Kisah cinta antara 2 insan yang berbeda agama, akankah bertahan selamanya?
Kisah ini mengisahkan tentang seorang pria Kristen yang jatuh cinta dengan wanita Muslim, mereka berjuang mempertahankan cintanya untuk bisa sampai pelaminan, namun rintangan dan ujian terus-menerus menerpa hidup mereka, ditambah dengan restu orang tua yang sulit sekali mereka dapatkan.
Bagaimana akhir kisahnya? Apakah mereka berhasil sampai pelaminan atau justru cinta mereka kandas di tengah perjalanan?
Mari saksikan kisah cinta mereka..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
"Jangan didengerin omongan si Samo, dia suka ngaco gitu anaknya." ucap Leon pada Kiana.
"Suka gitu? gimana maksudnya?" tanya Kiana tidak mengerti.
"Ya gitu, gak bisa liat yang bening dikit. Padahal harusnya bersyukur ada yg mau sama dia." kata Leon.
"Air kali bening." sahut Kiana.
"Emang lagi ngobrolin apa tadi sama Samo?" tanya Leon.
"Oh itu, tadi aku nanya ini minuman apa." kata Kiana.
"Udah tau ini minuman apa?" jawab Leon.
"Belum. emang ini apa?" Kiana melanjutkan.
"Miras." jawab Leon singkat.
"Mengandung alkohol?" Kiana memperjelas.
"Iya, bisa bikin mabok." ucap Leon.
Kiana terdiam sambil menatap beberapa botol minuman tersebut.
"Belom pernah minum ginian ya?" tanya Leon memecah tatapan Kiana.
"Belum. Haram." ucap Kiana
"Oiya, haram. Jangan diminum ya Kiana." kata Leon sambil mengusap kepala Kiana dan mengacak-ngacak rambut Kiana.
"Ih rese deh." kata Kiana sambil merapihkan kembali rambutnya.
"Yaudah gue tinggal dulu." Leon pamit.
"Yaudah gih sana." ucap Kiana.
Kiana beranjak dari tempatnya, mendekati Julian yang sedang mengobrol bersama Igi.
"Sini sebentar aku mau ngomong." kata Kiana sambil menarik tangan Julian.
"Sebentar ya, Gi." Julian pamit pada Igi
Kiana pun menyeret Julian ke meja tempat makanan akan dihidangkan.
"Kenapa sayang?" tanya Julian.
"Kamu jangan minum itu ya." kata Kiana sambil menunjuk botol minuman keras.
"Oh itu, iya tenang aja. Aku ga akan minum." Julian bilang.
"Janji ya?" kata Kiana.
"Iyaaa aku janji sayangku." Julian berjanji.
"Awas kalau bohong." ucap Kiana sambil menatap Julian dengan sinis.
"Engga." Kata Julian sambil mencubit pipi Kiana karena gemas.
Samo pun mendatangi mereka berdua.
"Buat gue aja nih yg ini." kata Samo pada Julian.
"Apaan maksud lo?" ucap Julian.
"Cewe lo. hahaha." kata Samo meledek.
"Yeee sinting lo." balas Julian sambil mengeplak pala Samo.
"Sakit anjir. Dah cepetan tuh ngumpul disana, jangan enak makannya aja lo." kata Samo.
Julian dan Kiana pun mendatangi tempat eksekusi bakar-membakar pada malam itu. Mereka menyantap beberapa daging dan sosis.
Kiana tiba-tiba sakit perut, entah karena terlalu banyak makan atau karena cuaca malam itu yg sangat dingin menurutnya.
"Aku ke toilet ya." Kiana pamit pada Julian.
"Iya." Jawab Julian.
Kiana pun bergegas menuju toilet lantai 2 yang dekat dengan kamarnya. Setelah dari toilet, Kiana merasa letih, badannya pun lemas, ia bergegas pergi ke kamar untuk istirahat membaringkan badan sebentar.
Ia menuju kasur, perlahan membuka selimut dan berbaring sambil memakai selimut diatas badannya. Kiana pun tertidur.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Sedangkan situasi di bawah.. Julian masih asik bercengkrama bersama teman-temannya.
"Pacar lo mana. Kok gak keliatan?" tanya Meri pada Julian.
"Tadi pamit ke toilet sebentar." kata Julian santai.
"Kok gak balik-balik? lo cek sana, tar pacar lo kenapa-kenapa." suruh Meri.
"Iya gue cek dulu." kata Julian
Julian pun bergegas mengecek toilet lantai 1, pintu kamar mandi terbuka, tidak ada Kiana disana. Lalu ia bergegas menuju toilet lantai 2, ia pun tidak menemukan Kiana disana.
