Area 21+, harap bijak dalam membaca.
Permaisuri yang terbuang,,
Demi Selir tercintanya, Sang Kaisar tega mengabaikan Permaisurinya...
Hingga pada suatu hari, Sang Permaisuri kembali ke istana untuk membalaskan dendamnya..
Bagaimanakah kisahnya, jika Sang Permaisuri balas dendam,,
Akankan ia kembali dengan Kaisar yang mencampakannya atau pergi meninggalkannya....
ig:@riiez.kha.37
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Terungkapnya Kebenaran.
Setelah kepergian Permaisuri Rong, Kasim Yan melapor pada Kaisar Zhang Wey.
"Hormat hamba, Yang Mulia. Permaisuri Rong telah pergi." ucap Kasim Yan menunduk hormat.
"Hem, panggilkan Jendral Li Juan." perintah Kaisar Zhang Wey datar.
"Baik, Yang Mulia." ucap Kasim Yan kemudian berlalu pergi.
Selang beberapa saat.
"Hormat hamba, Yang Mulia." ucap Jendral Li Juan.
"Selidiki lagi kasus Pejabat Ling." perintah Kaisar Zhang Wey datar.
"Hamba akan melaksanakan perintah Yang Mulia, tapi apa Yang Mulia ingin membawa Permaisuri Ling Hua?" tanya Jendral Li Juan.
"Entahlah aku tidak tau Jendral, kau tau sendiri aku sudah mengangkat Permaisuri Rong. Untuk hal ini aku akan memikirkannya." ucap Kaisar Zhang Wey.
Jendral Li Juan menunduk hormat kemudian berlalu pergi.
5 hari kemudiaan...
Kaisar Zhang Wey terus memikirkan Permaisuri Ling Hua, ia sudah memantapkan hatinya untuk membawa Permaisuri Ling Hua.
Selama 5 hari juga Kaisar Zhang Wey menghindar untuk bertemu dengan Permaisuri Rong.
Selang beberapa saat datanglah Jendral Li Juan ia membawa beberapa gulungan.
"Hormat hamba Yang Mulia." ucap Jendral Li Juan.
"Bagaimana?" tanya Kaisar Zhang Wey.
Jendral Li Juan menyerahkan beberapa gulungan.
Kaisar Zhang Wey langsung terkejut, ia membaca setiap gulungannya.
"Hamba menemukan gulungan ini di kediaman Pejabat Qing, Yang Mulia." ucap Jendral Li Juan.
"Tangkap mereka dan bawa ke aula Istana." perintah Kaisar Zhang Wey menatap tajam pada gulungan di di tangannya, ia meremas gulungan tersebut.
"Baik, Yang Mulia." ucap Jendral Li Juan kemudian pergi.
"Kasim Yan, perintahkan pada Permaisuri Rong untuk menghadiri hukuman pamannya." perintah Kaisar Zhang Wey.
"Baik Yang Mulia." balsa Kasim Yan
Setelah bersiap - siap Kaisar Zhang Wey menuju aula Istana.
"Kaisar Zhang Wey telah tibaaa." teriakan sang Kasim menghentikan kasak kisuk aula.
Kaisar Zhang Wey dengan tegas, dingin serta penuh kewibawaan memasuki aula.
Semua orang menunduk hormat saat Kaisar Zhang Wey melewati mereka.
Sampai di singgasanah Kaisar Zhang Wey duduk.
Selang beberapa saat terlihat Jendral Li Juan di belakangnya ada Pejabat Qing yang di seret oleh prajurit Istana dengan tangan di rantai.
Semua pejabat istana terkejut, termasuk Permaisuri Rong.
"Yang Mulia, ada apa ini?" tanya Permaisuri Rong menatap Kaisar Zhang Wey.
"Paman mu, melakukan kesehatan Permaisuri." jawab Kaisar Zhang Wey dengan datar.
"Tidak mungkin Yang Mulia. Hamba yakin Paman tidak jahat." ucap Permaisuri Rong menatap Kaisar Zhang Wey.
