Adelia itu cuma murid biasa, menurutnya.
Namun siapa sangka, justru banyak yang mengincar pacar Vero itu. Tapi, kedatangan dari yang namanya mantan memang merusak kisah pacaran.
Ditambah lagi kehadiran Ravi sebagai pangeran kesiangan, justru berhasil membuat seorang Adelia Morva Agustina si cewek kasar jatuh ke dalam pelukannya.
Tapi, cinta monyet itu memang ngeri-ngeri sedap sensasinya. Apalagi, kalau penunggu di penantian mereka justru akhir tak terduga.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebun binatang
Kami berempat pun akhirnya tiba di kebun binatang setelah membeli minum-minuman, cemilan berupa kacang-kacangan, pop corn, dan keripik-keripik di perjalanan ke kebun binatang.
Selesai membeli tiket, kami langsung masuk dan menuju ke kandang burung serta berfoto-foto ria di sana. Jelajah santai bahagia bersama teman-teman tercinta menelusuri keindahan dan kemolekan binatang-binatang adalah tujuan utama kami.
Lalu kami pun meneruskan ke kandang-kandang hewan lain. Sesampainya di kandang singa, “anj*r, montok banget itu singa,” oceh Ria.
“Iya, ingat paha ayam gue lihatnya,” sambungku.
“Wah... itu kalau pahanya boleh dimakan, berapa kali lipat paha ayam tuh?” tanya Andin.
“Gak tahu, belum gue ukur masalahnya,” tukas Mega ngelantur.
Kami pun melanjutkan perjalanan ke kandang gorilla dan monyet. Dengan tangan dermawan kami berbagi kacang pada monyet-monyet itu. Mereka terlihat bahagia dan tersenyum pada kami, seolah senang pada kacang pemberian kami (kayak ngerti bahasa binatang saja lagak kami).
“Monyet bukannya makan pisang ya,” sela Ria.
“Pisang mahal, lagian dikasih kacang mereka gak ngeluh tuh,” tukas Mega.
“Ya iya lah, gratisss....” balasku.
“Kalau kasih durian?” tanya Andin gak karuan.
“Ntar pas manjat-manjat itu monyet bisa pingsan karena napas durian mereka,” balas Ria.
Aku dan Mega pun tertawa dengan penjelasan Ria dan tetap melanjutkan memberi monyet-monyet itu makan. Sepanjang perjalanan mengunjungi binatang, monyet-monyetlah yang membuat kami cukup bertahan lama di depan kandang mereka.
“Wuih... buset dah! Bohay gila!” pekik si Mega yang hanya di dengar kami bertiga. Spontan mata kami langsung mendelik pada sumber bohay yang dikatakan Mega.
“Anj*y, apaan nih!” pungkas Ria.
Lalu bohay gila itu pun berjalan melintas di samping kami. Tentu saja kami yang polos belia mengikuti setiap langkah si bohay gila itu, sampai ia pun mengeluarkan kata-kata mutiaranya karena kami memperhatikannya segitunya.
“Apaan lo lihat-lihat! Fyucek banget sih mata lo! Sebel deh aku, ish...ish...!” tukas si bohay gila mengumpat kami (dengan suara laki-laki yang di imut-imutkan). Tentu saja kami kaget dan hanya menatap heran pada dia yang sudah berjalan menjauh bersama pasangannya setelah memaki kami.
“Anj*rrr padahal gue terpukau lihat itu body, tapi suaranya...!” celoteh Mega.
“Iya tuh, gila banget gak sih, kita yang cewek saja kalah body dari si bohay campur-campur,” pekik Andin tak menerima kemolekan lawan gennya. “Eh tunggu, itu kan si Ravi!” sambung Andin melirik ke arah depan tempat si bohay berhenti. Terlihat ia bercengkerama dengan kakak bohay itu dan teman-temannya. Total ada lima orang, si kakak bohay campuran dan pasangannya, si Ravi dan dua orang tak dikenal yang satu cewek yang satu cowok.
“Gila! Kenalan si Ravi! Jangan-jangan itu cewek sebelahnya juga campuran!” tukas Mega.
“Woi! Gak usah segitunya, mana tahu itu cewek tulen!” pungkasku sambil memukul Mega pelan. Kami masih menatap ke arah mereka dan Ria pun mengajak kami pergi karena ia sudah merasa lapar.
“Sudahlah! Yuk pergi! Biarin saja itu orang! Gak ada urusannya sama kita, gak kenal juga!” pungkas Ria.
“Ya... ya," balasku dan Andin. Kami berempat pun pergi ke salah satu tempat makan yang tersedia di luar kebun binatang, karena jika masih area dalam kebun binatang makanannya sedikit lebih mahal dibandingkan yang umumnya, (namanya juga tempat wisata ya wajarkan) sehingga itu berarti wisata kami di kebun binatang sudah berakhir.
Kami pun masuk dan duduk di pojokan tempat makan tersebut. “Jadi pesan apa nih?” tanya Ria.
“Aku bakso!” balas Mega.
“Siomay,” jawabku.
“Pecel ayam,” sahut Andin.
“Ya sudah, ada tambahan yang lain?” tanya Mega lagi.
“Tahu goreng dua porsi gimana?” rayu Andin.
“Boleh, minumnya?” tanyaku.
