NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

Pagi-pagi sekali Luky dan Dewa datang ke apartemen. Luky terkejut melihat penampakan apartemennya yang nampak bersih dan rapi.

"Gila, baru sehari lo tinggal di apartemen gue, tempat ini udah kayak hotel aja. Bersih, rapi, wangi," ujar Luky sembari menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Makasih ya, Re."

"Biasa aja kali, Pak," jawab Rea.

"Nih, pakai baju ini. Terus kita berangkat." Dewa mengulurkan paper bag hitam pada Rea. Isinya baju yang sepeti dalam foto yang Dewa kirim semalam.

Rea membawa paper bag hitam itu ke kamar lalu memakainya sesuai perintah Dewa. Begitu keluar, dua pria yang menatapnya terpesona dengan penampilan Rea.

"Pokoknya selama lo jadi istri gue, kalau keluar lo harus pakai cadar. Semua demi melindungi privasi lo. Tapi kalau lo mau jalan sendiri terserah lo aja."

Rea mengerti. Dewa sudah menjelaskannya semalam lewat pesan Whatsapp. Dewa tidak mau wajah Rea di kenali siapa pun. Semua demi menjaga masa depan Rea jika nanti mereka bercerai. Supaya Rea bebas kembali ke kehidupannya tanpa bayang-bayang Dewa.

"Kita berangkat?" tanya Rea.

Dewa mengangguk.

"Tunggu sebentar, Pak. Ada sesuatu yang tertinggal." Rea kembali masuk ke kamar mengambil barang yang tertinggal.

"Ayo, Pak, kita berangkat," ajak Rea setelah kembali dari kamar.

"Tunggu ... tunggu ... tunggu!" sergah Luky.

"Kenapa lagi?" Dewa terlihat kesal.

"Re, lo jangan panggil Dewa dengan sebutan Pak lagi!" ujar Luky tegas.

"Kenapa?" Rea bingung.

"Mana ada orang yang udah mau nikah masih manggil Pak. Ganti panggilannya. Sayang kek, Beb kek, Honey kek, Darling, atau apa aja yang mesra. Bukan Pak! Dewa itu calon suami kamu, bukan atasan kamu!" Luky menjelaskan.

Dewa dan Rea saling tatap. Mengerti maksud Luky.

"Pak Dewa mau dipanggil apa?" tanya Rea.

"Siapa aja, asal jangan yang disebutin sama Luky tadi."

Rea berpikir sejenak. Tadi Luky menyebut apa saja.

"Menurut Pak Luky, saya harus panggil apa ke Pak Dewa?"

Luky ikut berpikir. "Kalau gue sih lebih suka dipanggil Beb."

"Nggak ... nggak ... Nggak! Nggak mau gue dipanggil kayak gitu. Udah panggil gue Mas aja!"

Luky tertawa dengan penolakan Dewa.

Sedangkan Rea mengangguk setuju. Rasanya panggilan Mas itu udah mesra bagi pasangan suami istri.

"Kita berangkat sekarang?" tanya Rea.

Ketiganya menuju rumah sakit. Dewa akan memperkenalkan Rea pada Maminya. Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa orang yang mengenali Dewa, menatap penuh tanya. Terutama pada wanita berpakaian serba hitam yang mengenakan cadar.

"Pagi, Mam," sapa Dewa. Mbak Narti—asisten rumah tangga— yang sedang menyuapi Yunita langsung berhenti.

"Dewa." Suara lembut nan lirih Yunita langsung membuat Dewa mendekat memeluk dan mencium sang Ibu.

"Sudah lebih baik, Mam?" tanya Dewa.

Yunita mengangguk. Ia melirik pada wanita bercadar yang datang bersama putra semata wayangnya. "Siapa dia, Wa?"

Dewa menoleh pada Rea. "Dia calon istriku, Mam."

"Istri?" Raut kaget Yunita jelas terlihat.

"Hai, Tan," sapa Luky. "Iya ini calon istri Dewa. Yang kemarin Dewa janjikan akan dikenalkan ke Tante."

Yunita menatap bingung. Tak percaya dengan semua ini. Ia tahu benar Dewa. Pasti ada sesuatu yang Dewa sembunyikan.

"Assalamualaikum, Tante," sapa Rea.

"Wa ... Waalaikumsalam," jawab Yunita.

Rea mendekat. Mencium tangan Yunita dengan takzim. "Perkenalkan, nama saya Reana, Tante."

"Reana," ulang Yunita.

Rea mengangguk. "Gimana keadaan, Tante, udah lebih baik?"

"Iya," jawab Yunita masih bingung.

"Maafin aku ya, Tan, baru bisa jenguk, soalnya Mas Dewa juga baru ada waktu buat jemput aku." Rea menoleh pada Dewa, seolah ingin meminta pendapat tentang sandiwara yang ia perankan.

"Iya, nggak apa-apa. Ayo duduk."

"Di sini aja, Tante, biar deket ngobrolnya sama Tante." Rea mengambil bangku yang tadi digunakan Narti sewaktu menyuapi Yunita. Sedangkan asisten rumah tangga itu pamit keluar begitu keluarga Nyonya-nya datang.

"Berapa lam kamu kenal Dewa?"

"Belum lama kok, Tan. Sekitar tiga bulan ya, Mas." Rea menoleh pada Dewa yang duduk di ujung ranjang. Di samping kaki ibunya.

"Dalam waktu tiga bulan kalian memutuskan untuk menikah?" tanya Yunita.

"Mam, Reana ini wanita berhijab. Nggak baik kalau aku lama-lama deket tanpa ikatan. Aku malu lah sama keluarganya."

Yunita setuju dengan ucapan Dewa.

"Kamu yakin mau menikah dengan Dewa?" Yunita seolah ingin mencari kepastian.

"InsyaAllah yakin, Tante. Lagi pula kakak Rea juga sudah setuju. Bagi Rea restu kakak Rea adalah segalanya."

"Terus orang tua kamu?"

Rea menunduk kali ini. Mengingat kedua orang tuannya yang sudah tiada. "Orang tua saya keduanya sudah tidak ada, Tante."

"Maafkan, Tante, ya."

Rea menggenggam tangan Yunita dan menepuknya lembut. "Nggak apa, Tante."

Banyak hal yang Yunita tanyakan pada Rea, seakan sedang menggali informasi calon menantunya ini. Dan Rea menjawab semua pertanyaan Yunita tanpa kesulitan sama sekali. Seolah hubungannya dengan Dewa benar-benar nyata, sehingga setiap pertanyaan Yunita bisa Rea jawab dengan lancar.

"Boleh nggak Tante lihat wajah kamu?" Yunita sungkan sebenarnya, tapi dia harus memastikan putranya dapat yang terbaik.

Rea langsung membuka cadarnya di depan Yunita.

"Cantik," gumam Yunita begitu melihat wajah Rea. Untuk sesaat pandangannya berhenti pada satu orang saja yakni Reana.

"Jadi kapan kalian akan menikah?"

Rea dan Dewa saling tatap. Bingung harus menjawab apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!