NovelToon NovelToon
Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas dendam. / Peningkatan diri -peningkatan kecantikan / Tamat
Popularitas:192.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

Bagaimana rasanya jika seorang wanita terlahir dengan bentuk badan tambun, berwajah dan berkulit kusam? Pasti akan sangat menyedihkan bukan?

Dewi Sekar Kemuning, wanita berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai penyanyi orkes melayu, selalu saja mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Meski memiliki suara yang khas namun tidak lantas membuat orang-orang di sekitarnya memuji ataupun memberikan apresiasi. Ia justru dijadikan bahan caci maki dengan fisik yang ia miliki. Ditambah lagi, di usia yang terbilang matang ia sama sekali belum pernah menjalin hubungan kasih yang membuat cemoohan demi cemoohan itu semakin datang menyerang.

Hingga pada akhirnya ia nekad pergi ke kota untuk berusaha mengubah takdir hidupnya.

"Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi sang dewi yang bersinar yang dielu-elukan. Dan akan aku buat mulut orang-orang yang menghinaku terbungkam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Berangkat

Angin sepoi-sepoi berhembus mengayun dedaunan. Membuatnya menari seiring seirama dengan hembusan. Ranting-ranting pohon pun seolah turut mengalunkan nada alam memecah keheningan. Menjadi awal pagi yang begitu menggembirakan.

"Wah, kamu benar jadi pergi ke Jakarta Dew?"

Sembari menenteng tas belanjaan, Ine menghentikan langkah kakinya kala melintas di depan rumah Ambarwati. Namun, sesaat kemudian, tetangga Dewi itu kembali memutar tumit dan mengayunkan tungkai untuk mendekat ke arah ibu dan anak yang tengah berdiri di depan serambi.

"Iya Bu, sebentar lagi saya berangkat."

Ine menatap intens tas pakaian dengan motif batik yang sudah teronggok di serambi. Bibir wanita itu sedikit mencebik ketika kesan usang melekat di tas pakaian yang akan dibawa oleh Dewi ini.

"Kamu yakin, ke Jakarta membawa tas buluk seperti ini? Apa tidak malu kamu Dew?"

"Mengapa harus malu Bu? Tas yang saya bawa ini bukan hasil mencuri jadi apa yang menjadi alasan saya untuk malu?"

Kernyitan dalam nampak jelas di kening Dewi. Ia sungguh tidak paham dengan maksud ucapan tetangga bernama lengkap Suminem ini.

"Kamu ini mau pergi ke kota besar tapi memakai tas buluk seperti ini? Ihhh ... bikin malu kota kita saja kamu Dew. Seharusnya kamu itu membawa koper, bukan malah tas seperti ini."

Dengan bibir yang nampak nyinyir, Ine melayangkan aksi protesnya kepada Dewi. Meski sejatinya ini semua bukan menjadi ranahnya untuk berargumentasi. Namun di mata Ine, penampakan tas yang akan dibawa Dewi ini sungguh merusak pandangan dan suasana hati.

"Oh, jadi hanya perihal tas yang saya bawa ini?" ujar Dewi memastikan sekali lagi kepada Ine.

Ine mengangguk mantap. Ia berpikir setelah mendapatkan aksi protes darinya, tetangganya ini akan memakai tas lain yang terlihat jauh lebih berkelas.

"Iya, perihal sepele namun memalukan." Ine memberikan jeda sejenak ucapannya. Wanita paruh baya itu menakutkan pandangannya ke arah Ambarwati yang terdiam sedari tadi. "Lagipula, apa bu Ambarwati ini tidak menyayangi Dewi? Sehingga membiarkan Dewi memakai tas seperti ini? Seberapa berat sih Bu, membelikan koper untuk Dewi? Uang bu Ambarwati itu sebenarnya untuk apa jika tidak untuk membahagiakan anak?"

Kedua bola mata Ambarwati terbelalak sempurna. Ia merasa ucapan tetangganya ini sudah sangat keterlaluan. Kejulidan tetangganya ini sungguh merobek harga dirinya sebagai seorang Ibu. Baru saja Ambarwati berniat membuka mulutnya untuk menimpali perkataan Ine, namun pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkeram oleh Dewi. Alhasil wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya untuk membalikkan perkataan Ine.

"Bu Ine, Ibu saya ini sudah menawarkan untuk membelikan koper, namun saya tolak. Apakah bu Ine tahu apa alasannya?"

"Memang apa alasan kamu menolak tawaran ibu kamu Dew?"

Dewi hanya menatap jengah wajah julid tetangganya ini. "Karena saya ingin memberi koper dari hasil keringat saya sendiri. Koper besar yang pastinya bisa untuk memasukkan tubuh bu Ine untuk kemudian saya buang ke sungai. Bagaimana? Pasti akan sangat menyenangkan bukan?"

