Calista berasal dari keluarga yang mengalami dinamika kehidupan seperti kebanyakan orang. Papanya yang sabar dan berhati hangat, membuat keluarga Calista dapat bertahan. Tetapi banyak orang yang memanfaatkan kebaikan hatinya untuk mendapatkan keuntungan dengan menculasinya. Beruntung datang pertolongan dari sahabatnya, Tuan Lucas, sang konglomerat yang menyelamatkan tetapi harus ditukar dengan kebebasan Calista. Pernikahan mereka yang diawali dengan drama dan diikuti drama-drama berikutnya, membuat Calista semakin dewasa. Tuan Lucas mendidiknya menjadi seorang wanita yang ulung dalam berbisnis dengan mental baja dan percaya diri.
Rasa cinta muncul karena ketulusan Calista mengabdikan dirinya untuk suaminya walaupun ia tak mencintainya. Masalah muncul ketika ternyata Anak dari suaminya adalah sahabatnya di sekolah. Mantan isteri Tuan Lucas dan saingan bisnisnya menguji ketahanan mereka menghadapi masalah. Akankah Cinta Sang Mamah Muda dapat bertahan dan berakhir dengan indah? Langsung saja disimak. Jangan lupa tinggalkan jejak dalam karya perdana Winaka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Calista terbangun saat lewat tengah malam. Perut dan kakinya seperti tertindih sesuatu yang berat. Huh, ternyata kaki dan tangan pak tua yang membebani tubuhku. Dikira aku gulingnya, apa?! rutuk Calista kesal.
Wajah Tuan Lucas menghadap kearahnya. Dan terasa hembusan nafasnya ke ujung kepala Calista.
Akhirnya Calista kembali tertidur karena enggan membangunkan suaminya.
...****************...
Pagi harinya, Tuan Lucas memerintahkan Jerry untuk mengcancel semua jadwal hari itu dan menghandel perusahaan selama nyonya Lucas masih sakit.
Keadaan Calista sendiri semakin baik. Suhu tubuhnya sudah normal, dan selang infus pun telah dilepas. Tapi ia masih tertidur sampai matahari semakin tinggi. Tuan Lucas membiarkan karena tidak tega membangunkannya.
"Sore ini kita kembali ke rumah utama. Siapkan segala sesuatunya!" ujar Tuan Lucas pada Jerry yang akan pamit menuju perusahaan. Jerry mengangguk dan langsung berkoordinasi melalui HP nya.
...****************...
Saat terbangun, wajah Calista segera dilap dengan handuk basah yang hangat. Kemudian disuapi bubur oleh Tuan Lucas. Tanpa perlawanan, Calista menerima semua perlakuan Tuan Lucas padanya.
"Sore ini kita akan pulang ke rumahku. Kau pasti akan lebih nyaman disana, Mungil" kata Tuan Lucas datar.
Calista mengerjapkan matanya tanda mengerti.
Double What? pak tua menyebutku mungil? teriak Calista dalam hati.
Tak sadar Calista menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mandi, ya! aku siapkan air hangat untukmu di bathtub, " kata Tuan Lucas.
Calista hanya menurut tanpa komentar apapun. Walaupun airmukanya beku, Tuan Lucas sudah merawatnya dengan baik.
"Jangan berlama-lama, nanti kau masuk angin. Atau aku akan masuk dan menggendongmu lagi seperti waktu itu?" ancam Tuan Lucas yang membuat Calista mempercepat acara mandinya.
"Kenapa harus pakai ancaman itu, sih?" sungut Calista dengan bibir cemberut.
Tuan Lucas melirik dan merasa gemas sekali melihat wajah istrinya yang menahan kesal.
Setelah ashar, Jerry telah datang dengan beberapa pelayan yang membereskan pakaian dan perlengkapan kedua tuannya ke dalam koper dan tas. Lalu dengan mobil SUV mewah keluaran terbaru, mereka meninggalkan hotel dengan kawalan mobil di depan dan juga dibelakang.
Calista merasa takjub dengan protokoler atas diri Tuan Lucas. Ternyata semakin kaya dan berkuasanya seseorang, kebebasannya akan banyak yang terenggut. Berarti kata-kata, 'Sultan mah, bebas!' itu tidak benar dong, ya. pikir Calista.
Tuan Lucas dan Jerry sibuk dengan gadgetnya. Belum pernah Calista merasa kesepian saat dirinya dikelilingi oleh banyak orang. Hadeuh, pantas saja banyak orang kaya dan terkenal bunuh diri, batin Calista bergidik ngeri. Amit-amit jabang bocah, deh. Sepertinya aku juga sudah mulai gila karena lebih sering bicara sendiri, hiiiyyy...
Mobil didepan mereka berhenti didepan rumah yang lebih mirip istana dengan pagar yang tinggi. Pintu Gerbang terbuka dengan remote control dan menampilkan halaman luas dengan taman dan kolam ikan serta bangunan yang megah.
Calista terpana kagum melihat kemewahan yang terpampang sejak ia masuk gerbang tadi. Seberapa kaya Tuan Lucas yang tak pernah dilihatnya tersenyum ini, ya? Calista bertanya-tanya didalam hati.
