Seperti surga, menatap sepasang mata mu penuh keindahan. Andai saja berdua tanpa ikatan bukanlah dosa ingin rasanya menghabiskan waktu sepanjang hari berdua saja dengan mu.
Daffa berdecak kesal, bisa-bisanya dia kecolongan, Kanza adik semata wayangnya mendapat kiriman puisi di kertas merah jambu bergambar hati.
Ingin rasanya dia mencongkel kedua mata yang telah lancang mengirimi Kanza puisi.
Itu terjadi beberapa tahun lalu dimasa kuliah, tapi Kini dialah yang ingin berkirim puisi semacam itu saat sepasang mata indah bak surga mampu menggetarkan relung hatinya.
selamat mbaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Dandy berdecak kesal saat Daffa menolak menemani Dendy mengantar Patimah, dia kesal minta ampun, dulu saja saat menjenguk Kanza Dendy tak pernah menolak bila di ajak.
"Jangan menatapku seperti itu, aku sudah bilang kerjaanku menumpuk, lo taukan beberapa hari lalu aku sibuk mengurus pernikahan Kanza, banyak pekerjaan yang terbengkalai," jelas Daffa
"Daf aku gak mau tau besok jam dua siang aku jemput lo di kantor, aku gak terima alasan apa pun itu paham,!" tukas Dendy, seraya meninggalkan ruang kerja Daffa, seruan Daffa memanggilnya pun tak dia hiraukan.
Patimah gadis ayu itu membuat Daffa tak tenang, bukan tak mau dia menemani Dendy, hanya saja dia tak ingin bertemu patimah dulu saat ini, pesona patimah menggoyahkan hatinya.
Mungkin dia berani melangkah lebih jauh andai saja Patimah sedikit lebih dewasa dan bukan murid kelas tiga Sma.
Tapi Dendy pasti tak kan menyerah, dia pasti menepati janjinya, akan menjemputnya besok pukul dua.
Daffa menghela nafas berat kenapa terlalu cepat berjumpa, kenapa tidak tunggu tiga tahun lagi saat patimah sudah lebih dewasa.
Daffa memilih kembali fokus pada pekerjaannya masalah Dendy lihat saja besok.
**
Kanza menyusun baju kotornya dan suaminya di dalam ember, dia berniat mencuci walau hari sudah jam sepuluh siang.
Hanif izin keluar tadi katanya menjelang makan siang dia sudah kembali.
Kanza masuk kamar mandi yang lumayan luas, mesin cuci ibu memang terletak di dalam kamar mandi, hanya Wc saja yang terpisah di ruang sebelah.
Kanza bengong sendiri apa yang harus dia lakukan dulu untuk mulai mencuci, maklumlah sudah sebesar ini dia tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, apa apa ada yang ngerjain tau sendirikan Art di rumahnya berjumlah lusinan, dengan membaca petunjuk di mesin cuci akhirnya dia paham apa yang harus dia lakukan.
Tidak terlalu sulit untuk paham menggunakan mesin cuci. Proses mencuci berjalan lancar tanpa kendala, setelah di bilas, tinggal mengeringkan semua baju yang telah di cuci, semua baju dia masuk kan ke pengering lalu puter beres.
Tapi...
Gludak!
Gludak!
Mesin cuci bekerja tak semestinya, bahkan mengeluarkan bunyi yang lumayan mengagetkan Kanza, bukan cuma kaget dia juga panik.
Ibu yang mendengar suara gaduh dari mesin cuci tergopoh ke kamar mandi.
"Kanza kamu ngapain?"
Kanza tak menyahut dia repleks memutar mesin cuci ke tombol of. Kanza terlihat semakin tambah panik melihat ibu ada di sini.
"Ini bu aku coba nyuci tadi, tapi gak tau ini mesin cuci kok gini bunyinya," sahut Kanza ketakutan sudah membuat mesin cuci ibu rusak.
Ibu membuka tabung pengering memeriksa dalamnya, ibu langsung tertawa seraya memandang Kanza yang sudah pucat pasih.
"Kenapa bu,?" kanza heran kok ibu malah terbahak begitu.
"Kamu lupa masuin ini, saat digiling cucian kamu berhamburan kemana-mana, gak ada penahannya," ujar ibu seraya mengambil benda bundar pipih yang tergantung di atas mesin cuci.
"Jadi bunyi itu bukan karena mesinnya rusak buk," sahut Kanza sedikit lega.
"Tentu saja gak nak, udah sana biar ibu aja yang ngeringin, cuma ini kan,?" sahut ibu seraya memasukkan benda bundar kepengering.
"Gak apa buk biar aku sekalian belajar."
"Gak usah, biar Hanif saja yang cuci baju kalian, dia sudah biasa melakukan ini, Kanza bantu ibu masak saja soal cuci mencuci biar Hanif," ujar ibu.
"Iya buk, tapi ini biar Kanza saja yang siapin cuciannya nanggung," sahut Kanza dengan senyum.
"Ooo ya udah, ibu kedalam dulu ya."
"Iya buk."
Kanza memutar waktu dimesin cuci selama sepuluh menit, setelah tabung pengering tak berputar lagi Kanza mengeluarkan cuciannya lalu membawa cucian kehalaman belakang untuk di jemur.
Baru separuh Kanza berhasil menjemur baju keringat sudah membanjiri keningnya.
"Kanza kamu ngapain,?!" seru Hanif yang baru saja pulang.
"Jemur kain mas," sahut Kanza dengan senyum.
"Sudah sini berteduh, biar mas yang terusin," ujar Hanif seraya membawa tubuh Kanza ketempat teduh.
"Tanggung mas tinggal dikit lagi," protes Kanza.
