NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Eyang

Istri Pilihan Eyang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gejolak dua sisi

​"Sial!"

​Kelvin melempar ponselnya ke atas meja marmer hingga dentuman keras menggema di seluruh ruang kerjanya yang luas. Napasnya memburu, aura dingin yang biasanya tenang kini berubah menjadi badai kemarahan yang menyesakkan. Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, memijat pelipisnya dengan kasar.

​Tok! Tok!

​Pintu ruangan terbuka perlahan. Raka, asisten pribadi Kelvin yang sudah bertahun-tahun mendampinginya, melangkah masuk dengan langkah hati-hati. Raka tahu betul, atmosfir di ruangan ini sedang berada di titik nadir. Ia bisa merasakan hawa dingin yang menusuk meski suhu ruangan diatur dengan sempurna.

​"Tuan Kelvin," panggil Raka dengan nada rendah dan sangat sopan. Ia meletakkan tumpukan map di sudut meja, berusaha tidak menarik perhatian sang bos yang sedang terbakar emosi. "Mengenai jadwal pertemuan dengan investor pukul sepuluh nanti, apakah tetap berjalan sesuai agenda?"

​Kelvin menatap Raka dengan tatapan tajam yang membuat sang asisten nyaris menahan napas. "Apa menurutmu aku terlihat ingin bertemu dengan siapa pun sekarang, Raka?"

​Raka menunduk dalam. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan menjadwalkan ulang pertemuan tersebut dan memastikan tidak ada yang mengganggu Anda selama satu jam ke depan."

​"Pergi," desis Kelvin pendek. Raka segera membungkuk dan bergegas keluar, bersyukur ia bisa selamat dari amukan sang CEO.

​Di sisi lain, di kediaman mewah keluarga Alexander, suasana justru jauh lebih 'hangat' dengan intrik yang dirancang secara halus. Siska Alexander, ibu kandung Kelvin, duduk dengan anggun di hadapan Eyang Arka. Siska menyesap tehnya perlahan sebelum meletakkan cangkir itu dengan gerakan yang terukur.

​"Eyang, sejujurnya saya pun tidak pernah setuju dengan pilihan Kelvin," ujar Siska membuka pembicaraan. "Catalina terlalu ambisius. Dunia model hanya akan membuatnya melupakan kewajibannya sebagai istri di keluarga ini."

​Eyang Arka mendengus, matanya menatap tajam ke arah jendela. "Sudah kubilang, dia tidak punya sopan santun untuk masuk ke keluarga ini."

​Siska tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh perhitungan. Ia kemudian mengeluarkan sebuah tablet dari tas mewahnya. "Itulah sebabnya saya sudah menyiapkan alternatif lain, Eyang. Seseorang yang jauh lebih tenang, lembut, dan tahu cara menempatkan diri."

​Eyang Arka melirik penasaran. Siska menggeser tablet itu ke hadapan sang mertua. Di layar tersebut, tampak foto seorang perempuan muda dengan paras yang sangat alami, tanpa polesan riasan tebal. Ia mengenakan seragam putih dengan stetoskop menggantung di lehernya. Senyumnya teduh dan menenangkan.

​"Namanya Denada," jelas Siska. "Dia adalah seorang dokter di sebuah desa di pedalaman. Dia sangat berdedikasi, tidak terobsesi dengan lampu sorot, dan memiliki latar belakang keluarga yang sangat sopan. Lihatlah, Eyang... bukankah dia jauh lebih cocok untuk mendampingi Kelvin daripada gadis model yang keras kepala itu?"

​Eyang Arka meraih tablet tersebut, matanya menatap lekat foto Denada. Sedikit demi sedikit, kerutan di dahinya yang sedari tadi terlihat tegang mulai melunak.

​"Dia dokter?" tanya Eyang Arka dengan nada yang mulai tertarik.

​"Iya, Eyang. Dia mengabdi di desa. Seseorang yang memiliki hati emas seperti itu, bukankah dia yang seharusnya berada di samping Kelvin untuk mengurus keluarga?"

​Eyang Arka terdiam. Tatapannya masih terkunci pada wajah teduh Denada. Di sudut hatinya, sebuah rencana baru mulai tersusun. Jika Kelvin bersikeras dengan pilihannya, mungkin ini saatnya bagi keluarga Alexander untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali penuh atas masa depan sang pewaris.

​Malam semakin larut ketika mobil mewah Kelvin memasuki pelataran luas kediaman utama Alexander. Langkah kakinya yang tegap menggema di koridor marmer, membawa aura dingin yang semakin pekat setelah seharian menghadapi tumpukan pekerjaan dan kekecewaan dari seberang eksodus udara. Begitu memasuki ruang makan, ia disambut oleh keheningan yang formal.

​Di meja makan panjang berbahan kayu mahoni itu, seluruh keluarga telah berkumpul. Di ujung meja, Eyang Arka duduk dengan posisi paling berkuasa. Di sisi kanan dan kirinya duduk Gavin dan Siska. Sementara di ujung lain, ada dua remaja kembar yang tampak berusaha menahan diri agar tidak membuat keributan—Arsen dan Arsy Alexander. Mereka berdua adalah sepupu Kelvin yang masih duduk di bangku SMA, anak dari adik kandung Siska yang saat ini sedang dinas jangka panjang di luar negeri.

​"Kau terlambat, Kelvin," suara berat Eyang Arka memecah kesunyian, tepat saat Kelvin menarik kursi di sebelah ayahnya.

