Bias Fajar Angkasa
&
Marsya Nanda Pramudita
ORION
Berawal dari sebuah pertengkaran antara seorang ketua geng motor yang bernama Angkasa dengan seorang ratu wacana bernama Marsya. Membuat keduanya saling dekat.
Apakah dihati mereka akan hadir perasaan saling suka ataukah tidak?
Disini juga menceritakan kehidupan suatu club motor di SMA Respati yang benama ORION.
Dengan semboyan mereka yaitu :
Dimana bumi dipijak, disitu kami melangkah.
Jangan lupa vote, like, and komennya ya!
Ini adalah novel kedua yang aku buat.
Semoga kalian suka sama ceritaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bola Basket
...Woy awas woy!...
...Awww pala gue!...
...______________________...
Hari ini Marsya berangkat ke sekolah dengan wajah kusut. Tak tahu kenapa, hari ini ia malas sekali datang ke sekolah.
"Hai big bos!" sapa Laras.
"Sya. Tumben tuh muka kusut?" tanya Kiran.
Marsya bergumam kecil. "Hmm, gak tau nih, gue hari ini males banget ke sekolah," lalu cewek itu duduk di tempat duduknya.
"Kirain lo abis ketemu Angkasa sama geng-gengnya di koridor," ucap Fina.
"Bener banget tuh. Biasanya lo masang muka kusut gitu kalo ketemu atau papasan sama Angkasa dan kawan-kawannya," imbuh Qinan.
"Ya kagak lah. Gue cuman males sekolah aja. Bukan karna ketemu sama tuh para penghuni neraka," ujar Marsya.
Keempat temannya kompak terkekeh geli. Sepertinya akhir-akhir ini Marsya dan Angkasa selalu berurusan. Entah itu tak sengaja bertemu atau berpapasan di koridor sekolah.
"Eh bentar dulu. Lo sakit?" tanya Laras dengan pandangan meneliti pada wajah Marsya yang duduk di sebelahnya.
"Enggak. Gue B aja, kenapa emangnya? Ada yang aneh dari gue?"
Laras menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia semakin meneliti wajah cewek yang ada di sebelahnya ini dengan mata memicing. Tidak ada yang aneh sih. Cuman ada yang berbeda. Bibir. Ya. Bibir Marsya terlihat aneh, atau lebih tepatnya pucat.
"Bibir lo pucet gitu soalnya, lo kenapa?" Laras menempelkan punggung tangannya pada dahi Marsya.
"Marsya berdecak sebal sambul mengobrak-abrik tasnya. "Apaan dah lo, lebay banget. Orang gue gak kenapa-kenapa. Gue cuman belom sarapan aja, jadi lemes. Trus nih bibir pucet karna gue lupa gak pake liptint doang," jelas Marsya. Laras hanya mengangguk singkat seraya berucap 'oh'.
"Ish, kemana sih tuh buku. Masa iya di colong tuyul, perasaan udah gue masukin tas deh semalem."
"Alah sok banget lo. Biasanya juga bodo amat. Yang penting otak dah pinter, buku ketinggalan gak jadi pikiran," ucap Fina.
"Hooh. Pas masih ada gak di peduliin. Eh, giliran ilang dicariin," sambung Laras mendramatisir.
Laras terkekeh geli mendengar ucapan Qinan yang lebih seperti sebuah curhatan."Curhat lo, Ras?"
"Betul tuh," sambung Kiran.
"Brisik lo pada. Bukannya bantu nyariin buku gue, malah buka sesi curhat. Lo juga Ras, buchin banget jadi orang," sergah Marsya.
"Sya, ada yang nyariin tuh di depan!" seru Andin sembari menatap ke arahnya sambil menjinjing plastik kresek yang entah apa isinya.
"Siapa, Ndin? Kalo gak penting-penting amat bilangin gue lagi gak mau diganggu."
"Gak tau gue. Cowok dua, keknya sih anak kuliyahan gitu. Samperin gih. Siapa tau penting."
"Cowok dua? Anak kuliyahan? Siapa tuh Sya?" tanya Qinan penasaran.
"Pasti abang gue tuh," gumam Marsya pelan.
Marsya menghembuskan napasnya perlahan. Arka? Cakra? Untuk apa kedua abangnya itu datang ke sekolah, ke kelasnya pula. Marsya berjalan ke arah pintu yang terbuka dengan lebar dengan langkah malas.
