NovelToon NovelToon
Takdir Cinta

Takdir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.

Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.

Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.

namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.

Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.

Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.

Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau soto

Setelah beberapa hari sejak kejadian teror malam itu. Yiwa dan Nara memutuskan bahwa setiap malam mereka akan tidur bersama.

Benar-benar tidur, tidak lebih. Itu pun ditengah tengah mereka diberi penghalang sebuah guling.

Ya, walaupun kadang di pagi hari Yiwa tidur sambil memeluk guling dengan posisi membelakangi Nara dan Nara yang secara reflek juga memeluk Yiwa dari belakang.

Dan berakhir Yiwa ngomelin Nara dan prengat-prengut seharian. Kalau Nara sendiri cuma senyum aja nanggepin omelannya Yiwa. Karena baginya Yiwa sudah jadi hiburan tersendiri buat hidupnya yang terlalu lurus.

Namun pagi ini sedikit berbeda, karena semalam tidur keduanya sangat anteng dan nyenyak. Guling pun masih utuh di antara keduanya.

Nara sudah bangun beberapa menit yang lalu. Sekarang kebiasaannya adalah memandangi wajah Yiwa yang sedang tidur sampai Yiwa bangun. Karena saat tidur wajahnya terlihat sangat tenang dan manis. Berbeda lagi kalau sedang sadar, wajahnya sudah mirip pemeran antagonis. Cemberut terus. Walau tetap cantik.

Yiwa mulai bergerak kecil dan matanya perlahan terbuka. Lalu terpejam kembali saat melihat wajah Nara.

Sekarang Yiwa juga sudah tidak terkejut lagi saat begitu bangun tidur langsung melihat wajah Nara. Yang untungnya sangat tampan.

"Ayo bangun,"

Yiwa hanya menggeleng dan memilih melanjutkan tidur sambil meluk guling.

Nara tersenyum. "Saya hari ini pergi."

Dengan mata yang masih terpejam, Yiwa menjawab. "Tiap hari juga pergi terus tuh."

"Iya, maaf ninggalin kamu sendirian."

"Kok rasanya udah kayak suami istri beneran." Yiwa langsung membuka matanya. "Dih! gak usah geer ya. Malah bagus kalo lo keluar. Gue juga males tuh berduaan sama lo."

Nara tidak tersinggung sama sekali. Ia justru tertawa pelan. Yang justru membuatnya semakin terlihat berlipat-lipat tampannya.

"Ya udah, buruan pergi sana."

Nara masih diam memperhatikan Yiwa. Sebenarnya ia belum berniat meninggalkan Yiwa. "Di luar hujan. Kamu jangan pergi kemana-mana. "

"La situ sendiri tahu kalo di luar lagi hujan dan jalanan jadi licin, bahaya, terus kenapa masih mau pergi?"

"Saya harus jalanin tugas saya. Kamu tidak perlu khawatir."

Yiwa mencibir. "Siapa yang khawatir? gue cuma gak mau lo repotin. Udah sana pergi."

Nara beneran mau ketawa pas lihat wajah Yiwa yang memerah. "Nanti siang saya sudah pulang sekalian bawakan kamu makanan."

"Eh! gue pengen soto nih. Hujan-hujan begini, enak kayaknya makan soto."

Nara mengangguk. "Iya. Kamu mau sarapan apa?"

Yiwa menggeleng. "Gue lagi nggak pengen sarapan. Mungkin gue nanti mau makan roti semalem."

Ya, Roti yang dimaksud Yiwa adalah roti gulung buatan Mbah Sekar dan Bu Ningsih. Semalem Pak Dedi, suami Bu Ningsih repot-repot datang ke rumah Nara untuk mengantar roti. Katanya sekalian mau bahas pernikahan anaknya.

Yiwa bingung juga, yang mau nikah anaknya Pak Dedi, kenapa datangnya ke Nara. Emang Nara penghulu.

"Cukup?"

"Cukuplah. Lo pikir makan gue sebanyak apa?"

"Ya sudah saya mandi dulu. Nanti saya kunci dari luar pintunya. "

Nara berdiri dan bersiap-siap mandi. Dan Yiwa hanya memperhatikan Nara dalam diam.

