NovelToon NovelToon
Mr. Adira

Mr. Adira

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Perjodohan / Patahhati / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ara Nas Nasya Nuriva

^^ Harap membaca Pilihan Hati Kiara terlebih dahulu ya guys^^


"Mama tidak mau tahu. Ini sudah sebulan sejak Kiara menikah. Kamu harus menikah sesuai wasiat Papa, Dira"

Dira menghela nafas panjang mendengar omelan Mamanya. Setiap Widya menelpon dirinya, Widya selalu mengatakan hal yang sama, menyuruh Dira segera menikah.

Dira bukan tidak ingin menikah, tapi hatinya masih mati rasa akibat perselingkuhan Veronika, kekasihnya dengan Rionel Vaston, seorang fotografer yang menjalin kerja sama dengan kekasihnya.

Bisakah Dira move on Veronika ?

Apakah ia bisa membuka hati pada wanita pilihan Widya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nas Nasya Nuriva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

"Kiara, kapan lu balik?"

Kiara langsung memutar kedua bola matanya dengan malas. Sejak kemarin kedua telinganya selalu mendengar kalimat yang sama. Dira yang berada di Jakarta selalu menghubungi Kiara dan menanyakan kapan pulang.

Berkali-kali Dira memberikan pertanyaan yang sama dan berkali-kali pula Kiara menjawab pertanyaan Dira dengan jawaban yang sama.

Kiara masih lama berada di Milan. Ia juga akan langsung bertolak ke Spanyol setelah bulan madunya habis.

Dira bukan tidak tahu tentang agendanya. Dia sendiri yang memberi rentang waktu satu bulan untuk Kiara agar bisa menikmati bulan madu bersama suaminya. Dira bahkan memberikan catatan tempat-tempat yang wajib didatangi Kiara selama di Milan dan Spanyol.

Kiara belum selesai mendatangi tempat-tempat itu. Ia belum ingin pulang. Rasanya bahagia sekali berada jauh dari Dira. Kedua netranya aman, tidak melihat tingkah konyol dari kakaknya itu. Kedua gendang telinganya juga aman, tidak mendengar suara cempreng Dira yang dapat memekakkan kedua telinganya.

Bisa dikatakan jika Kiara benar-benar bahagia berada di Eropa. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu sebulan yang diberikan oleh Dira. Kiara tidak peduli meskipun Dira menangis meraung-raung, memintanya untuk segera pulang. Ia tetap melanjutkan perjalanan bulan madunya.

"Tuan, ini kontrak kerja sama dengan Mattews group. Mister Orlando sudah sepakat untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan kita" ucap Edward sembari menyodorkan map berisi kontrak kerja yang ia maksud.

Dira tak bergeming.

"Tuan....! Tuan....! Mister Adirra....!" panggil Edward. Suara Edward terdengar sangat lembut, persis seperti pakaian yang diberi softener.

Edward meletakkan saja map itu di hadapan Dira. Melihat tidak ada sahutan dan pergerakan dari Tuannya itu, Edward bisa memastikan jika Dira sedang banyak pikiran. Edward tidak ingin menjadi pengganggu karena itu bisa berdampak tidak baik bagi dirinya sendiri.

"Apa salah dan dosaku, sayang? Cinta suciku, kau buang-buang. Lihat jurus yang kan ku berikan. Jaran goyang...jaran goyang..."

Dira bersenandung sembari melamun. Edward yang hendak angkat kaki dari ruangan Dira, tentu saja mengurungkan niatnya. Ia khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan jika membiarkan Dira seorang diri.

"Tuan..." panggil Edward lagi.

Dira bukannya menjawab panggilan Edward melainkan kembali bersenandung.

'Andaikan kau datang kembaaaaaa....liiiiii. Jawaban apa yang kan ku.... Beriiiiìi......"

Edward menggeleng-gelengkan kepalanya. Tuan besarnya ini tidak dapat dibiarkan. Lagu kedua yang dinyanyikan oleh Dira membuat Edward paham tentang apa yang dipikirkan Dira. Tuan besarnya itu pasti sedang mengingat wanita di masa lalunya yang sedang mendekam di penjara.

"Tuan...!!!" Edward akhirnya berteriak dan memukul meja Dira.

Dira yang hendak melanjutkan bersenandung tentu saja kaget. Ia menoleh ke kanan, mencari siapakah yang mengganggu dirinya yang sedang melamun. Sungut Dira langsung keluar saat melihat Edward berdiri di hadapannya dengan kedua tangan dilipat di depan dada.

"Sudah bosan hidup kau hah? Berani sekali menggangguku?" tanya Dira sinis.

"Saya wajib mengganggu Anda jika sudah menyangkut hal ini. Tuan Dira, Anda sedang merindukan wanita itu kan?."

"Wanita? Wanita yang mana?" Dira balik bertanya sembari membuang muka.