"Kan bener tebakan gue. Kenapa abang-abang gue ini ke sini?" tanyanya setelah menemukan dua abangnya yang tengah berdiri de hadapannya.
"Nih," Marsya menatap buku catatan yang di sodorkan Arka dengan kening mengernyit. Itu adalah bukunya yang sedang ia cari.
"Tadi gue masuk ke kamar lo buat minjem laptop bentar, tapi lo udah keburu berangkat," ucap Arka mengingat kejadian tadi pagi saat masuk ke kamar Marsya untuk meminjam laptop, tapi adiknya itu sudah keburu berangkat sekolah. "Gue nemuin ini di tempat tidur lo. Gue pikir ini tugas lo buat hari ini. Jadi gue anterin ke sini deh."
Marsya bergumam malas. "Hmm, iya abangku. Makasih ya," Marsya kembali berbalik badan setelah mengambil alih buku bersampul plastik itu. Bersiap untuk kembaki ke dalam kelas. Namun, Cakra sudah lebih dulu memegang tangannya.
"Eh, tunggu dulu!" Marsya kembali berbalik seraya menaikan satu alisnya.
"Apa?"
"Nih mama nitipin bekel buat lo. Katanya lo belum sempet sarapan tadi," Cakra menyodorkan kotak bekal kepada Marsya.
Marsya nyengir lebar. "Aduh mama emang terbaik deh. Perhatian banget sama anaknya yang cantik ini."
"Makasih ya bang Cakra."
"Hmm."
"Gue balik ke dalem kelas dulu ya abang-abangku," Marsya kembali membalikan badannya bersiap untuk masuk ke dalam kelas. Namun lagi-lagi ia di cegat oleh kedua abangnya.
"Apaan lagi sih bang? Kalian ke sini cuman mau nganterin buku sama bekel dari mama aja kan?" tanya Marsya.
"Lo kalo mau masuk kelas pamit dulu sama yang lebih tua. Jangan asal nyelonong aja. Nih salim sama abang dulu!" suruh Arka sambil menyodorkan tangannya.
"Iya, iya!" ucap Marsya malas. Kemudian Marsya meraih tangan Arka dan Cakra bergantian. Lalu mencium punggung tangan mereka.
"Gue masuk kelas dulu ya abang-abagku. Bye bye!" pamit Marsya kepada kedua abangnya. Lalu ia kembali masuk ke dalam kelas.
"Eh Sya! Cowok-cowok tadi siapa lo?" tanya Qinan.
"Abang gue tuh. Nganterin buku catatan sama bekel sarapan dari mama."
"Gila! Abang lo ganteng-ganteng banget ya!" ujar Laras.
"Inget Munggar Ras!" teriak Kiran dari tempat duduknya.
"Baru liat yang ganteng aja, mata udah kek jalang gitu lo, Ras, Ras!" cibir Fina.
Laras nyengir lebar. "Hehe. Khilaf gue Fin."
******
Siang ini, saat jam istirahat kedua dan dibawah terik matahari yang nampak jauh lebih menyengat dari hari-hari biasanya. Sekelompok siswa justru malah begitu bersemangat menggiring, mengoper, menembak, dan memasukan bola ke dalam ring basket.
Seorang dengan seragam osis yang di keluarkan dan kawan-kawannya tengah bermain basket di lapangan sekolah. Sorak-sorakan kecil terdengar riuh dari koridor-koridor kelas yang nampak ramai oleh kumpulan-kumpulan siswi yang sengaja meluangkan waktu untuk melihat anak-anak Orion yang sedang bermain basket atau mungkin untuk sekedar mengagumi dan melihat ketampanan dari sang ketua Orion. Bias Fajar Angkasa.
Pemandangan saat cowok-cowok itu di penuhi tetes-tetes keringat dan juga saat-saat tetes keringat itu mulai menetes dari kulit kepala mengalir ke pelipis lalu melewati rahang kokohnya hingga menetes, menjadi hal yang sangat sayanh untuk di lewatkan. Dan rugi jika tidak dapat melihatnya.
"Wish gila gak kuat gue liatnya. Jadi pengen ngarungin buat dibekel ke rumah."
"Gak kuat eneng bwang liatnya, mending langsung diboyong ke KUA yuk."
"Itu keringet itu keringet. Makin netes makin bikin tergila-gila!"
"Hush, kalo kak Maura denger kalian muji-muji kak Angkasa kek gitu, bisa abis lo pada."