"Ini udah terlalu jauh." lirihnya.

Yiwa sejak awal ingin sekali menjaga jarak dengan Nara. Ia takut hubungan yang awalnya hanya untuk status ini nantinya akan berjalan terlalu jauh.

Ia tidak mau kecewa dan juga ia tidak mau mengecewakan orang lain. Apalagi Nara.

Tapi situasinya benar-benar tidak memungkinkan untuk mereka berjauhan. Hantu, setan atau apalah itu benar-benar membuat Yiwa pusing.

Sekalinya Yiwa berjauhan dengan Nara, hantu-hantu itu seperti punya radar dan langsung mendekati Yiwa, mencoba mencelakainya.

Tapi jika ia terus berdekatan dengan Nara, itu sangat tidak baik untuk kedepannya.

Ia harus mencari cara. Sawiji ing ludira ini. Apa bisa di batalkan saja? Dan apa ada cara lain agar ia bisa menghidari gangguan hantu. Kan seperti di film-film, seperti ruwat atau semacamnya. Pasti ada cara.

Mungkin lain waktu ia harus bertemu dengan Ki Sastro untuk bertanya.

ceklek

Pintu kamar mandi terbuka dan Yiwa langsung memejamkan matanya, pura-pura tidur.

Yiwa membuka matanya sedikit untuk melihat Nara. Ah! seperti biasa, penampilan yang sangat rapi. Berkemeja batik lengan panjang dengan warna gelap yang sangat pas ditubuh tegapnya.

Yiwa buru-buru memejamkan matanya saat Nara berbalik melihatnya. Lalu sampai terdengar suara pintu terbuka lalu tertutup kembali, barulah Yiwa membuka matanya lebar-lebar.

"Tiap hari pakai baju se formal itu apa gak capek sih?"

Di luar hujan semakin deras. Membuat udaranya semakin dingin. Yiwa yang awalnya mau mandi pun jadi malas.

Ia memilih kembali tidur.

Sementara itu, Nara sekarang berada di rumah Pak Dedi. Sesuai permintaan semalam, Nara sudah memperhitungkannya.

"Tanggal itu sangat bagus untuk pernikahannya. Saya sudah perhitungkan dari tanggal lahir kedua calon mempelai. Bila kurang meyakinkan bisa ditanyakan pada Ki Sastro." Nara menyerahkan selembar kertas berisi tulisan 10 november.

Pak Dedi mengambil kertasnya. "Tidak, den. Saya sudah sangat percaya dengan pilihan Den Nara."

"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."

Pak Dedi mengangguk. "terimakasih, den."

Nara hanya tersenyum lalu mengangkat payungnya untuk melindungi tubuhnya dari hujan dan berjalan meninggalkan rumah pak Dedi.

Tujuannya sekarang adalah Sendang Bening. Tempat yang di sakralkan di desa ini. Airnya yang sangat jernih dan asli berasal dari gunung. Di percaya mampu menyembuhkan dan membersihkan. Maksud dari membersihkan ini adalah dari pengaruh-pengaruh energi negatif yang pekat.

Dan Nara datang untuk memulihkan tenaganya sekaligus membersihkan sisa-sisa energi negatif ditubuhnya.

Ia hanya cukup meminum sedikit air sendang lalu membaca mantra jawa yang sudah lama ia rapalkan. Dan tubuhnya sudah jauh lebih enteng dan segar.

"Den Nara."

Nara membuka matanya. "Ada apa, Mregapati? "

"Sepertinya hubungan Raden sudah membaik. Tapi kenapa tubuh Raden masih melemah?"

"Karena Yiwa sudah mempunyai seseorang di hatinya."

"Kenapa Raden tidak menanyakan kejelasannya sekaligus menjelaskan keadaan yang sebenarnya."

"Aku tidak bisa, Mregapati. Sepertinya ini bukan hal yang sederhana. Yiwa seperti menyimpan luka."

"Lalu bagaimana dengan Raden sendiri? Dengan begini, Raden bisa kalah. Raden mengerti kan apa maksudnya?"

