NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Sore itu suasana divisi marketing mulai lebih santai dibanding biasanya. Deadline laporan sudah selesai, revisi konsep iklan tinggal menunggu persetujuan atasan, dan sebagian pegawai mulai sibuk mengobrol sambil menikmati kopi. Beberapa bahkan sudah kehilangan semangat bekerja dan memilih membuka ponsel diam-diam. Jam-jam menjelang pulang memang waktu paling berbahaya bagi produktivitas kantor. Tubuh ada di meja kerja, jiwa sudah di rumah.

Andika masih fokus di depan komputer sambil memeriksa data penjualan ketika suara langkah kaki terdengar mendekati ruangan marketing.

“Permisi.”

Suara perempuan itu langsung membuat beberapa kepala menoleh bersamaan.

Seorang gadis berhijab berdiri di depan pintu sambil membawa dua toples besar. Wajahnya cantik dengan senyum lembut yang langsung membuat suasana ruangan berubah lebih hidup. Kerudung krem yang dipakainya terlihat sederhana, namun justru membuatnya tampak manis dan anggun.

Rara yang pertama bereaksi langsung menyenggol lengan Deni.

“Itu pasti yang sering jemput Andika.”

Deni ikut menoleh lalu tersenyum jahil.

“Wah, tamu spesial datang.”

Andika mendongak dari layar komputernya. Begitu melihat perempuan itu, ekspresinya langsung berubah lebih santai.

“Kamu jadi datang.”

Perempuan itu mengangguk kecil lalu berjalan mendekat.

“Tadi baru selesai bikin. Jadi sekalian aku antar.”

Dia meletakkan dua toples di meja Andika.

“Apa tuh?” tanya Deni penasaran.

“Kue kacang,” jawab perempuan itu ramah.

“Boleh coba?” tanya Rara cepat.

“Boleh.”

Belum juga dipersilakan dua kali, beberapa pegawai langsung mendekat seperti sekumpulan manusia kelaparan yang menemukan harapan hidup dalam bentuk camilan gratis. Kantor memang tempat aneh. Gaji belum tentu bikin bahagia, tapi makanan gratis bisa menyelamatkan suasana hati satu ruangan.

Andika membuka salah satu toples lalu aroma mentega langsung menyebar ke sekitar meja.

“Wangi banget,” gumam Rara.

Deni mengambil satu lalu langsung memakannya.

Beberapa detik kemudian matanya membesar.

“Ini enak.”

“Baru tahu?” balas Andika santai.

Deni langsung menoleh ke perempuan itu.

“Besok saya pesan dua toples nastar boleh?”

“Dua?” tanyanya sambil tertawa kecil.

“Iya. Satu buat saya, satu lagi buat ibu kos supaya saya tidak diusir.”

Beberapa orang langsung tertawa.

“Boleh,” jawab perempuan itu sambil tersenyum.

“Nah, rezeki orang baik,” kata Deni puas.

Andika kemudian mengambil beberapa kue lalu menawarkannya ke teman-teman lain.

“Ayo ambil saja.”

Rara ikut menggoda.

“Andika baik banget kalau ada mbaknya.”

“Biasanya pelit,” tambah Deni.

“Aku dengar itu,” sahut Andika datar.

“Tapi tetap benar,” jawab Deni cepat.

Ruangan kembali dipenuhi tawa kecil.

Di tengah keramaian itu, pandangan Andika perlahan bergeser ke arah meja Shinta.

Perempuan itu tampak diam sambil menatap layar komputer. Namun jelas sekali sejak tadi ia memperhatikan semuanya. Tatapannya beberapa kali mengarah ke perempuan berhijab di dekat meja Andika itu.

Dan setiap kali melihat keduanya berbicara santai, entah kenapa hati Shinta terasa tidak nyaman.

Dia membenci perasaan itu.

Apalagi saat melihat perempuan itu tersenyum pada Andika dengan begitu akrab.

Shinta mencoba kembali fokus pada pekerjaannya, namun suara tawa mereka terus terdengar jelas di telinganya.

“Shinta.”

Suara Andika membuatnya menoleh.

Pria itu berdiri di dekat mejanya sambil menyodorkan beberapa kue kacang.

“Nih.”

Shinta melirik sebentar lalu menggeleng.

“Aku kenyang.”

Andika mengangguk pelan.

“Oh.”

Namun beberapa detik kemudian dia malah menoleh ke perempuan tadi.

“Kayaknya dia tidak suka.”

Shinta langsung menatap Andika cepat.

“Hah?”

Perempuan itu terlihat sedikit bingung.

“Tidak suka?”

“Aku tidak bilang begitu,” bantah Shinta cepat.

Andika tampak santai.

“Kan kamu nolak.”

“Itu karena aku kenyang.”

Perempuan itu tersenyum lembut.