Tiba-tiba Maura datang dan berdiri disebelah mereka. Menatap dengan tatapan sinisnya. Berdehem keras dan membuat siswi-siswi yang kebanyakan bernotebene sebagau adik kelasnya itu bungkam seribu bahasa.
"Udah berani kalian ngomongin gue kek gitu? Udah bosen hidup tenang kalian?"
Diam.
Tak ada satupun yang berani menjawab. Mereka hanya terdiam menunduk lalu pergi satu per satu meninggalkan tempatnya.
Meninggalkan Maura yang tengah tersenyum ke arah lapangan atau lebih tepatnya ke arah Angkasa.
Maura melambai-lambaikan tangannya ke Angkasa, namun tak pernah di tanggapi sama sekali. Membuatnya mendesah kecewa.
Entah apa lagi yang harus cewek itu lakukan agar Angkasa mau sedikit saja menoleh ke arahnya. Menjawab setiap sapaannya dan tersenyum kearahnya.
Di kelas XI IPS'2
Dengan raut wajah kesal setengah mati. Marsya melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Sungguh ia benar-benar kesal sekarang karena sejak ia tadi bangkit dari tempat duduknya, ada sesuatu yang terasa lengket pada bagian rok osisnya. Dan saat ia meraba-raba bagian belakang roknya, ternyata itu adalah sebuah bekas permen karet yang nampak sudah berwarna putih.
Jaka. Sudah pasti cowok tengik itu yang menjahilinya. Siapa lagi yang berani melakukan hal itu, jika bukan Jaka. Cowok yang selalu saja mencari-cari masalah dengannya. Cowok itu seakan tidak pernah insyaf menjahili Marsya.
"Jakkaa!! Sini lo curut!" pekikan suara nyaring membahana itu terdengar di sepanjang koridor kelas sebelas. "Pasti lo kan yang naro permen karet di kursi gue?! Ngaku lo kampret!"
Dengan tatapan sinis cewek itu menatap Jaka yang sedang bercengkerama dengan teman-temannya yang Marsya tau itu adalah anggota anak Orion.
Jaka menoleh ke arah Marsya dengan tampang watados. "Dih apaan lo. Fitnah tuh. Inget, fitnah itu kagak baik. Fitnah itu lebih kejam daripada gak fitnah sama sekali," kata Jaka. "Dosa lo, fitnah cowok cakep kayak gue. Entar lo kena azab gak ada satu cowok pun yang suka!" imbuhnya.
Marsya menatap Jaka dengan tatapan tajam. "Liat nih, gara-gara lo rok gue jadi kotor. Gue gak mau tau, lo harus bersihin rok gue kampret," ucapnya spontan.
Jaka menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan tawa. Memang benar, ia tang dengan jahil menempelkan permen karet pada kursi Marsya. "Gila omongan lo, Sya. Lo gak takut pas gue bersihin rok lo, gue ngapa-ngapain lo gitu? Gini-gini gue juga cowok normal lho."
Kampret! Bener juga tuh omongannya si curut. Masa gue suruh dia bersihin rok gue sih? Kalo dia macem-macem gimana?
"Jaka ih! Ke sini lo kampret!"
"Lo nya aja yang ke sini! Kan lo yang butuh."
Marsya menghentak-hentakan kakinya beberapa kali ke arah ubin putuh itu, kesal. Lalu ia berjalan ke arah Jaka dan juga teman-temannya.
"Ada apa sih sayang? Kangen ya sama abang Jaka yang ganteng ini?" tanya Jaka sembari menaik-turunkan kedua alisnya, jenaka membuat teman-temannya tergelak.
Marsya mengambil oksigen dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu cewek itu tersenyum lebar. Bahkan sangat lebar hingga kedua matanya mengecil sampai bola matanya nyaris tak telihat lagi. "Jaka...lo mau gue kasih hadian gak?" Marsya mengubah nada bicaranya menjadi semanis mungkin.
"Wih apaan tuh?" Jaka menaik-turunkan kedua alisnya. "Jado penasaran hamba."
"Mau tau aja atau mau tau banget nih?" Marsya menyelipkan anak rambutnya. Tersenyum malu-malu sembari mengedipkan matanya ala-ala cewek centil.
"Mau tau banget dong neng.." ucap Jaka dengan hiperbolanya.
"Oh gitu ya, yaudah. Lebih deketan sini dong kamunya!" tanpa pikir panjang, dengan tampang sok coolnya, Jaka berjalan mendekat ke arah Marsya.
Tanpa aba-aba sama sekali, Marsya langsung mengayunkan sebelah kakinya ke belakang, dan diarahkan ke arah Jaka.