Nara menghela napas. "Serangan balik Sawiji ing Ludira jika salah satu tidak mau menyerahkan perasaannya. Aku paham, Mregapati. Tapi sekarang keadaannya agak sulit. Aku tidak mau Yiwa terluka."

Mregapati menggelengkan kepalanya. "Untung saja Raden Abhiromo dulu tidak bucin juga."

Setelah tidak ada yang di bicarakan, Nara segera berbalik untuk pulang. sekarang juga sudah jam dua belas siang. Hujan juga masih belum reda, justru semakin deras.

Begitu tiba di halaman rumah, ia berbelok untuk mencuci kaki di keran samping rumah. Barulah masuk ke dalam.

Ia terkejut saat melihat Yiwa sedang berkacak pinggang di ruang tamu.

"Kenapa, Yiwa?"

"Lo tanya kenapa? sini!"

Yiwa menarik tangan Nara agar mengikutinya ke dapur. Begitu sampai di dapur Yiwa menunjuk potongan daging ayam, touge, dan kubis.

"Itu bahannya, bumbunya juga ada di lemari. Kamu tadi kan bilang mau soto."

Ya tidak salah sih, tapi juga salah.

Yiwa menghela napas. "Gue nggak bisa masak, Nara. gue bisa aja tanya ke tetangga, tapi sekarang ujan dan gue nyari payung gak ketemu. Mau cari resep di internet pun, disini nggak ada sinyal sama sekali."

"Astaga, saya beneran nggak tahu kalau kamu nggak bisa masak." Nara tersenyum melihat wajah kesal Yiwa.

"Saya buatin dulu. Sini kamu deketan, biar tahu gimana masaknya."

Yiwa menatap kesal, tapi ia tetap menurut dan berjalan mendekat. Ia memperhatikan bagaimana tangan Nara yang dengan telaten dan cekatan memotong kubis.

"Sini, kamu mau coba motong?"

Yiwa mengangguk. Lalu mengambil alih tugas memotong kubisnya.

"Itu terlalu besar, Yiwa."

"Besar kecil kan ujung-ujungnya juga buat di kunyah."

Meski tak suka kalau di komplen Nara, tapi Yiwa tetap menuruti omongan Nara.

Dan semua yang dilakukan Yiwa selalu kurang benar sehingga Nara dengan sabar memberi tahu dan berakhir Yiwa yang kesal sendiri.

Kan harusnya Nara yang kesal kan, tapi disini Nara justru senang bisa melakukan sesuatu bersama Yiwa.

Sementara itu Mregapati yang berada di kamar tamu langsung buyar meditasi nya gara-gara dengar suara berisik Yiwa dan Nara.

Sebelum ada Yiwa, biasanya rumah ini begitu sepi. Karena Nara biasanya juga meditasi di kamarnya sendiri.

Sekarang semuanya sudah berbeda dan Mregapati sejujurnya senang karena hidup Nara tidak berakhir seperti Raden Abhiromo. Yang memilih melepas duniawi.

Tapi masalahnya sekarang ia juga jadi sulit untuk meditasi.

"Apa aku harus kembali ke gua?"

...♡Bersambung ♡...

1
Ana Dww
maaf yiwa, aku adalah Nara yang setiap pulang dari pergi agak jauh harus mandi
Ana Dww
Lanjuttt kakk
Ana Dww
Aku suka karena emang ada horor, romantis dan komedinyaaa
Ana Dww
🤣🤣🤣
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣
Ana Dww
heeeyy siapa lagi ini
Ana Dww
Woy, kram kamar mandi kosku sering bocir dikit malam hari 😭😭😭😭
seren_dpty: positif thinking aja, mungkin lagi di buat mainan🤭
total 1 replies
Ana Dww
Yiwa, kita sama tidur terlalu hening bikin pikiran berisik
Ana Dww: 🤣 biar nanti tidurnya sambil mimpi kicau mania
total 2 replies
Ana Dww
waittt
Ana Dww
Kak, ini cerita horor romantiskah?
seren_dpty: iyaps betull
total 1 replies
Ana Dww
Waaahhh , suka sama ceritanya
seren_dpty: makasih ya kakkk
total 1 replies
Ana Dww
Waaah keren kak 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!