NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu mertua yang Terlalu bersemangat

Nayla memutuskan untuk tinggal bersama Gibran,dengan syarat dan ketentuan yang sudah di sepakati bersama .

Mampus ... tamat riwayat kita," bisik Gibran dengan suara bergetar, berbalik menatap Nayla dengan pandangan horor yang sangat kentara.

"Siapa sih yang datang ?! Jangan bikin gue jantungan dong!" seru Nayla tertahan, ikut menghampiri Gibran.ada rasa penasaran di hatinya,ia baru saja menginjakkan kakinya diapartemen milik Gibran,dia juga ingin tahu siapa tamu yang datang sehingga membuat Gibran panik .

"Nyokap gue ... dia datang bawa koper besar!" kata Gibran panik.

"Ha ...ibu kamu ? Kok bisa ia kesini ? memang sebelumnya beliau sering kemari?" Nayla ikut panik,baru tadi pagi ia bertemu dan Nayla tahu kalau ibu dan ayah Gibran kurang setuju Nayla menikah dengan Gibran.

"Nggak,Ibu tidak pernah datang kemari,baru kali ini ibu kesini,mana bawa koper besar seperti orang yang mau pindahan ." Gibran mengacak -acak rambutnya,terlihat rasa panik dan khawatir diwajahnya .

"Aduh gimana ini,ibu kamu Nggk suka sama gue lagi ."

"Tenang dulu ,biar gue pikirkan,gimana caranya ...."

Belum sempat Gibran memikirkan rencana darurat, pintu apartemen yang menggunakan sistem kunci digital pintar itu mendadak terbuka dari luar dengan bunyi

klik-bep.

Gibran lupa kalau ibunya memegang kode akses darurat untuk unit apartemennya,jadi ibunya bisa masuk kapan saja .

Pintu terbuka lebar, dan sosok Renata Mahardika melangkah masuk dengan anggun namun penuh energi. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun malam kasual bermerek terkenal, kacamata hitam yang kini sudah diturunkan ke hidung, dan di belakangnya ada seorang asisten rumah tangga yang mendorong sebuah koper berukuran jumbo sewarna merah jambu menyala.

"Gibran! Menantuku sayang!" suara Renata yang melengking riang langsung memenuhi seisi griya tawang yang luas itu.

Nayla dan Gibran berdiri kaku seperti patung lilin di tengah ruangan.

Renata mengabaikan ekspresi syok anak laki-lakinya. Pandangan matanya langsung tertuju pada Nayla yang masih mengenakan kaus oblong abu-abu dan celana kulot tidurnya. Tanpa diduga-duga, Renata langsung berlari kecil menghampiri Nayla, lalu memeluk tubuh gadis itu dengan sangat erat, hingga aroma parfum mawar mahalnya membuat hidung Nayla sedikit bersin.

"Aduh, menantuku! Nayla, kan? Maafkan ucapan Papa tadi siang di kantor, ya! Papa itu memang begitu, mulutnya suka seperti cabai rawit kalau urusan bisnis, tapi aslinya dia cuma cemas," cerocos Renata sambil melepaskan pelukannya, lalu memegangi kedua bahu Nayla dengan mata yang berbinar-binar penuh semangat. "Begitu Mama pulang ke rumah, Mama mikir ... wah, Gibran ini akhirnya laku juga! Mana dapet cewek mandiri yang sederhana lagi! Mama langsung sujud syukur di kamar, tahu?!"

Nayla melirik Gibran dengan tatapan mata yang meminta penjelasan: ("Katanya nyokap lu benci gue karena tidak level?! Kenapa sekarang dia malah seperti fans fanatik yang ketemu idola begini?!")

Gibran yang sama bingungnya, berdeham keras untuk mengalihkan perhatian ibunya.

"Ma ... Mama ngapain malam-malam begini datang bawa koper segala? Bukannya Mama harusnya nemenin Papa di hotel?"

Renata membalikkan tubuhnya, menatap Gibran dengan berkacak pinggang.

"Nemenin Papa kamu yang hobinya bahas saham sampai subuh? Ogah! Lagian, Papa kamu itu besok subuh harus langsung terbang ke Singapura untuk urusan akuisisi perusahaan. Jadi, Mama memutuskan untuk tidak ikut dan memilih tinggal di sini!"