Bugghh
"Nah tuh makan hadiah tendangan muridnya Thanos lo!"
"Auuh sialan lo, Sya!"
Sebuah tendangan Marsya di hadiahkan untuk Jaka tepat pada kaki cowok itu. Hingga cowok itu kehilangan keseimbangat dan jatuh terjerembab ke lantai koridor.
"Gimana rasanya? Enak kan tendangan gue?"
Suara gelak tawa memenuhi koridor tersebut. Mereka menertawakan posisi jatuhnya Jaka yang telungkup di lantai. Terlihat sangat lucu dan mengundang gelak tawa.
"Gila lo! Napa lo nendang gue?!" Jaka terduduk di lantai sambil menatap tajam ke arah Marsya.
"Hahaha. Napa lo duduk di lantai Jak? Udah kagak kebagian kursi duduk lo? Makanya jadi duduk ngagelosor di lantai. Hahaha," Marsya tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa keram. Tawa yang mampu menyebar dan menular, membuat semua orang ikut tertawa.
"Sialan lo Marsya! Dasar kampret! Awas aja lo!"
Setelah menghentikan tawa gelinya. Cewek itu langsung berlari menjauh meninggalkan Jaka yang sepertinya akan segera mengejarnya.
"Marsya, sini lo!"
"Wleee," Marsya memeletkan lidahnya ke arah Jaka yang masih berada di tempatnya. "Li duluan yang julid sama gue! Makanya jadi orang tuh jangan julid, apalagi julidin muridnya Thanos. Kena kan lo!" Marsya tertawa puas melihat Jaka yang berlari ke arahnya dengan kaki terpincang-pincang.
"Woyy! Berhenti lo, cewek sialan!"
Marsya tetap berlari tanpa mengindahkan teriakan Jaka. Sesekali ia juga menengok ke belakang untuk sekedar menjulurkan lidah atau menertawakan Jaka. Dan entah sudah berapa banyak orang yang ia tabrak, ia sama sekali tak peduli.
Kehebohan dan kebisingan terjadi akibat ulahnya. Untung saja hari ini, kebanyakan guru sedang ada urusan penting dan kebanyakan yang ada hanya guru-guru yang sudah berumur dan tentunya terlalu malas mengurusi murid-murid bengal seperti Marsya.
Gelak tawa kembali pecah disepanjang koridor yang mereka lewati. Melihat Marsya yang lari terbirit-birit dan juga Jaka yang berusaha mengejarnya di belakang menjadi hiburan tsrsendiri di tengah-tengah rasa bosan yang tengah melanda.
"Ah payah lo Jak jadi cowok. Ngejar gue aja kagak bisa lo," pekikan cewek itu kembali terdengar, tanpa repot-repot msnghentikan langkah cepatnya. Hanyabmenoleh sambil memeletkan lidah sebagai ejekan.
Brugghh
Sekumpulan siswi berteriak histeris saat tiba-tiba saja Marsya tak sengaja menabrak salah satu dari mereka, hingga membuat yang lain juga merasakan imbasnya.
"Haaaaa bedak gue retak!"
"Aaakhhh lipstik gue patah!"
"Kampret, maskara gue malah kena idung, huwaaa!"
"Emak gue kagak ridho. Lipstik gue beleber nyampe kuping. Aaakhh!"
Cewek yang menabrak mereka hanya terdiam sembari tersenyum lebar dengan kedua tangan yang ditangkup di depan dada, seperti tanda permintaan maaf.
"Abang jago! Sorry bang jago, ampun bang jago. Teteww tetewww!"
"Marsya! Berhenti lo, kampret!" Marsya menoleh ke belakang diikuti oleh kelima siswi tang tadi ditabraknya yang merupakan kakak kelasnya dari kelas 12. Matanya membulat, saat menemukan Jaka sudah hampir dekat ke arahnya.
"Wadidaw. Cepet juga larinya tuh boneka mampang!" tatapan Marsya kembali pada kelima siswi yang masih setia menatapnya murka. "Heee, tadinya gue mau main lama sama kalian di sini. Tapi maafkan hamba, mungkin takdir kita berbeda guys, hiks hiks. Semoga amal ibadah kalian diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Selamat jala."
Dengan kecepatan extra maksimal, Marsya langsung berlari kencang setelah merasakan tanda-tanda ia akan di kejar oleh siswi-siswi tersebut.
"Woy kejar tuh bocah woy! Gue kagak terima lipstik gue patah!"
