Dara anak seorang pembantu di jodohkan dengan seorang pewaris tunggal sebuah perusahaan karena sebuah rahasia yang tertulis dalam surat dari surga.
Dara telah memilih, menerima pernikahannya dengan Windu, menangkup sejumput cinta tanpa berharap balasannya.
Mampukah Dara bertahan dalam pernikahannya yang seperti neraka?
Rahasia apa yang ada di balik pernikahan ini?
Mampukah Dara bertahan dalam kesabaran?
Bisakah Windu belajar mencintai istrinya dengan benar? Benarkah ada pelangi setelah hujan?
Ikuti kisah ini, dalam novel " Di Antara Dua Hati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 SEBUAH PERMOHONAN
Dara turun dari mobil Arga, tepat bersamaan dengan masuknya mobil milik Windu, Lamborghini Aventador yellow ke dalam pekarangan rumah.
Pias dingin yang penuh tanya itu terlihat di wajah Windu, penasaran yang tak bisa ditutupinya melihat Dara muncul dari dalam mobil Arga.
Tapi Dara sama sekali tidak terintimidasi dengan sikap Windu, baginya tidak ada hal yang perlu dijelaskannya kepada Windu.
"Apa perdulinya dengan hidupku? kami bukanlah suami istri yang normal, jadi bukan hal yang aneh jika aku tidak ingin membicarakan apapun kepadanya. Bukankah dia juga tidak pernah memberitahukan kepadaku kemana dan di mana dia selama ini?"
Dara membathin dalam hati.
Sebelum membalikkan badan, Dara menoleh kepada Arga.
"Terimakasih atas tumpangan dan bantuannya."Ujarnya datar, dengan tatapan tajam seolah mengingatkan sesuatu pada Arga.
"Ya, tidak masalah..." Arga menjawab sambil tersenyum tipis, memastikan Dara tidak perlu kuatir dengan dirinya.
"Arga, apa kabarnya? Kapan datang?" Alis Windu naik setengah centi, sambil menerima uluran tangan Arga.
"Kabar baik. Kemarin pagi sampai indonesia, jadi baru hari ini sempat kemari." Jawab Arga hangat. Laki-laki itu menjadi sedikit salah tingkah saat Dara tanpa berbicara sama sekali, langsung masuk seolah tak melihat kedatangan Windu, sang suami.
Windu melirik ke arah punggung Dara yang segera menghilang di pintu masuk. Kemudian tatapannya beralih kepada Arga, dia seolah ingin bertanya sesuatu tapi mulutnya terkunci.
Arga segera menyadari, Windu sedang mempertanyakan Dara yang datang bersamanya.
"Oh...aku bertemu dengan istrimu di jalan tadi, saat dia pulang dari jiarah katanya, jadi ku ajak sekalian karena satu tujuan." Arga menjelaskan dengan tenang, merasa tidak enak dengan tatapan Arga pada mereka berdua.
"Kamu mengenal Dara? bukankah kalian belum pernah bertemu?" Pertanyaan Windu seperti skakmat bagi Arga.
"Oooh...bagaimana mungkin aku tidak mengenal istrimu Win, semua orang tahu. Aku melihat dari foto-foto pernikahan kalian yang di kirim mama, dan lagi bukankah pernikahan kalian masuk kolom berita, sebagai salah satu pernikahan termegah tahun ini." Arga terkekeh, memberi alasan. Padahal, demi Tuhan, dia belum pernah melihat foto Dara. Jikapun ada, foto dari jauh yang tidak terlalu jelas dan itu bersama dengan keluarga besar saat resepsi, yang di kirim mama dua bulanan yang lalu.
"Pernikahan Windu jadi headline news selama dua hari." Itu perkataan mama yang diingatnya, waktu mengabarkan pernikahan Windu yang mendadak.
"Oh, begitu." Windu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pias acuh yang dibuat-buat.
Anehnya, jika naluri laki-laki Arga tak salah, Arga merasa sepertinya Windu sedikit cemburu tapi berusaha di tutupinya dengan sikap dinginnya.
Sikap Windu ini membuat Arga semakin bingung, tentang apa yang sesungguhnya terjadi antara sepasang pengantin baru itu.
Di mobil tadi, dalam perjalanan pulang, Dara memohon dengan sangat agar Arga merahasiakan keberadaannya di rumah sakit hari ini.
"Aku mohon jangan pernah katakan pada siapapun kalau kamu mengantarkanku ke rumah sakit hari ini. Apapun yang kamu dengar atau lihat, tolong jangan pernah kamu ceritakan." Pinta Dara, wajah gadis itu begitu memelas seperti menyimpan banyak rahasia di matanya yang selalu terlihat sayu tapi membuat jantung Arga berdegup dengan kencang ketika bersirobok pandang dengannya.
"Tapi..." Arga bingung seketika, dia mendengar sendiri dokter yang memeriksa Dara saat pingsan tadi bahwa Dara sepertinya sedang hamil, kondisi fisik dan psikologisnya sedang tidak terlalu baik, itu yang membuat dia sedikit drop.
