Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berdaya diejek dan ditindas orang lain karena menyembunyikan identitasnya?
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH STATUS
Sore telah menjelang ketika anak-anak DKK masih menyibukkan diri di basecamp, ruang kerja DKK yang terletak di belakang auditorium Fakultas Ekonomi. Sebuah ruangan yang dapat dikatakan cukup besar dan mewah dengan peralatan yang memadahi untuk mendukung kerja mereka.
Sebenarnya anggota DKK bukan hanya lima orang. Total seluruh anggota ada 20 orang. Tapi karena kelima orang itu merupakan pengurus inti yang sering terlibat langsung dalam menghukum orang yang bersalah, sehingga mereka dikenal sebagai DKK.
Orang-orang yang awam kebanyakan mengira bahwa pekerjaan DKK adalah mencari perkara dan menghukum orang-orang yang tak bersalah atau setidaknya salah menurut mereka, tapi tidak salah menurut persepsi kebanyakan orang.
DKK memiliki citra jelek di sana. Banyak orang-orang yang telah dihukum dengan cara yang tidak wajar oleh mereka. Ada yang pernah digantung di atas pohon, ada yang diceburkan ke dalam kolam lumpur, ada yang pernah dibakar tasnya, dipotong rambutnya, bahkan ada yang pernah dipendam setengah badan di kolam pasir yang ada di taman selama setengah hari penuh. Tak ada alasan yang jelas atas kesalahan mereka. Apapun yang ditetapkan DKK, itulah hukum. Pihak universitas tak bisa turun tangan, karena DKK merupakan organisasi yang berdiri sendiri. Selain itu, para petinggi DKK merupakan anak dari para penyumbang dana yang sangat berpengaruh, sehingga semakin memantapkan keberadaan DKK.
Apa yang tampak di permukaan tak selalu benar. Begitulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kinerja DKK. Meskipun mereka memiliki imej jelek di mata para mahasiswa, tapi mereka tak pernah berhenti untuk terus bekerja mewujudkan keamanan kampus. Hanya saja cara kerja mereka yang sering memakai kekerasan dan tidak mau menjelaskan alasan vonis bersalah mereka. Itulah yang menyebabkan banyak orang salah paham dan banyak yang membenci mereka.
Banyak kasus yang telah ditangani DKK yang tidak sepopuler kasus-kasus penghukuman tanpa alasan yang jelas. Kerja terbesar yang pernah mereka lakukan adalah memutus rantai perdagangan narkoba dan prostitusi di kalangan mahasiswa. Setiap minggu, biasanya mereka melakukan razia mendadak terhadap para mahasiswa. Mahasiswa yang terbukti membawa barang terlarang, akan segera diproses lebih lanjut oleh pihak universitas.
Selain itu, mereka juga sering merampas minuman keras dari tangan para mahasiswa yang nekad membawa minuman itu ke kampus. Tak jarang ada perkelahian. Tapi yang benar, tetap DKK.
Anggota DKK terbagi menjadi empat kelompok dalam melaksanakan tugasnya, yaitu kelompok observasi, identifikasi, analisis, dan eksekusi. Masing-masing kelompok terdiri dari lima orang.
Kelompok observasi bertugas mengamati setiap gerak-gerik mahasiswa. Ketika ada tanda-tanda yang mencurigakan, data orang tersebut akan dilaporkan kepada kelompok identifikasi yang akan membuntuti tersangka hingga menemukan bukti kesalahannya. Bukti yang didapatkan akan diproses lagi oleh tim analisis, yang juga akan mencari bukti lain untuk lebih menguatkan, kemudian memutuskan bersalah atau tidaknya tersangka. Jika terbukti bersalah, kelompok eksekusi akan memvonisnya dengan hukuman yang dianggap setimpal dan diharapkan memberikan efek jera kepada pelakunya.