Wajah Ine memerah, menahan api amarah. Bahkan di atas ubun-ubunnya muncul asap seperti sebuah teko yang mengeluarkan jin.

"Dasar anak kurang ajar kamu Dew! Aku sumpahin kam... Aaaahhh.... apa-apaan ini???!!!"

Ine memekik saat sensasi rasa dingin menjalar di tubuhnya. Saat ia berbalik badan betapa terkejutnya ia melihat Seruni menyirami tubuhnya dengan air melalui selang yang ia bawa. Tanpa menunggu banyak waktu, tubuh tetangga julid itu basah kuyup dalam sekejap mata.

"Rasakan, itu akibatnya jika bu Ine merendahkan keluarga saya!"

"Aaarrrgghhh .... sialan kalian semua!!"

****

Hari-hari penuh kepahitan itu telah berlalu. Sedahsyat apapun badai yang kemarin menerjang hidup Dewi dan sempat meluluhlantakkan kekuatan batinnya, pada kenyataannya matahari masih setia memancarkan kilau sinarnya meski nampak malu-malu. Dan di sela pancaran sinar itu pastilah tersimpan nafas-nafas kehidupan baru, memberikan semangat untuk bergerak maju.

Kelopak-kelopak harap yang sempat musnah, kini kembali merekah. Dengan sebuah keyakinan bahwa kasih sayang Tuhan akan selalu ada di dalam jiwa-jiwa yang patah. Kembali menemukan arah. Akan kemana ia melangkah.

Inilah salah satu keadilan dari sang Maha pemilik kehidupan. Dia menurunkan dinginnya air hujan diiringi dengan kehangatan yang tersimpan. Dia menciptakan badai diiringi pelangi yang akan muncul setelahnya. Dia menciptakan tangis diiringi senyum setelahnya. Dan ia menciptakan luka diiringi dengan penawar bahagia yang dapat membalutnya. Semua yang terjadi memang sudah sesuai porsi masing-masing. Kita sebagai makhluk lemah hanya dapat berupaya untuk senantiasa meminta kekuatan kepada Sang maha penggenggam kehidupan.

Dipijakkannya telapak kaki Dewi dengan penuh semangat memasuki kawasan terminal yang berada di kota ini. Nampak terminal ini sudah begitu ramai dengan bus-bus besar yang berjajar rapi. Sesekali Dewi melirik selembar tiket yang ia bawa kemudian ia cocokkan dengan nama bus yang akan ia tumpangi. Setelah bertemu dengan armada bus yang akan mengantarkannya ke ibu kota, gegas ia mencari kursi yang telah berbaris rapi. Dan di bangku nomor dua puluh tiga ini yang akan ia duduki.

"Nak, Ibu tidak memiliki apapun yang bisa ibu berikan sebagai bekal perjalananmu ke Jakarta. Namun, Ibu memiliki ini. Bawalah ini, semoga benda ini bermanfaat untukmu suatu hari nanti."

Ucapan sang ibu kembali terngiang di indera pendengaran milik Dewi. Manik mata wanita itu terpaku pada sebuah kalung emas putih dengan sebuah liontin berbentuk hati. Kalung ini diberikan oleh sang ibu ketika ia akan beranjak pergi.

"Ini adalah pesan yang ditinggalkan oleh ayahmu. Ia seperti memiliki sebuah firasat bahwa suatu hari nanti salah satu dari putrinya akan pergi ke Jakarta. Dan ia meminta kepada Ibu, siapapun yang akan pergi ke Jakarta, harus memakai kalung ini."

Lagi-lagi Dewi hanya bisa mengerutkan dahi. Rasa ingin tahunya seakan diusik oleh keberadaan kalung dan liontin berbentuk hati ini. Selama ini Dewi tidak pernah tahu jika sang ibu menyimpan barang berharga, dan apa lagi maksud sang ayah memintanya untuk memakai kalung ini ketika pergi ke Jakarta? Sungguh, pertanyaan demi pertanyaan perihal kalung dan liontin ini hanya membuat Dewi bingung sendiri.

Helaan napas sedikit kasar keluar dari rongga hidung milik Dewi. Tidak ingin terlalu larut dalam rasa penasaran, ia memilih untuk menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Sembari sesekali mengedarkan pandangannya ke arah luar kaca yang sudah nampak ramai sekali.

Sepasang manik mata milik Dewi terhenti pada sosok seorang kakek tua yang berada di depan agen tiket terminal. Seorang kakek tua yang tidak memiliki kaki dengan dibalut kain sebagai bantalan sembari berjualan cangcimen (kacang, kuaci, permen). Seketika segumpal daging yang berada di rongga dada milik Dewi berdenyut nyeri. Kenyataannya di luar sana masih banyak yang memiliki fisik tidak sempurna namun mereka tetap bersemangat untuk mencari rezeki.

Ya Tuhan, semoga aku bisa belajar dari kakek tua itu. Bahwa sejatinya keterbatasan fisik bukanlah hal yang dapat menghentikan langkah untuk meraih angan dan cita.

