NovelToon NovelToon
Warisan Darah Sang Mafia

Warisan Darah Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.

Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.

Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.

Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.

**RED ASHES SEASON II**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Monster atau Pelindung?

Hujan lagi-lagi turun, seolah langit Eropa tidak akan pernah berhenti menangisi dosa-dosa yang terjadi di bawahnya. Di ruangan kedap suara di lantai atas markas utama, bekas kantor Leonardo yang kini menjadi wilayah kekuasaannya. Udara terasa berat, dingin, dan berbau tajam. Campuran antara aroma cerutu kuba mahal, alkohol, dan besi berkarat.

Alessandro berdiri di depan jendela kaca setebal sepuluh sentimeter, menatap hujan deras yang membasahi kota di bawah sana. Dari ketinggian ini, manusia terlihat seperti semut. Kecil, tidak berharga, mudah diinjak, dan mudah dibunuh.

Di atas meja besar di belakangnya, terbaring dua orang. Satu mayat pria bertubuh besar, wajahnya sudah tidak berbentuk karena hantaman keras benda tumpul. Darah segar menggenang di permukaan meja, menetes perlahan ke lantai membentuk kolam merah gelap.

Dan satu lagi, seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun. Tangan dan kakinya terikat erat dengan kawat baja di kursi kayu, wajahnya penuh memar, bibirnya pecah berdarah.

Ia terengah-engah, matanya melotot penuh teror menatap punggung lebar Alessandro. Ia gemetar hebat, giginya gemertak bukan karena dingin, tapi karena ketakutan murni.

"Tolong... Tuan Alessandro... saya bicara jujur. Saya cuma disuruh..." suaranya parau, pecah di setiap kata. "Saya cuma kurir. Viktor yang menyuruh saya untuk membawa pesan. Saya nggak tahu apa-apa, ampuni saya."

Alessandro tidak menoleh, tangannya masuk ke saku celana bawah wol hitam. Jarinya memainkan peluru perak dingin, yang ia ambil dari saku jaket pria yang sudah mati tadi.

Dari bayangan di sudut ruangan, Ivan Rostov mengamati diam. Pria tua itu bersandar pada tongkat kayunya, matanya yang tajam menyipit, mengamati setiap inci gerakan sosok muda di depannya.

Ia sudah melihat ribuan pembunuh, ratusan bos mafia, dan puluhan monster seumur hidupnya. Tapi Alessandro berbeda, Leonardo itu liar, api yang melahap segalanya. Tapi Alessandro? Dia adalah es. Dingin, tenang, dan membunuh tanpa rasa.

"Kamu bilang kamu cuma kurir?" suara Alessandro terdengar rendah, tenang, bahkan lembut.

Wajahnya tenang, tidak ada kemarahan, dan tidak ada emosi. Matanya yang cokelat gelap terlihat hitam pekat, seperti lubang hitam yang menyerap segala cahaya. Tidak ada lagi jejak pemuda hangat, pengusaha santun yang dulu Ivan kenal sebagai "Alessandro si anak baik."

Pria di hadapan mereka sekarang adalah Tuan Valerio.

"Y-ya, Tuan. Saya cuma disuruh antar pesan, hanya itu saja. Saya nggak bermaksud mengkhianati anda." seru pemuda itu tergagap. "Saya punya keluarga, ibu saya sedang sakit. Dan Viktor mengancam akan membunuh mereka jika saya menolaknya. Tolong, Tuan. Saya masih muda..."

Alessandro berjalan pelan mendekat, langkahnya berat, tanpa suara. Ia berhenti tepat di depan pemuda itu, lalu menunduk sedikit menatap lurus ke manik mata lawannya yang memancarkan keputusasaan.

"Sakit ya?" tanya Alessandro pelan.

Tangannya terangkat, jari telunjuknya yang panjang dan halus perlahan menyentuh luka memar besar di pipi pemuda itu. Luka yang baru saja ia buat sendiri dengan tinjunya sepuluh menit yang lalu.

Satu jari itu menyentuh kulit yang bengkak dan nyeri, pemuda itu meringis keras, tubuhnya menegang sekuat tenaga. Berusaha menarik diri tapi terhalang ikatan kawat.

"Sakit! Aaarrghhh!!" teriakannya menggema di dalam ruangan.

Alessandro tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. Ia menekan jari itu sedikit lebih kuat.