​"Maaf, Eyang. Jalanan macet dan ada beberapa berkas yang harus kuselesaikan," jawab Kelvin datar, tanpa ekspresi. Ia mengangguk kecil ke arah kedua sepupu kembarnya yang langsung membalas dengan senyum kaku. Arsen yang biasanya jahil dan Arsy yang ceriwis, mendadak menjadi anak manis di hadapan Eyang Arka.

​Siska memberi isyarat pada para pelayan untuk mulai menyajikan hidangan utama. Dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang mendominasi selama beberapa menit pertama. Suasana makan malam itu terasa begitu formal, tipikal makan malam keluarga konglomerat yang penuh dengan aturan tak tertulis.

​"Bagaimana sekolah kalian, Arsen, Arsy?" Gavin berusaha mencairkan suasana, menatap keponakan kembarnya.

​"Lancar, Om. Ujian semester kemarin nilai kami berdua masuk lima besar paralel," jawab Arsy dengan nada sopan, sementara kembarannya, Arsen, mengangguk cepat sambil mengunyah steak-nya dengan anggun—takut mendapat teguran dari sang Eyang.

​"Bagus. Pertahankan itu. Jangan mempermalukan nama Alexander," sahut Eyang Arka pendek, sebelum akhirnya mengarahkan tatapan tajamnya langsung kepada Kelvin.

​Kelvin yang sedang memotong daging di piringnya, bisa merasakan tatapan itu. Ia tahu betul arah pembicaraan ini akan bermuara ke mana.

​Eyang Arka meletakkan garpunya perlahan, sebuah gestur yang membuat Arsen dan Arsy otomatis menghentikan gerakan makan mereka karena ketakutan. "Jadi, Kelvin... bagaimana dengan besok? Apakah wanitamu itu akan datang menemuiku, atau dia lebih memilih mempermalukan harga diri cucuku di luar negeri?"

​Pertanyaan itu laksana hantaman telak. Siska melirik suaminya, Gavin, lalu beralih menatap Kelvin dengan senyum misterius yang disembunyikan di balik sapu tangan makannya.

​Kelvin meletakkan pisau dan garpunya dengan tenang, meskipun di dalam dada, rahangnya sudah mengeras. "Catalina sedang terikat kontrak penting di Paris, Eyang. Jadwal pemotretannya besok tidak bisa dibatalkan secara mendadak."

​"Jadi dia menolak?" Eyang Arka mendengus sinis, tawa meremehkan lolos dari bibirnya yang keriput. "Sangat terprediksi. Wanita seperti itu yang ingin kau jadikan nyonya di rumah ini? Wanita yang bahkan tidak bisa meluangkan waktu satu hari pun untuk menghormati orang tuamu?"

​"Ini soal profesionalisme kerja, Eyang," bela Kelvin, suaranya tetap bariton dan dingin, mencoba menahan gejolak emosi di depan sepupu-sepupunya yang kini kompak menunduk, pura-pura tidak mendengar.

​"Cukup, Kelvin!" potong Eyang Arka tegas. "Aku tidak butuh alasan. Aku sudah memberinya kesempatan, dan dia sendiri yang membuangnya. Mulai detik ini, jangan pernah sebut namanya lagi di rumah ini!"

​Siska segera mengambil kesempatan itu. Ia mengusap lengan Eyang Arka dengan lembut sembari menatap Kelvin. "Sudahlah, Eyang, jangan membuat makan malam kita jadi rusak. Lagipula, Kelvin... Mama sudah menemukan seseorang yang jauh lebih baik untukmu. Seseorang yang tahu cara mengabdi, bukan sibuk mencari panggung."

​Kelvin menatap ibunya dengan tatapan mengintimidasi, namun Siska hanya membalasnya dengan senyuman tenang. Di bawah meja makan yang mewah itu, Kelvin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tahu, sebuah jebakan baru telah disiapkan untuk menggantikan Catalina, dan posisinya sebagai CEO sekalipun tak bisa dengan mudah menolak kehendak mutlak sang Eyang.

1
Nasya
hadeh kelvin masi aja ingat mantan
Nasya
masa lalu yang tragis
falea sezi
klo abis ne lu jutek 😒 gue timpuk lu empin
Nasya
Wkwkwk kelvin sampai pangling lihat nada, selamat buat pengantin baru
falea sezi
nah loo😕 denada celaka demi lu kevin😒
falea sezi
lanjut klo kevin g bucin q tendang ya🤣🤣 lanjut banyak thor tak kirim kembang sekebon🤣
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi🤣
falea sezi
klo uda anu2 tp lu masih berat ma katalina siap2 di buang sama nada lu kevin🤭
falea sezi
wah apakah unboxing😒
falea sezi
😒 di kasih berlian kyak nada milih jalang kayak catalina🤣 siap siap gigit jari lu klo nada uda bales dendam dan pergi jauh🤣
falea sezi
q ksih hadiah lagi seruu liat kisah bales dendam. gini asal gk kemakan permainan sendiri aja🤣
falea sezi
lanjut banyakk q kasih hadiah banyakk ya🤣🤣
falea sezi
bner jalang Catalina dan kevin lu emank goblok🤣
falea sezi
fashion thor bukan feshen🤭
zra
balas dendam jdi cinta?atau nanti ada yang lebih baik dari kelvin
zra
pasti nanti catalina menyesal wkwk,thor jangan buat kevin kembali dengan cathalina
zra
bagus
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor✍️👈☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!