NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Tamat
Popularitas:965.6k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.

Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.

Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.


Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran

Lukamu hari ini adalah tertawamu di hari esok. Jangan bersedih, Allah selalu memiliki skenario terbaik untuk hamba-Nya.

🌿🌿🌿

Pagi telah datang, menyambut milyaran manusia dalam kesejukan. Setiap orang beraktivitas semana mestinya. Bangun, salat --bagi yang muslim-- mandi, sarapan, lalu bekerja ataupun belajar. Semua sama, hanya saja setiap orang memiliki prioritasnya tersendiri.

Ada yang berbeda di rumah Alina. Setelah mendapatkan kejutan chat dari Adnan. Ia dengan lantang menyampaikan niat baik laki-laki itu pada Papanya. Diterima baik, atau tidak? Biarlah itu menjadi urusan belakangan.

"Jadi, maksudmu Direktur Wijaya Land itu ingin datang meminangmu?" tanya Pak Willy pada Alina begitu selesai sarapan.

Masih duduk di kuris makan, Alina mengangguk.

"Kamu tidak lagi berbohong pada orang tua?"

"Untuk apa Alina berbohong," sahut Alina. "Kalau Papa tidak percaya. Tunggu kedatangan mereka nanti malam."

Bu Sinta menyunggingkan senyuman. Akhirnya impian menjadi mertua dari seorang direktur akan segera terwujud. Dengan itu, ia bisa memperalat Alina untuk memanfaatkan pemuda tersebut. Rio tak ada di sana, ia belum pulang dari semalam.

"Apa kamu kenal dengan Direktur itu?" tanya Pak Willy.

"Ya, dia pacarku," jawab Alina berbohong

"Sejak kapan? Bukannya kata Rio, kamu tidak punya pacar?" Bu Sinta ikut bertanya.

Alina melirik sekilas. "Sejak anda ingin menjodohkan saya dengan laki-laki tidak punya harga diri itu!"

"Alina, bicaralah yang sopan. Dia ibumu juga!" hardik Pak Willy.

Alina bangkit, menatap satu per satu pasangan suami istri itu. "Ibuku cuman satu, Pa. Beliau masih berjuang sendiri di alam bawah sadar. Papa bahkan sudah tidak pernah menjenguknya."

Alina pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Hari ini, ia tidak berniat keluar rumah satu jengkal pun. Mungkin rebahan seharian adalah pilihan yang terbaik. Toh, saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan. Bekerja pun, tidak.

❣️❣️❣️

Sementara itu di kantor, Adnan terus memegang gawai. Alina hanya membalas dengan kata Ya, tanpa ucapan apa pun. Kesal, mungkin itu gambaran hati Adnan. Setidaknya gadis itu mengucapkan selamat malam kembali.

"Dia benar-benar buat aku frustasi." Adnan mengacak rambut.

Hari berlalu begitu saja. Waktu telah menunjukkan pukul 17.00. Dengan cepat Adnan menyambar kunci mobil, lalu keluar hendak pulang. Saat melangkah masuk lift, terlihat Riki dan Riko pun ikut masuk.

"Gue bilangin Lia, lo tadi godain anak magang baru," ujar Riko menggoda kembarannya.

"Bambang, janganlah. Orang gue cuman nyapa bentar doang. anggap aja sebagai salam perkenalan," tampik Riki.

"Salam perkenalan bukan kayak gitu juga, Maemunah. Gue laporin ke Papa, baru tau rasa."

"Kakak kagak ada hati emang!" sungut Riki yang diikuti tawa dari Riko.

Adnan menggeleng, mereka dari kecil sampai sebesar ini pun masih sama. Tidak pernah akur.

"Eh, Pak Direktur. Tumben tuh muka ditekuk?" tanya Riki pada Adnan.

"Dia lagi PMS kali," sela Riko.

"Wah, si Bambang. Sepupu sendiri dikatain PMS. Patut dipertanyakan dong jenis kelamin Direktur kita!" Riki tak kuasa menahan tawam

"Berisik! Ini lift, bukan rumah sendiri!" seru Adnan.

"Yaelah, Nan. Santai dikit napa? Gue kasian nanti yang jadi istri lo," tutur Riki.