“Tidak apa-apa kok. Mungkin memang tidak cocok sama seleranya.”

“Bukan begitu,” jawab Shinta makin tidak enak.

Andika terlihat menahan senyum tipis di sudut bibirnya.

Dan Shinta tahu pria itu sengaja melakukannya.

Karena tidak mau dianggap meremehkan makanan orang lain, akhirnya Shinta mengambil satu kue.

Dia menggigit pelan.

Beberapa detik kemudian matanya sedikit melebar.

Kuenya memang enak.

Teksturnya lembut dan rasa kacangnya pas.

“Nah kan,” ucap Andika cepat. “Kalau suka harusnya pesan.”

Shinta langsung menatap kesal.

“Kamu sengaja ya?”

“Kalau mau nanti aku bawakan lagi,” kata perempuan itu ramah.

“Tidak usah repot,” jawab Shinta cepat.

“Buat yang spesial saja,” sela Andika santai. “Dia cerewet kalau makanan tidak enak.”

“Aku tidak cerewet,” bantah Shinta.

“Barusan saja hampir bikin pembuat kuenya sedih.”

“Itu karena kamu fitnah aku.”

Perempuan itu malah tertawa kecil melihat mereka.

“Tenang saja. Kalau begitu nanti saya buat yang paling enak.”

“Kuenya memang enak kok,” kata Shinta cepat. “Serius.”

“Aku percaya.”

Cara perempuan itu tersenyum membuat Shinta makin tidak nyaman.

Cantik.

Ramah.

Lembut.

Dan terlihat dekat dengan Andika.

Shinta benar-benar tidak suka menyadari dirinya mulai membandingkan diri sendiri dengan perempuan lain.

Beberapa menit kemudian perempuan itu akhirnya pamit.

“Aku balik dulu ya.”

Andika mengangguk kecil.

“Hati-hati.”

“Besok jangan lupa nastarnya ya, Mbak!” teriak Deni.

“Iya.”

Setelah perempuan itu pergi, suasana ruangan perlahan kembali normal.

Namun entah kenapa pandangan Shinta masih mengikuti sosok itu sampai menghilang di balik lorong kantor.

Andika kemudian duduk di kursi sebelah Shinta sambil membawa satu toples kue.

“Kenapa diam saja?”

“Tidak kenapa-kenapa.”

“Menurutmu dia bagaimana?”

Pertanyaan itu membuat Shinta sedikit menegang.

Namun dia berusaha menjawab biasa saja.

“Cantik.”

“Hm.”

“Baik juga.”

Andika tersenyum kecil.

“Terus?”

“Dan jago bikin kue.”

“Kalau begitu kamu mau belajar bikin kue juga?”

Shinta langsung menggeleng cepat.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Tidak tertarik.”

Padahal alasan sebenarnya jauh lebih rumit.

Dia tidak ingin dekat dengan perempuan yang mungkin sedang dekat dengan mantannya sendiri.

Itu hanya akan membuat hatinya semakin kacau.

Andika memperhatikan wajah Shinta beberapa detik sebelum kembali bertanya pelan.

“Kamu tidak suka dia?”

Shinta langsung berdiri.

“Aku mau ke toilet.”

Tanpa menunggu jawaban, dia segera berjalan keluar ruangan.

Andika memperhatikannya pergi sambil tersenyum tipis.

Sedangkan di dalam toilet, Shinta berdiri diam di depan wastafel.

Dia menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama.

Pertanyaan Andika terus terngiang di kepalanya.

“Kamu tidak suka dia?”

Shinta menghembuskan napas perlahan.

Bukan.

Dia tidak membenci perempuan itu.

Perempuan tadi bahkan terlihat sangat baik.

Lalu kenapa hatinya terasa panas sejak tadi?

Kenapa melihat Andika tertawa bersama perempuan lain membuat dadanya sesak?

Shinta memejamkan mata perlahan.

Jawabannya sebenarnya sederhana.

Karena dia iri.

Iri melihat ada perempuan lain yang bisa berdiri dekat Andika seperti itu. Iri melihat Andika terlihat nyaman bersama orang lain. Dan iri karena dirinya sekarang hanya masa lalu pria itu.

Padahal sudah setahun sejak hubungan mereka berakhir.

Namun ternyata satu tahun tidak cukup untuk membuat perasaannya benar-benar hilang.

Selama ini Shinta selalu berpura-pura biasa saja.

Dia tertawa di depan Andika.

Mengobrol normal.

Bersikap seolah hubungan mereka benar-benar selesai.

Namun sore itu untuk pertama kalinya dia sadar satu hal.

Dia belum benar-benar ikhlas melihat Andika bersama perempuan lain.

Dan tanpa Shinta ketahui, sejak awal Andika memang sengaja memancing rasa cemburunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!