Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30 Bath Up
Aurora terbangun membuka matanya perlahan. sebelah tangannya meraih ponselnya yang berisik membunyikan alarm. tubuhnya terasa berat dan sulit bergerak karena Max memeluknya dari belakang. Aurora memandang sudut kamar sembari mengingat semua kejadian antara dirinya dan Max semalam. akhirnya berhasil, ia telah menyerahkan segalanya pada Max.
"Kau baik-baik saja?" gumam Max membuat Rora sedikit gugup.
Telapak tangan Max mengusap perlahan perut Rora rasanya nyaman dan hangat. Max menenggelamkan wajahnya di leher belakang Rora.
"Iya, aku baik-baik saja" Jawab Rora sembari memejamkan matanya lagi.
Max melingkarkan lengannya di pinggang ramping Rora. ia masih belum mau melepas Rora untuk sekedar ke kamar mandi.
"Max.."
"Hmmm"
"Aku mau mandi dulu lepaskan pelukannya" pinta Rora.
Saat ini jantung Rora berdebar kencang. antara senang, gugup, bimbang, malu semua campur aduk jadi satu.
"Oke sayang" gumam Max sembari mengangkat lengannya membebaskan Rora dari pelukannya.
Rora bangkit dari ranjang. ia meraih kimono dari atas meja tepat di samping ranjang. saat akan berjalan Rora merasakan sesuatu yang berbeda. ada rasa nyeri dan perih di bawah sana. ia menggeser langkahnya perlahan, ternyata memang begitu rasanya jika baru pertama melakukannya sesuai yang Rora baca di internet.
Max mengangkat setengah tubuhnya menatap Rora yang berjalan terlihat kepayahan.
"Sayang.."
"Ah aku baik-baik saja kau jangan mendekat Max" wajah Rora memerah ia mempercepat langkahnya ke kamar mandi.
Max tersenyum ia juga tahu apa yang di rasakan Rora. Max beranjak dari ranjang dengan santai ia berjalan ke kamar mandi. mengetuk pintu perlahan.
"Sayang kau perlu bantuan?" tanya Max.
Rora meraih handuk dan mengenakannya asal-asalan sembari membuka pintu kamar mandi. ia tertegun menatap Max yang berdiri di hadapannya dengan tubuh tinggi tegapnya. Max tersenyum tipis ia menatap Rora dari atas sampai bawah lalu langkahnya perlahan mendorong langkah Rora untuk mundur ke belakang. dengan sebelah tangannya Max menutup pintu kamar mandi dari dalam.
Jantung Rora berdebar hebat ia menatap Max polos sembari memegangi handuknya yang hampir terjatuh.
"Biar aku bantu mandinya" kata Max mulai meraih handuk Rora dan menuntun perlahan tubuh Rora ke bath up.
***
"Mau jalan-jalan?" Abian bertanya pada Catherine sembari fokus melihat jalan.
"Jalan-jalan? kita ada jam sekolah"
"Sehari bolos tidak masalah bukan?"
"Apa? aku tidak mau nanti papa dan kakak ku bisa marah besar kalau tahu aku bolos"
Abian menyeringai ia menatap sekilas wajah Catherine yang terlihat ketus.
"Pacaran kita tinggal dua hari kan? kalau hari ini tidak masuk sekolah dan pergi tidak apa-apa bukan?"
"Abian kita bisa pergi setelah pulang sekolah oke!"
Abian mengangguk ia tahu Catherine tidak akan mau diajak membolos sekolah. Catherine siswi ya g pintar dan berprestasi di sekolah tidak seperti Abian yang berandalan yang terbiasa bolos sekolah hingga berkali-kali papanya di panggil ke yayasan sekolah.
Abian selalu bertingkah di sekolah. mengerjai teman-temannya termasuk Catherine. ia selalu mengganggu Catherine karena diam-diam Abian tertarik pada Catherine. hingga suatu hari Catherine tidak tahan ia menyewa tukang pukul dan menghajar Abian Samapi babak belur. bahkan sekarang wajah Abian masih membekas luka biru-biru di sana sini. Abian sebenarnya juga tidak berminat melaporkan Catherine ke polisi ia hanya memanfaatkan situasi saja. setelah hampir satu minggu pacaran Abian benar-benar jatuh cinta pada Catherine. Tapi Abian ragu Catherine juga punya rasa yang sama dengannya.