"Tinggal ... di sini?!" seru Gibran dan Nayla serempak, suara mereka bergaung kompak di langit-langit ruangan.

"Iya, dong! Memangnya tidak boleh?"

Renata mengerucutkan bibirnya, berpura-pura merajuk. "Mama mau menemani menantu Mama yang cantik ini. Sekaligus ... Mama mau memastikan kalian berdua ini beneran pengantin baru yang mesra, bukan cuma pura-pura karena takut sama ancaman Papa kamu!"

Renata melangkah mendekati meja kopi, matanya yang jeli melihat kertas-kertas draf perjanjian yang berserakan. "Eh, ini kertas apa?"

Melihat bahaya besar mengintai, Gibran dengan gerakan refleks seorang atlet tingkat dunia langsung melompat ke depan meja, menyambar seluruh kertas draf tersebut, lalu meremasnya menjadi bola kertas kecil dan memasukkannya ke dalam saku celana pendeknya.

"Bukan apa-apa, Ma! Ini ... ini cuma draf coret-coret desain kantornya Nayla!" bohong Gibran, tersenyum lebar dengan gigi yang bergemeletuk menahan ngeri.

Renata menyipitkan matanya curiga, namun perhatiannya segera teralih kembali pada Nayla. "Nayla sayang, kamu kok barang-barangnya cuma sedikit begini sih? Kardus mi instan? Astaga, Gibran! Kamu ini direktur operasional tapi membiarkan istrimu bawa barang pakai kardus bekas begini?! Besok pagi, Mama bakal ajak kamu ke butik langganan Mama di Plaza Indonesia. Kita belanja semua baju, tas, dan sepatu baru buat kamu. Pokoknya pakai kartu kredit Gibran sampai limitnya habis!"

Nayla melambaikan kedua tangannya dengan panik, merasa tidak enak hati dengan kebaikan mertuanya yang terlalu ekstrem ini. "Eh, tidak usah repot-repot, Tante ... eh, Mama. Baju saya yang sekarang masih banyak yang bagus dan layak pakai kok ..."

"Tidak ada penolakan, Sayang! Mulai sekarang panggil Mama, ya," Renata menepuk pipi Nayla dengan gemas. Wanita itu kemudian menoleh ke arah asisten rumah tangganya.

"Mbok, tolong taruh koper saya di kamar tamu sebelah kanan, ya. Malam ini saya mau tidur cepat karena besok mau menemani menantu saya belanja besar-besaran!"

Setelah sang mama melenggang pergi menuju kamar tamu bersama asistennya dengan langkah riang gembira, kekuatan di kaki Gibran dan Nayla rasanya langsung lenyap seketika. Mereka berdua ambruk kembali ke atas sofa kulit dengan tubuh yang lemas.

Nayla menoleh ke arah Gibran, menatap pria itu dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kobaran api kemarahan domestik.

"Mas Gibran Mahardika ..." bisik Nayla dengan nada suara yang sangat rendah namun terdengar sangat mengerikan di telinga Gibran. "Lu bilang kita bakal punya wilayah kekuasaan masing-masing? Lu bilang kita bakal pisah kamar dengan tenang selama tiga bulan ke depan? Sekarang nyokap lu tidur di kamar sebelah! Bagaimana caranya kita bersandiwara tanpa membuat rahasia ini terbongkar besok pagi?!"

Gibran mengusap wajahnya yang terasa kaku, meratapi nasibnya yang kini benar-benar terjebak dalam pusaran komedi situasi yang luar biasa rumit. "Gue ... gue juga enggak tahu, Nayla. Intinya, mulai besok pagi, sandiwara kita harus naik tingkat ke level internasional. Jangan sampai Mama curiga sedikit pun, atau hidup kita berdua beneran bakal didepak dari kota ini oleh bokap gue."

Nayla memejamkan mata rapat-rapat, meratapi keputusan salah alamat yang diambil oleh bapak-bapak ronda semalam, menyadari bahwa malam pertamanya sebagai seorang istri justru akan diisi oleh latihan koreografi kemesraan palsu demi mengelabui sang ibu mertua yang terlalu bersemangat.

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!