➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡
Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.
Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.
Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.
Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.
Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IDR 15#Pencarian Fay, Kebersamaan Keluarga Zafran
Melihat kelakuan Fay yang tiba-tiba bersikap aneh. Bagas bergegas menyusul gadis itu. Entah apa yang terjadi karena terlihat sekali sang kekasih tengah kebingungan hingga sampai di lantai bawah ia menatap betapa gusar dan khawatir tergambar di wajah sang kekasih.
Fay melihat ke sana kemari seakan tengah mencari sesuatu. "Fay, kamu kenapa? Bicaralah padaku, jangan membuatku bingung." Bagas memegang kedua bahu gadisnya yang membuat Fay terkesiap.
Gadis itu juga merasa bingung, ia tak tahu harus mengatakan apa. Apalagi saat ini hatinya menyadari apa yang baru saja dilihat itu benar-benar nyata hanya saja bagaimana membuktikan hal tersebut. Apakah benar ia telah menemukan sang kakak atau itu hanya sekedar khayalannya saja.
Dilema dalam emosi yang membuatnya tak ingin melakukan hal lain lagi. Akan tetapi ketika berpikir lebih lama, sebuah ide terlintas. Ia bisa meminta izin untuk berkeliling menyusuri mall seorang diri agar menemukan kakaknya. Hati tak ragu mempercayai hari ini pasti menemukan satu jalan yang bisa membuatnya membawa pulang Asma.
"Aku tidak apa kok, tapi cuma pengan jalan menikmati isi mall. Apa boleh aku pergi sekarang?" tanya Fay begitu ambigu membuat Bagas mengernyit tentu saja pria itu khawatir karena sikapnya memang tidak biasa.
Namun melihat situasi yang ada Bagas hanya bisa mengembuskan napas panjang. Ia tak ingin berpikir lebih jauh lagi, mungkin saja Fay memang membutuhkan waktu sendiri untuk merenung memikirkan semua kejadian selama sebulan ini.
Apalagi demi menghargai hubungan mereka masih meminta izin. Sebagai seorang pria belajar melepaskan ego meski sulit, dilepaskannya tangan dari bahu Fay seraya menganggukkan kepala. Ia mempersilahkan sang kekasih untuk berkeliling mall seorang diri.
Tatapan mata mengikuti langkah kaki kepergian Fay yang menjauh darinya hingga punggung gadis itu menghilang di balik sebuah tembok besar tiang penyangga mall. Kemudian ia kembali menaiki lift karena harus sampai di lantai atas untuk menemui Rey dengan alasan urusan bisnis.
Padahal hati dan pikiran tak tenang karena memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Fay. Meski ingin melindungi, ia tak bisa bersikap egois untuk melakukan dua tanggung jawab sekaligus. Jadi izin darinya bisa membuat Fay menikmati waktu untuk diri sendiri dan ia bisa fokus melakukan pekerjaan.
Benar saja begitu sampai di sebuah cafe yang menjadi tempat perjanjian. Terlihat Rey dan klien sudah menunggu kedatangannya. Entah apa yang diobrolkan tetapi begitu ia gabung topik berubah arah haluan. Ditemani secangkir kopi, ketiga pria itu melanjutkan percakapan mengenai bisnis.
Obrolan ringan berubah semakin berat ketika tiganya melakukan rapat tanpa ada beban yang bisa membuat perseteruan. Sementara di sisi lain Fay sibuk menyusuri setiap koridor dari pusat perbelanjaan. Gadis itu tak peduli meski nanti bisa kelelahan karena terus berjalan tanpa arah tujuan.
Tatapan mata fokus menelusuri dari sudut ke sudut lainnya bahkan ia juga memasuki beberapa toko yang bisa dianggap sebagai tujuan sang kakak. Sayangnya ketika takdir masih tak mengizinkan pertemuan. Maka tak seorangpun manusia di muka bumi ini akan dipertemukan oleh keadaan.
Berbanding dengan emosi di hati Fay. Justru orang yang tengah gadis itu cari sedang menikmati kebersamaan bersama keluarga baru di salah satu pusat toko fashion. Deretan gaun berkelas berjejer rapi memanjakan mata, membuat Mama Khadijah begitu sibuk memilihkan pakaian untuk menantunya.
Sang Mama mertua terlihat antusias membuat Al dan Papa Zaf begitu heran tetapi ikut merasa senang. Kebahagiaan yang datang hanya karena kebersamaan. Semua itu karena seperti yang sudah diputuskan bahwa hari ini keluarga Zafran akan menikmati waktu bersama tanpa ada pekerjaan.
Para suami yang menemani para wanita untuk berbelanja serta membiarkan para istri dalam pengawasan tanpa pengawal. Satu hal yang jarang dilakukan, meski beberapa kali pernah menjadi agenda bulanan.
