Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Trauma Gita
Rafael menyemprotkan parfum pada tubuhnya. Seketika aroma maskulin menguar di seluruh kamar, rambutnya di biarkan sedikit acak-acakan. Lalu ia keluar kamar, di seberang kamarnya. Kamar Gita masih tertutup rapat, jelas saja ini masih sangat pagi untuk beraktivitas. Tapi Rafael ada wawancara di stasiun televisi pagi-pagi sekali.
Gita yang barusaja bangun merenggangkan otot-ototnya. Badannya terasa pegal, ia rasa beberapa Minggu ini ia di buat tegang oleh orang-orang di sekitarnya.
Gita membuka pintu. Sepi, pintu Rafael masih tertutup. "Dia belum bangun?" gumam Gita. Namun saat ia di dapur ada secarik kertas dengan tulisan Rafael.
"Aku pergi dulu. Ada sandwich di meja kalau mau."
Gita membuka piring yang ditutup dengan tutup panci itu. Sandwich telur dan beef, Gita memakan dengan satu gigitan besar. Ia menyalakan mesin kopi, dan memilih kopi kesukaannya. Gita suka kopi dengan rasa sedikit asam.
Gita duduk dan makan dengan tenang, tangan kirinya memainkan ponsel. Membuka akun gosip di Instagram.
Kini terungkap siapa bayi yang di kandung Maya.
"Syukur deh kalo sudah ketemu." Gumam Gita. Gita melewati tersebut.
Namun jika di pikir lagi, hidup Gita tentram secara finansial karena skandal Rafael dan Maya.Harusnya Gita berterima kasih dengan Maya, karena dia sekarang Gita menjadi istri Rafael. Walaupun sedikit makan hati, namun ia jadi good rekening sekarang.
Gita melanjutkan aktivitasnya setelah makan. Mandi dan berangkat ke kantor dengan motor kesayangannya. Sebenarnya Gita berangkat terlalu pagi hari ini, ia memelankan laju motornya. Namun saat di tengah kota. Suara klakson dimana-mana, semua orang berebut ingin sampai dengan cepat di tempat kerja.
Gedung perkantoran dengan banyak jendela, namun masih kalah tinggi dengan gedung perkantoran yang lain. Gita meletakkan helmnya di kaca sepion kanannya. Lalu melenggang memasuki kantor.
Gita memasuki ruangannya. Di seberangnya sudah duduk Arjusena dengan siku bertumpu di meja. Mata mereka bertemu, Gita memelankan langkah kakinya. Belum banyak teman yang datang hanya Desi dan Tama. Gita menunduk sebisa mungkin menghindar dari tatapan Arjusena.
Gita menyalakan komputernya, butuh beberapa waktu sampai komputernya benar-benar bisa digunakan.
###
Hari ini jadwal Rafael padat hingga malam. Tawaran wawancara dimana-mana setelah ayah dari bayi yang di kandung Maya terungkap. Rafael sangat lega, ia bahkan mencabut tuntutannya terhadap Maya atas pencemaran nama baik.
"Setelah ini kita pulang?" tanya Rafael. Andra mengangguk sambil menyeruput kuah bakso.
"Awas kuahnya tumpah di mobil." Rafael memperingatkan.
"Elah, tumpah ya tinggal dicuci." jawab Andra enteng. Lalu ponsel Rafael berdering untuk kesian kalinya.
"Siapa sih?" tanya Andra penasaran.
"Biasa Rachel."
"Lo harus jaga jarak, jangan sampai ada skandal baru lagi." kata Andra sambil memakan suapan terakhir.
Rafael mengusap wajahnya lelah, entahlah hatinya susah untuk melupakan Rachel. Tapi sekarang ia sudah beristri dan seorang selebriti, jaga image itu penting.
"Kayaknya Lo harus sering-sering ekspos Gita juga."
"Kenapa harus?" tanya Rafael heran.
"Ya biar seperti selebritis lainnya." jawab Andra.
"Tapi Gita bukan dari dunia entertainment, takutnya dia risih." jelas Rafael, menolak keras usul Andra. Andra hanya menghela napas. Pasalnya Rafael berbeda dengan selebriti lain yang aktif di sosial media, yang ia punya hanya Instagram.