"Tiap hari ngomong sama triplek, datar mulu," tebak Riko.

Kedua anak kembar itu bertos ria. Mereka kompak menggoda Adnan. Mungkin kegilaan keduanya hanya bisa dilihat Adnan dan orang terdekat saja. Selebihnya, mereka tetap bersikap normal.

"Lo tegang amet. Mau ke mana emang?" Lagi-lagi Riko mengendus sesuatu yang tidak beres.

"Lah, emang Adnan mah orangnya tegang mulu," sela Riki.

"Gue nanya Adnan, Maemunah."

"Gue sukarelawan yang ngejawab, Bambang."

Telinga Adnan panas, perang mulut kedua sepupunya tidak berhenti bahkan sampai pintu lift terbuka. Riki berjalan lebih dulu, sedangka Riko mensejajarkan langkah dengan Adnan.

"Lo punya sesuatu yang disembunyiin?" tanya Riko kembali.

Karyawan yang berpapasan dengan mereka, menyapa dan sedikit membungkukkan badan. Adnan membalas dengan senyuman sembari terus melangkah menuju parkiran.

"Gue mau lamaran malam ini," jawab Adnan singkat.

Riko terperanjat kaget hingga ia sedikit melompat ke depan Adnan. "Kuping gue engga salah denger, kan?"

Adnan menggeleng.

"Siapa? Orang mana? Ketemu di mana?"

"Lo nanya apa introgasi gue?" Adnan balik bertanya.

"Gue detektif yang lagi introgasi buronan mertua. Udah, cepet jawab!"

Adnan menggeser badan Riko, karena menghalangi jalan. Ia meneruskan langkah menuju mobil dengan Riko yang masih diselimuti rasa penasaran.

"Namanya Alina. Masih satu kota. Ketemu 6 tahun lalu," jawab Adnan sembari membuka pintu mobil, masuk, dan membiarkan Riko berpikir di luar.

"Tunggu!" Riko mengingat sesuatu. "Jangan bilang cewek yang dulu kata Paman itu."

Adnan mengangguk.

"Wah, gila. Dunia sempit banget!" Riko berdecak, tak percaya.

"Kalau mau luas, bikin sendiri." Adnan menutup jendela kaca, kemudian melajukan kendaraannya dari parkiran. Ia harus bersiap-siap untuk acara malam nanti.

Sesuai rencana, semua telah dirangkai. Beberapa bingkisan Lisa persiapkan, untuk buah tangan ke rumah orang tua Alina. Ia penasaran bagaimana wajah gadis yang membuat anaknya goyah, dan luluh mengikhlaskan hatinya.

Seusai salat Isya, Adnan dan orang tuanya berangkat menuju rumah Alina. Sebelumnya ia sudah mengirim pesan kembali pada gadis itu, untuk mengingatkan akan acara tersebut. Selama di perjalanan ada rasa gugup yang Adnan rasakan. Tangannya terasa kaku, tidak seperti biasanya.

Rendy mengusap dua kali bahu anaknya. "Jangan gugup. Ini baru lamaran, bukan ijab qabul."

Perkataan itu seperti terdengar sebuah godaan, akan tetapi sebenarnya sebuah ungkapan agar Adnan tenang. 10 menit selanjutnya, sampailah mobil Adnan di depan rumah Alina. Satpam rumah Alina yang sudah mengenali mobil Adnan langsung membuka pagar, dan membiarkan mobil sport berwarna hitam itu masuk ke area rumah paling dalam.

Adnan dan kedua orang tuanya turun, mendekati pintu. Adnan mencet bel, menunggu seseorang membukakan pintu. Tidak disangka Alina yang membuka. Gadis itu tampak anggun dengan dress panjang setumit dengan lengan panjang, rambut tergerai tanpa riasan.

Seketika Adnan membeku. Terpana melihat gadis tomboy itu tampak berbeda.

"As-salamua'alaikum," ujar Adnan.

"Wa-alaikum salam. Mari, masuk Om, Tante " Alina menyapa Lisa dan Rendy, akan tetapi tidak dengan Adnan.

Mereka masuk, Pak Willy dan Bu Sinta menyambutnya. Lisa memberikan bingkisan yang ia pegang pada Bu Sinta. Selanjutnya semua orang duduk di sopa.

