Awal Judul Ada & Tiada
Berawal dari kesurupan massal di malam puncak penerimaan mahasiswa/i baru menjadi titik awal temu mereka. Saling menyadari bahwa mereka sama, sama-sama hidup diantara mereka yang tiada namun sebenarnya ada.
Kisah tentang perjalanan sekelompok anak muda yang memiliki kemampuan sixth sense, melihat apa yang semestinya tidak terlihat, dan merasakan kehadiran mereka yang tak tersentuh.
Akankah mereka bisa menjalani hidup normal seperti orang lain?
Kisah mereka akan hadir setiap hari pukul tujuh malam. Jangan baca sendiri, siapa tahu kau sedang tak sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Breakfast Talk
"Kenapa sarapan pagi ini begitu banyak? Apa my baby hero sudah datang?" tanya Bayu ke Dita, Bayu dan Dita adalah kedua orang tua Dewa yang kini tengah berdiri di ruang makan.
"Ya, Baby Hero-mu itu sudah datang bersama teman-temannya dari Bandung." jawab Dita yang tengah membantu pelayan menyiapkan makanan untuk putra dan suaminya. Bayu pun mendekat ke arah Dita dan memeluknya dari belakang, pasangan ini memang sudah tak lagi muda namun sikap mereka tak kalah dari para kawula muda.
"Ish kau ini, mandi dulu baru sarapan, apa kau tidak malu pada putra mu?" tanya Dita, ia mencoba melepas pelukan sang suami, namun Bayu malah semakin mendekap erat tubuh Dita, baru saja Bayu ingin mencium leher sang istri Dewa sudah berdiri dibelakang mereka.
"Ish, ish, Daddy memang tidak pernah tahu tempat ya." ledek Dewa sambil bersedekap dan menggeleng-geleng kan kepalanya pelan. Bayu dan Dita memang kaget akan suara Dewa yang tiba-tiba terdengar, namun tidak membuat Bayu melepas pelukannya ke Dita.
"Hallo Son, kau ingin sarapan? Kata Mommy kau bawa teman-teman mu, mereka belum bangun?" tanya Bayu, ia masih bergelayut manja di tubuh istrinya, seperti sedang memanas-manasi Dewa yang tidak boleh merebut Dita darinya.
"Apa Mommy tidak ingin memeluk ku? Cih, katanya kangen tapi meluknya Daddy." ujar Dewa kesal, Dewa yang tidak di peluk Dita lebih memilih duduk dan mengoles selai di roti miliknya.
"Kau kan sudah besar, lebih baik kau cari pacar saja supaya tidak selalu merebut Mommy mu dari Daddy." balas Bayu asal, Bayu sudah dengar dari Dita jika Dewa akan datang ke Djogja bersama wanita idamannya.
"Jadi dimana perempuan-mu itu?" tanya Bayu ke putranya dengan suara yang begitu pelan hampir seperti sedang berbisik. Dita pun mencubit pinggang suaminya, ia sudah meminta suaminya untuk berpura-pura tidak tahu tapi justru kini bertanya terang-terangan ke Dewa.
Dewa yang ditanya tentang Arindita pun tak sadar kini sedang tersenyum sambil melihat ke arah roti yang sedang ia olesi selai, senyuman Dewa sontak membuat Bayu dan Dita kaget dibuatnya, setahu mereka Dewa paling tidak suka atau bahkan kesal jika ditanya tentang gadis yang sedang dekat dengannya, namun kali ini berbeda, Dewa jutru membalas pertanyaan mereka dengan senyuman. Dita dan Bayu pun berlari mendekat ke Dewa dan duduk di kursi meja makan mengapit putranya.
"Jadi siapa nama perempuan itu?" tanya Dita berbisik sambil merangkul pundak kanan Dewa, Dewa menoleh heran ke arah Mommy-nya itu.
"Apa dia cantik seperti Mommy-mu?" tanya Bayu yang ikut berbisik dan merangkul pundak kiri Dewa, Dewa berbalik menoleh ke arah Daddy-nya. Bukannya menjawab Dewa malah tertawa karena tingkah dan respon kedua orang tuanya.
"Kenapa kau tertawa? Daddy dan Mommy mu sedang bertanya, kau kan sudah janji akan cerita ke kami berdua jika sedang dekat dengan seorang gadis, apa kau lupa, Son?" ujar daddy-nya kesal karena Dewa tidak menjawab pertanyaannya dan istrinya.
"Sudahlah lagi pula aku belum ke tahap yang seperti Daddy dan Mommy fikir, kami baru bertemu Dad, aku tidak mau membuatnya menjauh dengan mengikatnya terlalu cepat. Aku takut nanti dia lebih memilih untuk tidak makan selama tiga hari karena aku memaksanya bersama ku." ledek Dewa sambil melirik ke arah kedua orang tuanya secara bergantian.
"Haish ... Kenapa anak ini bisa tahu tentang kejadian itu Honey?" tanya Bayu ke istrinya, ya itu adalah penggalan cerita tentang pertama kali kedua orang tua Dewa bertemu, setiap kali Dita mempertanyakan tentang gadis kepada Dewa, Dewa selalu mengulik kisah cinta kedua orang tuanya. Dewa sengaja bertanya untuk menjadikan alasan jika suatu hari mereka mempertanyakan hal seperti ini.