Selang beberapa saat, Pejabat Ling memasuki aula. Terlihat tubuhnya yang kurus tidak terurus, rambutnya acak acakan serta luka dimana mana begitupun pakainnya compang camping.
"Hormat hamba, Yang Mulia." ucap Pejabat Ling bersujud.
Kasim Yan membacakan titah di gulungannya.
"Pejabat Qing terbukti bersalah dan melakukan kudeta, serta memfitnah Pejabat Ling maka dari itu Pejabat Qing akan melakukan hukuman mati.
Sementara Pejabat Ling terbukti tidak bersalah maka dari itu Pejabat Ling akan kembali menjabat sebagai menteri Pendapatan dan pembendaharaan." ucap Kasim Yan kemudian menggulung kertasnya.
"Yang Mulia, hamba mohon. Maafkan kesalahan hamba." ucap Pejabat Qing membenturkan dahinya ke lantai.
"Seret dia, lakukan hukumannya sekarang." perintah Kaisar Zhang Wey.
Sementara Permaisuri Rong duduk lemas, ia tidak menyangka paman yang membantunya nyawanya sekarang berada di ujung tanduk.
"Yang Mulia, hamba mohon. Tolong maafkan Paman." ucap Permaisuri Rong menggenggam tangan Kaisar Zhang Wey.
Sementara para pejabat tersenyum sinis, akhirnya orang yang mereka benci karna kesombongannya telah pergi. Mereka menatap Permaisuri Rong yang juga terkenal kesombongannya dengan tatapan sinis.
Para pejabat kemudian memeluk Pejabat Ling mereka sangat bahagia, karna Pejabat Ling terkenal kelembutannya.
Kaisar Zhang Wey yang melihat itupun tersenyum.
Ia melirik Permaisuri Rong.
"Maaf Permaisuri, kebenaran harus ditegakkan." ucap Kaisar Zhang Wey.
"Kasim Yan bawa Pejabat Ling ke Tabib istana." perintah Kaisar Zhang Wey yang menyadarkan para pejabat yang bergantian memeluk Pejabat Ling.
"Terimakasih Yang Mulia." ucap Pejabat Ling.
Tapi Pejabat Ling menangis, ia mengingat pada putrinya yang telah dikabarkan meninggal.
"Maaf, Yang Mulia atas kelancangan hamba." ucap para Pejabat bersujud di tanah.
"Terimaksih Yang Mulia telah menegakkan keadilan." ucap Para pejabat.
"Bangunlah." ucap Kaisar Zhang Wey ia turun dari singgasanahnya membantu Pejabat Ling berdiri.
"Ayah, tunggulah aku akan membawa kabar gembira." ucap Kaisar Zhang Wey tersenyum.
Aneh kenapa Yang Mulia bersikap lembut batin Pejabat Ling.
Para Pejabat lainnya tercengang begitupun Permaisuri Rong, lagi - lagi ia terkejut.
"Jendral Li, sekarang waktunya membawa dia kembali." ucap Kaisar Zhang Wey tegas.
"Maksud, Yang Mulia apa?" tanya Permaisuri Rong kebingungan.
"Ketahuilah, Permaisur Ling Hua masih hidup dan aku akan membawanya." ucap Kaisar Zhang Wey.
"Yang Mulia, benarkah putriku masih hidup."
Pejabat Ling menatap Kaisar Zhang Wey dengan tatapan penuh harap.
"Benar Ayah." balas Kaisar Zhang Wey tersenyum.
Sementara Permaisuri Rong lemas ia terduduk di kursinya.
"Permaisuri Rong, buatlah penyambutan yang meriah." perintah Kaisar Zhang Wey.
"Baik Yang Mulia. Hamba sangat senang jika Permaisuri Ling Hua masih hidup." balas Permaisuri Rong ia mengepalkan tangannya.
Sialan berani Permaisuri bodoh itu masih hidup batin Permaisuri Rong.
"Yang Mulia, bagaimana ini? Permaisuri Kekaisaran Zhang Wey tidak mungkin memiliki dua Permaisuri." timpal Pejabat Militer.
"Aku akan memikirkan caranya." ucap Kaisar Zhang Wey kemudian pergi di ikuti Jendral Li Juan.