Series ke dua dari novel 14 Februari, yang menceritakan kehidupan karir dan asmara seorang Charity Lilybelle Tjaidjadi, atau yang lebih akrab di sapa Lily.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Baca terus novel Lily ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 15
Dari kejauhan Gavin memandangi Lily yang tampak serius belajar di perpustakaan, ingin sekali rasanya ia menghampiri dan menemaninya, namun mommynya berpesan kepadanya untuk menghormati keputusan Lily yang ingin berusaha sendiri mendapatkan nilai terbaiknya. 'Aku yakin kamu pasti bisa, byy.'
"Vin, lapangan yuk!!" salah seorang teman club futsalnya, menepuk bahu Gavin dan mengajaknya ke lapangan.
Gavin menoleh melihat temannya, kemudian ia mengangguk. "Yuk!!" ia mengambil bola dari tangan Remon kemudian menggiringnya menuju lapangan di ikuti oleh Remon di sampingnya. Gavin menghentikan langkahnya ketika Remon mulai membicarakan Lily. "Loe udah putuskan sama Lily? Buat gue ya," ucap Remon.
Gavin menatap Remon dengan tatapan membunuh, ia membiarkan bola menggelinding ke sepanjang koridor kelas. "Enggak ada yang boleh deketin dia, termasuk loe. Ngerti!!" Meski Gavin tahu Lily tak pernah merespon pria-pria yang mendekatinya, namun entah mengapa darahnya terasa mendidih setiap kali ada yang pria yang mencoba mendekati wanita yang sangat ia sayangi itu.
Gavin menghampiri bola yang sudah menjauh darinya, kemudian ia kembali menggiringnya menuju lapangan.
Sementara itu, 20 menit sebelum jam istirahat berakhir, Lily merapihkan buku-bukunya dan ia memutuskan untuk meminjam beberapa buku untuk ia pelajari di rumah. "Ly, masih ada dua puluh menit lagi, makan dulu yuk di kantin," ajak Rere, saat mereka berdua keluar dari perpustakaan.
Lily mengangguk, ia mengantarkan Rere ke kantin untuk mengisi perutnya, namun ketika sampai di kantin, Lily hanya memesan satu jus semangka kesukaannya. "Loe enggak makan, Ly?" tanya Rere.
Lily menggeleng. "Gue masih kenyang, loe aja."
"Kenyang bagaimana? Jam istirahat pertama tadi loe sama sekali enggak makan apa-apa," ucap Rere. "Loe lagi enggak diet kan?" tanyanya, ia memperhatikan tubuh Lily yang di nilainya sudah proporsional, antara tinggi badan dan berat badannya seimbang.
"Enggak kok, gue beneran udah kenyang aja."
Sebetulnya, ada sesuatu yang ingin Lily beli namun ia tak mau meminta dari orangtuanya, sehingga ia memutuskan untuk menabung dari uang sakunya.
"Yakin loe enggak makan?" Rere mendorong piringnya, mendekat ke arah Lily. "Makan berdua sama gue aja ya."
Lily tersenyum melihat temannya begitu mengkhawatirkannya. "Gue beneran masih kenyang, nanti kalau gue lapar, pasti gue akan pesan makanan." Lily mendorong piring itu kembali mendekat ke arah Rere. "Loe habisin aja, sebentar lagi masuk."
Selesai menemani Rere makan, keduanya kembali ke kelas. Lily berniat pindah tempat duduk di sebelah Rere sehingga ia merapihkan barang-barang. Saat ia hendak memasukan buku-buku yang ia bawa dari perpustakaan, Lily melihat terdapat roti dan susu coklat di dalam tasnya. "Siapa yang menaruh ini di tasku?" ia menoleh ke arah Gavin yang berdiri di ambang pintu, melihat Gavin tersenyum sudah di pastikan bahawa roti dan susu coklat itu pemberian Gavin.
Lily menutup kembali tasnya dan ia bergegas pindah ke tempat Rere sebelum guru fisika masuk ke kelasnya.
TIGA BULAN KEMUDIAN.
Berkat kerja kerasnya selama tiga bulan belakangan ini, Lily berhasil menyelesaikan ulangan semesternya dan naik ke kelas XII dengan nilai yang cukup memuaskan. Sebagai perayaan kenaikan kelas anak-anaknya, Kendra mengajak keluarganya makan malam di sebuah restoran jepang favorit keluarganya.
"Congrats ya nak, daddy bangga sekali padamu," Kendra begitu bangga pada putrinya yang untuk pertama kalinya ia bisa masuk peringkat 10 besar. "Jadi kamu mau kado apa dari kami?" tanya Kendra.
