NovelToon NovelToon
PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: GUNCANGAN KECIL DI RUANG RAPAT (REVISI)

Bab 14: Guncangan Kecil Di Ruang Rapat (Revisi)

Pendingin ruangan di lantai tiga puluh menara Elrod Corp seakan tidak lagi mampu meredam hawa panas yang membakar ruang rapat utama. Kertas tuntutan resmi berlogo emas minimalis dari Pecunia Corp masih tergeletak di tengah meja marmer, dikelilingi oleh tatapan cemas belasan jajaran direksi.

Gilbert Elrod berdiri di dekat dinding kaca besar, memunggungi ruangan. Kedua tangannya bertumpu pada pinggang, napasnya terdengar berat dan tidak beraturan. Di bawah sana, jalanan ibu kota yang padat tampak seperti labirin yang sedang mengunci pergerakan bisnisnya. Proyek jalan tol seksi empat bukan sekadar proyek biasa; itu adalah pilar utama yang menyokong valuasi saham Elrod Corp di bursa efek untuk kuartal ini.

"Tiga puluh dua miliar rupiah," suara Gilbert terdengar parau namun sarat akan amarah yang tertahan. Dia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Nicholas yang duduk dengan wajah pias. "Dan kamu bilang, uang itu sengaja kamu tahan untuk mempercantik laporan kas? Sekarang lihat! Kementerian Pekerjaan Umum baru saja mengirimkan telegraf peringatan resmi. Jika dalam dua puluh empat jam pengecoran fondasi jembatan tidak dilanjutkan, izin konsesi kita di koridor Jawa Barat akan ditinjau ulang!"

Nicholas menelan ludah dengan susah payah, jemarinya meremas pulpen premium di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Pa... saya sudah mengerahkan tim hukum untuk mencari celah kontrak lama dengan para vendor. Kita bisa menuntut mereka atas tindakan sabotase operasional secara sepihak."

"Bodoh!" Gilbert menggebrak meja dengan kepalan tangannya hingga cangkir kopi di dekatnya bergetar. "Apa kamu tidak membaca pengalihan piutang (cessie) yang mereka kirim?! Hak tagih itu sudah dibeli secara legal oleh Pecunia Corp! Begitu utang itu berpindah tangan, seluruh klausul lama batal demi hukum. Mereka punya hak veto mutlak atas pasokan material karena kita yang gagal membayar tepat waktu! Secara hukum korporasi, posisi kita lumpuh, Nicholas!"

Suasana ruang rapat semakin mencekat. Para manajer finansial hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Mereka semua tahu bahwa kas internal perusahaan saat ini sedang terkunci untuk pendanaan proyek properti lain yang dipegang oleh Christian, membuat likuiditas Elrod Corp berada di titik paling kritis tahun ini.

Gilbert memejamkan matanya, mencoba meredakan denyut di pelipisnya yang kian mengencang. "Nicholas, hubungi bank kustodian kita. Lakukan penarikan darurat dari dana cadangan obligasi, apa pun caranya. Kita harus melunasi tiga puluh dua miliar itu sebelum jam penutupan bursa sore ini. Jangan biarkan berita ini bocor ke telinga para investor di lantai pasar modal."

"Tapi Pa, kalau kita menarik dana cadangan obligasi tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), saham kita bisa dituduh mengalami malversasi oleh otoritas bursa," bantah Nicholas dengan suara melemah.

"Lalu kamu mau melihat proyek tol itu disita dan nama Elrod Corp hancur di halaman depan koran finansial besok pagi?!" bentak Gilbert dengan tatapan yang sanggup membungkam seluruh ruangan. "Lakukan sekarang! Dan pastikan setelah uang itu ditransfer, gerbang proyek kembali dibuka!"

Sementara itu, di lantai sepuluh Gedung Griya Cakrawala, atmosfer justru terasa begitu tenang dan terkendali. Valerie Vespera berdiri di dekat jendela besar, memegang sebuah analisis pasar modal yang baru saja dicetak oleh mesin komputer di belakangnya. Kemeja putih kasualnya tampak kontras dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit Sudirman yang angkuh.

Julian Prakasa melangkah masuk setelah menerima panggilan telepon dari sistem kliring perbankan pusat. Wajahnya dilingkupi oleh ekspresi takjub yang tidak bisa disembunyikan.

"Nona V," ucap Julian, membungkuk hormat dengan kepatuhan mutlak. "Kalkulasi Anda tidak meleset satu inci pun. Baru saja, tepat pukul sebelas siang, sistem perbankan kami mencatat adanya aliran dana masuk sebesar tiga puluh dua miliar rupiah dari rekening darurat Elrod Corp. Mereka benar-benar menggunakan dana cadangan obligasi mereka untuk menebus surat utang ini."

Valerie tidak membalikkan badannya. Dia hanya melirik sedikit ke arah pergerakan angka di tablet digital yang tergeletak di atas meja kerja mahoni hitamnya. "Mereka tidak punya pilihan lain, Julian. Gilbert Elrod adalah pria yang terlalu mencintai reputasi palsunya. Dia lebih memilih melanggar aturan bursa dengan menarik dana cadangan daripada harus menanggung malu di depan kementerian."

