Hi teman, ini adalah karya pertama aku di noveltoon.
Disini saya hanya belajar menulis, dan saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang perjalanan kehidupan, seorang Aditya Koesdiansyah.
Seorang pemuda tampan, yang menjadi tulang punggung keluarganya, setelah Dokter memvonis Ayahnya sakit.
Bagaimana kelanjutanya, tetep mampir di karya Author yang baru ini.
Karena insya Alloh Author akan rajin Update tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GANTENG KALEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMAN BARU
Di jam makan siang, Adit berada di ruangan kantin yang berbeda dengan Luna dan Ratna. Luna berada di Kantin Vip khusus, sedangkan Adit, berada di kantin staf, mengantri bersama karyawan staf yang lainya untuk mendapat makan siangnya.
Adit tidak menyadari, bahwasanya di dalam antrian sudah ada seorang lelaki yang memperhatikan dirinya sedari tadi.
"Hei, Bro. Ada anak baru kayaknya tuh?" ucap Aldoz pada salah satu temanya yang berada di samping.
"Mana?" tanya khoirul dengan kepala clingak clinguk mencari seseuatu.
"Itu loh, yang pake kemeja hitam putih." Aldoz menggedikan kepala pada Khoirul dan mengarahkan pandanganya pada Adit yang berada di antrian sebelahnya.
"Oh, itu. I ya, kayaknya. Anak baru tuh." Khoirul yang baru menemukan Adit dengan pandanganya.
Tak terasa kini bagian Adit mengambil tray makan siang di dalam antrianya.
Adit yang sudah mendapatkan tray makan siang, dia melangkah mencari meja kosong dengan pandangan yang ia edarkan ke kiri dan ke kanan.
"Hei, duduk sini." Aldoz melambai tangan pada Adit.
Adit tersenyum memandang dua orang laki laki yang belum dikenali dan ramah padanya.
"Terima kasih ya." Adit tersenyum dan meletakan tray makan siang di mejanya.
Setelah duduk, Adit langsung menghulurkan tangan mengajak berkenalan pada Aldoz dan Khoirul.
"Nama saya Adit, mas. Saya baru disini." ucap Adit mengawali percakapanya.
Aldoz dan khoirul membalas tahutan tangan Adit, menyebutkan namanya masing masing.
Walau baru bertemu, tetapi mereka bertiga sudah terlihat akrab layaknya teman yang sudah lama tidak berjumpa.
"Kerja di bagian apa, Dit?" Aldoz yang telah selesai dengan makan siangnya.
"Saya, driver disini." jawab Adit setelah selesai dengan minumnya.
"Driver?" tanya Khoirul.
"I ya, driver. Supir pribadi Non Luna tepatnya." Adit terkekeh pada Aldoz dan Khoirul.
"Wah, hebat juga kamu Dit." ucap Aldoz.
"Kalau kalian?" tanya Adit sambil memandang Aldoz dan beralih pada Khoirul.
"Kami berdua di bagian marketing," jawab Khoirul.
Mereka bertiga asik berbincang sampai bertukar nomer WA, hingga tak terasa bel berbunyi menandakan jam makan siang telah berakhir.
"Ok, kita ketemu lagi nanti. Udah di save kan nomernya." ucap Aldoz sebelum pergi.
"Ok, sip. Terima kasih." Adit kembali tersenyum.
Aldoz dan khoirul perlahan pergi meninggalkan Adit yang masih menunggu kedatangan Luna dan Ratna.
"Maaf, sudah lama nunggu ya." ucap Luna pada Adit yang terlihat berkutat dengan handphonenya.
Adit mendongak dan langsung berdiri dari duduknya, sedangkan Luna masih terfokus pada handphone Adit yang masih tergeletak di meja dengan menu WhatsAppnya.
"Gak juga, non. Kalian sudah selesai?" tanya Adit pada Luna dan Ratna yang berdiri di sebelah Luna.
