Demi membalaskan dendam sahabatnya, Axela rela merubah penampilannya menjadi wanita culun yang sangat jelek. Menggunakan kaca mata tebal dan tompel di pipinya. Rencana yang ia susun berjalan dengan lancar awalnya. Namum, ketika semua hampir berhasil tiba-tiba identitas aslinya ketahuan. Semua orang tahu kalau dia bukan Alsha yang asli. Melainkan Axela.
Apa selanjutnya yang akan dilakukan Axela? Akankah ia berhasil membalaskan sakit hati Alsha terhadap semua orang yang pernah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penembak Misterius
Semua orang kaget ketika mendengar teriakan Axela. Terlebih lagi pria yang menjadi bawahan Axela. Ia kaget karena ternyata wanita yang tadi ia pikir benar-benar pingsan ternyata hanya pura-pura. Pria itu kini merasa takut. Ia merasa bersalah karena mungkin kini dirinya telah menghancurkan rencana yang sudah di susun oleh bosnya. Dengan cepat ia menurunkan senjata api miliknya dan menundukkan kepala. Diikuti semua pria yang juga ada di sana.
Dua pria yang sudah menculik Axela kini berusaha menangkap Axela lagi. Mereka tidak mau sampai tawanan mereka kabur. Namun, dengan mudahnya Axela menangkis tangan mereka dan membalas dengan sebuah tendangan di bagian perut yang rasanya lumayan mematikan.
“Siapa kau? Kenapa kau berubah kuat seperti ini?” umpat salah satu pria. Ia memegang perutnya yang kini terasa sakit sambil berjalan mundur.
Pria yang satunya lagi juga berusaha menangkap Axela. Namun, ternyata dia lebih lemah dari rekannya. Hanya mendapat pukulan di bagian wajah saja dia sudah pingsan. Axela melipat kedua tangannya dan menyunggingkan senyuman tipis.
“Dasar payah!” ledeknya dengan nada rendah. “Kalian kalah sama wanita?”
“Siapa kau? Kenapa kau berubah hebat?” Pria yang tadi terkena pukulan di bagian perut kini menatap Axela dengan wajah ketakutan.
“Aku Alsha. Aku hidup kembali setelah kejadian waktu itu. Aku diberi kekuatan yang luar biasa untuk membalas perbuatan orang-orang jahat yang pernah menyiksaku. Tidak terkecuali kalian yang sudah memiliki niat bahkan pernah membunuhku!” jawab Axela mantap. “Aku akan membuat kalian menderita sampai kalian merasa menyesal karena sudah pernah menyentuhku!”
Pria yang menjadi bawahan Axela mengukir senyuman mendengar jawaban Axela. Kini dia tahu seperti apa rencana bosnya. Kepalanya tetap menunduk agar Axela bisa lebih leluasa memainkan aktingnya. “Bos Axela memang cerdas,” pujinya di dalam hati.
“Maafkan kami,” ucap pria itu sebelum menunduk dan berlutut di hadapan Axela. Kini tidak ada cara lain lagi yang bisa dilakukan selain menyerah. Demi keselamatan nyawanya sendiri, pria itu rela berada di pihak musuh. Toh, orang yang membayarnya juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan menolong nyawa mereka.
“Baiklah. Tapi, aku mau kau mengakui apa yang sudah kau lakukan padaku saat itu. Jika aku dengar kau sampai berbohong, maka habislah kau detik ini juga,” ancam Axela dengan tatapan yang menyakinkan. Ia mengeluarkan ponselnya untuk merekam cerita pria tersebut. “Cepat! Aku akan merekam semuanya dan melaporkanmu ke polisi,” dusta Axela. Jelas saja wanita itu tidak akan membiarkan orang yang sudah membunuh sabahatnya tetap hidup.
Tubuh pria itu semakin gemetar. Ia mengepal kuat tangannya sebelum diam-diam mengambil ponsel di dalam sakunya untuk menghubungi seseorang. Namun, karena ketakutan ia cepat-cepat meletakkan ponselnya di atas rumput tanpa tahu apakah sudah tersambung atau belum panggilannya.
“Cepat!” teriak Axela.
“Saya menculik Alsha di pemakaman. Kami membawanya ke dalam mobil dan memaksanya meminum racun yang sudah kami campurkan ke dalam minuman botol. Setelah itu kami membayar orang untuk membuat sebuah surat dan menyerupai tulisan tangan Alsha.” Pria itu memandang Axela lagi untuk memastikan kalau wanita yang ada di depannya benar-benar Alsha.