"Apa kamu mau sweet seventeen birthday party?" sambung Fay. "Sebentar lagi kan kamu ulang tahun."
Untuk sebagian besar remaja putri seperti Lily, tentu sangat menanti-nantikan datangnya usia 17. Mereka menyambut pertambahan usianya dengan perayaan yang mewah di hotel berbintang lima yang di lengkapi dengan kue ulang tahun yang menjulang tinggi, dekorasi yang menawan, dan berbagai macam hiburan.
Namun berbeda halnya dengan Lily yang terlihat enggan untuk merayakan hari ulang tahunnya itu, ia ingin sesuatu yang berbeda dari anak-anak remaja lainnya. "Aku ingin tinggal di ruko perhiasan mommy Manda," ucap Lily.
Untuk beberapa saat Kendra dan Fay terdiam mendengar permintaan dari putri sulung mereka. "Maksudmu?" tanya Kendra bingung.
"Bukankah toko itu kini sudah tutup? Aku berencana menempatinya sekalian membuat toko bunga," ucap Lily dengan hati-hati.
Bukan tanpa alasan Lily menginginkan pindah ke ruko tersebut, pasalnya ia kerap mendengar orangtuanya berdebat mengenai penutupan toko perhiasan milik ibu kandungnya. Fay ingin sekali melepasnya, agar dana usaha tersebut bisa ia investasikan pada usaha baby spa milik Kevin, sementara Kendra masih tetap kekeh untuk mempertahankan toko perhiasan itu karena ia menilai toko itu pernah menjadi penyelamat keuangan rumah tangganya di masa-masa sulitnya, terlebih saat Fay menempuh pendidikan S2 kedokterannya yang memakan biaya yang tidak sedikit.
Sehingga Kendra memilih untuk tetap memertahankan toko tersebut, meski kini keuntungan yang di perolehnya tidak sebagus dulu, saat masih banyak pengrajin handal yang membantunya mengembangkan usahanya, kini para pengrajin tersebut mulai mengundurkan diri dengan berbagai macam alasan, mulai dari pulang kampung hingga mendapatkan pekerjaan baru.
"Masalah toko itu hanya karena kita kekurangan tenaga pengrajin, aku sedang berupaya mencarinya," ucap Kendra pada perdebatan yang tak sengaja Lily saksikan dari balik pintu kamar orangtuanya.
"Mau sampai kapan, Ken? Kalau begini terus bisa-bisa keuangan keluarga kita terganggu, apa lagi sebenatar lagi Tara akan kuliah ke luar negeri, kita butuh banyak uang. Jalan satu-satunya adalah dengan melepas toko itu dan dananya bisa kita alokasikan untuk investasi baby spa." Fay memberikan berkas proposal yang di berikan Kevin padanya. "Estimasi target omzet mencapai Rp 80 juta per bulan. Dengan target laba bersih Rp 30 juta per bulan, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun kita sudah bisa balik modal. Lumayankan untuk uang saku anak kita selama dia tinggal luar negeri?" ucap Fay meyakinkan suaminya.
Kendra hanya terdiam membaca proposal bisnis yang di berikan Fay kepadanya, ia masih sangat yakin bahwa toko perhiasan itu masih bisa di selamatkan.
"Apa kamu punya kenangan sama Amanda yang enggak bisa kamu lupain?"
Kendra tersenyum sinis mendengar tuduhan yang di alamatkan kepadanya, ia melempar proposal itu ke meja. Sekelebat ia seperti melihat Lily melintas dari kamarnya yang tak tertutup dengan sempurna.
Lily.
Kendra beranjak dari tempat duduknya dan berusaha mengejar putrinya, namun ia tak menemukan keberadaan Lily di ruang keluarga, padahal ia yakin sekali bayangan itu mengarah ke sana. Saat Kendra berbalik, Fay sudah berdiri di hadapannya. "Kamu itu kebiasaan kalau aku lagi ngomong masalah penting, selalu pergi begitu saja!!" Fay membawa bantal dan selimutnya menuju kamar tamu, ia enggan tidur bersama suaminya.
Di bulan berikutnya Kendra masih belum juga bisa menemukan pengrajin seperti yang ia harapkan, sehingga dengan berat hati ia menyetujui desakan istrinya untuk menutup toko tersebut.
Pokoknya sukses untuk semua karya²nya dan semangat berkarya ❤❤
Terimakasih banyak buat Irma yang sudah menghadirkan kisah Lily yang memberikan begitu banyak pelajaran hidup tentang cinta, kesetiaan dan kesabaran.
Semangat terus untuk berkarya dan semoga kesehatan, kesuksesan dan keberkahan selalu membersamai, Aamiin....