"Sudah, ganteng." puji Ratna Adit yang memang aslinya ganteng.
"Lagi chat siapa?" tanya Luna.
Adit mengambil handphone dan mengirim chatnya yang sempat tertunda.
"Saya lagi balas pesan dari Galuh, Non." jelas Adit sambil memasukan handphone ke dalam saku bajunya.
"Ouwh, ya udah yuk." ajak Luna pada Ratna dan Adit.
Adit mengangguk dan mengikuti langkah kedua wanita tersebut.
Setelah sampai, Ratna kembali di meja sekretarisnya, sedangkan Adit stand by duduk di ruang tunggu yang jaraknya tidak jauh dari meja Ratna.
Sambil menunggu tugasnya, terlihat Adit mengisi TTS yang tersedia di meja ruang tunggunya.
Sesekali Ratna mencuri curi pandang melihat Adit dari meja kerjanya.
Ganteng banget tuh supir barunya si bos, cowok aku aja lewat kalau begini ceritanya.
Terdengar suara telepon kantor di meja Ratna, dan Ratna pun langsung mengangkat dan menjawabnya.
"I ya, ada yang bisa saya bantu." ucap Ratna pada seseorang di dalam teleponnya.
Ratna mengangguk dan menutup kembali panggilan teleponya. Dia berdiri dan menghampiri ruangan Luna.
Tok.. Tok.. Tok..
"I ya, silahkan masuk." seru Luna di dalam ruanganya.
Ratna memegang handle pintu dan membuka pintu ruangan dan memasukinya.
"Ada apa, Rat?" tanya Luna pada Ratna yang melangkah menghampirinya.
"Tadi pihak perusahaan orang tua David, menelepon dan memberitahukan kalau hari ini ada sesuatu yang harus di rapatkan." jelas Ratna.
Luna mengangguk dan berdiri dari tempat duduk kebesaranya. Ia merapihkan kembali berkas berkas di atas meja dan mengambil kunci mobilnya.
"Yuk," Luna melangkah di ikuti Ratna dari belakang menuju ruang tunggu menemui supir barunya.
"Dit," panggil Luna yang berhenti di pintu ruang tunggu.
"I ya, Non. Ada apa?" tanya Adit dengan siap.
"Tolong antarkan saya ke perusahaan Julian company." titah Luna.
"Siap, Bos." Adit menghampiri Luna dan Luna memberikan kunci mobil padanya.
Luna dan Ratna melangkah menuju lobi menunggu Adit menyiapkan mobil.
Tak berselang lama, Adit yang baru sampai depan lobi. Dia turun dan membukakan pintu Luna dan Ratna.
"Terima kasih, Dit." Luna masuk di kursi belakang. Sedangkan Luna duduk di depan di sebelah Adit.
Setelah mereka masuk, Adit menutup kembali pintu dan berlari kecil menuju pintu kemudinya.
Sepanjang perjalanan menuju Julian company. Adit sering ketahuan Ratna mencuri pandang lewat kaca depan memandang Luna.
Sepertinya kalian cocok Dit, andai saja statusmu lebih tinggi Dit, aku yakin Luna pasti mau menerimamu.
"Woy, fokus ke depan nyetirnya." suara Ratna membuyarkan Adit yang sedang asik memandang Luna lewat kaca depanya.
Adit merasa malu sekali, gerak geriknya telah di ketahui Ratna.
"Menurutku kalian cocok banget, yang satu ganteng dan satunya lagi cantik." ucap Ratna yang terdengar di telinga Luna.
"Ehem.. ehem...," Luna berdehem membuat Ratna merasa malu dan menghentikan ucapannya.
"Mau jadi mak comblang ya?, silahkan. Nanti aku potong gajimu 70%." ucap Luna dengan nada yang tidak begitu serius.
"Waduh, rugi bandar donk." jawab Ratna.
Adit tersenyum memandang Luna lewat kaca depanya yang tertawa kecil.
Buset, cantik banget.
semanhat bang😊😊😊