"Shine, cobalah gaun ini, pasti cocok di tubuhmu yang mungil." Diberikannya gaun pilihan pertama pada Asma yang menyambut tanpa keraguan.
Sebuah gaun yang terlihat sangat indah tetapi sederhana. Gaun hitam lengan panjang dengan bawahan sampai ujung kaki jatuh menjuntai. Sebuah hiasan kupu-kupu di bagian dada atas yang terlihat mempermanis gaun itu. Mama Khadijah seakan mengerti keinginan sang menantu yang memang tidak menyukai pakaian terlalu glamor.
Setelah menerima gaun, Asma berjalan meninggalkan ketiga anggota keluarganya menuju ruang ganti. Gadis itu tidak mengharapkan banyak hal selain bersyukur memiliki keluarga yang sangat perhatian dan begitu penyayang.
Sehingga ia senang melakukan apa yang diminta Mama mertua. Kepergiannya membuat Al sibuk memilih beberapa gaun untuk dikemas agar sang istri merasa lebih senang. Begitu juga Papa Zaf yang ikut memilih pakaian untuk sang istri tercinta.
Anak dan ayah selalu kompak melakukan sesuatu secara bersamaan membuat Mama Khadijah menggelengkan kepala karena ia terkadang heran siapa yang suka belanja. Ketika dirinya saja hanya memilih satu atau dua pakaian tapi para pria langsung mengambil beberapa pakaian sekaligus.
"Pakaian sebanyak itu," Mama Khadijah menatap lekat gaun di tangan suami dan putranya, "Apa kalian mau menjualnya lagi? Ayolah di rumah pun pakaian baru masih banyak. Seharusnya kita ambil yang memang diperlukan." ujar Mama Khadijah mengingatkan kedua pria yang justru saling pandang lalu menggelengkan kepala serempak.
"Ya sudah terserah kalian. Nanti jangan tanya kalau gaun yang kalian beli malah justru dibagi ke orang lain, ya." Mama Khadijah tak ingin membuang uang karena itu bisa menjadi bantuan pada orang-orang yang lebih membutuhkan.
Akan tetapi meskipun demikian ia juga tak melarang kedua pria dalam keluarganya memanjakan istri masing-masing karena itu bentuk dari perhatian. Walaupun terkadang terlalu over. Ia tetap menyadari karakter dari ayah dan anak itu sama saja yaitu tidak suka dibantah.
Sehingga sebagai istri hanya bisa mengingatkan. Memiliki suami yang penyayang tetapi protective merupakan kebahagiaan tersendiri. Orang zaman sekarang pasti menyebut sebagai pasangan bucin. Kurang lebih seperti itulah Papa Zaf dan Al ketika menemukan tambatan hati.
Selang beberapa waktu, Al yang sesekali melirik melihat jam di pergelangan tangannya sadar Asma sudah di ruang ganti lebih dari lima menit. "Ma, boleh tolong Al buat cek Shine di ruang ganti? Ini hampir lewat dari lima menit."
"Kenapa bukan kamu saja, Al? Shine itu istrimu, jadi sah saja buat mengecek di dalam ruang ganti." Papa Zaf mencoba mengingatkan akan status pasangan baru yang terkadang terlihat menjaga jarak.
Tanpa mengubah ekspresi bahagianya, Al menggelengkan kepala. "Pa, ini tempat umum. Al tidak mau Shine merasa canggung, makanya minta bantuan Mama. Jangan salah paham, boleh ya, Ma."
"Kalian tunggu disini saja, Mama ke ruang ganti dulu." pamit Mama Khadijah.
Wanita itu meletakkan gaun yang dipegangnya ke atas besi peyangga yang menjadi tempat deretan gaun berkelas. Lalu berjalan menyusuri beberapa deret fashion terbaru yang ada di toko hingga sampai di area ruang ganti khusus perempuan. Terlihat sepi sampai ia masuk ke dalam melihat seluruh ruangan dengan beberapa bilik yang terpisah.
"Shine, kamu di ruang yang mana, Nak?" tanya Mama Khadijah sedikit meninggikan suaranya agar Asma mendengar, tetapi sayang tak ada jawaban.
Heran donk dengan situasi yang ada. Satu per satu ruangan diketuk untuk memastikan. Lagi-lagi tidak ada yang menyaut, apa Asma tidak pergi ke ruang ganti? Rasa penasaran membuat Mama Khadijah nekat membuka setiap bilik. Hati merasa tak tenang hingga di bilik ketiga tatapan mata melebar melihat pemandangan di depan mata.
"SHINE!" serunya menghampiri sang menantu yang tak sadarkan diri.