Unara Callista, Gadis Remaja Berusia 17 Tahun Yang Terpaksa Bekerja Sebagai Waiters Di Sebuah Klub Malam.
Karna Ulah Teman Seprofesinya Di Klub Yang Memberikan Nara Obat Perangsang Pada Minuman Nara, Libidonya Naik Dan Nara Di Bawa Pergi Oleh Pria Yang Ingin Menyelamatkannya, Tapi Justru Pria Itu Sendiri Yang Tak Mampu Menahan Geloranya.
"Wahai hati. Janganlah engkau menyimpan rasa pada apa yang tak bisa kau gapai. Sebab pemilik Raga ini, tak kan mampu menerima lara yang kan terukir karna kebodohanmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASUK KE DALAM RUANG GANTI
...****************...
"Nara, bangun.!"
"Nara, bangun.?"
"Ra.?"
Aditya berusaha membangunkan Nara yang masih terlelap dalam tidurnya. Semalam Nara tidur cukup larut, sehingga pagi ini dia lebih sulit untuk bangun.
"Ra, bangun, nanti kamu telat sekolah.!"
Aditya dengan sabar membangunkan Nara. Ia menggoyang pelan bahu Nara. Lalu membelai lembut wajah Nara. Terulas satu senyum manis dari bibir Aditya.
Bu Fatma yang tidak sengaja melihatnya dari luar saat melewati kamar Nara bergumam tidak suka.
"Dasar kelakuannya, pantesan saja selalu telat, tidurnya udah kayak orang mati. Kok bisa-bisanya Tuan Aditya mengangkat nya menjadi seorang adik?."
Bu Fatma berlalu, semakin lama melihatnya Marasa semakin kesal.
Nara menggeliatkan badan. Ia mulai terbangun. Matanya pelan-pelan terbuka dengan memicingkan mata.
Wajah Aditya yang tampan dengan senyum yang sangat manis, membuat Nara seketika ikut tersenyum. Sampai ia baru sadar. "Oh, No. Aku Baru bangun tidur, dan Kak Aditya melihat muka bantal ku?"
"Aaah?". Nara berteriak kaget.
"Ada apa Ra?" Aditya pun ikut kaget. Nara menggeleng.
"Jam berapa sekarang?"
Aditya hanya menggerakkan kepala ke arah nakas ada jam kecil disana. Nara mengikuti arah gerak kepala Aditya.
"Oh Tuhan? Udah jam 7?"
"Belum, masih hampir. Udah buruan siap-siap. Sarapan di mobil saja."
Nara mengangguk cepat lalu lari ke arah kamar mandi.
"Kak...! Tolong handuk nya?"
Aditya tersenyum mendengar teriakan Nara, ia pun mengambilkan handuk. Nara sudah telan_-*jang di dalam kamar mandi sana.
Aditya mengetuk pintu. Terlihat tangan Nara yang terjulur di balik pintu yang di buka setengah. Aditya pun memberikan handuk itu.
Nara bergegas. Ia membawa bekal sarapannya yang sudah di siapkan Bu Fatma.
Mobil yang di kemudikan Fardan membelah keramaian jalan kota. Nara sarapan di dalam mobil. Aditya sibuk dengan ponselnya.
Nara tidak sengaja melihat foto seorang perempuan cantik di ponsel itu.
"Cantik, cantik sekali. Siapa dia, Kak?"
Aditya menoleh ke arah Nara yang duduk di sampingnya. Nara sudah selesai dengan sarapannya.
"Alexa." Jawab Aditya singkat.
"Pacar Kakak?"
"Tunangan."
Ayla pun melebarkan senyum mendengar jawaban Aditya.
"Kenapa tidak memperkenalkannya padaku?"
"Dia tidak di Indonesia saat ini. Dia di luar negri."
Nara mengangguk.
Ting,,
Kini giliran ponsel Nara yang berdenting.
"Kamu bawa ponsel ke sekolah?"
Nara nyengir mendengar pertanyaan Aditya. Karna sebelumnya Nara tidak pernah membawa benda pipih itu.
"Saya yang memintanya, Tuan. Biar lebih mudah saat menjemputnya, Lagi pula. Pihak sekolah juga membolehkannya."
Fardan menyahut dari depan. Aditya mengangguk. Ia kembali melihat ponsel Nara yang sedang di mainkan.
"Simpan kembali ponselmu. Nanti biar Fardan belikan yang baru."
"Hah? Gak usah, Kak. Ini masih bagus kok. Masih bisa di pakai."
Aditya hanya menatap Nara tajam. Nara merasa tidak enak.
"Kau mendengarnya, Fardan?"
"Iya, Tuan. Akan saya laksanakan."
Nara hanya bisa menurut. Memang ponsel Nara masih bisa di pakai. Tapi itu sudah keluaran lama. Dan bahkan Casing nya juga sudah usang.
Nara kembali sibuk memainkan ponselnya. 1 pesan singkat di kirim oleh Valdo.
Crazy Boy
" Dimana? Kok belum ada di kelas?"
^^^" Masih di jalan. Aku telat."^^^
^^^✓✓^^^
"Berapa bulan? Aku siap tanggung jawab."
Nara mengerutkan kening membaca isi balasan pesan dari Valdo.
^^^"Dasar gila."^^^
^^^✓✓^^^
Valdo tersenyum sendiri membaca pesan dari Nara. Ia kembali keluar menuju tempat parkir untuk menunggu kedatangan Nara.
Sebuah mobil mewah memasuki area parkir. Untunglah Nara belum telat. Bel baru saja berbunyi.
Seperti biasa Nara menyalim tangan Aditya dengan khidmat.
"Aku akan ke kantor nanti."