“Lalu, apa lagi!” ketus Axela tidak sabar.
“Setelah anda tidak sadarkan diri, kami membawa anda ke sebuah gedung. Di asana kami meletakkan semua racun dan menghilangkan jejak agar semua orang berpikir kalau Alsha bunuh diri. Tapi, kami melakukan semua ini karena di suruh seseorang. Kami sama sekali tidak kenal dengan Alsha sebelumnya.”
“Siapa orang yang sudah membayar kalian?”
“Orang yang membayar kami adalah-”
DUARRR
Suara tembakan menjadi akhir dari segalanya. Kini pria itu hanya bisa melebarkan kedua matanya sebelum malaikat maut menjemputnya. Tubuhnya tergetak di rumput dengan keadaan tidak bernyawa. Axela dan semua bawahan Axela kini memandang ke sumber tembakan. Orang yang hampir saja menjelaskan semua yang terjadi kini telah tewas. Axela merasa marah.
“Kejar dan tangkap dia!” perintah Axela. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Orang yang menembak sudah pasti takut rahasianya kebongkar. Bukan hanya itu saja. Sudah pasti juga yang menembak itu sempat mendengar perbincangan antara dirinya dan pria tadi. Axela tidak mau sampai penyamarannya kebongkar. Satu-satunya cara untuk menutupi semuanya adalah menangkap si penembak.
Pasukan Axela segera berlari mengejar sosok misterius tersebut. Pria yang juga menjadi bawahan Axela kini memutuskan menemani Axela. Ia mengambil tali dan mengikat pria yang satunya lagi agar tidak kabur.
“Setidaknya kita masih punya satu,” ucapnya agar Axela bisa kembali tenang.
“Bagaimana kalau orang yang menembak adalah Youra? Bagaimana kalau dia memberi tahu semua orang kalau aku bukan Alsha?”
“Bos, kenapa anda panik? Bukankah biasanya anda selalu tenang?” sahut pria itu dengan alis saling bertaut.
“Ya. Tapi sekarang keadaan berbeda!”
“Tidak ada yang berbeda, Bos. Dia pasti akan tertangkap dan mati di tangan kita. Tenang saja,” sahut pria itu dengan wajah menyakinkan. “Saat bicara tadi juga anda tidak menyebutkan idetitas asli anda. Itu berarti dia tidak tahu siapa anda sebenarnya. Dia hanya tahu kalau Alsha hidup kembali dan memiliki kekuatan luar biasa. Sepertinya permainan akan menjadi seru karena tidak lama lagi musuh akan ketakutan sendiri sebelum anda sentuh.”
Axela menaikan satu alisnya. “Kau benar. Sepertinya akan menjadi menarik.” Ia melihat lagi pria yang kini sudah tidak bernyawa. “Tapi sepertinya orang yang menembak bukan orang biasa. Dia bisa menembak tepat sasaran hingga membuat targetnya tewas di tempat.”
“Sepertinya memang rumah itu dipenuhi dengan teka-teki yang rumit. Sosok seperti Nona Alsha tidak akan bisa bertahan di sana. Saya harap, misi anda segera selesai agar anda bisa kembali ke markas, Bos.”
Axela mengambil ponsel yang tergeletak di rerumputan. Ternyata pria itu tidak berhasil melakukan panggilan keluar. Axela mengeyitkan dahi melihat nama-nama yang ada di dalam ponsel itu di tulis dengan menggunakan kode yang terdiri dari huruf dan angka.
“Ny0 4lF,” ujar Axela. “Kode apa ini?”
Pria itu menerima ponsel yang diberikan Axela. Ia membacanya satu persatu dan bukan memberi jawaban justru pria itu sendiri juag bingung. “Sepertinya ini bukan kode internasional, Bos. Tapi, kode yang mereka buat sendiri hingga hanya mereka yang tahu. Saya akan melacak satu persatu alamat pemilik nomor telepon di dalam ponsel ini.”
“Tidak perlu satu persatu. Lacak saja panggilan masuk terakhir. Sepertinya yang lain adalah nomor pelanggannya. Bukankah profesi dia pembunuh bayaran?”
“Baik, bos,” jawab pria itu sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Axela memandang ke arah pepohonan lagi. “Kira-kira siapa orang yang sudah membayar dua pria ini? Apa mungkin Youra atau Nyonya Nasa?”
Pria itu menyunggingkan senyuman kecil. “Kalau menurut saya bukan keduanya, Bos!”
Surprise
Kapan ?
Dimana?