Lalu Andra melajukan mobil Rafael dengan kecepatan sedang, malam semakin larut. Lampu jalanan yang terang membuat Rafael fokus pada jalanan. Rafael banyak berpikir akhir-akhir ini, apa keputusannya menikah dengan Gita tepat. Satu tahun dan bercerai. Gita akan menyandang status janda. Dan ia akan menjadi duda.
Kalau saja saat itu Rachel mau ia ajak menikah, mungkin sekarang ia sudah bahagia dengan orang yang dicintainya. Rafael banyak berpikir hingga ketiduran.
***
Gita merapikan meja kerjanya, saat Arjusena berjalan ke arah Gita. Tubuh Gita sedikit menegang saat parfum maskulin Arjusena menguar di indra penciumannya. Ia terburu-buru menutup tas. Namun Gita kurang cepat Arjusena sudah berada disampingnya. Tersenyum pada Gita, dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kamu menghindar dari saya?" Arjusena berkata seraya duduk di meja kerja milik Gita. Gita mundur dua langkah, bosnya itu terlalu dekat. Wajah maskulinnya masing mengembangkan senyum.
"Tidak." jawab Gita singkat.
"Saya permisi."lanjut Gita, ia memakai ranselnya dan berbalik arah tapi tangan Arjusena lebih cepat. Ia menarik tangan Gita cepat hingga tubuh Gita limbung di pelukan Arjusena.
"Tolong jaga kelakuan bapak. Atau bapak saya laporkan. Ini kantor." Gita berkata tegas, dengan suara bergetar.
Arjusena tertawa mengejek "Jadi kalau bukan di kantor?" tanya Arjusena dengan satu alis naik ke atas.
"Lepaskan saya!" Gita menatap tajam Arjusena. Arjusena tak gentar, ia malah tertawa menurutnya Gita yang sedang marah itu sexy. Tatapan matanya jatuh pada bibir merah muda milik perempuan itu, Arjusena ingat saat pertama kali ia merasakan bibir itu, membayangkannya membuat darah Arjusena berdesir.
Gita masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Arjusena. Napasnya tersenggal panik, matanya mengedar melihat letak cctv cukup jauh dari tempatnya berdiri. Gita tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terjadi lagi pada dirinya.
"Pak Saya mohon lepaskan saya." Gita mulai memohon air matanya akan tumpah. Arjusena makin senang melihat pemandangan itu.
Arjusena mencengkram bahu Gita lalu berbisik "Kamu tahu, saya suka melihat kamu memohon. Seperti waktu itu, kamu mohon-mohon saat berada di bawah kendaliku. So sexy." lalu melepaskannya dan pergi meninggalkan Gita yang limbung di lantai.
Tubuh Gita bergetar hebat, tangisnya pecah tanpa suara. Dadanya sesak. Kejadian 4 tahun lalu berulang di kepalanya. Kejadian menjijikkan yang ia alami membuat ia mual.
Gita mencoba berdiri kakinya gemetar. ia berjalan cepat menuju lift dan turun ke basement.
Gita mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Angin malam membelai pipinya yang basah karena air mata. ia masih menangis, ia takut dan jijik. Ia ingin bertemu ibunya, tapi Gita tak ingin ibunya khawatir. Gita selalu memendam semuanya sendiri.
Sesampainya di apartemen, Rafael sedang membuat kopi di pantry. Gita meletakkan tasnya sembarangan.
"Kamu sudah pulang? Mau sekalian aku buatin kopi?" tanya Rafael tanpa menoleh kearah Gita. Gita berjalan pelan menuju Rafael yang sedang memunggunginya.
Gita berhenti didepan Rafael, sempat ragu tapi secepat kilat Gita memeluk punggung Rafael. Rafael terkejut ia melihat tangan Gita melingkar di perut sixpack nya.
"Git...." Rafael bersuara pelan hampir seperti bisikan. Ia baru saja akan protes namun merasakan punggungnya basah. Gita menangis.
"Aku pinjam punggungmu sebentar saja ya." Suara Gita serak, entah apa yang dipikirkan Gita. Ia hanya ingin bertumpu. Posisi mereka bertahan beberapa menit. Rafael hanya diam tanpa bertanya, memberi ruang pada Gita untuk menenangkan hatinya.