"Sya! Jangan lari lo kampret. Berhenti lo!"
Marsya semakin menambah kecepatan larinya. Gila! Sekarang ia malah di kejar-kejar oleh lima orang siswi belum lagi ditambah Jaka yang sedari tadi mengejarnya. Rasanya Marsya bukan seperti ratu wacana Respati lagi melainkan sudah seperti maling ayam yang sedang di kejar-kejar massa.
"Akkhhh lontong-lontong! Eh, tolong-tolong gue di kejar satwa ragunan!"
"Selamatkan diri kalian anak-anak!!"
"Ya Alloh ya robby selamatkan lah hambamu ini dari kejaran para syaithon-syaithon yang terkutuk!"
"Akkhhh pak Thor. Pak Thanos!! Tolongin gue woy!" teriak Marsya kencang.
"Marsya! Berhenti lo cewek sialan!" teriak Jaka.
"Sya! Tanggung jawab lo bedak baru gue jadi retak!"
"Tangkep gue dulu, baru deh kalo lo semua bisa nangkep gue. Baru deh gue berhenti lari. Tapi kayaknya sih mustahil deh. Lo semua kan.."
"Kembarannya bekicot," sambung Marsya sebelum tawanya meledak dan kembali berlari kencang.
"Bedebah, lo sodaranya monyet ragunan. Awas aja kalo sampe ketangkep, gak gue kasih ampun lo!" Jaka mempercepat larinya mengejar Marsya yang sudah laru menjauh.
"Eh Sya! Lo pokoknya harus tanggung jawab. Berhenti lo kampret. Lipstik mahal gue patah gara-gara lo!" teriak siswi yang masih saja mengejar Marsya tanpa kenal lelah.
"Hahaha. Bekicot lo pada! Lambat amat larinya," Marsya menoleh dan menjulurkan lidahnya membuat Jaka dan kelima siswi itu semakin menggeram marah.
Alhasil kejar-kejaran antara Marsya dan Jaka serta kelima siswi itu terus berlanjut membuat pandangan Angkasa yang tengah bermain basket terganggu karenanya. Walaupun ia masih fokus dalam permainan bola basket, namun ia masih bisa melirik sekilas ke arah cewek itu dengan tatapan yang sedikit..
KESAL
Berulang kali ia mencoba kembali mengembalikan seratus persen fokusnya pada bola. Namun lagi-lagi suara derap langkah rusuh dan teriakan-teriakan mengejek kembali membuat fokusnya terbelah.
Sesekali ia melirik ke arah cewek itu yang berlarian di koridor kelas sebelas, tepat dibelakang Maura berdiri, yang justru malah membuat cewek itu tersenyum lebar dan melambaikan tangan ke arahnya.
"Semangat Ka!" ucap Maura dengan kedua tangannya yang dibentuk seperti corong.
"Sejak kapan lo sama si Maura, Ka?" tanya Munggar yang entah sejak kapan sudah berada di hadapannya dan mengambil alih bola yang sedang ia giring seraya mencetak senyuman miring.
"Sialan!"
Dengan gerakan cepat Angkasa mengejar Munggar yang nampak berusaha menerobos pertahanan dari teman se-timnya. Namun tampaknya cowok itu sedikit kesusahan untuk menerobosbya hingga bolanya berhasil di rebut oleh Nauval.
"Val, oper ke gue!" Nauval mengangkat tatapannya dan melemparkan bola ke arah Oji. Namun sayang, ia terlalu kencang mendorong bola tesebut hingga sasarannya meleset.
Dan tepat saat itu, Marsya tengah berlari kencang di pinggir lapangan sembari mengejek ke arah Jaka dan kelima siswi yang mengejarnya.
"Woy awas woy!!"
Bugghh
Bola besar itu terjatuh memantul beberapa kali dan menggelinding setelah mengenai kepala Marsya dengan keras hingga memberikan efek sakit yang berdenyut untuk cewek itu.
"Awww pala gue!"
...√...
Bersambung...
Wajib kasih vote, like, dan komen ya!!!
mulai ada konflik nih,,,, kaya nya bakalan ada baku hantam dan pengorbanan dan air mata nih hahahahahaha,,,
aku pembaca baru nih,,,, baru semalem nemu nya novel ini,,,,,
jadi aku bacanya marathon sampe skrg,,,,, semoga kedepannya ga bikin kecewa dengan menunggu up lama
konflik nya sedang aja jangan yg berat2