Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Bali itu tempat buat santai, Alexa. Bukan buat bongkar muat mesin!"
Suara Zyan bergema di dalam kamar mereka yang sekarang sudah bersih dari bedak bayi karena Bi Ijah dan pelayan lain nya yang bekerja ekstra keras kemarin. Zyan berdiri di depan kopernya yang tertata sangat rapi, hanya berisi kemeja linen, celana pendek bahan premium, dan perlengkapan mandi merk ternama.
Sementara itu, di sisi lain tempat tidur, Alexa sedang berjuang menutup koper hitam besarnya yang tampak hampir meledak.
"Ya justru itu, Om! Di Bali kan banyak jalanan bagus, siapa tahu gue nemu bengkel keren atau ada motor mogok di pinggir jalan. Gue harus siap sedia!" balas Alexa sambil menduduki kopernya agar ritsletingnya bisa dikunci.
Zyan mendekat, lalu dengan paksa membuka sedikit ritsleting koper Alexa. Matanya membelalak. "Alexa... kenapa ada satu set kunci inggris, busi cadangan, dan jaket kulit tebal di dalam sini? Kita ke Bali, suhunya tiga puluh dua derajat Celcius, bukan ke pegunungan Alpen!"
"Ya kan buat jaga-jaga! Terus ini jaket kulit kan fashion gue, Om. Masa gue ke pantai pake daster? Bisa turun kasta gue sebagai anak motor!"
Zyan memijat pangkal hidungnya. "Dengarkan saya. Di sana kita akan menginap di resort privat. Kamu tidak perlu bawa peralatan bengkel. Keluarkan itu semua, ganti dengan baju yang... lebih pantas untuk liburan."
"Nggak mau! Ini udah paling pantas!"
Zyan tidak menyerah. Ia menarik paksa kunci inggris itu keluar dari koper Alexa. "Kalau kamu tetap bawa ini, saya sita kunci ZX kamu selama sebulan setelah kita pulang dari Bali."
Alexa langsung membeku. "Eh! Mainnya anceman mulu! Curang!"
"Pilih: Kunci inggris atau kunci ZX?"
Alexa mendengus kasar, lalu dengan gerakan ogah-ogahan ia mengeluarkan peralatan mesinnya. "Oke, oke! Puas lo?! Terus gue harus bawa apa? Gue nggak punya baju pantai yang pantes menurut standar lo."
Zyan tersenyum miring. Ia berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan sebuah tas belanja besar dari butik terkenal yang ternyata sudah ia siapkan diam-diam. "Saya sudah membelikan beberapa baju untukmu. Cobalah."
Alexa menerima tas itu dengan curiga. Ia membukanya dan mengeluarkan isinya satu per satu. Ada beberapa sundress pendek berbahan katun yang sangat ringan, celana pendek denim yang sopan, dan beberapa kaos polos dengan potongan yang pas di badan.
"Ini... ini bukan bikini kan?" tanya Alexa sambil memicingkan mata.
"Saya tahu seleramu. Saya tidak akan memaksamu memakai bikini karena saya juga tidak rela aset saya dilihat orang lain," ujar Zyan dengan nada posesif yang tiba-tiba keluar begitu saja.
Alexa tertegun sebentar, hingga jantungnya ingin melompat keluar dadanya. "A-aset... aset pala lo peyang! Gue bukan barang dagangan!"
"Maksud saya, kamu istri saya. Jadi, pakai baju yang nyaman saja. Ada satu oversized shirt warna putih yang saya pilihkan, itu cocok dipakai kalau kamu mau main di pinggir pantai."
Alexa melihat kaos putih itu. Bahannya sangat lembut dan agak menerawang sedikit kalau terkena air, tapi modelnya tetap gaya Alexa banget. "Ya udah, ini boleh lah. Makasih, Om Duda."
Hari keberangkatan pun tiba. Di Bandara Ngurah Rai, udara panas langsung menyambut mereka. Zyan tampak sangat segar dengan kacamata hitam dan kemeja linen biru muda yang kancing atasnya dibuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Alexa? Dia tetap setia dengan kaos hitam bergambar tengkorak, celana kargo pendek, dan sepatu boots Docmart yang beratnya satu ton.
"Alexa, bisakah kamu berjalan lebih cepat? Supir villa sudah menunggu," ujar Zyan.
"Bentar napa! Ini sepatu gue berat tau!"
Begitu sampai di villa di daerah Ubud, Alexa langsung terpana. Villa itu berada di pinggir tebing yang langsung menghadap ke lembah sungai Ayung. Hutan hijau yang lebat ada di depan mata, dan suara aliran air terjun terdengar samar-samar.
"Wah... gila! Ini mah keren banget, Om!" Alexa langsung lari ke arah balkon. "Liat tuh! "
Zyan tersenyum melihat kegembiraan istrinya. "Saya senang kamu menyukainya. Di sini sangat tenang, cocok untuk kita... mengobrol lebih banyak."
"Ngobrol atau mau ngintimidasi gue lagi?" celetuk Alexa sambil menoleh.
"Tergantung perilaku kamu."
Malam pertamanya di Bali dimulai dengan makan malam romantis di pinggir kolam renang pribadi mereka. Meja sudah dihias dengan bunga kamboja dan lilin-lilin kecil. Zyan sudah berganti pakaian lebih santai, sementara Alexa terpaksa memakai salah satu sundress pemberian Zyan karena koper pakaiannya tadi mendadak macet ritsletingnya.