Kelompok eksekusi adalah Melvin, Reino, Ardi, Fero, dan Rafa. Kelimanya anak pengusaha kaya yang selalu terlihat eksklusif di mata teman-temannya. Banyak yang menganggap mereka bertindak seenaknya karena kedudukan orang tua mereka sebagai penyumbang dana di universitas itu. Eksekusi bagi yang melihatnya adalah sebuah mainan untuk mereka, bukan untuk kepentingan kampus.
Meskipun DKK ada 20 orang, namun sore itu hanya ada lima orang dari kelompok eksekusi. Tidak ada tugas yang mereka kerjakan, selain bersantai seperti yang biasa mereka lakukan. Ada banyak fasilitas yang dapat mereka nikmati di dana. Kulkas dua pintu selalu dipenuhi makanan. Tempat tidur yang empuk siap memanjakan mereka. Televisi layar datar, laptop, dan PS siap menghibur mereka setiap saat. Segala fasilitas yang ada murni dibiayai oleh orangtua mereka berlima.
Ardi dan Fero sedang asyik bermain PS. Rafa dan Melvin duduk santai di sofa sambil menonton TV. Sementara Reino hanya duduk diam seperti yang biasa ia lakukan.
"Rei, makanlah. Sejak siang kamu belum makan.” ujar Melvin kepada adiknya.
”Aku belum lapar. Nanti saja saat makan malam bersama di rumah.”
”Malam ini ayah dan ibu tidak akan pulang. Mereka masih ada di Singapura.”
Reino terdiam. Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi. Telepon dari ibunya.
”Ibu.” katanya dengan nada lirih.
”Nanti malam ayah dan ibu tidak bisa makan malam bersama kalian. Masih ada urusan yang harus diselesaikan ayahmu di Singapura. Jangan sampai telat makan, ya. Patuhlah kepada kakakmu.”
Reino kembali terdiam.
”Rei, kamu mendengarkan ibu?”
”Eh, iya. Aku akan mengingat nasihat ibu.” balasnya.
Beberapa detik kemudian sambungan telepon terputus. Dari arah pintu, muncullah delapan orang tamu tak diundang yang langsung membuat darah Rafa mendidih ketika melihat kehadiran mereka.
Kedelapan orang itu tersenyum sinis kepada kelima DKK. Ardi dan teman-temannya langsung bangkit untuk menyambut kedatangan tamu tak diundang itu. Ardi berdiri di barisan terdepan, berhadapan langsung dengan ketua rombongan, Ferdian. Ia melirik ke samping Ferdian. Ada seorang gadis cantik yang sedang menundukkan kepalanya, Meka.
“Ardi, kamu masih hidup?” ejek Ferdian dengan senyuman mengejeknya. “Aku kira kamu akan bunuh diri setelah kehilangan harga diri dan dicampakan Meka.” tambahnya.
Ia sengaja menggandeng mesra Meka untuk lebih membuat Oris emosi.
Dengan perasaan marah meledak-ledak di dada, Ardi memaksakan untuk tersenyum.
“Aku telah menemukan harga diriku kembali. Ternyata tidak hilang, hanya terselip di antara buku-buku pelajaran.”
”Kamu sudah bisa bercanda sekarang?” guman Ferdian.
”Pergilah dari sini. Sebentar lagi kantor ini tutup. Jika ingin mengajukan berkas pengaduan, bisa datang lagi kapan-kapan.”
Ferdian menatap keempat orang di belakang Ardi. ”Aku salut kalian masih bisa bertahan. Tapi sayang, kalian tetap saja pecundang di mata orang-orang.”
”Bukankah kamu yang pecundang? Dendam terhadap kami, tapi memakai tangan orang lain untuk membalaskannya.” sahut Melvin.
Ferdian menoleh ke arah Melvin. ”Oh, sepertinya ada yang sudah move on juga setelah membuat orang cacat.”
”Brengsek!” maki Melvin seraya melayangkan satu bogem mentah di ujung bibir Ferdian.
Suasana memanas. Teman-teman Ferdian hampir maju membalas, namun dicegah oleh Ferdian. Ferdian tersenyum. Dengan ujung jempolnya, ia mengusap darah yang keluar di bibirnya. Ia melihat Melvin yang masih tampak emosi.