Beberapa ratus meter dari gerbang, barulah mobil mereka sampai di bangunan seperti kastil di Eropa yang dilihatnya di media. sepasang orang yang kira-kira berusia 50 an berada di barisan paling depan. Kemudian di belakangnya berjejer puluhan perempuan dan laki-laki yang memakai seragam tosca dan putih terlihat menyambut mereka.
Jerry turun lebih dulu, membukakan pintu mobil untuk Calista. Sementara supir membukakan pintu untuk Tuan Lucas.
Calista bingung tak tahu harus berbuat atau bicara apa. Ia hanya tertegun menerima tatapan sepasang orangtua itu, sementara yang lain tidak berani menatapnya secara langsung. Tuan Lucas memeluk pinggangnya dan membimbingnya menerima sambutan.
"Selamat datang, Nyonya Lucas. Saya Tom dan ini istri saya, Nat. Kami adalah kepala pelayan dirumah ini, " sapa laki-laki tua yang sejak tadi bersikap resmi dengan sedikit menyunggingkan senyum. Istrinya, Nat, memandang lebih ramah namun ketegasan dan kewibawaannya tak kalah dengan suaminya. Heemm, sepertinya tak beda jauh dengan Jerry, mata Calista langsung melirik ke arah kirinya tempat makhluk kaku itu berada.
Ketika Calista hendak menyalami Tom dan Nat, Tuan Lucas mengeratkan pelukannya di pinggang, menahan agar istrinya tak menghampiri pasangan kepala pelayan itu. Saat melewati barisan pelayan, Calista hanya bisa tersenyum membalas anggukan hormat dari mereka.
Fiuh, aku tak mungkin hapal dengan pelayan-pelayan disini, keluh Calista dalam hati.
Tepukan tangan sekali dari Tom, membuat barisan pelayan itu seketika bubar tanpa suara. Tinggallah Tuan Lucas, Calista, Jerry, Nat dan Tom diruangan itu.
"Apakah nyonya akan berganti pakaian lebih dulu sebelum makan malam?" tanya Nat halus. Calista melirik pada Tuan Lucas, meminta persetujuan.
"Langsung makan malam saja. Kami lelah, " jawab Tuan Lucas padat.
Mereka menuju ruang makan yang didalamnya tersedia meja panjang dengan peralatan makan yang telah disusun. Setiap kursi ada seorang pelayan yang melayani. Tuan Lucas membawaku ke kursi sebelah kanan dari kursi dikepala meja.
Tuan Lucas dilayani langsung oleh Tom dan seorang pelayan lainnya. Sementara Nat dan seorang pelayan lainnya melayani Calista. Jerry yang duduk di sebelah Calista dilayani oleh pelayan lainnya.
Peralatan makan dihadapan Calista untungnya tidak asing baginya. Beruntung mama mengenalkan table manner padanya dan Lintang.
Lalu bergantian menu disajikan oleh pelayan, dari makan pembuka sampai makanan penutup. Hemmm... jika sekali dua makan seperti ini, tidak apa-apa. Tapi apa kabar jika aku ingin makan nasi padang atau nasi bungkus warteg?batin Calista.
setelah selesai makan, Jerry segera pamit pulang. Tuan Lucas menggandengku menuju kamar dilantai 3 dengan menggunakan lift. Calista benar-benar kagum kali ini pada Tuan Lucas, The Real Sultan.
Kamar Tuan Lucas sangat luas. Terdapat sofa besar dan tempat tidur king size ala peraduan raja-raja yang sering dilihatnya di film-film. Lalu saat Nat membuka kamar mandinya, benar-benar mewah dan pasti membuat dirinya betah berlama-lama berendam dengan aroma therapy yang terlihat lengkap di rak yang terdapat didekat wastafel.
Belum lagi ruangan wardrobe Tuan Lucas yang sepertinya lebih luas dari toko barang-barang branded yang pernah dimasukinya.
"Baru mengelilingi kamar Tuan Lucas saja sudah membuatku pegal!" keluhnya pada Nat, sehingga room tournya berakhir lebih cepat. Nat langsung membawanya ke ruang wardrobe khusus untuk Calista. Luasnya sama dengan ruangan wardrobe Tuan Lucas tapi belum sepenuhnya terisi. Gaun dan dress merek terkenal memenuhi satu lemari kaca. Ditengah ruangan terdapat showcase yang memperlihatkan beberapa set perhiasan lengkap, jam tangan, dan ikat pinggang. Disisi dekat jendela kaca yang lebar, terdapat meja rias besar yang lengkap tersedia peralatan dan perlengkapan make up dari merek terkenal. Tak jauh dari situ, pada rak kaca terdapat banyak botol parfume yang Calista tahu harganya sangat mahal.
Apa yang harus dikorbankan nya karena telah mendapatkan semua ini, tanya Calista jerih.
lanjutkan terus karyanya...
keren bngt ceritanya.. singkat.. gak smp ratusan bab.. tp terpatri di hati... thanks for all dearest...
🙏🥰💖👍💪👍💖🥰🙏