Tiba-tiba suara pintu tertutup pun mengalihkan pembicaraan dan pandangan ketiga anggota keluarga kecil nan bahagia itu. Betapa terkejutnya Dewa kini Arindita berdiri di depan pintu kamarnya dan memandang bingung ke arah Dewa dan kedua orang tuanya.
"Ah maafkan aku Tante, Om, aku tidak tahu jika kalian ...." ucapan Arindita pun terputus karena Dewa bergegas lari dan menghalangi pandangan kedua orang tuanya ke Arindita, dengan nafas yang terengah-engah ia mencoba tersenyum ke Arindita. Bayu yang sadar bahwa gadis yang sedang berdiri di sana adalah gadis yang sedang mereka bahas di meja makan.
"Sepertinya aku tahu gadis mana yang sudah meluluhkan hati anak nakal itu. Bisa juga dia memilih perempuan, gen ku memang terbaik." bisik Bayu di telinga sang istri, Dita pun masih memandangi Dewa dan Arindita sambil menyunggingkan seutas senyuman di bibirnya.
"Kenapa kau berlari Wa?" tanya Arindita penasaran, belum juga Dewa sempat menjawab, Al, Aldi, Ari, dan Awan sudah ada di depan kamar mereka. Mereka semua terpaku menatap Dewa yang sedang berdiri di depan kamar para gadis. Arindita pun ikut menoleh ke arah sumber suara.
"Wah, pagi-pagi sudah gencatan sejata saja kamu Wa." ledek Awan, Dewa pun kikuk dibuatnya. Dewa benar-benar sudah skakmat, entah bagaimana ia harus menjelaskan keadaan ini ke teman-temannya dan Arindita.
"Kalian sudah bangun? Ayo kita sarapan bersama-sama." panggil Dita dari meja makan, Dita pun berdiri lalu menyiapkan sarapan untuk semua orang. Dewa pun menghela nafasnya lega.
"Thank you Mom, Mommy memang penyelamat ku." ucap Dewa dalam hati.
"Selamat pagi Om, Tante, maaf jika kedatangan kami merepotkan Om dan Tante." ujar Al yang mencoba lebih dulu menyapa keluarga Dewa.
"Tidak masalah, Tante senang kalian bisa datang ke rumah Dewa yang begini adanya. Maaf kami tidak menyambut kalian semalam, kami ketiduran." ucap Dita ke semua teman-teman Dewa.
"Bukan ketiduran tapi kelelahan karena Daddy." celetuk Dewa ke mommy-nya. Arindita pun menarik baju Dewa pertanda bahwa Dewa tidak boleh berucap seperti itu ke orang tuanya. Dewa yang paham maksud Arindita pun tiba-tiba meminta maaf ke kedua orang tuanya.
"Ah, maafkan Dewa Mom, Dewa hanya bercanda." ucapnya sambil nyengir kuda, Dita dan Bayu pun saling melirik dan kembali menatap ke Dewa.
"Hahaha, sudah ayo semuanya ke sini, maafkan kami bertiga yang selalu seperti ini dari dulu." ucap Bayu. Mereka pun kini sudah sarapan bersama di meja makan. Dita begitu semangat menuangkan lauk di piring para gadis, hingga si kembar, Haura dan Arindita speachless melihat tingkah tante Dita.
Selesai makan bersama mereka pun duduk di ruang tengah sambil bermain gadget mereka masing-masing. Dita dan Bayu yang sudah selesai bersiap-siap pun berpamitan ke Dewa dan teman-temannya.
"Dewa, Mommy sama Daddy mau ke rumah Grandpa dulu ya, kau pasti sudah punya acara sendiri kan?" tanya Dita. Semuanya pun berhenti dari kegiatan main gadget mereka dan menatap ke arah kedua orang tua Dewa.
"Hm, kita mau jalan-jalan mungkin akan kembali tengah malam Mom, biasa anak muda." ucap Dewa sambil tersenyum.
"Ya sudah, nanti berkabar ke Mommy ya. Semuanya Om dan Tante pamit dulu, selamat bersenang-senang ya, jangan lupa ajak teman-teman mu makan Wa." ucap Dita ke Dewa dan semua teman-temannya.
"Siap Tante." jawab mereka kompak. Dewa mengantarkan kedua orang tuanya sampai masuk mobil.
"Hati-hati di jalan Dad." ucap Dewa sambil melambaikan tangan ke arah mobil orang tuanya yang sudah semakin jauh dari penglihatan. Dewa pun kembali masuk ke dalam rumahnya dan bergabung dengan teman-temannya.
"Apa itu benar Al?" tanya Awan ke Al, Dewa yang baru saja gabung pun bingung apa yang sedang teman-temannya bahas saat ini.
"Kalian sedang bahas apa?" tanya Dewa penasaran.
"Ini loh Wa, katanya di kampus kita ada komunitas yang mengaku-ngaku bahwa mereka bisa menyembuhkan segala macam penyakit yang tidak bisa diobati oleh para medis." ujar Awan sambil menunjukkan bukti percakapan chat Awan dengan teman kampusnya.
"Apa itu benar Al?" tanya Dewa penasaran, Al pun mengangkat bahunya karena ia sendiri masih belum tahu betul desas-desus berita itu.
Bersambung ....
semangat Kaka Arin...lanjuttt yaaa
kalo Ari suka Haura Krn sbg adik saja kan
TPI aku terharu Aldi bisa juga mengikhlaskan Anita dan TDK menganggap Haura bayangan nya Anita...