“Kalian semua memang sangat menyedihkan. Kalian tak lebih dari lumpur kotor yang sangat menjijikan.” ejek Ferdian.
Melvin hampir maju, tapi Ardi mencegahnya.
“Kenapa? Pukullah kalau kamu mau. Bukankah biasanya kamu selalu di depan untuk membela orang yang belum jelas statusnya sebagai adikmu?” pancing Ferdian.
”Sialan!” seru Melvin.
Perkelahian tak bisa terhindarkan. Namun Reino tak ikut membantu teman-temannya menghadapi tamu pengacau itu. Ia tetap berdiri mematung. Ketika ada yang akan menghajarnya, langsung ditendang oleh Melvin. Sejak dulu Melvin menjadi orang yang selalu membelanya.
Setiap kali bertemu Ferdian, Reino selalu mempertanyakan tentang dirinya, apakah dia memang benar seorang anak yang terlahir dari hasil hubungan gelap yang sering dikatakan Ferdian. Ayahnya orang Inggris. Seharusnya ia memiliki wajah yang mirip seperti ayahnya atau kakaknya. Tapi, ia sangat berbeda dengan Melvin.
”Reino! Kamu sedang apa!?” seru Fero sembari terus beradu pukul dengan lawannya. Ia kesal kalau melihat Reino seperti itu ketika mereka sibuk berkelahi.
”Anak haram kebingungan. Hahaha.... ” ledek Ferdian.
”Tutup mulutmu! Dia adikku dan selamanya adalah adikku.” bentak Melvin yang tidak rela Ferdian mengejek adiknya. Dengan membabi buta, ia mengadu tinju dengan Ferdian.
”Pukul aku sepuasmu. Tapi terima saja kalau memang dia anak haram.” kekeh Ferdian.
Melvin semakin tidak terima mendengar hinaan Ferdian terhadap adiknya. Reino terus mendengar perdebatan dalam perkelahian itu. Adu pukul masih berlangsung. Ia tetap diam. Ucapan Ferdian masih terpikir olehnya. Dengan gontai, ia berjalan meninggalkan arena pertarungan.
Melvin sempat melihat adiknya pergi. Rasa marahnya terhadap Ferdian kian membuncah. Dengan keras ia membanting tubuh Ferdian, kemudian memukulnya berkali-kali hingga Ferdian terkapar tak berdaya.
Melvin mengangkat kerah leher Ferdian sambil menatapnya dengan murka, “Kenapa kamu begitu suka menggangu orang!” bentaknya. “Belum puaskah kamu merendahkan kami? Apa maumu sebenarnya!?” teriaknya dengan sorotan mata penuh emosi. Kerah baju Ferdian ia remas dengan kuatnya.
Dalam keadaan babak belur, Ferdian masih bisa tersenyum. “Mauku? Aku ingin kamu benar-benar hancur seperti apa yang telah kau lakukan padaku. Kamu telah merebut Renata dariku dan karenamu, Renata harus cacat!” kata Ferdian dengan tatapan angkuh. ”Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang!” serunya seraya menyingkirkan tangan Melvin dari lehernya.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia bangkit, mengajak teman-temannya mengakhiri perkelahian dan pergi meninggalkan ruang kerja DKK. Melvin terpaku di tempatnya. Ia sama sekali tak menghalangi Ferdian pergi.
Melvin, Ardi, Fero, dan Rafa tak luput dari pukulan. Muka mereka lebam-lebam. Tubuh mereka menampakkan bagian-bagian yang membiru. Dengan napas masih terengah-engah, mereka merebahkan diri di sofa. Fero mengambilkan minuman dari kulkas untuk mereka.
”Huh! Seru juga permainan hari ini. Tapi wajahku tidak tampan lagi sekarang.” ujar Rafa sembari melihat wajahnya yang biru-biru di cermin. Dengan telaten ia merapikan rambutnya yang acak-acakan.
calon mertua/Tongue/