"Rasanya perih, panas, berdenyut sampai ke kepala, ya?" bisik Alessandro, ia seperti bukan sedang menyiksa manusia. "Kamu tahu kenapa aku memukulmu untuk Viktor. Bukan karena kamu mengkhianatiku."

Alessandro mendekatkan wajahnya, bibirnya nyaris menyentuh telinga pemuda itu.

"Aku memukulmu... karena kamu bodoh. Bahkan sangat bodoh."

Jantung pemuda itu terasa berhenti.

"Kamu pikir, aku akan percaya dengan alasanmu yang seolah dipaksa? Kamu pikir di dunia ini ada orang yang benar-benar tidak punya pilihan?" Alessandro menarik kepala pemuda itu secara paksa ke belakang dengan mencengkram rahangnya kuat, hingga tulang pipinya bergeser. Tatapan matanya berubah tajam, hingga menusuk tulang belakang.

"Setiap orang punya pilihan, dan kamu malah memilih hidup sebagai anjingnya Viktor. Makan remahannya, dan menjilat kakinya. Kamu memilih menjadi pengkhianat, dan kamu tahu apa hukuman untuk anjing yang menggigit tuannya?"

Pemuda itu menggeleng, air matanya semakin deras. "To-tolong... jangan... saya janji akan kerja buat anda. Saya akan bunuh Viktor sendiri. Apa saja, akan saya lakuin."

"Terlambat."

Tanpa peringatan lagi, tangan kanan Alessandro bergerak cepat. Ia mengambil pisau lipat otomatis dari saku celananya, membuka bilah tajamnya dengan suara yang mematikan.

Pemuda itu menjerit histeris, kaki dan tangannya menghentak sekuat tenaga. Kursi berdecit keras bergeser di lantai. "TIDAK! JANGAN! AMPUN! AAAAAA...!!"

SRASS!

Jeritan panjang dan menyayat hati meledak di ruangan itu saat bilah pisau tajam menembus telapak tangan kanan pemuda itu, menancap kuat hingga menembus kayu kursi di bawahnya. Darah merah segar memancar keluar, membasahi lengan baju Alessandro yang putih bersih.

Tapi Alessandro tidak berhenti, ia memutar gagang pisau itu pelan. Menikmati setiap detik suara tulang yang bergesekan dan jeritan kesakitan di depannya.

Wajahnya masih tenang, bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat. Rasa memiliki nyawa orang lain di ujung jarinya, rasa bahwa dia adalah tuhan di sini.

"Lihat aku," perintah Alessandro dingin, ia menarik rambut pemuda itu kasar hingga wajah pucat dan berkeringat itu terangkat menghadapnya. "Ingat rasa sakit ini, bawa rasa sakit ini ke neraka, dan bilang pada Viktor, bahwa Valerio baru tidak bermain-main."

Tepat saat Alessandro hendak menarik pisau itu keluar untuk serangan kedua, suara halus seolah bergema dari kejauhan. Suara yang sudah ia dengar sejak kecil, suara yang selama ini menjadi satu-satunya penahan jiwanya agar tidak runtuh.

"Alessandro, dengarkan mama. Kita berbeda sama mereka. Kita manusia, bukan binatang. Kita nggak menyakiti orang kalau nggak terpaksa. Ingat, Nak. Kekuatan sejati bukan dari seberapa banyak orang kamu bunuh, tapi seberapa banyak orang yang bisa kamu lindungi."

Nadira.

Wanita yang menyelamatkannya, membesarkannya, memberinya cinta, mengajarkannya moral, kebaikan, dan kemanusiaan. Wanita yang membenci darah, membenci kekerasan, dan paling takut kalau suatu hari anaknya akan menjadi persis seperti ayahnya.

Seketika seperti tersambar petir, kabut merah di kepala Alessandro menghilang.

Matanya yang tadi terlihat kosong dan penuh haus darah, tiba-tiba melebar. Pupil matanya mengejang. Ia melihat ke bawah, melihat tangannya sendiri yang dulu selalu menggenggam tangan ibunya saat takut. Tangan yang dulu memegang buku dan pulpen, tangan yang dulu dipakai merawat kucing jalanan, kini berlumuran darah hangat. Alessandro mencengkram gagang pisau yang menancap di daging manusia yang masih hidup.

Ia mendengar jeritan, suara yang mengerikan, menyakitkan, penuh keputusasaan. Itu suara manusia dan bukan binatang.