Kondisi bus yang sebelumnya masih sedikit sepi kini keramaian mulai merangkak naik. Para penumpang tujuan Jakarta dan sekitarnya sudah nampak memenuhi kursi-kursi yang tersedia. Beruntungnya Dewi saat kursi di sebelahnya tidak berpenghuni. Ia seperti penumpang VVIP yang hanya duduk sendiri.

Bus yang ditumpangi Dewi perlahan mulai bergerak keluar dari terminal. Bergerak maju untuk mengantarkan para penumpang tiba di kota impian. Klakson yang dinyalakan dan terdengar menggema seakan menjadi pacuan semangat untuk dapat meraih apa itu kesuksesan di tanah perantauan. Kini, bus besar itu benar-benar telah keluar dari area dalam terminal.

Sedangkan wanita berusia dua puluh tujuh tahun yang tengah duduk di salah satu kursi penumpang itu, melihat ke arah depan dengan sorot mata tajam. Berkali-kali ia berusaha menguatkan dirinya sendiri untuk selalu bersemangat menjalani masa-masa yang akan datang.

"Semangat Dewi! Semangat!"

Hari Senin datang lagi kakak... jangan lupa untuk vote nya yah... Geratis kok... Terima kasih 🤗🤗🤗

1
Sri Wahyuni
kisah yang mengharukan, namun akhirnya berakhir dengan kebahagiaan yang hakiki, adalah dikehidupan nyata akhir yg seperti itu... 🤔🤔🤔😘😘😘🌹🌹🌹👍👍👍💪💪🖕
Sri Wahyuni
hanya satu kata terucap, bahagia...
Naraa 🌻
idih najis gatau malu
Naraa 🌻
Dasar iblis EMG si Wenda, bisa jamin dah pasti dia terlibat dalam kecelakaan mamanya Bhumi, bego nya bapaknya mungut dan nikahin dia, mana udh di kasih clue nenek ga paham juga, parah bgt
Naraa 🌻
Jahat licik bgt para benalu
Wanda Pratiwi
good
Tina
Biasalah....iya kan thoorrrr , namanya jga kumpulan ibu2 julid hihihihihihi apalagi kerjaannya coba , kalau nggak menggosip & menjulid 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tina
Akhirnya.... mudah2an cita2mu segera tercapai ya Wi....💪💪💪💪 Wi.
Tina
Terima kasih ya thor, banyak pesan moral & kehidupan yg disampaikan disini, tp ceritanya tetap menarik 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰. ❤️ U thor 🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗👍👍👍👍👍👍👍
Tina
Bener jga kata Radit Ga , perlu dipertimbangkan, walau bentuk fisik bukan yg utama ,tapi kesehatan jga penting Ga.
Tina
Wuaaahhhh selamat ya Wi ,udah mau buat pertunjukan di TMII, akhirnya buah kebaikan, pengorbanan & kesabaranmu membuahkan hasil, & jgn lupa jga memberi khabar ibu & adikmu ya Wi. Dan teruntuk author moga lekas sembuh & bisa lekas menyapa penggemarmu lgi ya.....sehat selalu thor
Tina
Maaf thor,🙏🙏🙏🙏🙏🙏sekali, nggak sengaja thor...padahal aq bukannya mau kasih 1 bintang lho, tp pas mau tekan bintang berikutnya, padahal udah tak tekan2 masih nggak bisa, eee tau2nya muncul notif penilaian berhasil,akhirnya ini deh hasilnya...sekali lgi maaf ya thor, nggak sengaja 🤗🤗🤗🤗 padahal ceritanya lumayan lho, typo jga nggak terlalu tu.... cuma aq nya aja yg buru2 nekan itu bintang, sekali lgi maaaaaffff ya thor,mungkin author akan kecewa , tp tolong jgn marah ya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Tina
Yang sabar ya Dewi , semoga buah cinta & kesabaranmu membuahkan hasil .
Yora Fitriani86
hahahahahh
Sriza Juniarti
ternyata bhumi adalah arga...keren oi..🥰💕
Sriza Juniarti
bagus...tapi likenya kok sediikit ya
semangat kk💕🥰🥰
Sriza Juniarti
jahatnya.. balas thor...😤😤🤲
Maliqa Effendy
ga heran daerah Kampung Rambutan dan sekitarnya...harus extra hati2. kalo ga penting bngt jngn keluarin HP atau dompet.siapin uang secukupnya dikantong celana ..
Maliqa Effendy
lagian Dewi gampang banget sih percaya.kan jatohnya jadi gini...
Maliqa Effendy
Covernya bagus banget,Thor...semoga ceritanya jg bagus..baru mau baca ini....
Rasti Yulia: alhamdulillah... makasih kak.. tapi ini termasuk novel yang sedikit gagal karena pop nya gak naik-naik dan sepi pembaca 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!