NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14| Kekesalan Kai

Hari senin adalah waktu paling menyebalkan bagi kaum pelajar, tidak terkecuali bagi Aluna. Rasanya ubun-ubun kepalanya terasa panas, jadwal pelajaran dipadatkan dengan pelajaran hitung-hitungan diawal dan dengan pelajaran sejarah di jam terakhir membuat dirinya menguap kebosanan. Karina meringis mendapati bulir-bulir air liur terciprat di segala arah, apalagi saat sang guru sejarah berkeliaran hanya untuk menjelaskan sejarah manusia purba.

"Lun, mundur." Karina menyenggol lengan Aluna perlahan kala guru akan sampai di meja mereka.

"Oh?" gumam Aluna serak belum sempat ia bereaksi kepalanya sudah kena semprot. "Iiiy! Apa ini, Woy? Gila air liur Njir!"

Kelopak mata yang tadinya siap-siap tertutup karena godaan angin siang langsung terbuka lebar saat telapak tangannya menyentuh puncak kepalanya yang basah, Aluna dengan kurang ajarnya langsung mengusapnya ke baju kemeja sang guru sejarah. Seisi ruangan kelas langsung hening, melotot tak percaya dengan tindakan Aluna.

"Iiiy jijai banget, tangan gue kena najis Na!" seru Aluna heboh sendiri mengibas-ngibaskan telapak tangannya tampak jijik.

Karina mengigit bibirnya tak percaya dengan perkataan Aluna tanpa filter, wajah guru di samping Aluna merah padam kedua sisi lubang hidungnya kembang kempis siap-siap bak banteng yang siap menyeruduk.

"Lu—lun...." Karina tergagap memanggil nama Aluna terdengar bergetar.

"ALUNA CALISTA! KELUAR DARI KELAS INI SEKARANG JUGA!"

Aluna terperanjat sontak saja menengadah, sinyal tanda bahaya langsung menyala di kepalanya. Kaki kursi berdecit saat bergesekan dengan lantai, Aluna bangkit dan berlarian keluar dari kelas. Degup jantungnya bertalu-talu berlari, berhenti saat kelasnya sudah cukup jauh. Deru napasnya tersengal-sengal, punggung belakangnya bersandar di pilar. Wajah putihnya merah padam, peluh menetes di dahinya.

"Gila itu Guru, liurnya kemana-mana dah kek hujan lokal aja. Mana mendarat ke kepala gue," keluh Aluna kesal dan jijik dalam satu waktu.

Tangan kanannya dijauhkan, kedua sisi pipinya mengembung. Ia bersandar cukup lama di sana, sebelum memutuskan menuju toilet sekolah. Bibir merah merekahnya terus mengerut mengutuk sang guru, baru akan membuka pintu toilet panggilan dari samping menghentikan pergerakan tangan Aluna.

"Aluna sayang-nya gue," kata Kai tak lupa ia mengedipkan sebelah matanya menggoda Aluna, "keknya kita beneran jodoh deh, sampek ke toilet aja bisa barengan."

Aluna mendesah, "Jodoh pala lo peang!"

Dagu Aluna dicolek disertai senyum nakal dari empunya tangan, Aluna melotot.

"Lo makin cantik bin gemesin kalo lagi kesel kek gitu. Makin lo kesel sama gue maka lo bakalan makin sering keinget sama gue loh," balas Kai tak tahu malu.

Sudut bibir Aluna berkedut-kedut matanya masih fokus menatap Kai dengan tatapan tak suka, lalu detik berikutnya berpura-pura mual. Tawa renyah Kai melambung, Aluna mengerutkan dahinya mendapati reaksi Kai yang tak sesuai.

'Gue rasa Author yang bikin ini cerita pasti lupa ngisi otak tokoh Kai, ampek agak lain gayanya gue liatin. Makin dipantau makin nggak ngontak.' Keluh Aluna dalam diam, mengernyit, tawa Kai mereda perlahan.

"Lo segitunya suka sama gue?" tanya Aluna dengan tatapan mata rumit.

"Yeah! Sangat," sahut Kai tanpa harus berpikir dua kali.

Kepala Aluna mengangguk-angguk, seringai jail terbit di bibirnya. Kedua tungkai kakinya mengeliminasi jarak di antara dia dan Kai, telapak tangannya bergerak ditempelkan di hidung Kai.

"Harum nggak?" tanya Aluna tersenyum ceria.

Kai menyambut tangan Aluna mengecup permukaan telapak tangannya, Aluna berkedip dua kali dengan tindakan Kai. Senyum nakal kembali tercetak di bibir Kai, garis bibir Aluna turun dan memasang ekspresi jijik.