"ARGHHHH!! SAKIT! AMPUN! SAKIT BANGET!"

Dada Alessandro naik turun, napasnya yang tadi stabil dan tenang. Kini berpacu liar, berat, dan tidak teratur. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena adrenalin membunuh, tapi karena ketakutan pada dirinya sendiri.

Ia merasakan sesuatu yang dingin dan licin di wajahnya. Ia menyentuh pipinya, dan itu keringat dingin yang deras membasahi seluruh tubuhnya hingga pakaian dalamnya basah kuyup.

Apa yang baru saja aku lakukan?

Siapa aku?

Alessandro merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukannya barusan, seolah ia sudah kehilangan sisi manusiawi.

1
☕︎⃝❥virgo93
si ale msih pnya sisi baik🥰 jgn jdikan dia mnster thor aku gk relaa😫
Kucing Biru: kayaknya akaaa, deh🤔
total 3 replies
Vie
ga apa2 setengah2 juga ale, karena kalau 100% km jadi monster maka kamu akan kehilangan dirimu seperti ayahmu, dan itu adalah hal yang paling ditakuti oleh ibumu....
Vie
duh.... jadi ikutan tegang 😱😱😱😱😱
Vie
duh.... jadi ikutan tegang 😱😱😱😱😱
Vie
iiihhh makin seru dn penasaran aja..... lanjut kak.... 👍👍👍👍
Vie
lanjut thor.. 👍👍👍
☕︎⃝❥virgo93
keren banget thor🥰
Vie
dan kamu bodoh baru menyadari semua itu setelah apa yang terjadi disekitar kamu dan ibumu
Vie
aku agak bingung deh.... bukanya viktor ini yang selalu mengincar ale dan juga semua peninggalan ayahnya dan yang menghancurkan beberapa gudang kemarin, tapi kenapa masih ada disisi alesandro? apa aku yang salah ini viktor yang lain
Vie
dan akan keluar kemana... sedangkan kalian selama ini bersembunyi pun teta saja ketahuan, apalagi sekarang.. tidak ada cara lain selain melawan dira... kamu kalau takut ale menjadi seperti ayahnya, itu tidak bisa dihindari karena memang dia adalah anaknya, tapi kamu setidaknya bisa terus menemaninya disisinya agar dia tidak kehilangan dirinya sendiri seperti ayahnya, karena kamu adalah ibunya...
Vie
tau rasa kan. disuruh pindah gak mau, dan sekarang kamu jadi target seseorang yang sudah pasti kamu tau akan seperti apa, kamu hanya ketakutan... dasar keras kepala.... dan justru kamulah yang menjadi kelemahan dan juga ketakutan terbesar bagi ale tau.... dongkol deh sama si nadira .
Vie
bagi ale tidak ada jala lain... dia harus bersembunyi seumur hidupnya dan selalu dalam ketakutan karena dia sedang menjadi mangsa para mafia, atau dia menerima dan menjadi kuat, lalu membasmi semua ketakutan itu agar hidup tidak lagi menjadi mangsa.. setelah semua usai dan menjadi kuat baru dia bisa memutuskan apakah dia akan terus melanjutkan hal itu atau mau berhenti....
Vie
kamu itu seorang ibu yang takut pada kenyataan yang tidak pernah bisa dipungkiri, tapi selalu saja mengatakan ale mirip dengan ayahnya.... bagaimana gak mirip karena dia adalah anaknya, dan semua tidak bisa ditutupi oleh apapun, karena darahnya asa dalam tubuhnya... dan kamu selalu mengatakan hal itu seperti mengingatkan ale bahwa dia benar2 anaknya Aleandro bukan untuk menjauhkanya dari semua itu....
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍
☕︎⃝❥virgo93
semngat dek comelku..🥰
Kucing Biru: mkasih akaa😚😚
total 1 replies
☕︎⃝❥virgo93
ahhh nanggung banget upx thor.🤭lgi seru2 baca eh udah abis aj ayuk semagat untk up selanjutx🥰
Vie
aahhh.... akhirnya nongol juga lanjutanya.... 🥰🥰🥰🥰
Vie
lanjut kak.... makin seru aja... penasaran aku.... 👍👍👍
viandranovel
saling mampir bg 🙏
☕︎⃝❥virgo93
lnjut dek🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!