“Teh botol saja,” balas Mega.
“Oke!” Sahut Ria meninggalkan kami, karena ia bertugas sebagai tukang pesan makanan. Setelah melakukan pemesanan ia kembali lagi dan duduk di depanku.
Saat sedang sibuk-sibuk bersenda gurau, mata Mega dan Ria kembali terperanjat menatap ke belakang kami.
“Apaan sih!” tanya Andin. Aku yang juga penasaran, langsung menoleh bersama Andin ke belakang kami.
“Wah... Si bohay campur juga kesini,” tandasku.
“Ada si Ravi juga,” tukas Andin.
“Oh iya, dia anak kelasmu kan?” sahutku pada Andin.
“Iya, lumayan pintar loh anaknya!” sela Mega.
“Oh,” jawabku singkat tak peduli.
“Eh Andin dan Mega, makan di sini juga?” sapa si cowok sekelas mereka tiba-tiba. Di belakangnya juga ada si bohay campur-campur dan rekannya yang lain. Mereka duduk di meja sebelah kami. Kebetulan banget, habis di kata-katai di kebun binatang malah ketemu lagi pas mau makan.
“Iya, kamu juga?” tanya Mega.
“Klise banget pertanyaannya, sudah jelas mereka masuk sini dan duduk sini, kalau gak mau makan ngapain lagi? Numpang duduk saja? Ya diusir kali!” oceh batinku menatap mereka.
Lalu pesanan kami pun datang. Seporsi bakso, siomay, dua porsi pecel ayam dan dua porsi tahu goreng serta empat teh botol soross.
Kami pun makan dengan lahap dan sesekali saling suap-suapan, “iyyuuhhh... Mesra banget gak sih?” tukas si kakak bohay yang tidak jelas diarahkan pada siapa.
Kami berempat pun langsung menoleh pada si kakak bohay, “apaan lihat-lihat?” tanya si kakak bohay campur-campur dengan nada menyebalkan.
“Hah...” hela napas si Ria. Kami tidak mengacuhkan dan tetap lanjut makan. Saat sedang mengunyah sempat terlintas di kepalaku untuk melirik hp ku sebentar. Ternyata sudah ada chat dari Vero masuk ke hp ku. Tentu saja aku langsung mengecek dan membacanya, isi chatnya...
Vero:
Iya, gak masalah
Kamu lagi apa?
Sibuk?
Aku lagi kerja tadi
Maaf baru balas ya
Itulah kalimat balasan dari Vero dan tentu saja aku langsung membalasnya.
Adel:
Aku lagi makan
Sibuk kelihatannya ya
Sudah makan?
Gak apa santai saja
Tapi tak lama dia langsung balas chatku,
Vero: Sudah, sekarang sudah gak sibuk
Adel: emang tadi kamu kerja apa?
Vero: bersihan kandang kucing
Adel: rajinnya,
Vero: iyalah, sudah kayak anak aku itu
“Del sibuk aja sama hp lo dari tadi, nih makan!” tukas Andin sambil menyuapkan tahu goreng padaku.
“Emang siapa sih?” tanya Mega.
“Ada deh!” balasku sambil senyum-senyum gak jelas.
“Pasti si Vero lah! Siapa lagi kan?” sambung si Ria sambil meledek.
“Sudah jadian saja, ntar lama-lama ditikung baru tahu rasa!” tambah Andin dengan kalimat tak pengertian.
“Kita itu cuma temanan, gak lebih” balasku menjelaskan.
“Alasan saja, gak ada yang namanya temanan, bullshit banget kalau iya benaran bisa!” tukas Andin meledekku.
“Hah! Gak percaya amat sih!” tukasku sambil tersenyum dan mengambil teh botol lalu meminumnya. Sekilas aku menatap ke arah si cowok teman sekelas Mega dan Andin. Karena meja kami jaraknya cukup dekat dan sama-sama duduk di pinggir yang berdekatanlah istilahnya.
Dia juga menatap kearahku tapi tatapannya aneh banget, kayak canggung atau gimana gitu. “Emang ada yang aneh?” gumamku dalam hati. “Atau gue kelihatan rakus? Tapi gak mungkin banget porsi makan gue normal kok, sama kayak yang lain. Ngapain dia lihat kayak gitu? Anying!! Apa mungkin gue bau badan?” tukas batinku tersentak kalut.
Aku lalu menoleh pada diriku sendiri secara tak kentara dan mencoba mencium aroma tubuhku secara abstrak agar tidak ketahuan kalau aku lagi risih bau badan. Tidak ada aroma busuk yang tercium, kalau pun ada pasti teman-temanku sudah mengatakannya padaku. Lagian aku sudah pakai parfum dan tercium aroma jeruk yang samar-samar menurutku. Benar... Itu cuma menurutku...
💙💙💜💜❤️❤️💜💜🌷🌷💜💜💕💕💕💜💜💜♥️♥️♥️💜💜💜💙💙💜💜💜
beli jaringan aja 🤣🤣🤣♥️♥️♥️💕💕❤️❤️🌷🌷💕💕♥️♥️
🤣🤣🌷🌷🌷💙💙💜💜♥️♥️♥️💕💕💕❤️❤️🌷🌷💙💙💜💜
♥️♥️♥️🌷🌷🌷💜💜💜💜💜