"Harum banget," aku Kai tak lupa ia kembali membawa telapak tangan Aluna ke lubang hidungnya.

"Lo yakin?" tanya Aluna sekali lagi mencoba memastikan.

"Ya, gue yakin." Kai mengulas senyum semringah.

"Gila, lo harus tau. Sebenernya di telapak tangan gue itu bekas air liur Pak Jamet yang belum gue bilas. Dan lo mencium dan lo bahkan mengecupnya. Woah! Lo emang cowok paling sulit ditebak Kai, keknya bau bunga bangkai bakalan seharum kasturi di idung lo, ya?" Aluna menaik-turunkan alis mata menggoda Kai.

Senyum bibir Kai membeku, atensinya bergerak ke arah telapak tangan Aluna. Oke, gejolak di perutnya mulai terasa. Tanpa pamit Kai membuang tangan Aluna berlarian menuju pintu toilet pria, tawa Aluna menyembur. Ekspresi Kai yang jijik bercampur mual, benar-benar menghibur Aluna yang tadinya dalam mood buruk. Seakan rasa kesal karena kecipratan air liur guru sejarahnya mendadak menguar di udara. Aluna terbatuk-batuk di sela tawa yang melambung, matanya berair.

"Owh! Astaga, Kai lucu banget. Ugh..., perut gue sakit," keluh Aluna mencoba menghentikan tawanya.

Ia menggeleng dengan desahan berat, mundur satu langkah ke belakang. Membuka pintu toilet, menahan diri untuk tidak kembali tertawa.

...***...

Alis mata tebal itu terus mengerut, tangannya mengaduk-aduk mie instan di dalam mangkuk. Gavino baru saja masuk bersama Sebastian tampak melirik ke arah Kai yang duduk di meja makan, bibirnya sangat memerah dan sedikit bengkak. Jayden duduk di sofa ruang tengah penthouse yang disulap menjadi markas mereka tidak terganggu dengan tingkah aneh Kai, sehabis pulang sekolah Kai tampak uring-uringan.

"Dia kenapa?" tanya Gavino saat melemparkan tas ranselnya di sofa.

Jayden menurunkan smartphone di tangannya, atensi ikut melirik ke arah Kai yang memasang tampang kusut.

"Mungkin disengat tawon," jawab sekenanya Jayden mendapatkan delikan kesal dari Kai.

Kai melemparkan asal sendok dan garpu di tangannya ke arah meja, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia mendengus kesal, apa yang terjadi di jam terakhir saat ia tak sengaja bertemu Aluna di depan toilet sekolah masih mempengaruhi mood Kai.

"Gav! Gimana kalo lo ngomong sama Nyokap lo buat pecat Pak Jamet, gue eneg banget liat dia," ujar Kai mengundang kerutan di dahi Jayden dan Gavino.

"Lah Pak Jamet 'kan nggak ngajar kelas kita Kai, ada problem apa lo sama Pak Jamet, huh?" Jayden menatap lurus ke arah Kai—sahabat anehnya dengan segudang pemikiran mesumnya. "Emang yang ngecup bibir lo ampek doer kek gitu Pak Jamet 'kah? Sejak kapan lo beralih haluan dari rambutan ke pisang?"

"Sialan lo Jay, enak banget banget lo ngomong. Gue masih normal ya," tukas Kai kesal, mendengus melirik tajam Jayden.

Sebastian yang sedari tadi diam tanpa bersuara diam-diam memasang indera pendengaran dengan tajam, buku peket yang terbuka di atas pangkuannya tak lagi menarik perhatian Sebastian.

"So? Lo ada masalah apa sama dia?" Gavino ikut menimpali.

Bibir Kai terbuka lalu kembali tertutup rapat, erangan frustrasi mengalun. Bagaimana caranya Kai mengatakan kejadian memalukan yang ia alami, Kai membuang muka dari tatapan menyelidiki ketiga sahabatnya.

"Lupain ajalah," gumam Kai pada akhirnya.

Sebelum Gavino kembali bertanya Kai berdiri dari posisi duduknya, melangkah mendekati sofa. Meraih tasnya melangkah keluar dari penthouse  tanpa pamit, sontak saja ketiganya saling adu lirikan mata secara bergilir.

"Ada yang aneh," monolog Sebastian lirih.

Gavino dan Jayden masih memperhatikan pintu yang tertutup rapat, tidak biasanya suasana hati Kai mendadak jelek seperti itu. Kai selalu ceria dengan segudang ide aneh dan kegiatan menggoda wanita, kini terlihat tak memiliki semangat hidup.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!