Valerie berbalik perlahan, berjalan menuju kursi kebesaran kulitnya dan mendudukkan tubuh tirusnya dengan keanggunan seorang kaisar sejati. "Dana dua puluh dua miliar empat ratus juta yang kita gunakan untuk membeli piutang semalam, kini kembali dalam wujud tiga puluh dua miliar tunai. Bersih, dengan keuntungan instan hampir sepuluh miliar rupiah dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."

Julian menarik napas dalam, merasakan sensasi kemenangan yang luar biasa. "Lalu, apakah kita akan melepaskan penahanan logistik di lapangan sekarang, Nona V?"

"Lepaskan," jawab Valerie datar, jemari rampingnya mengetuk permukaan meja kayu dengan ritme yang konstan. "Biarkan truk-truk semen itu masuk ke lokasi proyek mereka. Tapi pastikan tim IT kita merekam kode transaksi penarikan dana darurat yang digunakan Gilbert hari ini. Rekaman itu akan menjadi amunisi yang sangat berharga saat kita merilis sabotase laporan keuangan mereka ke OJK beberapa bulan ke depan."

Valerie menopang dagunya dengan satu tangan, sepasang mata hitam pekatnya memancarkan kilatan dingin yang teramat hambar. "Guncangan kecil di ruang rapat mereka hari ini barulah awal dari retaknya fondasi dinasti Elrod. Mari kita biarkan mereka bernapas lega untuk beberapa hari ini, sebelum kita menghantam pilar bisnis mereka yang berikutnya."

Sore harinya, ketika matahari mulai tenggelam di balik megahnya kawasan Menteng, Gilbert Elrod pulang ke rumah dengan langkah kaki yang tampak sangat lelah. Meskipun masalah logistik semen di lapangan berhasil diselesaikan setelah pembayaran tunai ditransfer ke Pecunia Corp, tekanan mental yang dia rasakan hari ini benar-benar menguras seluruh energinya.

Di ruang tengah, Victoria dan Alethea sudah menunggu dengan wajah penuh kecemasan. Mereka bisa merasakan atmosfer berat yang dibawa Gilbert dari kantor pusat sejak beberapa hari terakhir.

"Pa... bagaimana urusan di kantor?" tanya Victoria lembut, membantu melepaskan jas hitam suaminya. "Apa perusahaan asing bernama Pecunia Corp itu sudah berhasil diatasi?"

"Sudah," jawab Gilbert pendek, menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa kulit dengan helaan napas yang berat. "Urusan semen sudah selesai. Tapi kita harus kehilangan likuiditas cadangan dalam jumlah besar hanya untuk meladeni permainan mereka."

Gilbert menoleh ke arah Nicholas yang baru saja masuk mengekor di belakangnya. "Nicholas, besok pagi, buat audit internal untuk seluruh lini bisnis kita. Aku tidak mau ada celah sekecil apa pun yang bisa dimanfaatkan oleh Pecunia Corp lagi. Entitas itu... mereka seperti bisa membaca setiap langkah dan kelemahan arus kas kita dengan sangat akurat."

Alethea yang mendengar pembicaraan itu dari sudut ruangan hanya bisa meremas ujung gaun rumahan mahalnya dengan rasa kesal. Kegagalan detektif sewaannya untuk membuntuti Valerie kemarin, ditambah dengan kepanikan Gilbert hari ini, membuat suasana di dalam mansion Menteng terasa makin tidak aman baginya.

Tepat pada saat itu, Valerie Vespera melangkah masuk melewati pintu belakang dapur kotor setelah berjalan kaki dari stasiun MRT. Dia berjalan melewati ruang tengah dengan ketenangan yang konstan, mengabaikan seluruh tatapan tegang dari keluarga Elrod yang sedang berkumpul di sofa.

Tas kanvas usangnya tersampir longgar, dan wajahnya tetap sedatar es. Dia melangkah menuju pintu koridor bawah tanah, kembali ke dalam kamar gudangnya yang pengap, meninggalkan guncangan besar yang baru saja dia ciptakan di dunia atas tanpa meninggalkan satu pun jejak pembuktian.

Bersambung...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Kustri
byk bgt kata draf🤔
masijacoke021205: Halo Kak, mohon maaf ya atas ketidaknyamanannya terkait banyaknya pengulangan kata di bab sebelumnya. Itu murni kesalahan teknis saat proses upload. Bab-nya sudah saya perbaiki dan rapikan sekarang. Terima kasih banyak sudah teliti dan memberikan masukan, Kak. Selamat membaca!
total 1 replies
Kustri
pdhal butuh bertahun" mempelajari bisnis, apalg ttg bursa
Kustri
diulang apa yaa
pas val ke dapur ketemu mbok darmi🤔
Kustri
dibalikin aja didpn tamu undangan... masa anak kandung tak diakui tidur di gudang tak diberi fasilitas, apa gk malu tuh ortu🤭
Kustri
belilah ponsel yg memadai val
Kustri
qu gk mudeng ttg saham, tp penasaran sm val
Kustri
owh.... iya ya... kan val sdh ngalami ini yaa🤭jd tinggal eksekusi👍
Kustri
knp baru kepikiran melaksanakan poin" itu stlh dijemput
gk pd saat di panti🤔
aaaah.... mgkin kendala dr ponsel pintar ya💪
Moreno
draf dref draf dref 😑
Moreno
gimana caranya uang tunai tiba2 masuk menjadi saldo digital
masijacoke021205: Sudah diperbaiki ya, Kak! Terima kasih banyak bantuannya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!