"Tuan jangan pura-pura bodoh! Saya tahu Tuan sedang memikirkan wanita tahanan itu kan?" kali ini suara Edward meninggi. Ia memang langsung emosi jika membahas tentang wanita di masa lalu Dira.

"Kau cemburu, Ed? Maaf, aku tidak berminat sama terong."

"Tuan!!! Jangan mengalihkan pembicaraan!" ucap Edward tegas.

"Kau? Sudah berani membentakku hah? Kau pikir kau ini siapa? Berani sekali membentakku" ucap Dira tak terima.

"Saya memang hanya assisten Anda, Tuan. Tapi jika menyangkut wanita tahanan itu, saya akan menjadi orang terdepan yang akan memarahi Anda. Ingat, wanita itu sudah menabrak Tuan Samuel hingga tewas. Berselingkuh dengan tukang foto itu dan..."

"Cukup, Ed! Cukup! Tidak usah kau teruskan karena belum amnesia akan hal itu" teriak Dira.

Dira bangkit dari tempat duduknya. Ia sudah tidak mood untuk melanjutkan bekerja. Dira perlu keluar, mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya.

"Aku pergi dulu. Handle semua pekerjaan di sini!."

Tanpa menunggu jawaban dari Edward, Dira langsung menyambar kunci mobilnya. Ia berlari meninggalkan ruang kerjanya, menuju lift yang akan membawanha ke basement.

Namun, langkahnya urung berlanjut. Otaknya tiba-tiba enggan untuk menyetir mobil. Dira memutar jalan menuju lobby. Ia menghampiri meja resepsionis yang saat itu sedang dijaga oleh dua orang perempuan berambut panjang.

Dua resepsionis itu langsung berdiri, memberi hormat kepada Dira. Dira hanya menampakkan wajah datarnya. Ia membuka jas hitamnya dan melempar benda itu ke meja resepsionis.

"Titip. Jangan dibawa pulang!" kata Dira kemudian ia berlalu keluar dari hadapan kedua resepsionis itu.

Kedua resepsionis itu saling memandang. Mereka saling bertanya-tanya dengan tingkah Tuan besarnya. Tumben sekali Tuan besarnya menghampiri meja mereka, nitipin jas hitam lagi.

Dira terus berjalan menyusuri trotoar. Ia tidak tahu akan kemana. Dalam otaknya sekarang, ia harus keluar dari kantor untuk mencari suasana baru. Ia terus berjalan hingga akhirnya sebuah bus berhenti untuk menurunkan penumpang.

"Naik aja dah" gumam Dira dalam hati.

Ia masuk ke dalam bus itu dan memilih duduk di dekat jendela. Dira memperhatikan sekelilingnya. Ingatannya kembali saat dirinya berusia belasan tahun. Saat Dira masih berseragam putih abu-abu.

"Turun di mana, Pak?" tanya kondektur bus.

"Ke mana aja yang penting bukan ke neraka" ucap Dira. Ia merogoh saku celananya dan memberikan uang pecahan lima puluh ribu kepada kondektur bus.

Pak kondektur tentu saja bingung. Sudah tidak jelas mau kemana, bayarnya gede pula. Tak mau ambil pusing, kondektur itu meninggalkan Dira. Terserahlah, mau menginap di bus juga tidak apa-apa.

Dira melanjutkan sesi melamunnya. Ia mengingat kenangan-kenangan indah ketika ia SMA. Saat itu Ayahnya masih hidup. Dira masih mengingat Ayahnya yang tersenyum lebar ketika Dira berlari pulang ke rumah dengan membawa selembar kertas. Kertas itu berisi pengumuman jika dirinya diterima di fakultas kedokteran.

Arman terlihat sangat bahagia. Anak laki-lakinya akan menjadi dokter. Harapannya Dira bisa menjadi dokter bedah paling hebat di Indonesia maupun di luar.

Namun, semua harapan itu hilang ketika Arman meninggal. Dira harus mengubur semua mimpinya demi melanjutkan perusahaan keluarga Sanjaya. Kadang, hatinya tidak terima. Ia ingin sekali memberontak karena itu bukan keinginannya.

"Jadi kangen Papa" ucap Dira.

Ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Kiara.

"Kir,...."

"Apalagi? Gue mau tidur, Kadir. Kenapa sih nelpon mulu?" gerutu Kiara. Ia sebal sekali karena hari ini Dira tidak berhenti menghubunginya.

"Gue kangen Papa. Lu kangen nggak?" tanya Dira yang entah mengapa dirinya menjadi mellow seperti itu.

"Dir, Kadir...!! Are you OK? Ada masalah? Tumben sekali lu bilang kangen Papa" tanya Kiara heran.

"Nggak tahulah. Kayaknya gue lagi galau."

"Galau? Gaya lu bambang! Galau kenapa?" cibir Kiara.