"Sepertinya, istri bapak sedang terlalu capek, jadi kondisinya tidak terlalu fit. Apalagi istri bapak dalam keadaan hamil, hal ini sangat berpengaruh terhadap kesehatannya."
Penjelasan dokter itu tadi seperti guntur di telinga Arga, dia tidak tahu kalau gadis muda yang sekilas seperti anak SMA baru lulus itu ternyata sudah menikah.
Saat dia datang menggendong Dara yang tak sadarkan diri, dia memang secara sembarangan mengakui kalau Dara adalah istrinya, maksud Arga sebenarnya adalah supaya Dara cepat ditangani tanpa banyak pertanyaan lagi.
Sebuah kehamilan, seharusnya itu adalah berita gembira untuk Windu selaku suami. Sepantasnyalah Dara akan berbahagia dengan keadaan itu, tapi yang dilihatnya sungguh berbeda dari seharusnya, Dara terlihat shock dan muram seolah dia bingung layaknya dunia sedang menunggu kiamat.
"Aku mohon." Permintaan itu begitu tegas keluar dari bibir yang semula bergetar ragu saat memohon tadi.
"Kenapa harus dirahasiakan?"Arga bertanya dengan bingung.
"Karena memang harus begitu!" Dara menjawab, sambil memalingkan wajahnya.
"Bukankah kalian baru menikah, seharusnya..."
"Terimakasih sudah menolongku!" Dara memotong kalimat bernada keheranan yang di ucapkan oleh Arga, suara perempuan muda itu terdengar tajam.
"Seharusnya dan tidak seharusnya, hanya aku yang tahu. Aku harap kamu tidak usah terlalu ikut campur terlalu dalam. Itu adalah urusan pribadiku dan aku tidak berkewajiban untuk menjelaskan apapun padamu. Jika karena menolongku secara tidak sengaja kamu harus tahu segala hal, tolong katakan aku harus membayarnya dengan apa supaya kita berdua bisa melupakan kejadian hari ini?" Suara Dara sungguh ironis dengan wajahnya yang lembut itu, terdengar penuh penekanan.
Arga sungguh terpana pada kekerasan hati yang ditampakkan Dara, berbalut raut yang dingin, sedingin es.
"Kalau masih ada pertanyaan lagi maka aku minta turunkan aku di sini, tidak perlu mengantarku. Aku bisa pulang sendiri." Dara berucap tanpa ekspresi.
"Oh, bukan begitu...aku...eh aku minta maaf terlalu banyak bertanya, aku berjanji tak akan mengatakan apa-apa pada siapapun." Arga menjawab dengan cepat, Dara berubah menjadi sangat judes dalam waktu singkat.
"Aku akan diam dan ijinkan aku mengantarmu pulang."
Itulah kalimat terakhir yang menutup pembicaraan mereka berdua di dalam mobil Arga. Sepanjang jalan, tak ada lagi yang berusaha memulai percakapan. Mereka saling diam.
Arga tak habis fikir dengan sikap misterius Dara, seolah-olah pernikahannya dengan Windu tak baik-baik saja.
Tapi bagaimana mungkin, pernikahan yang belum tiga bulan itu di terpa gelombang sedemikian besar, sampai-sampai seorang istri harus menyembunyikan kehamilannya dari suaminya.
"Ataukah anak yang dikandung Dara adalah hasil hubungan gelapnya dengan laki-laki lain? Mantan pacarnya mungkin?"
Arga harus menepis jauh-jauh pemikiran sadisnya itu, karena jika menilik sikap Dara, dia bukan perempuan gampangan. Dara sama sekali tidak menunjukkan seorang istri yang berkhianat pada suaminya sendiri.
"Hey...kamu mau tetap berdiri di situ atau masuk?" Suara Windu yang lantang dari teras rumahnya, menyadarkan Arga dari fikirannya yang melayang-layang tak karuan.
"Ya..ya..." Arga bergegas mengikuti sepupunya, tenan sepermainan dari kecil, yang hanya selisih usia tujuh bulan itu. Mereka sesungguhnya cukup akrab dulu, hanya saja sejak Arga mengambil kuliah S1 dan di lanjutkan S-2 di London, mereka tidak berhubungan dengan intens lagi, terkendala kesibukan masing-masing.
Dengan cepat Arga mengikuti Windu masuk, sejuta rasa penasaran memenuhi benaknya. Ada apa antara Windu dan Dara?
(Ikuti terus ya, kisah ini, othor janjikan cerita ini no pelakor no pebinor tapi sarat dengan kisah cinta yang menguras air mata😅🤭 kok bisa, ya...? Pasti penasaran, kan?😂 stay di Novel akak yaaaa...)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
Terimakasih
Rangkaian katanya indah tapi mudah dimengerti.
Karakternya tokoh2nya kuat,
Alurnya jelas, jadi tidak melewatkan 1 kalimatpun,
Sekali lagi Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
author pandai merangkai kata.
tapi tak pandai memilih visual windu, ga cocok tor sama dara haha maap ya tor 🙏