Tidak ingin membuang waktu Rendy memulai pembicaraan. Pak Willy sedikit tersentak, ia yang tidak percaya anak gadisnya dilamar seorang direktur pemilik perusahaan mitra kerjanya. Setelah para orang tua berbicara. Kini, tinggal Adnan bersuara. Laki-laki itu mencoba mengusik rasa gugup.

"Bismillah, Alina. Aku, Muhammad Adnan Fauzi ingin meminangmu menjadi istriku. Apa kamu bersedia menerimanya?" tanya Adnan. Pertama kalinya ia segugup ini.

Semua memandang Alina, menunggu gadis itu membuka mulut. Dari belakang tangan Bu Sinta mencubit punggung Alina, berniat menyadarka gadis itu dari khayalannya.

"Ya, aku bersedia," jawab Alina dengan yakin.

Keputusan terberat ia ambil malam ini. Dengan Adnan mungkin ia bisa keluar dari sini. Perihal bagaimana kehidupan rumah tangganya ini. Mari, pikirkan nanti saja.

Semua orang mengucapkan Alhamdulillah. Setelah itu, semua orang di sana mengobrol banyak hal. Hingga satu pertanyaan dari Pak Willy membuat Adnan tidak mengerti.

"Sejak kapan Nak Adnan pacaran sama Alina?" tanyanya.

Mata Alina membulat, tatapan Adnan padanya berbeda. Ia lupa mengatakan itu pada Adnan. Sudah pasti jawabannya mereka tidak berpacaran. Maka, orang tuanya pasti akan terus mengecap ia sebagai anak pembohong. Meski itu benar kali ini.

Lisa dan Rendy menoleh ke arah Adnan. Bukankah Adnan dan Alina?

"Baru seminggu, Om. Lalu, saya langsung berniat menikahinya. Tidak baik lama-lama berpacaran," jawab Adnan seolah mengerti permainan gila calon istrinya ini.

Pak Willy percaya, ia mengangguk. Adnan mengeluarkan ponsel, mengetik pesan, dan mengirimkan secepatnya. Beberapa detik kemudian, gawai Alina yang berada di atas sopa tempatnya duduk berbunyi. Alina meraih, membaca pesan, lalu melirik Adnan yang menyunggingkan senyum.

Cowok Gay

[Nanti, saat kita sudah menikah. Aku akan meminta imbalan atas kebohongan yang aku lakukan malam ini di hadapan orang tuamu]

Hati Alina kesal. Ia ingin sekali menggetok kepala Adnan dengan sepatu hak tinggi miliknya lagi. Hari pernikahan telah disepakati. Seminggu dari sekarang, tepatnya di hari Minggu depan nanti. Adnan akan mengucap ijab qabul di depan penghulu dan saksi.

...****************...

BERSAMBUNG~~~

Jangan lupa like, coment, dan vote.

1
Ma Selly
wah suami idaman
Ma Selly
wah ,awas adnan jangan sampe tergoda sama ulet bulu/Grin//Grin/
Ma Selly
adnan bercandanyakebangetan
Ma Selly
semoga adnan selamat dari kecelakaan mautnya
Ma Selly
kira kira siapa yah yg pake mobil merah
Ma Selly
semoga lily dan riko berjodoh
Ma Selly
haaahaaaa ada ada aja adnan bercandanya
Ma Selly
iya nikakan saja tuh si kembar riki dan riko ,di barengin aja nikahnya biar tambah rame/Grin//Grin//Facepalm/
Ma Selly
rasain lo rio makanya jd orang jangan jahat
Ma Selly
kasihan bu winda ,dia ga tau kalau pak willy sudah menikah lagi
Ma Selly
mudahan ibunya alina sadar dari komanya Aamiin
Ma Selly
siapa kira kira yg merekam
Ma Selly
oh jd begitu ceritanya
Ma Selly
kasihan lily ga ada yg menemaninya
Ma Selly
ketemu mantan kali ya
Ma Selly
usil sama istri sendiri ga masalah
Ma Selly
si masnya sudah mulai bucin akut
Ma Selly
mau ada pengantin baru nih
Ma Selly
ibu dan anak yang serakah
Dina Mulyana Syafitri
masyaAllah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!