Ini cerita cinta gadis bisu, awalnya gadis ini bertemu dengan pria tampan dan kaya bernama Ali. Ali menemukan cinta sejatinya yang bernama Hawa. Hawa hanya gadis desa yang sederhana dan mempunyai kekurangan pendengaran dan suara, Hawa tinggal hanya dengan Ibunya. cinta mereka tidak di restui oleh keluarga Ali, dan ingin menjodohkan Ali dengan wanita lain..
Hai teman-teman penasaran kan dengan ceritanya ikutin terus yuk! semoga kalian suka yah 😃😃😃
happy reading!😃😃😃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
"Kamu selalu jelekin Verlina terus, kamu tuh cuma salah paham, kamu gak lihat hatinya Verlina baik gitu, malah Mamah merasa gak enak, ia di cuekin terus sama kamu," sahut Bu Hena.
"Astaga Mah, Mamah di racunin apa sih sama ia?" tanya Ali.
"Racunin, racunin, apa sih? udah pokoknya kamu pulang! Mamah gak mau tahu, kamu pulang!" perintah Bu Hena.
"Enggak, Ali gak akan pulang! aku cuma minta Mamah temuin Hawa," minta Ali merayu Bu Hena.
"Enggak! Mamah gak mau! pokoknya kamu harus sama Verlina, bukan cewek bisu itu!" bantah Bu Hena.
"Cukup Mah, jangan pernah bilang Hawa bisu! kalau Mamah gak mau temuin, Ali bakal Bawa Hawa kerumah," sahut Ali langsung pergi meninggalkan Bu Hena.
"Ali, Ali, mau kemana Ali? susah banget sih tuh anak, keras kepala! ini gara-gara Ali tinggal disini sama kamu, jadi bisanya ngelawan orang tua terus," sahut Bu Hena menyalahkan Pak Danang.
"Kok Mba nyalahin saya? saya gak pernah ajarkan apapun sama Ali, mungkin itu yang terbaik buat Ali, Hawa anaknya baik Mba, saya kenal dekat sama ia," jawab Pak Danang.
"Alah, saya mau pulang! gak betah saya lama-lama disini!" Bu Hena langsung pergi meninggalkan Paman Danang.
Ali mengendarai mobil dengan emosi dan kesal sama Mamahnya, secepatnya Ali akan membawa Hawa kerumahnya, dengan muka kesal ia baru teringat kalau harus membeli alat pendengaran untuk Hawa.
Apa gue bawa Hawa malam ini aja kerumah yah? ah, jangan deh! Mamah lagi emosi, besok aja deh gue bawa Hawa.
"Kenapa Nak, kok gelisah?" tanya Bu Sari melihat Hawa gelisah.
"Ali kemana Bu? kok sampai malam gini belum pulang kesini?" tanya Hawa dalam tulisannya.
"Mungkin nyari alatnya langka," sahut Bu Sari menggerakan tangannya. Hawa hanya terdiam dengan wajah sayunya.
"Assalamu'alaikum, maaf Bu alatnya susah di cari, ini aku baru dapat, maaf ya sayang, sini aku pakaiin," sahut Ali.
"Hawa sudah gelisah, khawatir sama kamu," sahut Bu Sari sambil melihat Ali memasangkan ke kedua telinga Ali.
"Makasih ya sayang," dalam tulisan Hawa.
"Sama-sama, oh iya Bu, besok saya mau bawa Hawa kerumah yah! mau saya kenalin Ke orang tua saya, apa Ibu izinkan?" sahut Ali meminta izin.
"Boleh Nak, tapi Ibu pesan yah, jaga Hawa, Ibu gak mau terjadi apa-apa sama Hawa." Sahut Bu Sari.
"Saya akan menjaga Hawa Bu, sepenuh hati saya, jadi Ibu tenang aja yah," Ali sambil tersenyum.
"Ibu bikinin teh hangat ya Nak," sambil melangkah kebelakang.
"Makasih Bu," sahut Ali tersenyum.
"Sayang, aku takut ketemu orang tua kamu, apa mereka setuju?" tanya Hawa dalam tulisannya.
"Kamu tenang aja yah, gak ada yang bisa halangin aku, kalau mereka tidak setuju, aku akan tinggalkan mereka, buat apa kalau hidup tanpa orang yang aku cintai, aku akan berjuang buat kamu!" sahut Ali tersenyum dan mencium tangan Hawa.
"Makasih ya sayang," jawab Hawa dalam tulisannya.
"Papah, Papah urus anak Papah dong! susah kalau di bilangin." Jawab Bu Hena.
"Kenapa Mah? Kok marah-marah?" sahut Pak Hendarto.
"Mamah abis kerumah Danang, udah Mamah temuin Ali, tapi Ali malah ngelawan Mamah gak mau pulang!" sahut Bu Hena.