"Gue ngerasa aneh pake ginian. Kayak ada angin masuk dari bawah," keluh Alexa sambil menarik-narik ujung gaunnya yang mencapai tengah paha.
Zyan menatap Alexa tanpa berkedip. Alexa yang memakai gaun bunga-bunga kecil dengan rambut wolfcut yang sedikit berantakan ternyata terlihat jauh lebih manis dan... feminin. "Kamu cantik, Alexa."
Alexa yang sedang memotong steak hampir saja menjatuhkan garpunya. "H-hah? Apa lo bilang? Lo pasti sakit ya gara-gara jamu dari nyokap lo kemarin?"
"Saya serius. Kamu jauh lebih cantik saat tidak tertutup oli dan debu jalanan."
"Cih, dasar modus."
Setelah makan malam, suasana menjadi sedikit lebih intim. Suara jangkrik dan gemericik air sungai menciptakan atmosfer yang sangat mendukung untuk baper-baperan. Zyan menuangkan segelas jus jeruk untuk Alexa, karena dia tahu Alexa tidak minum alkohol.
"Alexa, saya mau tanya satu hal jujur," ujar Zyan sambil menatap mata Alexa lekat-lekat.
"Apaan? Serius amat."
"Kenapa kamu sangat terobsesi dengan motor? Maksud saya, kamu cewek, mahasiswi teknik, tapi seolah hidupmu hanya untuk aspal."
Alexa terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit Ubud yang penuh bintang. "Karena di atas motor, gue ngerasa nggak ada yang bisa ngatur gue, Om. Pas gue narik gas, suara mesin itu kayak ngebunuh semua suara berisik di kepala gue. Gue ngerasa... bebas. Nggak ada ekspektasi dari orang tua, nggak ada tuntutan buat jadi cewek cantik yang penurut. Cuma ada gue, mesin, dan jalanan."
Zyan mendengarkan dengan saksama. "Lalu, sekarang setelah kamu menikah dengan saya yang hobinya ngatur, apa kamu merasa kehilangan kebebasan itu?"
Alexa menoleh, menatap Zyan. "Awalnya iya. Gue benci banget sama lo karena lo kayak penjara buat gue. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi akhir-akhir ini... entah kenapa, gue ngerasa lo nggak cuma mau ngatur gue. Lo kayak... jagain gue? Meski cara lo nyebelin banget sampe gue mau jedotin pala lo ke tembok."
Zyan tertawa, kali ini tawanya terdengar sangat lepas dan hangat. "Saya memang menjagamu, Alexa. Dengan cara saya sendiri."
Zyan berdiri, lalu berjalan mendekati Alexa. Ia mengulurkan tangannya. "Mau berdansa sebentar? Tidak ada musik, hanya suara alam."
"Dansa? Gue nggak bisa dansa, Om! Yang ada kaki lo gue injek-injek!"
"Saya yang akan memimpin. Sini."
Tanpa menunggu persetujuan, Zyan menarik tangan Alexa. Mereka berdiri di antara kolam renang dan balkon. Zyan meletakkan tangannya di pinggang Alexa, sementara Alexa dengan kaku meletakkan tangannya di bahu Zyan.
Mereka bergerak pelan mengikuti irama angin. Wajah mereka sangat dekat, sampai-sampai Alexa bisa merasakan hembusan napas Zyan di keningnya.
"Om," bisik Alexa.
"Ya?"
"Jangan baper ya, ini cuma karena guenya lagi capek makanya mau lo ajak dansa."
Zyan tersenyum tipis. Ia mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Sudah terlambat, Alexa. Sepertinya saya sudah baper sejak pertama kali kamu mengisi hidup saya dengan kekacauan."
Detik itu, waktu seolah berhenti. Zyan perlahan-lahan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Alexa. Alexa yang biasanya bar-bar dan jago berantem, mendadak membeku. Ia tidak menolak, malah perlahan menutup matanya.
Namun, tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan...
BYUUURRR!
Terdengar suara benda jatuh yang sangat keras ke dalam kolam renang. Mereka berdua tersentak kaget dan langsung menoleh. Ternyata itu adalah kucing liar villa yang mencoba mengejar cicak tapi malah terpeleset masuk ke kolam renang.
Kucing itu berenang dengan panik ke pinggiran, membuat air kolam nyiprat ke mana-mana, termasuk ke gaun Alexa dan kemeja Zyan.
"ANJIR! KUCING SIALAN!" teriak Alexa sambil tertawa kencang, merusak suasana romantis yang sudah dibangun susah payah.
Zyan hanya bisa menghela napas panjang, menatap langit dengan frustrasi. "Kenapa setiap kali saya mencoba romantis, selalu saja ada gangguan?"
Alexa tertawa terpingkal-pingkal sambil menunjuk-nunjuk kucing yang sekarang sedang menjilat badannya di pinggir kolam. "Hahaha! Itu tandanya alam semesta belum setuju lo nyium gue, Om! Udah ah, gue mau tidur! Bajunya basah nih!"
Alexa lari masuk ke dalam kamar sambil terus tertawa, meninggalkan Zyan yang berdiri sendirian di pinggir kolam.
"Satu sama, Alexa. Tapi besok, saya tidak akan membiarkan kucing manapun mengganggu," gumam Zyan dengan tekad bulat.
Bersambung......