu. Ayah dan Bunda masih belum bangun.
Aku menghela nafas panjang.
"Sudah pulang den?,". Sapa Bi Ijah mengagetkan ku.
"Sudah Bi Ijah,". Jawabku.
"Mau Bibi buatkan susu hangat den?, atau mau apa den Fatih?,". Bibi menawarkan kepadaku.
"Susu hangat boleh deh Bi. Sarapannya nanti bareng dengan Ayah Bunda saja. Tolong nanti susunya taruh dimeja tengah depan tv saja ya Bi, Fatih mau kekamar dulu,". Ujarku pada Bi Ijah.
"Baik den Fatih,". Jawab Bibi dengan segan kepadaku.
"Makasih ya Bi Ijah,". Ucapku yang lantas berlalu menuju kamar.
Aku mengecek kembali barang-barangku di koper. Kali ini aku membawa koper, karena memang ada beberapa barang-barangku yang belum sempat aku bawa ke Solo. Lagi pula sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah ini jika sudah menikah dengan Aisyah. Aku tersenyum sendiri mendengarkan kata menikah.
"Den, susunya sudah Bi Ijah taruh dimeja den. Silahkan diminum selagi hangat,". Ucap Bi Ijah dibalik pintu.
"Iya Bi, nanti Fatih kesana. Terimakasih,". Jawabku.
Aku membuka pintu kamar dan menuju ke ruang tv. Kulihat Ayah baru saja bangun. Sedang bunda baru saja selesai mandi.
"Selamat pagi Ayah,". Sapaku.
"Pagi juga,". Ucap Ayah yang kemudian berlalu menuju kekamar mandi.
"Pagi Bun,". Sapaku kepada Bunda yang sudah rapih setelah mandi.
"Pagi juga, kamu sudah bangun?,". Tanya bunda kepadaku yang kemudian duduk di sampingku.
"Sudah dari subuh Bun,". Jawabku.
"Sudah mandi?,". Tanya Bunda lagi.
"Sudah Bun, ini tinggal nunggu sarapan bareng Ayah Bunda, terus Fatih pamit balik ke Solo Bun,". Jawabku sambil meminum susu yang tadi dibuatkan oleh Bi Ijah.
"Yasudah, tunggu Ayah sampe selesai mandi yah,". Pinta Bunda padaku.
"Iya Bun,". Jawabku sambil melihat berita di TV.
Setelah sekitar 10 menit menunggu, akhirnya Ayah sudah rapih dan aku Ayah serta Bunda sarapan pagi bersama.
"Sudah kamu packing semua ?,". Tanya Ayah padaku.
"Sudah Yah,". Jawabku.
"Mau Ayah kasih cek?,". Tanya Ayah sambil menyuapkan sendok kedalam mulutnya.
"Tidak usah Ayah. Fatih kan sudah kerja. Sudah ada penghasilan sendiri. Cukup buat biaya hidup Fatih,". Jawabku santai.
Ayah memang suka begitu. Masih saja menganggap aku masih anak kecil yang butuh uang darinya.
"Hati-hati di jalan ya nak,". Ucap Bunda.
"Iya Bun, siap,".
Setelah selesai makan, aku kemudian membawa koper dan barang-barangku kedalam mobil. Serta berpamitan kepada Ayah Bunda.
"Fatih pamit ya Bun, Yah,". Pamitku sambil mencium tangan Ayah dan Bunda.
"Iya hati-hati,". Jawab Ayah.
Kali ini Bunda menangis. Sudah menjadi kebiasaan Bunda, setiap aku akan pergi pasti menangis. Kadang suka tidak tega meninggalkan Bunda. Tapi aku laki-laki, aku harus bisa hidup mandiri, karena aku akan menjadi seorang imam dan pemimpin dalam keluargaku kelak.
Aku memeluk Bunda, bunda membalas pelukanku.
"Assalamualaikum Ayah Bunda," Ucapku dari dalam mobil
"Waallaikumussalam, kabari mengenai rencana lamaran kamu,". Pinta Ayah kepadaku.
"Baik Ayah,". Aku melambaikan tangan dari dalam mobil. Dibalas oleh lambaian tangan Ayah dan Bunda.
Mobilku melaju meninggalkan garasi mobil rumahku yang sangat besar. Ada sekitar 5 mobil mewah yang terparkir rapih disana. Aku hanya menggelengkan kepala dan berdoa,
Bismillahi tawakkaltu Allallah.
Aku meninggalkan Jakarta kembali.
author semangat menulis dan readers semangat membaca./Smug/
kata ibu mertua, harus poligami
dasar novel, bikin greget.
lanjut aku baca