"Sudah jangan membantah, lihat wajahmu merah bigini, ini kalau di lihat kak Daffa aku bisa di pecat jadi adik iparnya, dengar ya sayang aku membawamu pindah kerumah ini, bukan berarti sayang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, dari lahir sayang sudah jadi ratu, di rumah ini pun akan tetap jadi ratu, paham,!" ujar Hanif menatap Kanza dengan lembut, Kanza mengangguk pelan, sedih rasanya jadi istri hanya mencuci baju suami saja tak becus.
Hanif menata ulang jemuran Kanza yang tak beraturan, lalu mulai menjemur sisanya.
"Ayo masuk udah selesai tuh," Ajak Hanif, tapi Kanza tak bergeming.
"Ada apa sayang," tanya Hanif.
"Maaf mas, jadi istri cuci saja aku gak becus," ucap Kanza sedih.
Hanif menatap Kanza yang tertunduk lesu, dia mendekat lalu duduk di sebelah kanza.
"Dengar sayang, ibu dan ayah menikah sudah puluhan tahun, semenjak nikah ibu hanya beberapa kali memncuci baju kami, ayahlah yang selalu mengerjakan tugas mencuci, bukan karena ayah takut sama ibu, atau karena ibu yang tak becus jadi istri, tapi ayah melakukan itu bentuk dari rasa cinta dan sayang nya pada ibu, perbuatan ayah ini pernah kami pertanyakan pada ayah, kamu tahu sayang apa jawaban ayah?" Kanza menggeleng pelan.
"Dia memperistri ibu untuk di jadikan pendamping hidup bukan pembantu, kalua tak mampu membayar pembantu untuk meringankan benan istri, setidaknya jangan jadikan dia pembantu, bantu dia meringankan tugas rumah, sebab pekerjaan itu bukan cuma tugas istri, ada tanggung jawab suami dibdalamnya."
"Prinsip itu juga berlaku padaku Kanza, mungkin aku tidak mampu memanjakanmu seperti umi dan abi, tapi aku tak kan membiarkanmu susah karena menikahiku, dengar sayang, mulai hari ini biar aku yang mencuci baju kita ya," ucap Hanif dengan lembut.
"Tapi pahala mencuci sangat besar mas, aku ingin mendapatkannya," sahut Kanza pelan.
"Kau mau tau pahala yang lebih besar dari mencuci sayang?" tanya Hanif. Kanza mengangguk.
"Melakukan malam pertama, melayani suami mu diranjang, bagai mana sayang?"
Bola mata Kanza seketika membulat, wajahnya merona seketika, bagai mana ini..
Hanif terkekeh, dengan lembut dia mencium kening Kanza.
"Tidak apa lain kali kita ambil pahala itu oke," ujar Hanif dengan senyum.
"Boleh mas?"
"Tentu saja sayang, aku sudah bilang kita pacaran saja dulu, kalau sayang sudah siap, boleh kasih kode ke aku, paham." Kanza kembali mengangguk.
"Udah ayo," ujar Hanif menggandeng lengan Kanza masuk kedalam Rumah.
Sebelum makan siang ibu memanggil Hanif kekamarnya.
"Ada apa buk," tanya Hanif seraya duduk disamping ibuk.
"Tadi Kanza mencuci baju kalian, kamu kan tau Kanza anak nya siapa, mungkin seumur hidup ini pertama kalinya dia liat mesin cuci, dia bahkan tidak memasukkan pembatas kain saat mengeringkan baju, kamu tau tidak, dia panik saat mesin cuci berbunyi gak katuan," ujar ibuk.
"Huufff" Tawa tertahan Daffa saat mendengar cerita ibu.
"Kamu udah salah malah tertawa,!" sentak ibu.
"Iya maaf buk."
"Kalu kamu gak bisa bayar Art untuk Kanza, harusnya kamu bisa kerjakan tugasnya," sungut ibu.
"Iya nyonya, aku sudah sampaikan hal itu pada Kanza, mulai besok aku yang cuci," sahut Daffa seraya merangkul pundak Ibu.
"Adik perempuanmu juga di perlakukan dengan baik oleh suaminya, jadi perlakukan juga istrimu dengan baik," sambung ibu.
"Iya sayang, itu pasti," goda Hanif pada ibu yang langsung mendaratkan pukulan ke pundaknya.
"Udah nih introgasinya?"
"Udah"
"Udah bisa pergi nih," goda Hanif lagi.
"Udah sana temui istrimu," ujar ibu.
Hanif memberi kecupan di pipi keriput ibu sebelum keluar dari kamar, dasar Hanif.
"Mas apa kata ibu," tanya Kanza cemas saat Hanif sudah kembali kekamarnya.
"Benar ingin tahu ibu bilang apa?" Kanza mengangguk pelan.
"Ibu bilang, cepatlah berikan dia cucu, kamu kan tau sudah tiga tahun adikku menikah tapi belum dikasih rezki anak, jadi ibu berharap kita segera memiliki anak, tapi masalahnya kita aja baru tahap pacaran gimana mau kasih cucu,?" ujar Hanif seraya menatap lekat bola mata Kanza.
"Apa harus sekarang ya mas?"
Hanif tersenyum dengan lembut dia membelai rambut hitam Kanza.
"Tidak sayang aku sudah bilang sama ibu agar bersabar, sebab kita masih pacaran," sahut Hanif dengan senyum.
"Sukurlah mas," sahut Kanza lega..
.
.
Happy reading.
Hay ketemu lagi sama hanif yang lagi jemur cucian, jangan lupa beri dukungan sama emak ya sayang 🙏🙏🥰
sukses sll 😇😇😇