"Hemmm." Mobil yang di kendarai Fardan kembali melaju meninggalkan area parkir.
Nara bergegas. Jangan sampai guru masuk lebih dulu ke dalam kelas sebelum dirinya tiba.
"Whooeyy.!"
Teriakan Valdo berhasil mengagetkan Nara yang setengah berkari. Valdo malah tertawa terpingkal melihat ekspresi Nara yang terlihat cute karna kaget.
"Iisshh."
Nara mendorong tubuh Valdo dengan kesal. Ia kembali melangkah dengan tergesa. Valdo mengikutinya.
"Apa an sih? Masih pagi juga? Gue udah telat nih.?"
"Khawatir banget, gak bakalan kenapa-kenapa lagi kalo gua yang anterin ampek kelas."
"Iisshh."
Nara sangat kesal setiap mendengar kata-kata Valdo yang menyombongkan dirinya sendiri.
"Heiiii?"
Valdo menarik tangan Nara yang terus berjalan cepat. Ia mendorong tubuh Nara sampai terhempas pada dinding. Dan kedua tangannya mengunci di kedua sisi Nara. Nara membulatkan mata mendapat perlakuan itu.
"Valdo?"
Nara berusaha mendorong tubuh Valdo.
"Uuussshhh"
Valdo menyuruh Nara agar diam.
"Apa?"
"Baju gua?"
"Iiihh." Nara membuka resleting tasnya. Tapi Valdo malah menghentikannya dengan memegang tangan Nara.
"Nanti pas istirahat, Lo anterin baju gua ke ruang ganti olahraga. Oke?"
Valdo mengacak rambut Nara yang di biarkan tergerai hari ini. Lalu Valdo dengan santai melangkahkan kaki berlawanan arah meninggalkan Nara.
"Iiiihh, dasar Crazy Boy."
Nara menendang kesal. Nendang angin doang.
Ia lantas berlari menuju kelasnya. Kelas baru di mulai. Tapi guru sudah siap di dalam. Nara mengetuk pintu, permisi. Dan meminta maaf. Bu guru yang mengajar memerintahkan Nara masuk meski dengan ekspresi kesalnya.
"Kenapa bisa telat?"
Eci langsung bertanya saat Nara menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.
"Ketemu orang gila tadi di depan."
Eci terlihat bingung dengan jawaban Nara, Ia mengendikkan bahu dan membenarkan kaca matanya. Kelas pun di mulai.
...****************...
*Di Kantor Aditya
"Kita ada pertemuan dengan Bos Besar dari Perusahaan $******, Tuan Aditya."
"Jam berapa?"
"Pukul 2 siang, di Grand Resto Pusat kota."
"Tuan Bakhtiar?"
"Iya, benar, Tuan Aditya."
Fardan tengah memberi tahu jadwal kerja Aditya.
Tuan Bakhtiar adalah salah satu orang yang sangat berpengaruh di dunia industri. Bisa bekerja sama dengan perusahaan mereka tentu akan menjadi pencapaian yang luar biasa.
"Antar aku kesana, dan setelah itu kau bisa menjemput Nara. Bawa saja Nara ketempat meeting."
Fardan mendongakkan kepala. Lalu mengangguk.
"Ponsel Nara?"
"Sudah saya siapkan, Tuan." Aditya hanya mengangguk mendengarnya.
...****************...
Jam istirahat sekolah.
"Kantin?." Seperti biasa Eci menawarkan untuk pergi ke kantin bersama. Nara terlihat berpikir sesaat.
Dia harus menemui Valdo dan memberikan bajunya. Tapi ia belajar dari kejadian kemarin. Kali ini Nara akan meminta bantuan Eci untuk menemaninya pergi. Paling tidak jika sesuatu terjadi ada seorang teman disana.
"Eci? Bisakah kamu temenin aku sebentar? Setelah itu kita ke kantin bersama.?"
Eci tersenyum dan mengangguk.
Nara dan Eci berjalan menuju ruang ganti olahraga.
"Itu kan ruang ganti anak cowok, Ra?"
"Terus gimana?"
Nara dan Eci terlihat berpikir, tidak mungkin kan mereka akan masuk ke dalam ruang ganti murid siswa?
"Nara?" Seorang Siswa laki-laki menghampirinya.
Nara mengangguk. Ia mengenal wajah anak ini, dia adalan salah satu temannya Valdo.
"Masuk gih. Udah di tungguin."
Nara membulatkan mata. Ia mulai deg degan. Bahkan raut mukanya terlihat panik. Nara merasa was-was. Apa lagi yang akan Valdo lakukan pada dirinya.
Nara menggelengkan kepala.
"Emmphh? Tidak. Gue titip ini aja. Tolong berikan sama Valdo."
Jelas Nara menolak.
"Gua yang bakalan kena hajar, kalo Lo gak masuk."
Nara menelan salivanya kasar. Ia bertatapan sama Eci. Eci pun terlihat takut.
"Gue? Gue cuman mau masuk kalau sama Eci."
"Heemm??" Eci pun menggeleng cepat namun tangan Nara sudah dengan cepat dan kuat menggenggam tangannya.
Anak laki-laki itu yang bernama Rio di name tag nya pun akhirnya mengangguk. Membolehkan. Dari pada nanti dia yang kena hajar karna Nara gak datang.
Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam ruang ganti bersama-sama.
...****************...
padahal aku tungguin tiap hari kelanjutannya🤔
tapi kisah Arend sm zico kok nggak ada thor, aku padahal sudah masuk ke branda author ya, cari judul love or game 😫😫😭😭😭😭 nggak ada thor yg ada nona dan tuan, mainan bos mafia
makasi thor atas novelnya..semangat untuk slalu berkarya🤗