Akhirnya ia menuju kamar Kiana, ia melihat Kiana yang sudah tertidur pulas. Ia pun menghampiri Kiana dan mencium keningnya.
Kemudian, ia kembali ke tempat semula berkumpul bersama teman-temannya.
"Gimana? Kiana dimana?" tanya Igi penasaran.
"Tadi gue culik, gue sekap dia." Samo menyaut.
"Ada kok di kamarnya." kata Julian.
"Iyaa tadi abis sama gue, dia kecapean, makanya gue tinggalin di kamar." Samo menyaut lagi.
"Jangan mulai lagi deh beb." ucap pacar Samo sambil menjewer kupingnya.
"Iya, iya, ampun beb." kata Samo.
"Stress emang cowo lo." kata Julian kesal.
"Jangan dimasukkin ke hati, lo kan tau kelakuan si Samo dari dulu emang begitu." kata Leon menenangkan Julian.
"Udah.. udah.. mending kita mulai yuk pestanya." kata Igi sambil mengambil beberapa botol miras.
"Gue gak minum ya." kata Julian.
"Ah cupu lo." kata Samo pada Julian.
"Gue udah janji sama Kiana buat ga minum." Julian menjelaskan.
"Persetan, minum tinggal minum. Ini acara kita, gak asik lo!" kata Samo.
"Minum dikit aja bro. Teguk dikit jangan sampe mabok, jadi ga ketauan sama Kiana." Kata Leon
Julian terdiam sejenak, bingung.
"Udah minum aja, tinggal minta maaf besok sama Kiana." lanjut Samo sambil membawakan satu botol untuk Julian.
Akhirnya Julian pun mengambil botol tersebut dari tangan Samo. "Iya sedikit aja, kalau ketahuan besok minta maaf sama Kiana." ucapnya dalam hati.
Teguk demi teguk Julian nikmati, tak terasa isi dalam 1 botol genggamannya pun sudah kosong, habis.
Malam berlalu sampai larut.. mereka pun sudah lelah menghabiskan malam bersama di ruang tengah lantai 1. Julian pun tertidur di sofa.
Tak lama, Meri pun inisiatif menuju lantai 2 untuk membangunkan Kiana agar membawa Julian ke Kamar.
"Kiana, bangun." kata Meri sambil duduk di pinggir kasur.
Kiana pun terbangun perlahan, "ada apa Mer?"
"Julian ketiduran dibawah, kamu bawa dia ya kesini. Kasian kalau tidur di bawah." kata Meri.
"Loh, kenapa kamu gak bangunin Julian saja? biar dia yang ke sini." tanya Kiana.
"Julian mabuk." ucap Meri.
"Hah? Mabuk?" Kiana kaget dan marah.
"Iya. kamu bawa kesini ya, kasian dia pasti badannya sakit kalau tidur di sofa." kata Meri.
Kiana merasa sangat kesal dan marah. Lagi-lagi Julian berbohong padanya, ia tidak menepati janjinya pada Kiana.
Kiana pun bergegas menuju lantai bawah untuk membangunkan Julian. "Julian, bangun." kata Kiana sambil menggoyangkan badan Julian.
Julian masih belum terbangun.
"Sayang, bangun." ucap Kiana yg kali ini menepuk pipi Julian.
Julian pun terbangun, "eh kamu."
"Ayo cepet bangun, pindah ke atas." kata Kiana.
"Iya, aku minta maafnya besok ya sayang." kata Julian setengah sadar.
Kiana pun membopong badan Julian, menuntunnya menaiki tangga hingga sampai di lantai 2 dan menuju ke kamar mereka.
Setelah sampai, Kiana membaringkan badan Julian di kasur. Lalu memasangkan selimut untuknya. Kiana berpindah ke sisi seberang kasur, duduk dipinggirannya. Marah, kesal, kecewa itu yg Kiana rasakan pada malam itu. Ia pun tak tau harus tidur dimana.
Julian pun yang setengah sadar melihat Kiana duduk di pinggir kasur, ia segera memaksakan diri untuk membuka mata dan mengembalikan kesadarannya sebisa mungkin.
Ia mendekap tubuh Kiana dari belakang, lalu berkata, "mikirin apa si sayang, sini yuk bobo sama aku." dengan perlahan berbisik di telinga Kiana.
Kiana yg masih kesal, berusaha melepaskan dekapan Julian, dan berkata "lepasin!" namun ia tidak bisa. Dekapannya sangat kuat seolah Julian tidak akan melepaskan dan membiarkan Kiana kemana pun.