Dira kemudian bercerita kepada Kiara. Ia menceritakan tentang apa yang sedang ia pikirkan. Kejenuhan dirinya di Jakarta, kerinduannya akan sosok Veronica dan tentu saja kejengkelannya pada Athalia yang selalu mencari celah agar bisa dekat dengannya.

Dira sengaja berbicara dalam bahasa asing agar penumpang di bus itu tidak paham dengan apa yang ia bicarakan. Setidaknya pak kondektur tidak akan menguping isi pembicaraan Dira dengan Kiara.

"Hubungi Kapten Jack!" perintah Kiara.

"Hubungi Kapten Jack? Untuk apa?" tanya Dira heran.

"Lu pergi aja ke New York atau Spanyol. Jangan di Jakarta! Biarin aja Edward ada di sana. Lu minggat dulu sehari-dua hari. Jangan ke Milan! Nanti ketahuan lagi sama Mama" gerutu Kiara.

Dira mengangguk. Meskipun Kiara tidak dapat melihat anggukan kepalanya, Dira yakin Kiara pasti paham dengan respon yang diberikan oleh Dira.

Dira menutup sambungan teleponnya. Ia kemudian bangkit, berjalan mendekati kondektur yang sedang asyik menghitung uang receh.

"Pak, saya turun di depan" ucap Dira yang tentu saja membuat Pak kondektur itu kaget.

"Turun di sini? Tapi ini masih di Tanah Abang lho" kata Pak kondektur menjelaskan.

"Nggak apa-apa, Pak. Mau Tanah Abang, Tanah Adek, Tanah Bapak. Saya mau turun. Jemputan sata ada di depan" ucap Dira.

Pak Kondektur itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lalu memberi kode kepada supir jika ada penumpang yang akan turun.

"Kembaliannya, Pak" teriak kondektur ketika melihat Dira yang hendak menuruni anak tangga.

"Nggak usah, Pak. Ambil aja."

Dira merogoh kembali saku celananya. Ia menemukan selembar uang pecahan lima puluh ribu lagi.

"Nih, buat Bapak! Bisa buat tambah-tambah kalau mau beli cabe" ucap Dira kemudian buru-buru keluar dari bus.

1
Aditya HP/bunda lia
benar2 berantakan hidupmu Dir .. Dir
Aditya HP/bunda lia
jangan sadis kayak gitu juga kali Dir kasian kan Edward gak salah tuh yang salah si dakocan ...
Aditya HP/bunda lia
kan Edward kena jebakan Batman nya si dakocan 😂😂😂
Lina Zascia Amandia
Si Adira ada nongol Kak di beranda NToon. Slmt Say... dua like sy beri untukmu biar semangat...
MommyAtha: lagi hamil thor... g karuan dah
total 3 replies
Santai Dyah
Aku kangen Author nya.. maaf baru mampir thor
Santai Dyah: maksdnya bagaimn thor aku tdk phm
total 4 replies
Nur Hidayah
Si Kadir jadi terbang, nggak ada malam" panjang lagi untuk Olive😂😂
aku kangen si Mister🥲🥲
MommyAtha: othornya lagi mabok... jd di END kan dulu
total 1 replies
Elviza mela
vero bakalan bebas? lalu bagaimana dg olive..
Elviza mela: pantesan... padahal udah lama juga gak buka² Nt lebih ke sebelah sih...
total 4 replies
Lina Zascia Amandia
Andika Pratama ternyata laku...
Nur Hidayah
Tenang Olive, nanti cinta bisa tumbuh dgn sendirinya
Elviza mela
tadi waktu kadir mau berangkat kerja keluar dari apartemen... nah pas olive mansion... sehat thor 🤣🤣🤣
MommyAtha: nah kan... ada aja yg miss... padahal udah di mansion, balik lagi ke apartemen. terima kasih koreksinya kakak
total 1 replies
Jiel 🎬
ceritanya seru, mood banget kalo baca ini😍
Nur Hidayah
Lngsung serang aja Kadir🤣🤣🤣
Elviza mela
kadir piara piton... kirain anaconda 🤣🤣🤣
MommyAtha: hahahha
total 1 replies
Elviza mela
duhh ini mah namanya pernikahan paksa.. tapi mending nurut ajaa olive... karna kamu pasti bakal bahagia sama kadir
Nur Hidayah
Nurut aja Olive, cinta bisa tumbuh belakangan, yg penting kamu bisa hidup enak dan nyaman sama si Kadir😂😂
Nur Hidayah
Maksa banget kamu Kadir😂😂
Princess
astagaaaa pemaksaan banget 🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Elviza mela
sumpah ya kadir bener2... nikah aja main paksa.. tapi olive kadir bener2 seneng sama kamu...
Ya Tuhan Kadir maksa anak orang ternyata🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!