"Mamah ngeyel sih? Ali itu gak bisa dilarang, udahlah, Ali pasti tahu mana yang baik untuk dirinya sendiri, jangan terlalu dilarang!" sahut Pak Hendarto.
"Masalahnya Ali, dekat sama gadis bisu Pah, masa anak kita pacaran sama gadis bisu, apa kata orang?" sahut Bu Hena.
"Mungkin gadis itu ada kelebihannya yang membuat Ali suka, Mamah kenal aja dulu!" perintah Pak Hendarto.
"Papah gak pernah bela Mamah, sama aja sama Ali, udah ah! pokoknya Ali harus tetap sama Verlina." Sahut Bu Hena sambil melangkah kekamarnya.
Gak lama, Ali menghubungi Pak Hendarto, Ali minta besok Pak Hendarto jangan kemana-mana dulu, karena Ali ingin membawa Hawa kerumah. Pak Hendarto menunda untuk ke Thailand karena permintaan Ali.
"Pah, please! jangan ke Thailand dulu yah! Ali mau kenalin Hawa sama Papah, Ali mau melamar Hawa.
"Iya Nak, Papah dukung Ali." Sahut Pak Hendarto. Sambil menutup teleponnya.
"Paman, maafkan Mamah yah! udah marah-marah disini!" sahut Ali.
"Iya, tidak apa-apa, kamu perjuangkan cintamu pada Hawa, karena Hawa anak baik, soleha, gak kaya perempuan yang waktu itu kesini, gak ada sopan santun." Jawab Pak Danang.
"Iya Paman, jika Mamah tidak setuju, Paman Bantu Ali yah!" sahut Ali.
"Paman harus bantu apa?" tanya Pak Danang.
"Paman bantu Ali, Ali mau nikah sederhana saja sama Hawa, yang penting sah." Sahut Ali.
"Kan masih ada Papahmu? pasti Papahmu beda sama Mamahmu, musyawarah dulu sama Papahmu," perintah Pak Danang.
"Iya Paman, takutnya Papah nurut sama Mamah." Jawab Ali.
"Paman yakin tidak kok, Papahmu itu orangnya bijaksana, gak mungkin ia nurut pada orang yang salah." Sahut Pak Danang.
Keesokan harinya, Ali bersiap-siap berangkat dan menjemput Hawa. Ali dan Hawa pamit ke Bu Sari. Setelah lama di perjalanan, akhirnya Ali dan Hawa sampai Jakarta, Hawa kagum dan heran melihat rumah Ali yang sangat mewah dan besar. Saat Bi Legi membuka pintu terkejut melihat Hawa dan Ali, Hawa ingin melepas sendalnya.
"Sendalnya gak usah di buka, pakai saja!" jawab Ali.
"Ini ya Aden, yang Aden ceritain? Hallo saya Bi Legi, pembantu disini." Sahut Bi Legi, Bi Legi kaget saat Hawa bersuara, dan terkejut bahwa Hawa bisu.
"Namanya Hawa Bi, ia bisu, tapi ia baik dan soleha." Jawab Ali.
"Cantik kok Den," sahut Bi Legi.
"Bibi tolong bawa Hawa keruang tamu yah, saya mau panggil Mamah sama Papah." Sahut Ali.
"Baik Den, ayo Non!" ajak Bi Legi.
"Mah, Pah, ikut Ali yuk kebawah!" ajak Ali.
"Mau ngapain Ali, jangan macam-macam kamu!" sahut Bu Hena.
"Mah Ali bawa Hawa, Mamah temuin yah," ajak Ali.
"Udah Mah ayo!" ajak Pak Hendarto.
Jangan-jangan Ali bawa cewek bisu itu lagi? penasaran.
"Mah, Pah, ini Hawa! cantikkan?" sahut Ali tersenyum. Hawa mencium tangan punggung Pak Hendarto, saat Hawa ingin mencium tangan punggung Bu Hena, Bu Hena menempisnya.
"Mamah kok gitu? ia ingin bersalaman lho!" sahut Ali.
"Wah, cantik yah!" sahut Pak Hendarto.
"Ngomong aja susah, gimana ia mau jadi istri kamu! Mamah gak setuju! eh gagu kamu pulang aja yah! kamu gak level sama anak saya! kamu tuh pantesnya sama gagu juga kaya kamu!" sahut Bu Hena menghina Hawa dengan muka sinisnya, Hawa menangis dan merasa sesak dihina Bu Hena.
Bersambung...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
Ayra kan blm nikah sama Dewa...
bunda tunggu season2'y...
semangat trus💪💪
next up Thor💪💪
semoga ayra jg lekas sadar
next up Thor💪💪